Obsessi Tuan Billionaire

Obsessi Tuan Billionaire
Bergeming


__ADS_3

Kesal dengan istrinya, sikap kekanak-kanakan Kaesang keluar. Pria itu membiarkan Luna tidur jika memang takut digempur.


Di balik selimut yang sama, Kaesang dan Luna tidur dengan posisi saling memberikan punggung.


Luna terdiam, bukan karena sudah tertidur melainkan memikirkan cara; ia meminta maaf pada sang suami yang terlanjur kecewa.


Kamar pengantin itu hening, hingga terdengar jelas putaran jarum jam yang berdetak seolah melambat.


Lelah terus menghadap ke posisi yang sama; pukul tiga pagi Luna menggerakkan tubuh kakunya.


Bersamaan dengan terbaliknya posisi, rupanya Kaesang juga sama-sama membalik badan ke arahnya.


Keduanya berhadapan tanpa disengaja.


Sekejap, mata mereka saling bertemu lekat, Luna pikir Kaesang tak bersuara; karena sudah terlelap dengan kekecewaannya.


"Kamu belum tidur?" tanya Luna.


"Kau juga!" jutek Kaesang. Otot besar, tapi usia tak membohongi; Kaesang masih seperti anak kecil.


"Maaf," ucap Luna. Tangannya meraih sebelah tangan Kaesang untuk disatukan. "Maaf ya."


Kaesang menjawabnya dengan mengecup genggaman tangan Luna. Lantas, belaian lembut pun ia berikan pada kepala gadis itu.


"Tidur lah," tuturnya. Melihat belahan dada istrinya, lelaki itu bangkit dari tempat; berjalan menuju sofa putih bertabur kelopak mawar.


"Mau ke mana?" Luna bangkit; mengikuti arah kaki Kaesang berjalan. Di lihat dari rautnya, Kaesang masih marah padanya.


"Aku tidur di sini saja." Terjatuh tubuh Kaesang di atas sofa empuk putih.


"Kok gitu?" Luna menyusul duduk di sisi suaminya. "Kamu masih marah?"


"Tidak," geleng Kaesang. Luna menghela napas, ayolah ini malam pertama mereka tapi kenapa menjadi tidak hangat begini.


"Terus ngapain tidur di sini?" tukas Luna.


Kaesang meredup ekspresi. "Aku cuma nggak mau tersiksa," katanya lirih.


"Kenapa?"


Kaesang menghela. "Kamu yakin mau tahu?"


"Emmh," angguk Luna serius. Untuk sesaat Kaesang menatap satu persatu manik legam Luna. Bisakah Luna memberikan apa yang ia inginkan malam ini?


Tangannya menuntun tangan Luna untuk menyisir dada bidangnya, bisa dirasakan degup jantung yang kian mengencang.


Terus saja Luna menurut; telapak tangannya mengikuti instruksi tangan Kaesang.


Sampai tiba saat ia merasakan ketegangan super duper yang masih terbungkus celana tidur suaminya.


"K-kaes," gagap seketika bahasa Luna. Ini kali pertamanya ia menyentuh sesuatu yang berbeda dari bagian tubuh suaminya.


Kaesang membuat tangan Luna, untuk ikut menggenggam, bahkan meremas miliknya.


"Ini lebih baik," lirihnya. Instruksi berikutnya, Kaesang membuat Luna menaik turunkan remasan tangannya, tentunya setelah polos tak berpenutup.


Luna membelalak, sepertinya Kaesang sudah benar-benar dilandasi hasratnya. Bahkan ia menderu dera napas saat memagut basah bibirnya.

__ADS_1


"Eumph..." lenguh tertahan Luna. Ini hal aneh yang lain dari yang lain, meski bukan ciuman pertama, ini begitu nikmat dirasa.


Luna tersandar di sofa, sebelah tangan masih setia bergelayut pada tongkat suaminya.


Dari bibir, dagu, leher, kecupan Kaesang terus turun hingga ke area dada. Kerlingan matanya mengarah pada wajah semu merah Laluna.


"Boleh aku cicipi?" Luna mengangguk setuju, kondisi napasnya bergemuruh tak keruan, tak dinyana jika rasanya begitu melayang, dibuat ingin lebih dan lebih dari sekedar sentuhan.


Tak perlu ada tutorial, buktinya senyawa tubuh mereka bereaksi saat sama-sama menegang; ingin segera melancarkan keinginan tanpa ada pelajaran fisik sebelumnya.


Ketakutan tentang amatir seolah terhempas ke dasar lautan. Luna justru ketagihan; memainkan remasan tangannya sembari menikmati pagutan pagutan bibir di pucuk dadanya.


"Kamu suka?" Kaesang terkekeh pelan, Luna mengangguk senyum. Ia memang sangat suka dengan tekstur mainan barunya.


Wajahnya memerah semu, merona randu, tersipu malu-malu, keduanya mulai bercengkrama lewat jantung yang berdenyut.


Tanpa banyak kata, Kaesang menaklukkan wanita tercintanya. Sapuan demi sapuan lidahnya membuat Luna belingsatan di atas sofa.


Kain-kain yang masih tersisa, terbang satu persatu ke sembarang arah. Bukan hanya Kaesang; Luna pun ikut mengambil bagian.


Punggung Luna tercampak membal, Kaesang mengangkat wajahnya, membuka ke dua paha wanita itu untuk disaksikan seksama.


Indah ranum belahan tembam, ditumbuhi bulu-bulu lembut yang hampir tak terlihat saking halusnya.


Luna tersipu, sepertinya Kaesang sangat menginginkannya. "Jangan menatapnya."


Kaesang terkekeh kecil. Tanpa izin dari si pemilik ia mulai menembus belahannya secara pelan dan fokus.


Motonya adalah, tidak membuat Luna sakit di pembukaan pertamanya.


Awalnya Luna membelalak, tapi gesekan yang dihasilkan Kaesang cukup membuat dirinya nyaman.


Luna terkekeh kecil, sedikit terkaget atas pemasukan besar suaminya.


Sentakan demi sentakan mulai dilakukan, tak perlu diajarkan, alaminya manusia akan tahu gerakan ini dengan sendirinya.


Bola kenyal Luna menari-nari dengan indah, ia naik turun seiring dengan terpaan demi terpaan pinggul suaminya.


Di sela-sela kesempatan, tak henti hentinya ke dua bibir itu bertaut. Meski berbaur peluh, Kaesang terus mengejar rembulan di ujung telaga.


Keduanya beradu dan Luna terus menerus mengacau; menggaungkan sejuta ceracau diiringi desah parau.


Kembali Kaesang mengerang dan Luna terus memongkah, seolah tak bosan mendaki rasa di antara gemerisik juga dencitan sofa yang bergoyang.


Sama-sama mereka menuju ke atas puncak, mencari siraman air kental surgawi yang memancar kehidupan baru setelahnya.


Sebentuk kenikmatan tiada tara, kebahagiaan berpahala, sedang ditunaikan oleh keduanya.


...----------------...


Mentari terbit dari ufuk timur, meski tidak bergerak mengelilingi Bumi, revolusi dan rotasi Bumi membuat Matahari terbit dari timur tiap pagi dan terbenam di barat tiap petang.


Ini hukum alam yang indah, seindah malam pertama bagi Luna dan Kaesang.


Berbeda cerita dengan sepasang pengantin baru itu, di atap gedung pernikahan R-build group; Lanie masih tertegun dengan sejumlah pemikirannya.


Masih terampak kepala Brian yang bertumpu di atas paha empuknya. Belaian demi belaian membuat pemuda itu nyaman dalam tidurnya.

__ADS_1


Dunia sudah terang, Lanie mengalih kepala kekasihnya pada bangku panjang. Brian dibiarkan tidur dengan jas sebagai bantalnya.


Sekali lagi saja Lanie mengecup pelan pipi Brian sebelum kemudian; ia pergi menuruni lantai tanpa berpamitan.


Lantai 6 tempat yang ia tuju dengan lift, yah kamar Lanie masih berada satu lantai dengan kamar pengantin baru.


"Ah, aw, Kaes!" Senyum Lanie sedikit terkembang ketika melewati pintu kamar Kaesang dan Luna.


Ada dobrakan pintu beruntut dari dalam, disertai desah yang tenggelam di balik sana.


Lanie tahu benar, pengantin baru akan mencoba berbagai macam gaya; seperti berdiri dibalik pintu misalnya.


Entah tidur entah tidak, yang jelas pagi ini Luna dan Kaesang masih begitu semangat.


Lupakan, Lanie pun pernah merasakan hal itu, biar Luna dan Kaesang juga melewati hari-hari panasnya.


Tiba di ujung lorong, tepatnya di depan pintu kamar miliknya. Mike berdiri menyambut baik kedatangannya.


Sempat langkah Lanie terhenti; menghela dalam napasnya lalu kembali melanjutkan ayunan kaki setelah cukup berani.


Sebuah kartu, ia gunakan untuk membuka pintu kamarnya tanpa menegur lelaki yang bahkan sudah lama menunggunya.


"Kamu dari mana?" tanya Mike. Terkuar aroma maskulin yang cukup kuat; dan itu bukan wangi milik Lanie. "Kau pergi bermalam dengannya lagi?" cecarnya.


Lanie menoleh, sejenak ia tatap mata lelaki itu dengan seksama, kenapa harus ada orang yang seegois suaminya. "Bukan urusan mu."


"Aku masih suami mu," sahut cepat Mike. Entah lah, bersaing dengan pemuda bau kencur bukan cita-cita yang membanggakan.


"Kita sedang dalam proses cerai, jangan lupakan status itu," sanggah Lanie.


"Kau yakin mau menikahi pemuda itu?" sergah Mike. "Dia putra Galih Pramana, dia bukan pemuda yang datang dari kalangan biasa," peringatnya.


Semalam tadi, lewat orang-orangnya, Mike mencari tahu tentang Brian, dan bukan hanya Mike, karena Lanie pun melakukan hal yang sama.


"Aku tahu," kata Lanie.


"Lalu untuk apa dilanjutkan, sudah pasti keluarga mereka menolak mu," ketus Mike.


Lanie terkekeh. "Tenang saja Mike, aku cukup tahu diri," katanya kembali.


"Aku tahu arah bicara mu, kau pasti takut aku dihina keluarga besar Brian, tenang saja, aku tidak akan menikah dengannya," timpalnya.


"Kau saja mengabaikan aku apa lagi keluarga orang terpandang sepertinya," imbuhnya.


Mike menggeleng tak nyaman, akhir akhir ini Lanie begitu sensitif. "Bukan itu maksud ku."


"Aku lelah Mike," sambung Lanie. "Menikah lagi atau tidak, aku tetap akan bercerai dari mu," ucapnya.


"Kita memulai baik-baik, akhiri juga dengan baik-baik, lepas aku, please...," hiba Lanie.


"Kau tahu kau berarti untuk ku," cetus Mike.


Lanie menggeleng. "Seharusnya seorang Mike, tidak akan pernah memohon pada perempuan seperti ku, aku terlalu kotor untuk mu," ujarnya yang begitu menusuk.


Mike tergeming, sepertinya perbuatannya selama ini telah menorehkan luka yang cukup dalam bagi Lanie.


Pikirnya, wanita malam seperti Lanie sudah cukup beruntung memiliki lelaki sepertinya yang mampu mendirikan perusahaan bahkan memberikan perlindungan juga kasih sayang.

__ADS_1


Lanie masuk ke dalam kamar, menutupnya dengan pelan. Lalu Mike masih bergeming tak mengindahkan apa pun di sekitarnya.


^^^Selamat berbuka puasa.....^^^


__ADS_2