Obsessi Tuan Billionaire

Obsessi Tuan Billionaire
Asal usul


__ADS_3

"Brian!" Lanie menggeleng menatap pemuda berwajah muram itu. "Apa-apaan ini?"


Brian menatap kecewa wajah Lanie, bahkan sampai hamil pun wanita itu tetap tak mau menghubungi dirinya kembali. "Tante hamil anak ku ah?"


"Stop Brian!" tukas Lanie.


Bukankah seharusnya tidak ada yang boleh tahu mengenai kebenaran ini? Bagaimana jika Mike menggunakan kekuasaan untuk melenyapkannya?


Mike yang mendengar perdebatan mereka, menjadi yakin bahwa pemuda ini lah ayah dari anak Lanie.


"Beraninya kau!" Geram, Mike meraup kerah baju Brian untuk diberikan sebuah pukulan.


Brugh...


Satu kali jotosan di wajah Brian yang dengan cepat dikembalikan oleh kepalan tangan Brian dan mengenai bagian yang sama Mike.


"Kau pikir aku takut?" teriak Brian.


"Brian, Mike!" Lanie lebih memekik. Situasi gaduh itu membuat beberapa orang mendatangi mereka yang cukup sulit dilerai.


Keduanya sama-sama diliputi emosi dan amarah. Keduanya memiliki alasan kuat untuk memulai peperangan.


Tak mungkin ada suami yang tidak murka saat selingkuhan istrinya datang mengaku di hadapan matanya.


Bagi Brian, cukup sudah Mike menyakiti Lanie, ia tahu betul bagaimana perilaku buruk Mike selama ini, balasan ini anggap setimpal dengan perbuatannya.


Lanie terus berteriak, ia mencoba melerai, sampai kondisi keos ini diketahui oleh tangan kanan pemilik gedung yaitu Bastian.


"Mike!"


Bastian menarik tubuh keponakannya, kemudian satu pria gagah lagi berusaha mengondisikan tubuh Brian yang terus merontakan jiwa mudanya.


"Cukup Brian!" pekiknya.


Brian tak mengindahkannya, ia masih belum menyelesaikan amarah yang membuncah di dadanya.


"Apa-apaan kalian ini?" Bastian menegur.


"Biar aku beri anak ingusan ini pelajaran Om!" Mike berteriak tak terima, tatapan masih tajam tak bersahabat.


Bastian menarik. "Ini acara Kaesang, Om mohon hargai kami sebagai tuan rumah," pekiknya.


Mike baru menyadari bahwa dirinya telah tersulut emosi. Bagaimana pun, ini di ranah publik, tidak seharusnya dia membuat citra yang dibangun baik menjadi buruk.


Terlebih, jika semua relasinya mengetahui bahwa pemuda tengil itu yang menghamili istrinya, sebagai lelaki berwibawa, harkat dan martabat dirinya akan tercabik-cabik.

__ADS_1


Menatap nyalang, Mike menunjuk lurus ke arah Brian. "Urusan kita belum selesai!"


"Selesaikan sekarang saja, brengsek!" Brian kembali menyerang sebelum pria tampan di sisinya meringkusnya.


"Brian!" pekiknya kembali.


Malu dengan keadaan kacau ini, Lanie berlari dari tempat itu, Bastian membawa Mike untuk diberikan ketenangan.


Beberapa petugas keamanan membubarkan para tamu yang masih menggerumut. Tinggal lah Brian dan satu orang pria di sana.


"Apa-apaan ini Brian?" teguran dari pria gagah yang sangat-sangat Brian kenal itu cukup meluruhkan emosinya. "Kamu buat onar di sini?"


Selain menunduk Brian tak bisa berkata-kata, jika saja pria bernama Galang ini mengadu pada ayahnya mungkin hukumannya terus bertambah.


Jurusan kuliahnya saja masih menjadi masalah besar bagi Galih sang ayah. Belum lagi perilaku nakalnya selama ini.


"Berantem lagi berantem lagi, terakhir tawuran sana sini, kamu dihukum bukannya membaik, introspeksi, malah lebih kacau seperti ini!" tegur Galang kembali.


"Di luar sana ada Papi Mami kamu," lanjut Galang. "Betah kamu diasingkan di kost sempit hah?"


Brian menghela napas, lalu melangkah pergi. Secara cepat Galang menarik lengan pemuda badung itu. "Mau ke mana lagi?" tanyanya.


"Jangan suka cari masalah, apa lagi sama relasi bisnis keluarga kita!" tutur Galang.


"Brian!" Bahkan teriakan Galang tak diindahkan olehnya.


Jalan yang Lanie pilih tempat yang kemudian Brian tuju. Sepertinya Brian tahu ke mana larinya sang kekasih.


Di layar monitor lift yang ditunggangi Lanie, menunjukkan angka paling atas gedung ini.


Mungkin roof top tempat yang Lanie kunjungi demi menenangkan diri. Segera Brian masuk ke dalam lift sebelahnya sesaat setelah lift itu terbuka.


Benar saja, tiba di atap gedung Lanie sudah duduk termenung pada bangku panjang estetika.


Dari kemarin malam, tempat ini lah yang dijadikan pelarian untuk lamunan Lanie.


Angin malam mengencang, pundak terbuka wanita itu Brian balut dengan jas miliknya.


Sontak Lanie menoleh lantas tertegun, diusia yang sudah 32 tahun, masih pantaskah ia mendapat perlakuan manis seorang pemuda.


Brian duduk di sisinya, menatap lurus ke depan. Sejenak mereka berdiam diri sebelum kemudian Lanie berani berucap kembali.


"Boleh aku tanya?"


"Hmm," gumam Brian.

__ADS_1


"Sebenarnya siapa kamu?"


Brian terkekeh pelan. "Bukankah pertanyaan ini terlalu dasar?" tanya baliknya seraya menoleh. "Kita bahkan sudah bersama satu tahun lamanya."


Lanie menggeleng. "Kau tahu, tadinya aku pikir kau sama seperti ku," ujarnya.


Brian mulai mendengar ungkapan hati Lanie seperti malam-malam pertemuan sebelum kejadian di hotel itu.


"Ku kira, kau pemuda yang dieksploitasi oleh keadaan dan harus berjuang mencari makan lewat dunia malam," tambah Lanie.


Sejenak Lanie mengingat bagaimana ia juga dieksploitasi oleh oknum tidak bertanggung jawab, dan menjadikannya wanita malam di usianya yang masih 15 tahun.


Enam bulan Lanie dijajaki lelaki, Mike hadir dan menikahi dirinya tepat di usianya yang masih 16 tahun.


Pernikahan mereka dilegalkan ketika usia Lanie cukup memenuhi syarat.


Bahtera rumah tangga yang dimulai dari nol Lanie lewati bersama Mike yang saat itu bak pahlawan tampan baginya.


Itu lah alasan Lanie membayar Brian cukup mahal tanpa mengajaknya lebih dari sekedar ciuman, mengobrol, menghabiskan malam.


Lanie pikir Brian bernasib sama seperti dirinya yang dijual oknum bejat kala tubuhnya masih ranum dan suci.


Lanie mengusap wajah Brian. "Kamu tampan, kamu baik, kamu layak mendapat pendidikan yang cukup," ucapnya. "Awalnya aku pikir aku sudah banyak membantu mu. Ternyata tidak, kau tidak menyentuh uang ku sama sekali."


Brian paham benar apa yang sedang Lanie pertanyakan, sudah pasti tentang asal usul dirinya. Selama berhubungan, Lanie tak pernah tahu seluk beluk keluarga besarnya.


"Dari mana asal pakaian mahal mu? Dari mana asal motor gede mu? Dari mana uang kuliah mu yang tidak sedikit itu? Kenapa kau tidak memakai uang ku? Jujur saja Brian, kau punya Tante lain? Atau apa?" cecar Lanie.


Satu tahun bersama tidak membuat Lanie mengenal teman kencannya, apa alasan pemuda itu mengembalikan uang yang dia transfer setelah banyaknya waktu Brian yang terbuang bersama wanita seperti dirinya.


Masa depan Brian juga akan rusak oleh kehamilannya. Sungguh, Lanie merasa bersalah telah melakukan itu.


"Aku bukan siapa-siapa," jawab Brian. "Tapi yang jelas, aku kecewa pada mu, perasaan tulus ku hanya dianggap angin lalu."


Lanie mengernyit. "Aku saja tidak mengenal mu, Brian! Kau kira aku akan tahu tanpa diberitahu..." ocehannya terhenti ketika bibir Brian terpaut pada bibirnya.


Brian paham betul, Lanie akan lebih menjauh darinya ketika mengetahui bahwa dirinya anak ke dua dari Galih Pramana, pemimpin perusahaan animasi yang cukup dikenal di negaranya.


TBC,


For your information, di bawah ini screen shoot dari scene Galang Alula di kampus, biar kalian ingat sedikit tentang Galang dan Abangnya yang memimpin perusahaan animasi.



...👀 pasti su'udhon lagi kalian, dikira part ini malam-pertama Luna Kaesang, yeee, sesuai alur yaa, biar nggak berantakan kek rumah tangga Mike.🙈...

__ADS_1


__ADS_2