Obsessi Tuan Billionaire

Obsessi Tuan Billionaire
Bukan sewaan


__ADS_3

...Gess, part ini memang bukan tokoh utamanya, tapi perlu ku tulis demi berkembangnya cerita ini, stay tune everyday kesayangan❤️ Di bawah ini visual Brian Anggara....



Berbeda dengan Kaesang yang harus pulang tanpa penghormatan sang ibu mertua, Brian baru memulai pertemuannya.


Tak seperti biasanya, kali ini matanya disambut oleh pemandangan indah nun luar biasa memesona.


Di atas ranjang empuk dengan cover putih polos, wanita berusia matang yang sudah satu tahun ini menjadi teman kencannya, seolah pasrah dengan bra dan g-string tali hitam.


Tante Lanie, nama yang menjadi sebutan selama satu tahun terakhir. Bukan tersenyum, Brian justru membuka jaket miliknya untuk disodorkan pada kekasihnya.


"Jangan menggodaku," tegurnya datar.


Menatap puja pemuda tampan itu, bibir Lanie tersenyum miring. "Aku tahu aku tidak begitu menarik, tapi untuk malam ini saja, aku minta kau melakukannya," pintanya.


"Jangan gila," sergah Brian.


Wajah sendu Lanie mulai terusung, mungkin memang setidak menarik itulah dirinya, Mike yang suaminya saja tak mau menyentuhnya.


Namun tidak, seharusnya Brian tak menolak, mengingat betapa besar ia menyewa pemuda tampan itu.


Tadinya, Lanie hanya butuh teman ngobrol, teman bermain kartu, teman bermain billiar, teman mabuk dan teman tidur.


Lanie berusaha menunjukkan kuatnya dengan membalas perselingkuhan suaminya, namun, bukan berarti ia merelakan tubuhnya pada pemuda ini.


Sebagai mantan kupu-kupu malam, lelah sudah ia melayani hasrat laki-laki.


Lanie hanya ingin dilayani, merasa dicintai, merasa didengar, walau hanya satu malam bersama, cukup melarikan kesakitannya.


"Satu tahun kita berhubungan, dan setiap kali pertemuan, kau selalu menerima uang yang banyak dariku," kata Lanie.


Brian terdiam menatap mendekatnya wanita cantik itu.


Belaian lembut Lanie berikan pada dada bidang teman kencannya. "Malam ini, lima kali lipat bayaran mu," bisiknya menggoda.


Usapan Lanie sampai pada milik inti Brian Anggara. "Asal kau, mau menghamili ku," syaratnya.


"Kenapa tidak bercerai saja dulu?"


"Itu bukan ranah pertanyaan mu, Brian!" Lanie menukik alisnya. "Aku tahu kau tidak tertarik pada tubuh ku, tapi malam ini saja, lakukan untuk ku," bujuknya.


Brian terdiam, Lanie terus merengek dengan menarik kerah t-shirt-nya. "Setelah malam ini, kau boleh pergi dari hidupku," ucapnya lagi.


"Maksud Tante?" Raut kecewa Brian tiba-tiba nampak begitu jelas.


"Mungkin Minggu depan atau depannya lagi, aku sudah jatuh miskin," jelas Lanie. "Aku tidak mungkin sanggup lagi menyewa jam malam mu," imbuhnya lirih.

__ADS_1


Wajah Brian mengeras, bibir geramnya terkatup, sejenak mata almond miliknya menatap Lanie dengan kaca-kaca.


Lanie paham betul, Brian tak tertarik untuk menjajaki tubuhnya, tapi hanya Brian satu-satunya pemuda yang dekat dengannya.


Maka itu di malam terakhir pertemuan mereka, Lanie harus melalui proses penyatuan raga demi memiliki seorang anak.


Yah, anak yang lucu dan bukan dari benih Mike suaminya. Mungkin menyenangkan jika memiliki putra atau putri yang berasal dari pemuda setampan dan selembut Brian.


"Sentuh aku," pinta Lanie, kedua tangannya mulai membuka t-shirt dan celana putih pemuda itu.


Ada ketegangan yang entah sejak kapan, Lanie tersenyum saat berjongkok tepat dihadapan milik inti pemuda sewaannya.


Sempat tangan Brian menarik rambutnya, demi mencegah pertautan bibir Lanie dan miliknya.


Namun, tidak semudah itu, nyatanya ia terpejam menikmati setiap pagutan yang Lanie berikan.


"Agh!" Tangan yang semula mencegah, kini serakah untuk membantu gerakan maju mundur kepala Lanie.


Tak kuat lagi menahan, Brian menarik wanita itu ke atas ranjang. Di mulai dari kecupan panas, meremas tonjolan, sampai mengecupi bagian-bagian sensitif yang Lanie miliki.


Lanie terkekeh di tengah kegiatan nikmat mereka, ia paham betul, saat lelaki mulai on, mereka takkan peduli dengan siapa mereka bersetubuh.


Apa pun dasarnya, Lanie bahagia bisa membuat teman berondongnya menggauli dirinya yang lama haus sentuhan mesra.


"Tante mau ini kan, hmm?" Lanie melenguh kuat bersamaan dengan hentakan pertama pemuda itu.


"Kau marah?" desah Lanie.


Meski rasa ingin tahunya tergelitik, tetap hanya pejaman mata dan desah parau yang bisa Lanie berikan.


Sebab untuk bertanya apa yang membuat Brian marah, Lanie tak cukup sanggup bersuara.


Pemuda itu terus menghujam dirinya, bahkan tak ada jeda waktu walau hanya sekedar beristirahat.


Berwajah murka disertai gairah panas membara, Brian memberikan apa pun yang Lanie inginkan.


Sampai tiba, di mana Lanie merengek meminta sudah.


Bukan hanya satu atau dua kali ronde, entah kesurupan setan apa, Brian begitu murka padanya.


Wanita itu tertidur lemas setelah cukup lama dihunjam perkasa lelaki sewaannya.


...----------------...


Pagi menerbitkan sang mentari, jendela besar yang tiada diselimuti tirai, diterjang sinar yang menyilaukan pejaman netra.


Lanie mengernyit kuat-kuat dahinya, dengan tubuh remuk yang menggeliat pelan.

__ADS_1


Mata yang baru saja mengerjap, ia terbuka bulat menyisir setiap sudut tempat.


"Brian!" panggilan itu yang pertama kalinya ia gaungkan.


Tak mendengar sedikit pun sahutan, Lanie beringsut, dia duduk lalu menilik selimut tebalnya, rupanya ia masih polos tanpa seutas pun benang.


Lihatlah hasil dari kemarahan Brian, bahkan cap merah tertancap di mana-mana. Menyoal kegiatan malam tadi, Lanie menjadi berpikir sedikit keras.


Kenapa pula Brian semarah itu saat menggumulinya. Bukankah seharusnya senang mendapatkan 1M darinya?


Ada sedikit kekecewaan juga sesak yang Brian tampilkan, namun tetap berhasil membuat dirinya melayang bagai terbang ke atas awan.


Lama sudah Lanie tak merasakan kenikmatan ranjang, tak terelakkan memang jika malam tadi Brian benar-benar hebat dalam memberi servicenya.


"Brian," panggil Lanie kembali. Lanie keluar dari selimut tebalnya demi mencari sosok gagah perkasa yang biasanya menyambut paginya.


Kamar mandi sampai balkon, tak ada yang menyimpan pemudanya, jangankan sosoknya, bahkan untuk sepatu dan pakaiannya saja tak nampak.


"Ke mana Brian?" Lanie berdecak lidah, setelah dibayar 1M untuk melayaninya, pemuda itu kabur bahkan sebelum ia terbangun.


"Laki-laki sama saja, setelah enak, bawa uang, mereka per," ucapan Lanie terhenti seirama dengan tertangkapnya amplop coklat susu yang terlalaikan di atas nakas.


Lanie meraih kimono miliknya, sebelum meraih amplop untuk dibukanya. Kening mengerut mendapati benda-benda asing yang bukan miliknya.


Kartu debit beserta buku rekening atas nama Brian Anggara juga sudah lengkap dengan nomor password-nya.


Lanie tercengang melihat nominal angka yang berderet di sana. Secarik kertas tertulis sebuah pesan, Lanie segera membuka lalu membacanya.


...Kupikir, satu tahun bukan waktu yang sebentar Tante, tapi kau masih saja menganggap ku pemuda bayaran mu....


...Aku bukan gigolo mu, ambil semua uang-uang mu. Teruskan watak tak mau tahu mu, teruskan keangkuhan dan tertutup mu, aku undur diri....


Lanie terduduk pada tepi ranjang, benak seolah berat untuk berpikir, apa maksud pemuda ini?


Kenapa Brian harus mengembalikan uang-uang yang sudah dia transferkan selama satu tahun terakhir.


Bahkan, tak ada seperak pun yang berkurang dari jumlahnya. Dari awal perkenalan sampai malam kemarin semua tercatat lengkap.


Kriiiiiing....


Dering telepon membuyar lamunan antah berantahnya, Lanie meraih gawai pipih itu, berharap Brian yang menelepon, namun tidak.


Luna lah yang selalu menghubungi dirinya, sepagi ini. Saat ia mereject panggilan, puluhan chat dari Luna pun terlihat.


📥 [Kakak di mana? Kenapa tidak pulang malam tadi? Jangan dulu begadang di luar.]


Lanie mengusap dahi nyerinya. Benar, Lanie harus pulang sekarang juga, atau Laluna kasih akan terus menerornya dengan panggilan dan pesan.

__ADS_1


Setelah sekian lama hidup di dunia fana, ia baru merasakan kekhawatiran seorang adik.


Lalu, bagaimana dengan Brian? "Ya Tuhan, kenapa hidup ku sekacau ini?" keluhnya.


__ADS_2