Obsessi Tuan Billionaire

Obsessi Tuan Billionaire
Debat...


__ADS_3

Berkalung kemelut rindu, angin malam yang berembus menemani kedua insan berbeda usia itu.


Cukup lama Lanie dan Brian melepas dahaga cintanya dengan menyiramkan sentuhan lembut berbasuh lenguh.


Puas dengan penyatuan bibir mereka, cukup dengan usapan kerinduannya, bibir keriting Brian tersenyum, ia dekap erat wanitanya dari sisi kanan.


Malam ini akan ia larutkan di sini, di roof top berselimut sepoi angin ini. Tak banyak kata yang mampu terdedah, keduanya terpekur bersama dengan perbedaan pikir yang telak.


Kendati demikian, biar rembulan malam juga menyaksikan betapa Brian bahagia atas pertemuan tak terencana-nya.


Selama hampir empat bulan, rupanya Lanie masih menyimpan tanda cintanya di dalam perut yang kian menyembulkan kehidupan barunya.



...----------------


...


Jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam. Di tengah keramaian pesta yang tak pula menyurutkan peserta, Kaesang dan Luna diboyong ke lantai atas dengan tranportasi vertikal, (lift).


Lorong berkilau warna keemasan disemaraki berbagai macam jenis bunga, aroma sedap malam yang menguar lebih dominan di antara bunga lainnya.


Eyang Kakung beserta Eyang putri, menitah kepada para pelantun doa agar mengiringi limbai kaki dari sepasang pengantin.


Bak raja dan ratu semalam, Tuan dan Puan rupawan itu diiring masuk ke dalam kamar bertabur kelopak bunga mawar.


Selepas magrib tadi, keduanya berganti pakaian menjadi serba hitam.


"Masih sakit kakinya?" Kaesang berjongkok di depan lutut sang istri seketika gadis itu duduk meringis seraya memijit mata maki.


"Emmh." Bergumam lirih Luna mengangguk kepalanya pelan. Bukan salah sepatu, Luna mengenakan alas kaki yang cukup nyaman.


Hitam beludru itu begitu lembut bagi kaki mulusnya. Namun, acara pesta yang terlalu lama, juga berbagai macam ritual membuat Luna setengahnya menyerah.


Kaesang menoleh pada dua perias pengantin keluarganya. "Tolong Lepas riasannya Mbak," titahnya.


"Baik Tuan muda."


Pelan-pelan Luna beralih duduk di hadapan cermin meja riasnya, dua wanita itu mulai melucuti satu persatu perintilan di kepalanya.


Sementara menunggu pelepasan rias istrinya, Kaesang tak menyia-nyiakan waktu untuk segera membersihkan diri di kamar mandi.


Rupanya cukup rumit paes pengantin yang Luna kenakan. Sampai Kaesang kembali keluar dengan celana pendek dan t-shirt, Luna masih baru menghapus make up-nya.


"Kenapa tidak yang simple saja?" Seraya menjatuhkan tubuhnya di sofa, Kaesang bergumam pelan.


Dua perias pengantin itu terkekeh, Mbak Menik dan Mbak Ratna cukup paham apa yang dimaksud sang Tuan.


Untuk ukuran anak muda yang terbiasa hidup di kota, bahkan sudah banyak menilik adat barat, tradisi Jawa akan terasa rumit.


Berbicara pernikahan adat Jawa Tengah, tentu paes menjadi salah satu elemen krusial.


Terlebih, riasan dari area dahi hingga rambut biasanya menggunakan pidih berwarna hitam dan cukup waktu untuk dibersihkan.


Namun, lagi-lagi mereka orang Jawa punya alasan untuk tetap melestarikan budayanya, dari bentuk sanggul hingga lengkungan paes ada maknanya.


"Sudah selesai kok Tuan muda," kata Mbak Menik. Wanita itu tersenyum penuh wibawa saat mengarahkan pandangan pada Kaesang.

__ADS_1


Kaesang bangkit, menyatroni dan memeriksa kondisi kaki lecet istrinya. Luna tersenyum yang lebih terkesan meringis kesakitan.


Tumit dan beberapa tonjolan kaki Luna kian memerah. Gairah muda yang semula menggeruduk seolah sirna begitu saja.


Kaesang tak tega melihat selirat ringis di wajah berkelir merah istrinya.


Tak lama dari itu, Mbak Menik dan Mbak Ratna keluar dari kamar pengantin setelah membantu Luna berganti pakaian.


Luna duduk di sisi ranjang, ada canggung yang tiba-tiba terseruak, tapi apa pun itu, ia sudah resmi menjadi istri sah Kaesang.


Dress tipis putih di atas lutut Luna kenakan, aroma wewangian yang sedari dua Minggu lalu dijejalkan pada pori-pori kulitnya menguar cukup kuat.


Lagi, Kaesang mendekati duduk Luna. Senyum tulus itu terbit, membentuk lengkungan manis di bibir plum miliknya.


"Maaf," ucapnya pelan.


"Untuk?"


Kaesang menyapu lembut pipi merona gadis itu. "Aku bahkan tega berpikir kejam padamu, maaf, acara ini membuat mu lelah."


Luna tersenyum, kali ini ia berusaha terlihat baik-baik saja. Tak ada kata yang ia gaung selain ucap syukur dalam batin.


Luna menuntun ke dua tangan lembutnya, merangkup rahang suaminya. Sejenak, manik hijau itu ia pindai seksama.


Terkadang pemuda itu sangat childish, tak jarang pula pengertian Kaesang melebihi dirinya yang tiga tahun lebih tua.


"Lelah ku luruh bersama senyum manis mu." Kaesang menautkan bibir mereka sebagai balasan atas ungkapan romantis Luna.


Sejurus saja, Kaesang menarik kembali bibirnya. Tatapannya melekat, desir aneh mulai merayapi keserakahannya.


Luna tahu, Kaesang masih enggan meminta haknya. Bukan tak ingin, Kaesang terlalu cinta untuk menjadi orang yang kalap memakannya dalam keadaan lemah.


Luna mengganti duduknya, dari ranjang menjadi di atas pangkuan suaminya. Saling menatap penuh damba, Kaesang tersenyum.


Mungkin kah ini tanda bahwa Luna telah pasrah pada pemudanya? Menyerahkan diri sepenuhnya kepada sang tampan yang kini menjadi suaminya.


"Begini yang namanya dirayu?" Sebelah tangan Kaesang tak sengaja meraba bulatan besar di belakang Laluna.


Kaesang membesar sedikit matanya. Dress pendek Luna, g-string putih Luna, membuat belahan Luna menyatu padu dengan pusaka yang masih terbungkus celana tidurnya.


Bisa dirasakan betapa kenyal dua bulatan itu, menekan penuh miliknya yang kian mengilu, gesekan pancingan mulai tergeliat.


Luna pandai menggodanya dengan gerakan gerakan perlahan yang berhasil mempermain kan libidonya.


"Kamu nakal Sayang." Ia gigit bibir bawah Luna, tangannya menjelajahi mulusnya pori-pori kulit yang hampir tak terlihat.


Kencang, kenyal, padat, ranum, begitu definisi Laluna kasih yang sejati. Posisi duduk telah beralih menjadi mengungkung wanita itu.


Urung tidur dan istirahat, Luna sendiri yang meminta disentuh. Bukan salah Kaesang yang pada akhirnya terpancing menerkam dirinya.


"Kamu mau?" Luna sedikit meneguk ludah, pertanyaan Kaesang cukup membuatnya gugup.


Kaesang mengerinyih, dalam sekejap wajah Luna menjadi pucat pasi. "Kenapa? Masih capek?" tanyanya.


Luna menggeleng cepat.


"Lalu?"

__ADS_1


"Kamu tahu caranya?"


"Cara apa?"


"Anu...,"


"Anu apa?"


"Masukin itu. Orang bilang ada cara yang tidak menyakiti pasangan mu," jawab Luna.


Kaesang terkekeh kecut. "Mana pernah aku ngelakuin itu! Sayang kan pernah menikah," katanya.


Luna tak kuasa menahan bibirnya untuk tidak tertawa lepas. Sepertinya Kaesang masih berpikir, dirinya sudah pernah disetubuhi Mike, kakak iparnya.


"Aku serius Luna!" Ketus Kaesang. Tongkat ekslusifnya sudah menegang, Luna masih saja bermain-main dengannya.


Selain tampan wajah kecut Kaesang cukup menggemaskan bagi Luna. "Apa aku boleh jujur?" tanyanya.


"Tidak ada alasan untuk tidak berkata jujur!" ketus, Kaesang menghempas punggung ke permukaan ranjang berkain beludru.


Luna membalikkan posisi, kali ini ia yang menelungkup di atas dada suaminya.


Dari posisi ini, mata Kaesang dimanjakan oleh bulatan padat yang seakan tertumpah padanya.


"Aku masih perawan." Luna berbisik di telinga suaminya. Sekilas, manik hijau itu menyisir setiap lekukan wajah istrinya. "Bagaimana bisa?"


"Itu kenyataannya," sahut Luna kemudian.


Kaesang berdecak. "Jadi dengan kata lain, kita sama-sama amatir, begitu?" tukasnya.


Luna tertawa kembali, Tuhan, kenapa ada pria yang mendecak lidahnya setelah mendengar pengakuan soal keperawanan?


Dia lantas beranjak dari tubuh suaminya, ia meraih ponsel demi membuka situs berbayar di salah satu website.


Kaesang menghela dalam, sebenarnya malam-pertama cap apa ini? Tidak ada kesan romantis sama sekali.


Berhasil memilih film yang direkomendasikan oleh wibesite, Luna menjatuhkan kepalanya tepat di ketiak sang suami.


Kecupan manis Kaesang mendarat sesekali di pucuk ubun-ubun. Luna mendongak, lalu tersenyum-senyum. "Gimana kalo kita belajar dulu?" ajaknya.


"Maksudnya?" kernyit Kaesang.


"Barusan aku beli film. Kita tonton tutorial dulu, baru setelah itu kita praktekkan," usul Luna.


Kaesang tergelak sumbang. "Lalu, kau harus melihat rudal orang lain selain milik suami mu, begitu?" catuknya.


"Only for learning," sahut Luna.


"Sayang, orang jaman dulu mana ada yang begitu, tanpa tutorial mereka bisa bikin anak kesebelasan," sanggahnya. "Tinggal masukin pelan-pelan, kalau amblas sudah selesai!"


"Iya, tapi besoknya, istrinya nggak bisa bangun, bahkan mau keluar dari kamar ajah mereka malu-malu!" Luna tak mau kalah.


"Tuhan!" Kaesang geram, seharusnya tidak ada perdebatan di malam pertamanya.


Hanya karena takut sakit, Luna menyuruhnya menonton adu mekanik sepasang manusia tak tahu malu yang menjual video di aplikasi?


Menjijikkan!

__ADS_1


__ADS_2