Obsessi Tuan Billionaire

Obsessi Tuan Billionaire
Berharap mimpi


__ADS_3

Brakkk....


Luna membulat mata penuh, matanya dikejutkan oleh sesosok tubuh tinggi yang masuk ke dalam kamar Lanie.


Setaraf ia melangkah, sejurus pula Kaesang menariknya hingga masuk ke dalam kamar hotel pribadinya.


"Kaes!" Pekikan Luna dibungkam tangan dingin suaminya. "Ssstt!"


Luna tentu meronta, yang ada dalam benaknya hanyalah, menyelamatkan Lanie dari pemuda yang entah siapa.


"Kaes!" pekiknya. "Kak Lanie!"


Kaesang menggeleng dengan terus meraih perut istrinya. "Biar saja mereka," ujarnya.


"Biar gimana?" catuk Luna. "Ada cowok masuk ke kamar Kak Lanie barusan!" tambahnya berapi-api.


"Dia Brian," kata Kaesang, yang mana membuat Luna memelankan rontaan, sebelum beralih menatap. "Brian temen kamu?"


"Iya," angguk Kaesang. Tak lama bergeming, Luna kembali melangkah ke arah pintu.


Secepat kilat Kaesang meraihnya. "Ssstt, mau ke mana Sayang My Sweetie sweety," bisiknya.

__ADS_1


"Ke kamar Kakak lah!" histeris Luna. "Gila kamu biarin Kak Lanie didatengin pria asing huh?"


Kaesang terkekeh. ”Bagimu asing tapi bagi Kak Lanie tidak, mereka saling mengenal, bahkan sangat dekat," jelasnya.


"Hah?" Bibir ternganga Luna mendapatkan kecupan lembut dari suaminya. "Aku serius Kaesang!"


Kaesang berdecak. "Panggil aku hubby atau Mas lah minimal, kamu istri ku kan?"


"Jelasin dulu apa maksud mu barusan?"


Kaesang terkikik, lihatlah raut panik istrinya begitu menggelitik. Yang pasti, ia bangga memiliki istri sebaik Laluna kasih


Jelas terlihat berapa banyak kadar cinta dan kasih sayang Luna pada saudara-saudaranya, tak terkecuali pada Lanie yang berbeda ayah.


Brian baru saja menyelesaikan percekcokan kasih sayang dengan kekasihnya. Kamar ini sudah dia setting untuk bisa bersama wanita itu.


Sengaja ia datang ke sini, demi memberikan kejutan kecil, ungkapan tulus, juga tindakan yang mungkin akan membuat Lanie merasa dicintai.


Lanie berbaring membelakangi dirinya, miring kiri menjadi posisi yang membuat wanita hamil itu nyaman.


Tak kunjung tidur, Lanie masih sulit memejamkan mata, terlebih ketika Brian di sisinya.

__ADS_1


Dalam hening, selimut tebal membungkus keduanya, Brian hanya menepuk-nepuk kecil lengan wanita itu. Tapi, kemudian melongok ke arah wajah, ketika Lanie meringis.


"Sakit di mananya?" Bak suami siaga, Brian bertanya lembut. Bagaimana pun, Lanie hamil atas dosa yang ia lakukan malam itu.


"Di sini, mungkin terlalu lama duduk." Entah lah, Lanie tak segan mengutarakan bahkan menunjukkan bagian nyerinya.


Punggung bawah Lanie, Brian usap secara perlahan. Rupanya Lanie terlihat lebih relax dari sebelumnya.


Kelembutan kulit itu, tentu membuat jiwa lelaki Brian bergejolak. Ada ketegangan yang tanpa sadar membuat Lanie menoleh kecil padanya.


"Kamu janji nggak akan macam-macam."


Brian mengulum senyum. "Aku tidak seberani itu, kita akan melakukannya, dengan persetujuan mu," bisiknya di telinga.


Lanie meneguk saliva, bagaimana bisa ia tak tersentuh. Perlakuan Brian benar-benar cerminan pria sejati.


Perlakuan manis yang tak pernah ia dapati dari seorang Mike Lorenzo. Yah, Mike tak pernah seromantis ini, pun di awal pernikahan mereka.


"Tidur saja, aku ada di sini, bersama mu, untuk mu, juga Baby kita," kata Brian lagi.


Perlahan Lanie memejamkan mata, berharap keesokan harinya ia terbangun, dan ini hanya mimpi indah saja.

__ADS_1


Secuil pun Lanie tak berharap Brian berniat meminang dirinya. Sungguh, Lanie masih sadar akan posisinya.


Yah, posisi minyak yang tidak mungkin bisa disatukan dengan air. Mungkin dapat hidup berdampingan tapi tidak berbaur.


__ADS_2