
"Kaes!"
Kaesang menoleh pada si penyeru. Wajah tampan yang tak pernah ia lihat, kini tertampil di hadapannya.
"Brian!" Keduanya saling memberikan pelukan dan tepukan di punggung. "Apa kabar?"
Di toilet bandara Soekarno-Hatta, tanpa janji mereka kembali dipertemukan.
Satu tahun sudah berlalu, tak ada yang menemukan perubahan di masing-masing wajah awet tampannya.
"Aku baik ... Kau?" Brian berbalik tanya seraya melerai pelukan. "Kau pucat."
"Aku memang tidak sedang baik-baik saja."
"Kenapa?"
Kaesang mengangkat bahu. "Entah." Tapi dari gesture tubuhnya, ia mengalami lemah letih dan lesu.
"Kau sakit?"
"Aku kira hanya mual, masuk angin."
Brian terkekeh. "Kita hangatkan tubuh mu dulu. Ngeteh mungkin? Lama kita nggak ngobrol."
"Boleh." Kaesang mengangguk. Dan keduanya saling merangkul seperti kawan akrab lainnya, menuju sebuah cafe muda-mudi yang terkenal.
Pertanyaan template seperti dari mana saja, Kaesang ajukan. Rupanya Brian baru datang dari California.
Yah... Lama mereka tak berkomunikasi, sekarang Brian sudah kembali hidup di bawah naungan keluarga besar.
Kaesang bersyukur, setidaknya Brian tidak perlu tinggal di kost sempit seperti dulu. Brian juga putra pewaris perusahaan animasi ternama.
__ADS_1
"Gimana Luna? Sudah hamil?"
"Itulah alasan kenapa aku pulang, dia marah padaku, dan mungkin karena itu." Kaesang menghela napas sedikit berat. "Dia kesepian tinggal di istana ku," lirihnya.
"Apa yang membuat mu menunda? Wanita akan lebih merasa sempurna setelah punya anak," kata Brian.
"Kau sendiri?" Kaesang justru beralih teringat pada keponakan istrinya yang lahir tanpa seorang ayah. "Anak mu sudah sangat besar," infonya.
Brian tersenyum getir. "Ibunya saja tidak membutuhkan aku ... Jadi untuk apa dibahas? Aku tidak berarti apa-apa bagi mereka."
"Kau tidak mengejarnya? Sama seperti mu, dulu Luna pun sukar aku raih."
"Mereka jelas berbeda Kaes. Luna mau kau perjuangkan, sementara dia, tidak." Bahkan, untuk menyebut nama Lanie saja, Brian sakit.
Ia sepakat, pertemuannya bersama Lanie satu tahun lalu, menjadi akhir dari hubungan yang berbuah pangeran kecil.
"Sayang." Gadis cantik berjalan melambaikan tangan menghampiri keduanya, Kaesang berkerut kening melihatnya. "Siapa dia?"
"Kekasih ku." Brian tersenyum dan menepuk pundak temannya. "Sepertinya, aku harus pulang Kaes, lain kali saja kita lanjutkan ngeteh, beri aku nomor mu."
"Oh..., of course!" Kaesang menerima ponsel Brian untuk menulis sebuah kontak miliknya. "Aku tunggu telepon mu," ucapnya.
"Pasti." Brian melenggang pergi, dan Kaesang menggelengkan kepalanya ringan. Ia tahu benar, bagaimana perasaan Brian pada Lanie, tapi sekarang, temannya itu harus menjalani hubungan dengan gadis lain.
Mungkin, jodoh tidak menggariskan keduanya bersama. Mirisnya lagi adalah, Mike yang masih diakui ayah bagi putra Brian.
Tak ayal, selain keluarga, tak ada yang tahu siapa ayah biologis putra Lanie. Sampai detik ini, orang masih berpikir Clay si tampan adalah benih dari Mike Lorenzo.
Drrrttt....
Lamunan Kaesang membuyar bersamaan dengan getaran ponsel miliknya. Kening mengernyit mendapati kontak ibu mertuanya.
__ADS_1
Tak biasanya Diana menelepon, dan benar saja, ia dikabarkan harus segera datang ke Rumah Sakit. Tak perlu pikir dua kali, Kaesang segera berlari keluar Bandara.
...---------π---------...
"Sayang." Ranjang pasien tempat Kaesang duduk menatap cemas istrinya. "Hamil?"
Kaesang begitu cemas kemarin, dan hari ini, Luna pingsan karena berita mengejutkan. Jadi rupanya, pundungnya Luna akhir akhir ini karena janin dalam perut.
Ini berarti, program keluarga berencana mereka tidak berhasil.
Kaesang menyadari, ada beberapa kondisi yang mana dia juga tidak yakin di mana dia mengeluarkan bibit unggul.
Terkadang, saking sudah terlalu menikmati, dia sendiri terlena. "Sayang hamil?" ulangnya.
Luna melipat bibir. "Aku bisa mengurusnya, kalau kau tidak mau bertanggung jawab, lupakan Kaes!" ketusnya.
"Ayolah Yank ... Kau pikir aku suami yang seperti apa? Aku ayahnya, tentu saja aku mau bertanggung jawab."
"Wajah mu tidak bahagia sama sekali!"
Kaesang meredakan emosi istrinya dengan menarik dan memeluknya. "Baiklah, aku minta maaf, aku hanya takut kasih sayangmu terbagi," lirihnya.
Luna membalas memeluk, nyaman, damai, tentram, ketakutan Kaesang memang masuk di akal. Biasanya, wanita akan lebih menyayangi putra putrinya daripada suaminya.
"Semoga anakku tidak meniru manja mu, egois mu, dan kolokan mu, Kaes," gerutu Luna.
"Tapi dia anakku." Kaesang terkekeh. "Eyang pasti akan adakan pesta besar untuk menyambut kedatangan anak kita," cetusnya.
Luna tersenyum tipis. Tumben, Kaesang bersikap seperti orang dewasa. "Eyang pasti repot menyiapkan ritual-ritual nya."
"Tentu saja." Kaesang tergelak. Keluarganya memang serepot itu, jika untuk urusan acara sambut menyambut.
__ADS_1