
Mendengar berita pernikahan Kaesang yang terkesan terburu-buru, Karlina dan Abimanyu kertawiguna ikut serta dalam hal ini.
Sepasang suami istri yang telah menua bersama dalam suka dan duka itu pun datang melengkapi sofa minimalis milik Diana.
Mengenakan pakaian ala bangsawan Jawa Tengah, keduanya baru saja tiba di kediaman minimalis bercat putih hitam ini.
Setelah Eyang Sukma Kusuma wafat, Karlina dan Abimanyu lah yang paling dituakan di dalam keluarga besar mereka.
Karlina masih menjunjung tinggi nilai-nilai budaya yang selama ini menjadi tradisinya. Yah, tradisi yang diterapkan oleh Eyang Sukma sang mertua si keturunan darah biru.
"Untuk tiga bulan ke depan, kita tidak bisa mengadakan resepsi atau pun pernikahan," kata Karlina.
"Eyang," protes Kaesang.
"Ini serius Kaesang," sela Karlina. "Dari sapar sampai jumadil awal, kita tidak bisa melangsungkan pernikahan, bulan ini dianggap tidak baik Kaes," tegasnya.
"Jadi untuk bisa menikah, berapa bulan lagi dari sekarang Buk?" tanya Rayden.
"Tiga bulan lagi," jawab Abimanyu sang ayah.
"Apa tidak terlalu lama?" Diana menginterupsi pada akhirnya. Sebagai wanita yang tinggal di kota dengan segala hingar bingarnya, wanita itu tak peduli pada tradisi template.
Karlina menggeleng. "Tidak lama. Ini aturan keluarga kami, harus dilakukan, atau kalian mau ada malapetaka di kehidupan setelah menikah cucu ku?" imbuhnya.
"Amit-amit!" Alula mengetok meja di depannya.
Luna terdiam kecewa, tapi memang seperti itulah aturan-aturan yang masih berlaku di sebagian besar orang Jawa.
Melihat raut tak enak di wajah putranya, Rayden mengusap pelan punggung pemuda tampan itu. "Sabar dulu Kaes, empat bulan bukan waktu yang lama," katanya.
"Iya, lagian kalian masih perlu mempersiapkan acara resepsinya juga, Mami setuju sama Eyang mu," tambah Alula.
Abimanyu mengangguk kecil. "Hal yang dilakukan terburu-buru, juga tidak baik, apa lagi melanggar tata krama keluarga besar kita," wejangannya.
__ADS_1
Kaesang menghela sebelum akhirnya ia mengangguk setuju. "Baiklah," lirihnya.
"Jadi kapan tanggal dan bulan yang tepatnya mereka menikah Eyang?" kembali Diana bertanya, jangan sampai lepas sosok menantu idaman dari genggamannya.
Karlina beralih pada Diana. "Jumadil akhir, bulan keenam di penanggalan Jawa, bulan ini bulan yang baik untuk menikah, pengantin dipercaya akan memiliki banyak rezeki dan harta benda. Tapi, ada beberapa waktu dalam bulan ini yang dianggap tidak baik," jelasnya.
Semua orang hanya menyimak dengan sopan ucapan santun wanita ayu nan keriput itu.
"Hari tidak baik, Jumat. Hari angkernya Rabu dan Kamis. Hari sialnya Selasa legi, tanggal naas 10 dan 14, tanggal sangarnya 18, tanggal bangas padewannya 10 dan 14," timpal Karlina kembali menerangkan.
Jujur saja, tidak ada yang cukup paham dengan apa yang dimaksud oleh Eyang Karlina, tapi apa pun itu mereka mengangguk setuju.
Abimanyu mengusap pelan punggung cucu pertamanya. "Sekarang, sematkan saja dulu cincinnya Kaes," titahnya.
Kaesang menurut, ia ambil kotak biru berisi berlian yang ibunya sodorkan. Jika dilihat dari modelnya, ini cincin yang berbeda dengan cincin yang kemarin ia sematkan pada jemari Valerie.
Luna tersenyum simpul saat Kaesang mengisi jemari manisnya dengan kemewahan yang tiada pernah ia dambakan sebelumnya.
"Semoga tidak ada halangan apa pun sampai kalian menikah, terlebih, setelah menikah pun kalian selalu diberikan kebahagiaan," doa Alula.
"Aamiin," sahut semua orang.
"Terima kasih Tante, Om, Eyang," ucap Luna yang balas dengan usapan lembut dari tangan restu keluarga Kaesang.
Diana tersenyum, tidak seperti Lanie dan Lira yang menyisakan trauma berat padanya, Luna harapan satu satunya, bisa meraih bahagia.
...----------------...
Minggu berikutnya, Kaesang sudah kembali memimpin perusahaan R-build. Sepatu kilap, celana, gesper, dasi dan jas mahal pun telah melekat sempurna pada kemeja putihnya.
Urusan kelulusan S1 sudah diselesaikan, rencananya S2 akan dilanjut satu tahun di Inggris.
Yah, Inggris hanya satu tahun saja untuk bisa mendapatkan gelas magister. Itulah mengapa kebanyakan orang mengambil gelar di sana.
__ADS_1
"Bro!" Kaesang menyambut kedatangan Brian dengan jabat tangan ala pemuda. Teman sekamarnya itu baru saja akan memulai magang di perusahaan besarnya.
"Ga nyangka, ternyata temen sekamar ku, CEO muda cuy," gelak Brian. "Makasih dah kasih izin magang di sini," ujarnya.
"Kau akan mendapat jaminan kesenjangan kerja di sini, itu pun kalau kau lulus tes HRD lebih dulu," ucap Kaesang.
"Siapa takut!" Kedua bahu Brian terangkat pasti, nilai interpretasi miliknya selalu di atas rata-rata, yah Brian termasuk dari deretan siswa terbaik di kampusnya.
Sebagai mahasiswa arsitektur, pemuda berkemeja biru pudar itu memiliki gagasan yang cukup hebat dalam rancangan pembangunannya.
Kaesang ikut senang memiliki sahabat baru selain Amas, Derry dan Virza. Keduanya berakhir duduk di atas sofa ruang CEO.
"Gimana sama Luna? Dengar-dengar, kalian menikah tiga bulan lagi?" tanya Brian.
Kaesang mengangguk. "Yah, tepatnya dua bulan tiga Minggu lagi," gelaknya.
"Kau sendiri?" Kaesang berbalik tanya setelah tak cukup pembahasan.
"Lupakan!"
"Kenapa?"
Brian terkekeh samar. "Dia bahkan tidak menghubungi ku setelah malam terakhir kami," katanya. Ada sendu yang tertinggal di setiap panca inderanya.
"Masih banyak gadis cantik, aku kasih tahu, R-build group menyimpan banyak wanita yang bisa kau jadikan pelarian termanis," ucap Kaesang.
Brian tersenyum, mampukah seseorang yang mengambil keperjakaannya terlupakan? Brian sendiri belum sanggup menghapus semua kenangan indah selama satu tahun terakhir.
Bagaimana kabar Lanie? Sehat kah? Masih sering marah kah? Sudah berbuat apa saja tanpanya? Pertanyaan itu saja yang terus ia putar di otaknya.
TBC...
...📢 Masih setia kan? Terima kasih semuanya, Oya sebentar lagi puasa, Yeay, ... Kalian Hiatus baca apa enggak nih kira-kira? 👀...
__ADS_1