Obsessi Tuan Billionaire

Obsessi Tuan Billionaire
Move on


__ADS_3

"Omong kosong!" histeris Lanie. "Dari kecil Mama selalu saja ingin menghancurkan hidup ku, hanya karena aku anak haram, kau membuang ku di panti asuhan!" teriaknya.


Lanie menepuk dadanya. "Aku berusaha menerima meski kau lebih memilih hidup bersama suami dan dua anak baru mu,"


"Aku tidak pernah iri pada mereka yang selalu kau berikan kasih sayang tulus, belaian lembut, bahkan nyanyian sebelum tidur, yah Ma, aku sadar diri, aku masih tidak mau iri."


Terbit juga smirk yang terlepas di ujung bibir kecewa Lanie. "Aku pikir masa kelamku sudah selesai Ma," ucapnya.


"Rupanya tidak, seolah tak puas mereka merebut Mama dariku, bahkan setelah dewasa pun, dua anak Mama yang lain merebut suami ku," berawainya.


Mendengar kenyataan pahit itu, tak kuasa Luna menjatuhkan lutut hingga terduduk di lantai granitnya.


Mimpi kah ini? Lanie, Lira, Luna, benarkah berasal dari seorang ibu yang sama?


Lalu, apa tujuan Diana mengutus Luna untuk mendekati Mike? Apakah untuk mendapatkan Lira kembali atau ada maksud lain?


Pikir Luna buntu.



Diana menoleh pada putri bungsunya, putri yang sedari tujuh tahun tak tinggal bersama dirinya.


Lanie terkekeh kecil, sepertinya dia beruntung bisa memiliki kesempatan bertemu dengan adik tirinya kembali.


"Sini kamu anak kecil!" Lanie menarik lengan Luna, lalu dirangkum mulutnya. "Puas kamu menghancurkan hidup ku, hah?"


Semakin tahu Luna adik tirinya, semakin tinggi kemarahan dan kebencian Lanie pada gadis itu. "Pelakor kecil!"


Luna menepis tangan Lanie. "Aku bukan pelakor, aku tidak pernah punya niat menghancurkan hidup siapa pun, aku datang ke Jakarta semata mata demi Kak Lira!" teriaknya.


Diana semakin lemas menghadapi situasi keos ini. Di mana kedua putrinya saling beradu mulut dan amarah.


"Sumpah demi apa pun, pernikahan ku dengan Mike tidak sah, dan aku bersumpah tidak pernah melakukan hubungan ranjang bersama suami mu! Aku bahkan tidak tahu menahu, kalau ternyata Kak Lira masih hidup!" beber Luna.


Gadis itu menoleh pada ibunya, tatapan mengintimidasi mulai ia cecarkan. "Apa ini Ma?" tanyanya. "Jadi Kak Lanie anak Mama juga?"


"Apa tujuan Mama meminta bantuan Luna? Kenapa Mama bilang Kak Lira di sekap dan bunuh diri? Kenapa Mama harus mengarang cerita sepicik itu? Sebenarnya apa tujuan Mama?"


Jawaban Diana hanya isak tangis yang tiada terjeda. "Jangan menangis, jawab Ma!" Luna berteriak histeris.


Diana mengangguk. "Maaf," ucapnya terisak, ini memang pilu, sangat pilu, ia memiliki anak di luar pernikahan sebelum menikah dengan Rizman, dan naasnya adalah Rizman justru meminta perceraian setelah mengetahui kenyataan itu.


Hanya karena malu di bully kanan kiri, Diana juga harus rela menelantarkan Lanie sampai dewasa.

__ADS_1


Mau tak mau Diana menyaksikan bagaimana Lanie menjalani hidup di bar pelacuran tanpa satu pun keluarga yang peduli, termasuk dirinya sendiri.


Puncaknya, ketika Lira diculik oleh Mike dan berakhir jatuh cinta pada si penculik.


Mengetahui hal itu, Diana tak sudi melihat ke dua putrinya dinikahi oleh pria yang sama.


Itu lah yang menjadi penyebab kenapa Lira tak mendapatkan restu dari Diana.


Kalap dengan kekesalannya satu tahun yang lalu Lanie bertekad untuk meracuni adiknya.


Berita kematian pun terdengar tapi mayat Lira tak pernah dikembalikan atau sekedar dikebumikan.


Diana yakin Lira masih hidup dalam dekapan Mike, sumpah demi apa pun tujuan Diana mengirim Luna hanya untuk mengetahui apakah benar Lira masih hidup atau tidak.


Sebab jika pun iya, Luna harus membawa Lira pulang ke rumahnya.


Cukup sudah Lira merusak rumah tangga Lanie yang tak pernah mendapatkan kasih sayang darinya.


Diana ingin mengakhiri penderitaan Lanie, dengan mengambil alih Lira dari Mike kembali.


Apakah salah jika sang ibunda memiliki hak yang sama untuk juga menyayangi satu lagi putrinya, 'Lanie'.


Semua yang terjadi beberapa tahun terakhir, telah Luna dengar sendiri dari mulut ibunya.


Lanie tertawa sumbang. "Sekarang kau tahu siapa yang jahat di sini gadis bodoh? Kakak kandung mu sendiri!" hardiknya pada Luna.


Terdiam, Luna menatap Lanie nanar. Seperti tersiar penderitaan yang teramat dalam dari wajah bengis sang Kakak.


"Pelakor seperti Lira tidak pantas hidup! Harusnya mati dan enyah saja kalian!" imbuhnya.


"Kau juga wanita yang sangat bodoh!" sela Luna. "Hanya karena suami seperti Mike, kau tega meracuni orang?" tanyanya.


"Lelaki bukan kopi yang meskipun pahit harus tetap dinikmati, lebih baik sakit mu dicabut sampai ke akarnya, bukan pelakor, tapi suami tidak setia mu yang kau cerai!" kata Luna.


Lanie mengeras wajah. "Tahu apa kau masalah rumah tangga ku anak kecil?" tukasnya.


"Mike tidak mencintai mu," cibir Luna.


Lanie menciut, ia cukup sadar dengan posisinya yang tak lagi dicintai oleh Mike, entah apa yang membuatnya kukuh bertahan, Lanie pun tak paham.


Tak mau terus meladeni ungkapan menyakitkan adik tirinya, Lanie meraih tas clutch miliknya kemudian melangkah arogan meninggalkan tempat itu.


Melihat kepergian Lanie, Diana semakin mengeraskan suara isak tangisnya. Luna bisa apa selain menenangkan sang ibunda.

__ADS_1


Brugh....


Tiba di dalam mobilnya, Lanie meraih ponsel dari tas kecilnya. Gegas dia layangkan panggilan telepon pada nomor bertuliskan Brian.


๐Ÿ“ž "Tante." Segera terangkat dan dijawab si penerima.


Lanie menghela berat. "Kamu sibuk?" tanyanya.


๐Ÿ“ž "Tidak, Brian baru selesai kuliah," jawab Brian.


"Kalo gitu temui aku di bar biasa!" titah Lanie.


๐Ÿ“ž "Tante berantem lagi hmm?"


Tuuuutt...


Lanie mematikan sambungan telepon tanpa menjawab lagi pertanyaan Brian. Segera ia melajukan mobil dan berlalu dari pekarangan rumah minimalis ibunya.


Ketika hatinya bercelaru, bukan suami yang Lanie datangi melainkan berondong tampan yang sekali pertemuan puluhan juta sewanya.


...----------------...


Bulan berganti dari Januari, Februari, Maret, dan kini April pun datang menghampiri. Luna fokus pada penyembuhan kakaknya.


Setelah melihat banyaknya perkembangan signifikan dari Lira, Mike yakin secepatnya Lira akan bisa disembuhkan.


Atas permintaan Lira sendiri, Mike telah mempermudah proses pembatalan pernikahan bersama Luna.


Lira juga dibawa ke Jakarta untuk dirawat secara khusus oleh Luna dan Anelka.


Sementara Lanie, masih menggantung dengan status istri pertama yang tak dianggap.


Berulang kali Luna mengingatkan agar Lanie segera menggugat cerai Mike. Namun tidak, Lanie masih tak mau melakukan itu.


Lupakan persoalan keluarganya yang kacau balau, bagaimana pun kondisinya Luna ingin tetap menjalani hidup layaknya gadis biasa.


Setelah beberapa bulan terakhir tak lagi bisa menemui Kaesang, Luna memutuskan untuk bekerja saja.


Luna bekerja di rumah sakit ternama sebagai tenaga kefarmasian. Luna bertugas membantu pekerjaan apoteker dalam meracik, memformulasi, mengidentifikasi, membuat, mengombinasi, menganalisis, serta menstandarkan obat.


Luna berusaha move on. Yah, berhubungan dengan pemuda tampan yang sudah memiliki tunangan, kemungkinan besar yang terjadi hanya satu, yaitu perpisahan. Rela tak rela, Luna harus ikhlas, melepasnya dengan indah.


Lanjut di jam 00 insyaAllah....

__ADS_1


__ADS_2