Obsessi Tuan Billionaire

Obsessi Tuan Billionaire
Pengangguran


__ADS_3

Bibir senyum Kaesang masih mekar tipis-tipis, begitu pula dengan Luna.


Pukul sebelas malam, jalanan berpolusi mereka jajagi, lampu perkotaan menjadi teman satu-satunya penerang.


Pujangga mengatakan, di mana pun, bagaimana pun, asal bersama sang terkasih, semua terasa lebih manis.


Sesekali Kaesang meliuk liukan sepedanya, teriakan manja Luna cukup mengobati pegal di kakinya.


Lelah duduk di depan, Luna minta diturunkan kemudian berpindah tempat ke belakang.


Tak ada besi boncengannya, Luna tak urung dari niat, ia berdiri bahkan terkesan gendong pada punggung kekasihnya.


Di saat seperti ini pun, otak mesum Kaesang berkelana, kenyal, padat, bulat, hangat, besar, begitu yang dapat ia deskripsikan untuk dada kekasihnya.


"Sayang," panggil Kaesang, ekor matanya melirik sekilas ke arah samping, di mana wajah cantik Luna bertaut dengan pipinya.


"Hmm?" gumam Luna menjawab.


"Bisa periksa punggung ku?" pinta Kaesang.


Luna mengernyit khawatir. "Memangnya kenapa? Kamu sakit?"


"Tidak," nyengir Kaesang.


"Lalu?"


"Takut berlubang saja, dari tadi dada mu terlalu menekannya," terkikik, Kaesang berujar nakal.


Sekilas tiada yang bisa Luna cerna, lalu setelah otaknya sampai, dia mencubit pipi kekasihnya. "Messum!"


Segitu pun kadar mesum Kaesang, tak dipungkiri Luna nyaman bersentuhan langsung dengan kekasihnya.


"Kaes." Luna berbisik.


"Hmm," sekali lagi Kaesang melirik sekilas wajah Luna. Jalanan beralih dari yang padat kendaraan menjadi area komplek perumahan.


Napas Kaesang mulai tersengal, peluh sudah membasahi sebagian besar anggota tubuhnya.


"Apa yang membuat mu tertarik padaku?" bisik Luna. "Semua yang ada padamu," jawab cepat Kaesang.


Luna tersenyum, lantas kembali membisik kata pertanyaan. "Kamu tahu kan, aku sempat menjadi istri Mike?"


"Lalu?"


"Harusnya kamu tahu resiko menyukai istri orang itu seperti apa," kata Luna.


Kaesang mengangkat bahu. "Bagiku tidak ada resikonya, selama kamu mau bersama ku, apa pun itu, aku lakukan, sekalipun harus merebut mu," sambungnya.


"Gimana sama keperawanan?" sela Luna. Dan sepertinya Kaesang baru paham arah pembahasan kekasihnya. "Gimana kalo aku sudah tidak virgin?" tanyanya lagi.


Kaesang tergelak di sela deru napas yang tersengal. "Percaya atau tidak, dari balita aku sudah jatuh cinta padamu." ujarnya.

__ADS_1


"Aku mau menikahi mu, menua bersama mu, karena aku memiliki keyakinan padamu, aku nyaman berada didekat mu," imbuh Kaesang.


Tipis-tipis Luna tersenyum, tersentuh, tersanjung. Pipinya merona kian memerah mendengar jawaban kekasihnya.


"Bukan keperawanan, melainkan kehadiran mu yang aku incar," tambah Kaesang. "Virgin hanya bonus, kurang bijak kalau seorang pria meributkan keperawanan wanitanya."


Terkesan dengan kata-kata Kaesang, Luna mempererat pelukannya. Sekali lagi, ia kecup pipi Kaes dengan lembut, lalu pundak bidang itu menjadi sandaran ternyaman bagi pipinya.


Cinta Kaesang menjadi jawaban untuk segala bentuk doa yang terpanjat. Gulir waktu yang diselimuti kehampaan, seakan sirna.


Hadirnya Kaesang bagai rintik hujan di penghujung kemarau baginya. Oh Tuhan, Luna sangat bersyukur.


Hampir saja ia terjun bebas pada liang keputusasaan berupa Mike yang masih menjadi lelaki bagi kedua kakaknya.


Lihatlah, murninya hati Kaesang tanpa torehan kepalsuan seperti yang Mike perlihatkan.


Tiba di depan rumah, kembali Luna meminta diturunkan. Lantas, Luna mengajak Kaesang memasuki sebuah pagar yang dikelilingi daun rambat.


Sambil menuntun sepedanya, mata Kaesang menyisir kan pandangannya. Jika dilihat dari areanya, komplek perumahan ini bukan milik orang-orang biasa.


Kendati tidak sekaya Mas Rafael ayahnya, bisa diklaim bahwa ibu Luna juga termasuk dari jajaran orang kaya.


"Kamu yakin langsung pulang?" usapan Luna membuat Kaesang beralih padanya. Kaesang juga memarkir sepedanya baik-baik.


"Pasti kaki mu keram kan?" Lagi, Luna bertanya memastikan.


Kaesang terkekeh, satu langkah lagi ia mendekat, berusaha memangkas jarak setipis yang dia bisa. "Cukup beri aku bekal ini saja," pintanya.


Sontak Luna berbalik arah, rupanya Diana keluar dengan langkah cepat. "Sama siapa kamu malam-malam begini?" tanyanya.


"Ma, ini, emmh," gugup Luna.


Malu sudah barang tentu, barusan saja ibunya memergokinya berciuman dengan pemuda yang belum sekalipun dikenalkan.


Kaesang menggaruk tengkuk, ia belum begitu hapal cara mendekati calon mertua. Terlebih, tatapan ibu Luna seperti tidak suka padanya.


Dari atas hingga bawah, Diana memandangi sekujur tubuh Kaesang. Tampan, tinggi, putih bersih, tapi sepeda ontel bawaannya.


Diana beralih pada putrinya. "Dokter Kian ke mana? Sore tadi bukanya Mama suruh dia yang antar kamu pulang?" tanyanya.


"Luna dijemput pacar Luna Ma."


"Pacar?" Diana mendelik kaget. Dan anggukan kepala putrinya cukup mengecewakan.


"Kaes, kenalin,"


"Apa pekerjaan mu?" Belum-belum, Diana sudah mencecar Kaesang dengan pertanyaan template, ala ibu mertua.


Kaesang menyengir. "Belum ada Tante, ..."


"Pengangguran?" potong Diana. Ketus nadanya pertanda ketidaksukaannya.

__ADS_1


Kaesang mengangguk. "Untuk sementara begitu, saya masih baru, ..."


Belum lagi selesai ucapan Kaesang, Diana menarik paksa lengan putrinya. "Masuk! Hari sudah mau pagi, nggak ada waktu buat kenalan sama orang asing!" ketusnya.


Luna membulat mata. "Ma, Kaes mau kenalan sebentar, dia belum selesai ngomong," ronta- nya, ia menatap wajah damai kekasihnya yang begitu tenang mendapat perlakuan tidak sopan.


Tak mengindahkan keluhan putrinya, Diana tetap membawa gadis itu masuk. Bahkan membanting pintu sekeras yang ia mampu.


Kaesang tertegun pasrah. Dalam batin ia berpikir liar, mungkin Luna satu dari korban putri yang tertukar, karena sepertinya tak seujung kuku pun ada kemiripan di antara ibu dan anak itu.


"Luna mau buatin minum Kaesang," kekeuh Luna. "Kaes pasti capek anterin Luna pake sepeda! Biar dia istirahat sebentar," belanya.


"Yang suruh jemput pake sepeda siapa? Mama kan suruh kamu pulang sama Dokter Kian, bukan anak pengangguran sepertinya!" sergah Diana.


"Tapi Kaes pacar Luna!"


Diana terkekeh getir. "Baru pacaran Luna! Yang nikah saja bisa cerai, apa lagi kalian, Mama saranin, sebelum kecewa lebih dalam lagi mending minta putus dari sekarang!"


Luna terisak kesal.


"Kamu yang benar saja Luna, bisa-bisanya berhubungan sama pemuda yang cuma modal dengkul!" sarkas Diana.


"Kamu kan tahu, kamu satu-satunya harapan Mama, jangan kecewakan Mama seperti Lira dan Lanie," cerocosnya


"Dokter Kiandra lebih cocok, Dokter Kian lebih segalanya, dewasa, mapan, yang pasti tidak hanya modal dengkul seperti Mike!"


Di sela isakan Luna menampik. "Jangan samakan pacar Luna sama Mike, mereka berbeda!" teriaknya.


Diana mengangguk. "Yah, berbeda, karena sekarang pacar mu belum terlihat belangnya, tapi nanti setelah sukses dengan uang mu, bisnis mu, dia baru menunjukkan aslinya," pikir buruknya seperti trauma.


"Laki-laki tampan pengangguran yang cuma modal dengkul, pasti tukang selingkuh, dia akan bertingkah setelah bisa mencapai kesuksesannya!" timpalnya kembali.


"Mama belum kenal Kaesang, jangan dulu menghardiknya!" Luna berlari menapaki anak tangga sesaat setelah meneriaki ibunya.


Sesak, kenapa sulit sekali jalannya menuju bahagia, disaat Kaesang berjuang untuknya, sang ibu justru melarang kedekatan mereka.


Secara serampangan, tubuhnya ia jatuhkan pada ranjang king size miliknya.


Tinggal bersama ibu tirinya lebih baik dari pada harus diatur soal kehidupan percintaannya.


Klik...


Dering singkat menggetarkan ponselnya, Luna meraih gawai tipis itu dari dalam tas miliknya. Sebuah nomor tak dikenal mengirim pesan teks padanya.


📥 [Don't cry. Aku pasti bisa meluluhkan calon mertua ku. Btw, terima kasih kecupan kentangnya Sayang.]


Membasuh pipi yang basah, Luna terkikik kecil saat membacanya, beruntung Kaesang bukan pemuda yang mudah menyerah.


Tak mau repot membalas, Luna melayangkan panggilan telepon pada nomor baru Kaesang.


Di suara tut ke dua Kaesang sudah menjawabnya.

__ADS_1


📞 "Aku mencintai mu Luna. Sangat sangat mencintai mu." Senyum terkulum begitu manis, di antara bibir merona Laluna.


__ADS_2