
^^^Eropa....^^^
Kaesang termenung, menatap sepasang sepatu yang di suguhkan oleh Amas. Sejak kapan Amas diberikan mandat dari Luna untuk kembali mengurusi dirinya.
Satu tahun lamanya menikah, Luna tak pernah mengandalkan pelayan atau pun asisten untuk menyentuh pakaian, makanan atau bahkan tubuhnya.
Tidak dengan hari ini yang semua muanya: dari membuat sarapan sampai menyiapkan perlengkapan kampusnya serba dilakukan oleh Amas, Virza dan Derry kembali.
Menerima perlakuan dari ke tiga asistennya. Kaesang seperti Dejavu pada hidupnya yang dahulu.
"Istri ku mana?" tanya Kaesang, lantas menendang kecil sepatu yang Amas siapkan untuknya. "Aku mau istri ku, Amas!"
Amas menghela napas berat. Rupanya menikah saja tak cukup membuat putra perdana Rayden dewasa. "Nyonya Luna pulang kampung, mungkin saat ini baru tiba di Indonesia," jawabnya.
"What?" Seketika itu juga, Kaesang berdiri dengan mata yang membulat terkejut tentu saja. Bagaimana bisa Luna pulang ke Indonesia tanpa memberitahu dirinya.
"Istri ku pulang tanpa bicara dulu begitu?" pekiknya sekeras itu. Amas sampai mengorek telinganya yang pekak.
"Keterlaluan! Dia memang lebih dewasa dariku, tapi tidak seharusnya berbuat sesuka hatinya, bagaimana pun, aku kepala rumah tangganya," racau Kaesang.
Amas meringis kecil. "Coba saja telepon dulu, mungkin Tuan muda akan sadar, apa yang membuat Nyonya pergi," ujarnya.
Sontak, Kaesang terdiam menelaah, sedikitnya ia mulai paham, apa yang kira-kira membuat Luna pergi tanpa bicara. Segera ia meraih ponsel miliknya, melayangkan panggilan telepon pada nomor istrinya.
Tak lama suara Luna terdengar dari seberang sana. Kaesang berjalan mondar-mandir, dirinya gusar karena situasi ini, tidak sama sekali dia inginkan.
Ia terbiasa ada Luna di sisinya, lalu pagi ini Luna pulang ke Indonesia setelah kemarin membiarkan dirinya seharian bermain game.
π "Ada apa?"
Kaesang mengusap dahinya. Berusaha tak emosi, karena memang sulit mengerahkan amarahnya pada sang istri.
"Sayang di Indonesia hmm?"
π "Baru saja tiba di Bandara."
Kaesang menghela napas kembali, jujur ia bingung harus berkata apa. Marah sudah tentu, tapi jika dipikir lagi, ini semua memang salah dirinya yang sedari Minggu lalu tak mau mendengar protesnya sang istri.
"Kamu marah Yank?"
π "Tidak, lagi pula marah ku sudah dianggap biasa oleh mu kan? Jadi percuma saja, Kaes," jawab Luna enteng.
"Aku minta maaf kalau ada salah, tapi lain kali, bilang dulu kalau mau pergi, aku tidak biasa dilayani Amas lagi," lirih Kaesang.
π "Sekarang harus terbiasa, aku akan di Indonesia dalam waktu yang lama."
__ADS_1
Kaesang tertegun. Sebegitu keterlaluan kah dirinya, hingga Luna pergi tanpa mau bicara sepatah kata pun padanya. Ia jadi mengingat, selama pernikahan mereka, Kaesang selalu kekanak-kanakan.
Pulang dan pergi kuliah sementara Luna yang merawatnya seperti Baby sitter saja, bermain game, meminta jatah ranjang.
Ia lupa bahwa menikah bukan sekedar mencari teman tidur, teman sekamar atau sejenisnya tapi juga teman hidup, melewati suka mau pun duka bersama.
Tapi apa? Kaesang bahkan tak mau menuruti kemauan Luna untuk memiliki momongan yang mungkin akan membuat wanita cantik itu tak lagi merasa kesepian di sangkar emasnya.
π "Aku harus naik taksi, jadi aku matikan dulu teleponnya. Setelah dari Bandara, aku mampir Mami Papi, baru setelah itu aku pulang ke rumah Mama Diana."
"Baiklah, hati-hati Sayang." Hanya ucapan itu yang mampu Kaesang celetukan sebelum ciuman jarak jauhnya dia berikan.
Sejatinya ia sendiri sudah merindukan wanita itu, tak mungkin jika mereka harus melakukan LDR selama beberapa waktu yang tak bisa ditentukan.
Kaesang bergantung pada Luna, selama satu tahun pernikahannya, Luna selalu ada baginya dalam suka dukanya. Lalu sekarang, wanita itu berunjuk rasa setelah apa yang ia lakukan tak pernah bisa di benarkan oleh Luna.
"Urus penerbangan ku juga, aku harus susul istri ku," titahnya pada Amas. Lelaki itu mengangguk, lalu melakukan hal yang diperintahkan sang Tuan muda.
...----------------...
^^^Indonesia...^^^
Selain pengawal dan pelayan, Luna mendapati rumah mertuanya kosong, sepertinya Rayden dan Alula beserta Damar dan Rembulan sedang menikmati waktu liburan di hari minggunya.
Hanya Eyang Abimanyu dan Eyang Karlina yang menyambut kedatangannya. Ia pun segera pamit setelah cukup berkangen ria dengan ke dua eyang Kaesang.
Bukan hanya itu saja yang membuat Luna geram dengan tingkah suaminya. Kaesang selalu berbuat sesuka hati tanpa berpikir dirinya suka atau tidak.
Mungkin ini salah satu resiko memiliki suami yang lebih muda, terlebih Kaesang seorang tuan muda.
Tiba di halaman rumah Diana, Luna baru sanggup bersorak gembira. "Clay!"
Clay dharmendra; si kecil tampan yang biasanya hanya ia jumpai lewat video call, kini tampak di hadapannya.
Putra pertama Lanie sudah hampir satu tahun usianya. Semakin besar, semakin Clay dibuat mirip dengan ayahnya yang entah berada di mana.
"Luna," sambut Diana. Lalu Lanie bergantian memeluk adiknya. "Kamu jadi pulang?"
"Iya," angguk Luna. Ia melerai pelukan, kemudian beralih menatap Clay yang asyik dengan mainan barunya.
"Kaesang mana?" Diana mengamati belakang tubuh putri bungsunya. Di mana seharusnya ada Kaesang dan kali ini kosong.
"Tidak ikut pulang, Ma," jawab Luna.
"Pasti sibuk sama S2 nya," sahut Lanie.
__ADS_1
"Begitulah, biar saja." Luna lebih suka membahas keponakannya yang amat sangat tampan. "Clay ganteng banget, tapi kok nggak mau sama Tante Luna?" protesnya.
"Dia takut sama orang baru Lun," kata Lanie.
"Padahal Tante bawa banyak oleh-oleh loh, baju Clay bagus-bagus loh," iming Luna.
Diana mengusap punggung putrinya. "Kamu sendiri gimana? Sudah isi?" tanyanya.
"Belum Ma," geleng Luna.
Diana menghela. "Harusnya cepat cepat Luna, mau sampai kapan kamu menundanya?"
"Kalau bisa, sebelum umur 30 tahun kamu sudah ada Baby," timpal Lanie.
Luna pun maunya seperti itu, tapi Kaesang yang masih kanak-kanak, tak pernah mau sependapat dengan dirinya. "Doakan saja Ma, Kak," ucapnya.
Lagi, Luna menatap Clay. "Clay juga doain Tante ya!" Dan katanya disambut dengan senyum manis bocah kecil itu.
Luna tergelak bahagia. "Dia mulai mau," girangnya. Seandainya saja Kaesang mau menyetujui permintaan punya bayinya, mungkin Clay sudah akan punya adik sepupu.
"Ya sudah, sambil ngeteh, mending kita duduk di sana." Diana menggiring keluarganya duduk pada sofa taman, lalu mengutus pelayan membuat minuman.
Luna, Lanie, Diana beralih duduk. Paket yang baru datang dari kurirnya, mengambil alih perhatian Luna. "Paket dari siapa?"
"Papanya?" tanya Luna kembali.
Lanie menggeleng. "Dari Mike," jawabnya.
"Dia masih peduli sama Kakak?" Luna tak habis pikir dengan ulah kakak iparnya. Lira masih dalam genggaman tapi Lanie pun masih diperhatikan.
"Dia cuma peduli sama Clay saja," jawab Diana, nadanya sedikit ketus karena tidak begitu suka pada Mike.
"Benarkah?"
"Dia bilang mau punya baby, tapi Lira tidak bisa memberikannya, selain mengakui Clay, mau apa lagi memangnya?" jelas Lanie.
Luna menghela. "Syukurlah kalau Mike bertaubat main wanita, semoga selalu seperti itu," ucapnya dalam harap.
"Papa Brian nya Clay gimana?" Luna menimpalinya lagi setelah cukup lama terdiam menatap Clay yang tampan.
"Tidak perlu dibahas lagi, dia mungkin sudah punya kekasih baru," jawab Lanie. Sepertinya Brian tak tertarik untuk tahu bagaimana kabar putranya.
Luna tersenyum, lalu mengusap pucuk kepala bocah ganteng itu. "Clay masih punya Tante kok, so, jangan merasa kesepian ya," ujarnya.
Clay menjawab dengan gelak tawa yang begitu memberi ketenangan padanya. "Pinter, anak Tante."
__ADS_1
...π Wah wah. Masih banyak banget utang part di nopel ini, jangan bosen yaaak mentemen......