
Gula memerlukan panas untuk bisa menjadi caramel. Seperti Kaesang dan Luna yang kini mereguk manisnya setelah perjuangan.
Tidak begitu sulit, sebab Rayden sendiri takkan kuat jika harus mempersulit putra yang dilahirkan spesial.
Mengulik masa lalu. Lidah mati rasa, demensia, Luna hadir sebagai penawar bagi putra pewaris tahta RMR.
Tak seperti Rayden yang menikah di usia matang. Kaesang sudah mempersunting Luna di usianya yang masih cukup muda.
Gelar rich man sudah melekat pada Kaesang sedari lahir, tentu saja. Namun, aturan-aturan masih diatur oleh ayah posesifnya.
Terlihat jelas dari bagaimana Rayden masih sangat berperan dalam penyatuan Luna dan Kaesang tentunya.
Sebutan CEO muda telah tertancap pada Kaes, nyatanya Rayden masih menjadi pion penting bagi perusahaan yang di pimpinnya.
Rayden masih berkuasa atas seluruh anggota R-build group. Masih mampu menyetir para karyawan yang sebegitu nurutnya pada Kaes.
Menilik masa lalu. Dahulu Rayden mampu kuat melawan ayahnya, yah benar. Abimanyu kala itu mengalah untuk sang putra.
Eyang Abimanyu benar-benar menyerahkan perusahaan pada putranya, tepat di usia Rayden yang sudah menginjak 27 tahun.
Namun Kaesang tidak, bahkan sampai detik dirinya akan menikah pun, ayahnya masih menjadi orang yang turut mengambil banyak peranan.
Tidak pelak, Kaesang masih 21 tahun saat menduduki kursi CEO. Lain katanya; Kaesang masih dalam masa percobaan.
Belum sepenuhnya mendapat kuasa atas R-build group layaknya Rayden ketika menikahi Alula Humaira, si gadis 18 tahun nan polos kala 22 tahun yang lalu.
Terlepas dari semua itu, Kaesang bahagia pada akhirnya. Karena Luna kebahagiaan yang hakiki baginya.
Waktu berlalu begitu menggebu. Detak jam, desing hujan, tetesan embun, teriknya sinar, pancaran rembulan, semua masih melengkapi hari-hari Kaesang dan Luna.
Percekcokan receh yang sudah seperti nyanyian bising, pukulan kasih sayang yang tak melebam, cemburu ala crazy rich yang sulit dihindari, masih menemani hidup Luna dan Kaesang.
Lima bulan yang telah terlewati, cukup banyak rasa manisnya, asamnya, pahitnya. Rasa yang berbeda beda setiap harinya, semuanya asyik bagi mereka.
"Cepetan Hubby!"
Rumah minimalis modern ini sepi dari anggota keluarga. Hanya ada pelayan, asisten dan pengawal yang menemani Kaesang Luna.
Namun, jika urusan keramaian, teriakan Luna dan Kaesang sudah hampir mengalahkan suara ledakan nuklir paling dahsyat di dunia.
__ADS_1
"Cepetan turun! Kak Lanie mungkin udah mau lahiran!" Saking geramnya, Luna mengangkat megafon bermerek toa demi terdengar suara indah yang berubah horor seketika.
"Tuhan, kenapa aku diberikan jodoh yang seperti ini? Manja, lelet, semuanya harus diatur!" teriak Luna lewat megafon miliknya.
Tergopoh Kaesang menuruni anak tangga, pakaian kasual, sepatu sneaker, ikat pinggang akhirnya melekat pula padanya.
Itu pun, harus Luna yang menyiapkannya, sebelum turun untuk membuatkan dirinya sarapan.
Wangi parfum menguar. Cengiran gigi putih terpapar. Sapaan "I'm coming Sayang" pun terucap mesra dari mulut Kaesang.
Tiba di lantai bawah, segera menyambar bibir istrinya lahap. Luna mendengus, jika urusan lahap melahapnya, Kaes tak perlu jadwal.
"Telat lagi telat lagi kan?" tatap Luna tajam.
Kaesang menyengir seraya duduk pada kursi meja makan minimalisnya. "Semalem setelah ehek sama kamu, ada bola bagus," jujurnya.
Lagi pula hari ini hari Minggu, Kaesang tidak merasa perlu untuk bangun pagi-pagi buta seperti hari-hari biasanya.
Lantas, berita tak terduga terdengar pagi ini. Diana sang mertua menelepon Luna; menyampaikan bahwa Lanie sudah berada di rumah sakit.
Usia kandungannya sudah 9 bulan, tentu saja bisa sewaktu waktu Lanie memberikan kabar lahirnya sang keponakan.
Beruntung, Kaesang masih belum tinggal di Inggris, Luna masih memiliki kesempatan untuk menemani kakaknya lahiran.
Luna duduk di sisi suaminya, tentu setelah piring Kaesang terisi oleh nasi dan lauk-pauk buatannya.
"Boleh suami mu makan, Sayang?" cengir Kaesang. Ia tak cukup berani melawan arus omelan horor istrinya.
"Cepetan! Aku kan sudah suru...,"
Cup...
Setelah bungkaman mujarab, gegas Kaesang mengambil sendok garpu dengan kesigapan ala pekerja honorer, lantas segera menyantap makanan miliknya.
Luna menggeleng ringan, suaminya ini memang masih terbilang manja. Maklum, sebelum menikahi dirinya, kegiatan Kaesang terbiasa diagendakan oleh ketiga asistennya.
Kemudian setelah menikah, semua mua nya, harus diagendakan, diatur, dicatat, oleh istri tercinta yang bahkan sudah banyak tugas di apoteknya.
Lepas dari itu, dunia Kaesang terasa manis, meski gerutuan pagi sang istri mengalahkan panjangnya rel kereta api.
__ADS_1
...----------------...
Lanie masuk ke dalam kamar persalinan. Dan sectio caesarea (SC) menjadi langkah yang diambil dokter untuknya.
Di tengah guratan pisau sang dokter. Lanie menerawang jauh. Waktu seolah diam, tak berdetak seperti lima bulan yang lalu, di mana waktu satu Minggu berlalu dengan indah bagi Lanie dan Brian.
Masih terngiang kala perpisahan itu. Di bandara Soekarno-Hatta, Brian menatapnya berlalu dengan mobilnya.
Perpisahan yang terjadi setelah satu Minggu yang begitu berarti bagi mereka. Benar...
Waktu emas di Norwegia, saat-saat Brian menggendong dirinya, mencumbu bibirnya, bahkan menyentuh kulit-kulit sensitifnya.
Air mata Lanie menetes. Perawat mengusap, setitik eluhnya dengan tisu, dan pasien cantik itu masih dalam fase di mana angannya terbang tak keruan.
Lolongan mata kosong mengarah pada langit-langit. Ingatan kembali terajut, kala baur peluh dan sahutan lenguh bergulir setiap pagi hari, Norwegia.
"Janji Brian, setelah satu Minggu ini, kamu harus mencari perempuan lain, semua demi aku, demi nama baik kita."
Lanie menuntut Brian dengan kalimat itu, di kala itu pula. Bohong jika ia rela, buktinya ia merasa kesepian setelah lima bulan ia lewati tanpa Brian.
Bukan atas dendam kepada perilaku Mike, Lanie sadar kaitan raga yang nikmat itu, karena ia menginginkannya, yah.. Brian candu baginya.
Tuhan, harusnya ia tidak boleh jatuh cinta pada pemuda yang tidak seharusnya ia miliki. Lanie menerawang lebih jauh lagi, segala bentuk perhatian Brian pun teringat kembali.
"Eeeee......"
Tangisan bayi mungil yang memekakkan telinga, membuat Lanie tersadar dari lamunannya.
Segera ia alihkan tatapan pada putra tampannya. Beberapa suster, terkikik, tersenyum, terlihat bahagia dan lega.
"Tampan seperti ayahnya," kata Dokter perempuan itu.
Melihat ketampanan Brian terpatri di wajah putranya, Lanie meluruhkan air mata. "Benar, dia mirip ayahnya," sahutnya.
Dokter meredum. "Tapi sayangnya, Tuan Mike tidak di sini," ujarnya lirih. Sekilas saja, dokter menerbitkan senyum penyemangat untuk pasiennya.
Lanie terkekeh tanpa menyahuti. Tangisnya, pilunya, sendunya, bukan karena Mike yang sudah resmi menceraikan dirinya, melainkan Brian yang entah berada di mana.
Terakhir, Lanie mendengar kabar burung yang lewat di antara lingkungan pertemanannya. Brian pindah kuliah di Washington DC.
__ADS_1
^^^📌 Epilog....^^^
Selebihnya, ekstra part...