Obsessi Tuan Billionaire

Obsessi Tuan Billionaire
Bc spesial Clay (Jealous)


__ADS_3

Sepotong roti, setangkup biskuit selai, segelas susu hangat menghiasi meja makan Lanie. Wanita berhanduk kimono itu membuat sarapannya sendiri untuk dinikmati sendiri.


Seperti keluarga yang bahagia, di meja yang sama dengan Lanie, Diana baru saja meletakkan sarapan khusus putri bungsunya.


Hari ini Luna menginap di rumahnya. Maklum, kehamilan Luna sudah memasuki bulan ke delapan, ada saja ngidamnya, dan kali ini Luna meminta dibuatkan sarapan bubur olehnya.


"Clay sudah bangun Lan?" Diana duduk di sisi Lanie yang mulai menikmati sarapan paginya.


"Sudah, tapi mungkin lagi joging sama Monica."


"Daddy nya dateng tuh."


Luna datang-datang duduk menyahut dengan mata yang sedikit menunjuk ke taman depan. Dan Lanie mengikuti arah pandangan adiknya.


Di depan sana, Monic baru saja turun dari mobil Brian sambil menggendong putra tampannya, Clay. "Mereka dari mana?" gumamnya.


"Clay makin deket sama Daddy nya." Diana menimpali tanpa beringsut dari roti tawar yang baru dia olesi selai kacang.


"Baguslah, jadi Clay nggak merasa yatim, dia punya Daddy yang selalu menyempatkan diri buat besuk," sambung Luna.


Lanie justru terpaku pada senyum Monic dan Brian sepulangnya dari jalan-jalan bersama dengan mobil yang sama.


Semenjak menampar Brian di hadapan Galih Pramana. Lanie tak lagi mendapat gangguan atau sekedar sapaan dari pria itu.


Brian datang di pagi dan sore hari, sekedar untuk menemui Clay saja. Itu pun, tidak masuk ke dalam rumah, hanya di sekitar taman saat Monic dan Clay bermain.


Lanie memang tak melarang Clay bertemu dengan ayah biologisnya. Asalkan tidak di bawa lari saja seperti kemarin.


"Dari mana Sayang?" Luna menyambut hangat kedatangan keponakannya, Clay digendong Monic yang tersenyum mendekati meja makan.


"Biasa, muter keliling komplek dulu sebelum Daddy nya pulang lagi." Monic yang menjawab dengan senyum.

__ADS_1


"Kamu dikasih uang lagi?" Lanie fokus pada amplop yang digenggam pengasuh putranya.


"Iya Buk."


"Bukannya kemarin udah, hari ini ngasih lagi? Aku liatin dia rajin ngasih kamu sesuatu." Nada jutek Lanie jelas terdengar, itu hal yang membuat Monica tidak nyaman dan menundukkan wajahnya.


"Nggak apa-apa lagi Kak. Rezeki Monic, nggak perlu ditolak juga." Luna lantas menyuruh Monica membawa Clay ke dalam kamarnya, dan segera dilaksanakan gadis polos itu.


"Kakak cemburu?" Setelah cukup lama mengamati raut kesal Lanie, Luna bertanya serius.


Lanie melirik adiknya, ia terpaku hening, dengan pikir yang menelaah; sebenarnya apa yang ia rasakan? Cemburu kah? Atau....


Lanie kemudian mendengus. Akhir-akhir ini, Brian terlihat lebih dekat dengan Monic. Dan kedekatan mereka terbilang tidak wajar baginya.


Membawakan minuman mahal, makanan dari restoran mahal. Dan memberikan banyak uang juga. Lanie curiga, mungkin Brian suka pada pengasuh putranya.


...---------π---------...


Malam yang kian larut membuat bibir Lanie semakin memberengut. Sudah semalam ini Clay, Monic dan Brian belum juga pulang ke rumah.


Sampai setengah jam berikutnya, Lanie keluar dari rumah ibunya, menyambut arogan ketiga makhluk yang membuatnya resah selama ber jam-jam.


"Kalian dari mana saja sih? Malam begini baru pulang?" Lanie merebut Clay dari gendongan Brian yang agaknya terkaget dengan ekspresi wajahnya.


"Kamu lagi, keasyikan sendiri, sampe lupa tugas kamu di sini tuh jagain Clay!" Lanie memaki Monic yang membawa buket bunga besar di pelukannya.


Brian berdecak kecil. "Di jalan macet, nggak perlu marah sama Monic juga," belanya.


Sinis, Lanie beralih pada Brian. "Kamu juga yang salah. Okay, kamu boleh besuk Clay, Bian! Aku nggak ngelarang kok, tapi jangan lagi bawa Clay ke mana pun!" ketusnya.


Monic terdiam menyaksikan pertengkaran mereka. Sementara Clay terus meminta gendong pada ayahnya. "Dadd..."

__ADS_1


"Hmm." Brian mendekati wajah putranya, lalu seulas senyum tercipta. "Daddy pulang ya, nanti kapan-kapan kita jalan lagi," pamitnya.


"Tuan, bunganya gimana?" Berwajah bingung, Monic menyodorkan kembali bunga di pelukannya.


Brian menatap bunga itu, lalu mengerling sekilas ke arah Lanie yang terdiam jutek padanya. "Buang saja! Aku yakin Nyonya mu tidak sudi menerimanya."


Lanie mengernyit kuat. Sementara Brian tetap melanjutkan langkahnya, bergegas membawa pulang mobilnya.


"Yaaaaah..." Monic memberengut. "Padahal bunga ini sengaja dibuat Den Clay sama Tuan Brian buat Buk Lanie," lirihnya.


"Maksud mu?" Lanie baru melihat note yang terselip di antara bunga-bunga kesukaannya; tertulis For Mommy, Happy birthday...


Monic mengangguk pelan. Tatapannya mulai sedu sedan. "Dari sore Den Clay sama Tuan muda bikin buket ini sendiri. Tuan bilang, mau kasih surprise buat Ibuk."


Seumur hidup, Lanie tak pernah merayakan hari ulang tahunnya, dia mana tahu kalau hari ini, hari lahirnya.


Bahkan ibunya saja tak memberinya ucapan selamat, apa lagi Mike yang hanya tahunya memberikan fasilitas tanpa kata-kata atau effort membuat kejutan untuknya.


Mendadak, Lanie merasa bersalah. Meski diacuhkan, ditolak, selama ini Brian selalu menunjukkan rasa sayangnya dengan tetap mengunjungi Clay pagi dan sore.


Kedekatannya dengan Monic, tentu karena Monic pengasuh Clay. Yang mau tak mau mereka selalu bertemu. Ya Tuhan, apa yang dia lakukan...


...---------π---------...


Pagi, sore, pagi, sore, dan paginya lagi, kegiatan Lanie selalu sama, yaitu menyibak tirai jendelanya demi memastikan kedatangan ayah biologis putranya.


Sudah satu Minggu dari hari ulang tahun Lanie, Brian tak pernah lagi mengunjungi Clay. Lanie pikir, mungkin Brian masih marah dan sakit hati padanya.


Lanie menghela napas dalam. Pikirannya rumit, entahlah, terlalu sulit dia definisikan; apa yang membuat hatinya hampa setelah ketidak hadiran Brian Anggara.


Yang jelas, sekarang juga Lanie butuh sosok itu untuk sekedar dia pandangi dari kejauhan seperti hari-hari kemarin.

__ADS_1


Sadar atau tidak, mengakuinya atau tidak, ia tengah merindu yang serindu rindunya pada laki-laki tampan yang memberinya putra rupawan.


...📌 Enggak gantung kok, hihi... cuma butuh waktu buat nulis dan mikir alur... Coz, cerita Lanie termasuk cerita tahu bulat alias dadakan, wkwk... moga masih pada betah yaaak......


__ADS_2