Obsessi Tuan Billionaire

Obsessi Tuan Billionaire
BC spesial Lanie Brian


__ADS_3

...📌 Hello, dari kemarin banyak request cerita ini.. Ok.. Supaya lebih mendalami, Pasha pakai sudut pandang orang pertama (AKU) ya......


Meski belum dapatkan restu, tapi telah usai pernikahanku dan Brian. Brian kekeuh untuk memperistri ku dan menjadi ayah bagi Clay, putra pertamaku.


Mungkin setelah ini, aku harus mengalami pembullyan. Tante-tante menikahi bocah baru gede, aku tidak peduli lagi sekarang.


Bahkan, jika ayah Brian menentang hubungan kami, aku takkan menyerah selama Brian sendiri tak ingin menyerah. Aku mencintainya, aku akan tetap bersamanya sampai dia bosan dengan kehadiran ku.


"Brian!" Setelah turun dari helikopter, dengan kain merah yang menutupi mata, aku meraba-raba udara di depanku.


"Sebentar lagi sampai."


Suara Brian terdengar teduh di telingaku, kurasakan sebelah tangannya menggenggam erat tanganku lalu sebelahnya lagi menjaga pinggang ramping yang selalu dia puji.


Brian yang telah menjadi suamiku, pemuda itu menuntunku hingga sampai ke tempat yang saat kuhirup seketika aroma lautan tercium, debur ombak terdengar nyaring.


Sontak, otakku reflek membayangkan betapa cantiknya gaunku yang beterbangan oleh tiupan angin pantai, sepertinya aku tengah berdiri di depan bentangan luasnya perairan biru.


"Kamu mau mutilasi aku?" Aku hanya bercanda, aku tahu suamiku tengah membawaku untuk berbulan madu.


Brian terkikik seperti tergelitik dengan ocehan ku Barusa. "Tenang sedikit, selama kamu tidak berselingkuh, aku tidak sekejam itu, Sayang."


Dia terkekeh. Lantas, membuka pelan-pelan kain penutup yang menghalangi keindahan mata istrinya, ya aku istrinya dan aku bangga.


"Bri..."


Mulutku menganga dengan bola mata yang terbuka sempurna. Pemandangan indah di depanku cukup mampu membuatku shock.


"Kita pesta honeymoon di sini," katanya.


Aku menepuk-nepuk dada yang seketika menghangat. Aku kira hanya bermain dipantai lalu pulang.


Rupanya, Brian juga menyiapkan resort atas air untukku, mungkin agar mendapatkan sensasi bulan madu yang lebih hangat lagi.


"Tidak perlu merasa terharu. Ini cuma kejutan kecil. Kau tahu, selama menjadi istriku, kau akan terus mendapatkan kejutan dariku."


"Brian..." Aku merasa puber kembali, aku memeluk suamiku sangat erat, aku takut jika pemuda ini pergi dariku untuk yang kedua kalinya.


Hal yang tak pernah ku dapatkan dari Mike, kini aku raih dari Brian. Air mata yang terjatuh di pipiku, disapu bersih oleh tangan pelindung itu, bibirku bergetar saat dikecupnya.


"Aku mencintaimu Lanie."

__ADS_1


"Terlebih aku." Kembali aku menghambur ke dalam pelukannya. Damai, walau aku tidak tahu akan sepanjang apa masa jodohku bersamanya, aku hanya ingin menikmatinya.


Batinku terus menerka. Inikah yang namanya dicintai? Kemarin, Mike hanya memberikan fasilitas untukku, tidak dengan perilaku apa lagi kejutan romantis seperti ini.


Memang bukan Swis, bukan London bukan Paris, hanya singgah di Raja Ampat Papua saja hatiku sudah berbunga-bunga.


Baru pertama kali aku singgah ke tempat ini, merasakan betapa sejuk dan asrinya alam hingga jernihnya air yang terjaga.


"Sini..." Brian menepuk paha yang tampak kokoh dan bersiap memangku beban tubuh ku yang dia bilang sangat menggoda.


Tempat ini begitu cantik, kami berdiri di lantai kayu yang terapung. Ada ayunan, ada kursi malas, ada meja bulat, dan di dalam kamar sana lebih menawan lagi dari pemandangan luarnya.


Aku duduk dengan pelan di sebelah paha yang Brian sodorkan, dua lututku menyentuh pahanya yang lain. Kedekatan kami cukup intens bahkan terbilang sangat lekat.


"Sayangnya Clay tidak ikut." Aku menghela napas berat, seharusnya aku tidak merusak suasana bulan madu dengan menyebut nama putra kami yang jauh.


Aku terpatung ketika Brian kemudian mengikis jarak diantara kami, jantungku berdebar kencang, kini mulai kurasakan sentuhan di cuping telingaku begitu dia membisikkan suara paraunya.


"Sudah sampai sini, Lanie. Kita akan pulang dengan oleh-oleh."


Aku tertawa sedikit lama. Dia sampai ikut tertawa karena aku tak kunjung menyudahi tawaku. "Maksudnya anak lagi?"


"Kita buat anak yang banyak di sini." Dia merayuku dengan bisikan seksinya.


Angin berhembus dari belakang tubuhku, dan angin membuat seluruh rambut ku jatuh terarah pada wajahnya. Dalam damai ku tatap lekat bibir dan pandangan syahdunya.


Dia berusaha menyingkirkan surai lurus yang mengacaukan pandangan kami. Tak sempat ku rasakan hal lain lalu tiba-tiba saja bibirnya terjatuh pada bibirku.


Aku terpejam, dan mulai tersengat arus yang mengalir ke seluruh tubuhku. Efeknya cukup buruk karena setelah itu aku kehilangan kendali ku.


"Ahw!" Aku mengeluh kecil. Kemudian mundur untuk menatap protes wajah tampannya. Baru mulai ku nikmati, dia sudah berani menggigit ku. "Kamu apa-apaan sih!"


Dia tertawa kecil. "Terima kasih sudah mau menerima lamaran ku. Terima kasih sudah mau kunikahi. Aku mungkin bisa saja gila seandainya kamu menolak ku lagi."


"Gila saja. Aku mana peduli!"


"Yakin, hmm?" Aku sontak menghela napas berat, lalu menatap kosong tatapan penuh dambanya.


Ya ampun, aku mulai mengatur napas, dia pandai sekali memainkan gejolak ku dengan putaran jari yang bermain di ranah pribadi ku.


Gaun tipis dengan belahan di paha, aku sengaja memakai ini hanya untuknya. Dia selalu mencari jalan masuk, dan aku memang sengaja memudahkannya dengan gaun ini.

__ADS_1


Dia meraih tepian CD ku. Aku hapal dan tahu langkah berikutnya. Aku bangkit untuk lebih memudahkan aksinya.


Aku duduk kembali setelah CD sudah separuh turun dan membiarkan benda berenda hitam itu lepas dari kedua kakiku.


"Buka...," pintanya.


Dia memandang dadaku yang masih ditutup kain gaunku. Aku menurut dan perlahan dia mendekat untuk menghirup dalam-dalam aroma kulitku di bagian menonjol itu.


Dia mendusel beberapa kali lantas mendapat ujung kecil kesukaannya. Ah! Aku memekik begitu saja ketika dengan lihainya dia mainkan itu di dalam mulutnya.


Berdiri seluruh bulu romaku. Aku tegang, kaku, tapi ada efek yang lebih mendominasi dari pada apa pun.


Gerakan ku tak beraturan temponya, dia terus mengunyah dengan masih melakukan permainan jemari di bawah sana.


Kadang aku mendongak menatap langit biru, kadang aku menunduk untuk sekedar mencium rambut di kepalanya.


"Kamu curang!"


Aku terpaku. Brian menatap protes wajah yang aku yakin sudah seperti kepiting rebus karena ulahnya barusan. "Kenapa keluar, hm? Ini bahkan baru saja dimulai!"


Aku tertawa, bagaimana bisa tidak keluar, dia lihai memainkannya. Lama sekali aku tak merasakan hal seperti ini, sialnya, aku kalah lincah dari pemuda yang minim pengalaman.


"Aku tidak mau tahu. Jangan protes lagi, aku mau dua jam! Dari sekarang!" Brian membuat ku bangkit dan membelakanginya.


Dia mengutak-atik gespernya, membebaskan miliknya yang sudah cukup tegar, lalu mengangkat tepisn rok ku ke atas. Aku menatapnya samar, dia cukup kesulitan saat membenamkan miliknya.


Aku bergerak-gerak untuk membantu dirinya, tak lama dia menggeram, rupanya selesai sudah perjuangannya menjebol gawang ku.


"Mau yang cepat apa yang pelan?"


"Terserah, asal... Jangan di sini Brian. Aku takut ada bellboy yang ke sini!"


Aku ingat betul, tas koper kami belum ada satupun yang diantarkan ke sini. Aku yakin sebentar lagi bellboy datang untuk itu.


"Biar saja mereka iri!" Brian semakin tak peduli pada sekitarnya. Aku terpaksa mengawasi sekeliling ku, takut jika ada yang datang dan melihat kami.


Selain geli dan kurang napas, aku tak bisa fokus karena harus terus menoleh ke kanan dan kiri. Sumpah, seharusnya ini nikmat, aku malah tak bisa menikmatinya karena takut.


"Pindah Brian!" Berteriak dengan parau, Aku memintanya sekali lagi, dia menurut untuk membawaku ke dalam dan memulainya kembali di atas sofa kayu dengan bantal putih.


"Dua jam ya!" Dia menyeringai, yang membuat aku tiba-tiba takut akan ancamannya.

__ADS_1


__ADS_2