
Mike selalu ngeluyur pergi ketika Lanie sedang dalam kondisi yang tetap kekeuh meminta perceraian.
Sejauh ia tahu, Lanie tak pernah serius dengan permintaan pisahnya, dan seperti biasa Mike memberikan waktu untuk Lanie menenangkan diri.
Siapa pun yang menghamilinya, Mike yakin seratus persen bahwa takkan ada laki-laki yang berani mengambil resiko untuk menikahi Lanie.
Terlebih, jika mengingat apa dan bagaimana masa lalu kelam wanita itu.
Keluarga mana yang akan setuju menjadikan Lanie sang mantan kupu-kupu malam seorang menantu?
Kalaupun ada, mungkin hanya sebatas memanfaatkan uangnya saja.
Setidaknya, Mike menyayangi Lanie dari semenjak wanita itu masih sering dijajaki lelaki hidung belang.
Lupakan perkara mereka, karena tak seperti Mike yang berlalu murka, Luna justru senang mendengar permintaan cerai kakaknya.
Akhirnya, Lanie mulai berdamai dengan keadaannya. Menerima bahwa Mike bukan seseorang yang pantas untuk dia simpan.
Pernikahan toxic ini tak seharusnya berlanjut sampai menua. Kuat, bukan berarti harus menang mendapatkannya.
Definisi menang, juga bisa diartikan setelah melepaskan dengan hati yang lapang. Dan Lanie paham arti hama itu setelah beberapa kali Luna memberikan saran.
Semua kepiluan yang Lanie alami berawal dari Mike, dan harus diakhiri dengan pergi dari Mike.
Setelah cukup banyak pertimbangan, Lanie meminta Luna mencari tempat tinggal baru untuknya.
Luna bersedia, sayangnya wanita galak itu harus menunjukkan kerutan di keningnya setelah menyadari akan dibawa ke mana dirinya sekarang.
Yah, Luna membawanya pulang ke rumah Diana sang ibunda tercinta.
"Kau meledekku hah?" tanya Lanie. Bukannya menggubris, Luna justru turun dari kursi kemudi.
Berjalan memutar, Luna lantas membuka pintu mobil milik kakaknya. "Ini rumah Kak Lanie juga," katanya.
"Bawa aku pergi atau aku tidak mau turun!" catuk Lanie. Wajah galaknya kembali terlihat begitu suram.
Ditambah, ketika Diana sang ibunda berlari menyatroni mobilnya. "Lanie, Luna," sumringahnya.
Luna beralih pada Diana. "Kak Lanie hamil, dia juga sudah melayangkan gugatan cerai, dan sekarang dia akan tinggal di sini," ujarnya.
Lanie cukup marah mendengar ungkapan Luna, tapi masih sedikit malas untuk sekedar menimpalinya.
Diana meraih lengan Lanie. "Benar begitu Lanie?" tanyanya bahagia.
Terlihat sekali jika ia sudah tidak lagi memikirkan pandangan buruk orang orang, asal bersama Lanie Diana cukup senang.
Lanie justru muak melihat wajah senyum ibunya, dahulu senyuman itu hanya bisa dia lihat dari kejauhan saja.
"Kak," Luna kembali merengek. "Selama hamil, Kakak butuh seseorang yang berpengalaman seperti Mama," katanya lembut.
Kelembutan yang Luna berikan, bak tetesan air kepada batu yang kemudian berlubang seiring berjalannya waktu.
__ADS_1
Lanie selalu dibuat tak kuasa menolaknya, terlebih setelah wanita itu tahu betapa pedulinya Luna padanya.
"Sebentar lagi Luna menikah, Kakak butuh Mama buat mengurus calon Baby mu," bujuk Luna kembali. Lanie masih terdiam di atas jok mobilnya.
"Mama akan dengan senang hati Lanie," tambah Diana menimpali.
Luna mengangguk. "Kak Lanie nggak punya pekerjaan, sebanyak apa pun uang tabungan mu pasti habis jika hidup sendiri," tuturnya.
Yah Lanie setuju, selain marah-marah ia merasa tak memiliki satu pun keahlian.
Bagaimana pun Diana masih punya usaha catering yang mungkin bisa dikembangkan lagi oleh satu putrinya.
Lira sudah memilih pergi dari rumah ketika Diana melarang pernikahannya, setidaknya ada Lanie yang akan menggantikan posisi Lira di dalam rumah ini.
Pun, mulai sekarang Luna akan disibukan dengan apoteknya, apa lagi sebentar lagi Luna dinikahi pria kaya yang mungkin akan lebih mengekang waktunya.
Diana menghiba. "Biar Mama merawat mu sekaligus cucu Mama, biarkan kali ini Mama menebus semua salah Mama selama ini," lirihnya.
Sebagai seorang ibu yang pernah mengalami kegagalan. Diana paham betul bagaimana sengsaranya ketika wanita hamil tak memiliki seorang pun pendukung.
"Kakak butuh Mama." Luna terus saja membujuk. "Sambil menunggu sidang putusan pengadilan, Kak Lanie perlu perlindungan dari Mama juga," ujarnya.
Masuk akal jika Luna bicara soal ini, karena Lanie perlu orang seperti Diana untuk lepas dari seorang Mike.
"Ayok turun Nak," sekali lagi Diana menghiba, dan kali ini Lanie bersedia turun dari joknya sebelum kemudian berjalan arogan menuju teras rumah.
Luna tersenyum, dan pelukan terima kasih Diana berikan teruntuk putri bungsunya.
Tak sia-sia dia mengundang Luna, pada akhirnya pulang lagi satu putri cantiknya.
...----------------...
^^^Waktu berselang....^^^
Rumah RMR ramai dipadati orang. Persiapan pernikahan Kaesang sudah hampir delapan puluh persen.
Seperti tradisi turun temurun keluarga RMR, adat Jawa lah yang akan digunakan untuk keseluruhan acaranya.
Diana hanya cukup mengiyakan, toh dia tak perlu mengeluarkan biaya. Dari gaun, riasan, dan berbagai macam perintilannya, semua ditanggung oleh keluarga calon besannya.
Mengetahui rencana pernikahan Kaesang dengan Luna, tentu ada pihak yang tidak ingin tinggal diam.
Diaz merasa ditipu oleh mantan calon besannya. Hari ini juga, pengusaha kain batik itu mendatangi kediaman bak istana RMR.
Berwajah bengis, Diaz menatap nyalang wajah tampan rivalnya. Bukan pekikan keras saja yang digaungkan, rupanya beberapa guci ikut menjadi sasaran kemarahan Diaz dan putrinya.
"Kau membatalkan pertunangan Kaes dan Valey, lalu mengambil gadis lain menjadi calon menantu mu, Rafael?"
"Benar," angguk Rayden. Pria itu cukup tenang saat menghadapinya, karena bagaimana pun ia sadar, semua kesalahan berada di pihak Kaesang.
Pembatalan ini terlalu menghinakan, bahkan terkesan merendahkan, dan Rayden paham betul akan hal itu.
__ADS_1
"Kau gila?"
Rayden mengangguk. "Kenyataannya mereka saling mencintai, sedang dengan Valerie, Kaes tidak ada cinta sama sekali," katanya.
"Persetan dengan cinta, orang akan cinta seiring dengan berjalannya waktu!" sela Diaz seperti tak terima.
"Apa pun itu, aku minta maaf, pembatalan tetaplah pembatalan, Minggu depan kami tetap akan melanjutkan pernikahan Luna dan Kaesang," cetus Rayden.
Geram dengan keputusan sepihak Rayden, Valerie berlari kecil menuju Kaesang yang kebetulan baru saja turun dari anak tangga.
"Kamu jahat Kaes!" berang gadis itu.
Kecewa sudah sangat teramat dalam, kemarin Rayden bilang nama Kaesang sudah dicoret dari kartu keluarga, nyatanya tidak seperti itu, semua seolah sandiwara saja.
"Kalian semua drama!" pekik Valerie.
Kaesang menggeleng. "Maaf Valey, aku tidak berniat menyakiti mu," ucapnya baik-baik.
Mau dikata apa lagi? Cinta tak dapat dipaksakan, dan entah benar entah salah ada pujangga yang mengatakan seperti itu.
...----------------...
Di lain tempat, tepatnya di bawah anak tangga rumah klasiknya, Mike melangkah mondar mandir dengan semburat kesal diwajahnya.
Sebelah kepalan tangan miliknya memukuli telapak tangan lainnya. "Luna pasti berhasil memprovokasinya?" gumamnya.
Malam ini juga, Mike baru mengetahui kepergian Lanie yang sudah cukup lama baginya.
Yang sudah-sudah, Lanie akan menenangkan diri ke bar lalu pulang pagi harinya, setelah percekcokan sengit mereka.
Namun, sudah tiga hari ini Lanie tak terlihat berseliweran di kediaman mewahnya.
Wanita berkursi roda itu menghela, bisa dilihat bagaimana raut khawatir Mike saat merutuki kakak tirinya. "Kau khawatir?" tanyanya.
Mike menoleh lalu mengangguk. "Aku khawatir dia dimanfaatkan pemuda di luaran sana, ini sudah terlalu lama, Lanie mulai lupa pergaulan," jawabnya.
Lira mengernyit. "Setelah sekian lama, kenapa baru sekarang kau menunjukkan khawatir?" cecarnya.
Lira terdiam sejenak lalu kembali bertanya setelah terlintas pertanyaan lain. "Apa karena Kak Lanie hamil?"
Mike merasa pertanyaan Lira terlalu aneh. Bukankah selama ini Mike juga memiliki kekhawatiran terhadap istri pertamanya?
"Bicara apa kamu ini?"
"Jawab saja Mike. Apa sekarang kau mulai merasa tersaingi, makanya kau peduli lagi sama Kak Lanie."
Mike terkekeh getir. "Apa aku hanya boleh mengkhawatirkan mu saja Yank?" tanya baliknya.
"Bukan soal itu, tapi nyatanya selama ini aku tidak pernah melihat kepedulian mu, kenapa setelah Kak Lanie hamil kau khawatir seperti ini?"
Mike mendekati wajah cantik istri ke duanya dengan cara membungkuk. "Kau tahu Sayang, dari usia ku masih 20 tahun, Lanie sudah menjadi istri ku," katanya.
__ADS_1
"Tentu saja aku selalu khawatir padanya, jika tidak, aku sudah menjebloskannya ke penjara setelah meracuni mu!" timpalnya.
Lira tertegun, memang benar demikian yang Mike lakukan selama ini. Apa pun yang Lanie lakukan ia diam tanpa pengaduan.