
...Gaiss, Seperti yang kalian tahu, nopel ini sudah tamat .. tapi aku masih perlu menuliskan tambahan part yg dirasa masih menggantung .. So maaf kalo terganggu sama notifikasi nyaa yaaa .. Sebelum lanjut di karya Emyr.. Biar aku bayar hutang dulu, di part part bonusnya .....
...---------π---------...
Kehamilan Luna tentu mendapatkan sambutan kasih sayang dari keluarga suaminya. Meski demikian, Kaesang perlu menyelesaikan semester akhir di kampusnya.
Mau tak mau, suka tak suka, mereka harus menjalani long distance relationship. Karena selama kehamilan Luna tinggal di kediaman keluarga besar mertuanya, dan hari ini, hari di mana Kaesang pulang ke Indonesia, untuk ikut menjadi peserta empat bulanan putranya.
Seperti biasa, acaranya diadakan di hotel R-build. Sanak saudara, bahkan tamu-tamu elit sudah ikut menyemarakkan suasana gedung.
Tak terkecuali Mike yang juga hadir bersama Lira istri satu-satunya. Ia memastikan wanita cantik tercintanya duduk aman dengan sang pengawal, sementara dirinya izin pergi ke toilet.
Bukan Mike jika mengatakan alasan yang sebenarnya. Mike sengaja beralibi begitu demi bisa menyatroni mantan istri pertama yang tengah direpotkan oleh pekerjaan.
Tak ayal, hidangan lezat kali ini dihandle oleh Lanie dan tim catering milik Diana. Lanie tentu menjadi orang yang paling disibukan di antara lainnya.
"Lan..." Mike berdiri di sisi meja prasmanan, menatap Lanie yang sibuk mengatur beberapa pegawai. "Kau sibuk?"
"Mike?" Lanie menoleh senyum ke arah mantan suaminya. "Begitulah. Kalian perlu apa? Biar aku antar ke meja kalian setelah ini."
Mike mendengus kesal dibuatnya. Lihatlah senyum manis yang mengembang di bibir wanita itu, kenapa seolah-olah tersirat kebahagiaan setelah bisa terlepas darinya.
"Apa Lira butuh sesuatu Mike? Nanti aku antar ke meja mu." Sedikit ada selidik di benak Lanie saat ini. Mike sering termenung saat tak sengaja bertemu dengannya.
"Mike..., kau baik-baik saja kan? Kau butuh sesuatu?" Lanie mengulang kembali tawarannya.
"Tidak." Mike menggeleng. Sungguh tak ada yang lebih Mike inginkan daripada kembalinya wanita cantik itu, ke istana yang mereka buat bersama-sama.
Bagaimana pun, pernah ada kasih, pernah terselip sayang, pernah terlintas cerita yang mengalir bertahun-tahun lamanya.
Dalam pandangan Mike yang sekarang, Lanie sudah banyak berubah. Sudah tidak pasif, banyak kegiatan positif, terpenting adalah, Lanie tak hanya bisa berfoya-foya saja, Lanie benar-benar berhasil membuat Mike terkaget atas perubahan itu.
Tak dinyana-nyana, bahwa seorang Lanie mampu menjadi pribadi yang mandiri dan tidak bergantung pada siapa pun. Termasuk padanya yang dulu serba memenuhi apa pun kebutuhan wanita itu.
"Aku ke sini, hanya ingin melihatmu saja. Lama aku tidak melihat mu." Mike tersenyum kecil lalu duduk di salah satu kursi yang dekat dari tubuh Lanie.
Lanie menatap Mike redup. "Tapi aku harus pergi, Mike. Clay mungkin butuh aku. Kau kembalilah ke meja istrimu." Wanita itu mengusap kepala Mike, kemudian pergi meninggalkannya.
Mike menyibak pelan rambut miliknya, bagian kepala yang Lanie sentuh barusan, membuatnya merindu belaian tangan itu.
Ini tidak adil. Setelah perpisahan, kenapa selalu ada kerinduan yang menyisakan penyesalan.
Mike menunduk, desir aneh yang dia rasakan, menjadi pertanda bahwa ia tak lagi sanggup menatap senyum manis Lanie. Yah..., senyum yang hampir tak pernah terlihat selama menahun bersamanya.
Mike telah kalah..., Lanie yang dulu mengemis kesetiaannya, kini sudah memiliki pekerjaan dan mempunyai anak yang sangat tampan.
__ADS_1
Bisa dikatakan dengan bangga, bahwa Lanie cukup bahagia tanpa dirinya. Dan itu hal, yang mampu mencabik-cabik harga diri seorang Mike Lorenzo.
...---------π---------...
"Kaes!" Brian baru saja tiba bersama rombongan keluarga besarnya. Kaesang dan Luna tersenyum menyambut kedatangan mereka.
Namun, ada mata yang lalu meredup ketika melihat senyuman pemuda itu. Lanie juga ada di sisi Luna saat Brian tiba di sana.
Sempat Brian mengerling kecil padanya, lalu di detik berikutnya mata itu membuang pandangan darinya. Ada kebencian yang mendasari tatapannya.
Lanie menunduk, rupanya masih ada getar yang menggebu di jantungnya saat melihat ayah biologis dari putra tampannya.
"Selamat, akhirnya Luna tidak lagi kesepian. Semoga bayinya sehat dan bisa jadi partner ribut ayahnya nanti!" gelak Brian.
Kaesang tertawa. "Duduk lah di meja sana, kami akan sambut dengan hidangan yang paling lezat di sini," ucapnya.
"Ok, baiklah."
Seperti yang Kaesang titahkan,Brian akan segera duduk. Tapi sebelum itu, Brian merasa perlu memperkenalkan siapa gadis cantik yang sedari tadi menjadi perhatian Luna dan Lanie.
"Oya Kaes... Ini Carla, kekasih ku. Kami sudah tunangan, dan mungkin sebentar lagi menyusul kalian ke pelaminan." Bicara pada Kaesang, tapi lirikan matanya mengarah pada Lanie yang tertegun di tempatnya.
Kaesang menyengir getir. Entah kata apa yang bisa dia ucapkan agar bisa menjaga perasaan semua orang. Satu sisi Lanie kakak iparnya, dan sisi lainnya Brian temannya.
Merasa tak diperlukan di tempat itu. Lanie ngeluyur pergi, tentu ia perlu mendatangi putra tercintanya; sumber kekuatannya.
Brian yang sedari tadi berusaha acuh pada mantan kekasihnya. Kini tak lagi mampu berpaling pandang setelah ada pria muda di sisi wanita bergaun merah lembut tersebut.
"Silahkan duduk Jeng, Tuan." Alula yang pada akhirnya mempersilahkan keluarga besar Brian untuk duduk melingkar menghadapi meja putih bundar berdiameter besar.
Semua tersenyum terkecuali Brian, pemuda itu tak cukup bisa tenang. Mata visusnya terus menuju pada Lanie yang bicara entah dengan siapa.
Jelasnya, laki-laki muda berjas hitam itu masih seumuran dirinya. Di lihat dari ketampanannya, masih setipe dengan dirinya.
Melihat senyum manis Lanie di sudut sana. Brian mengepal kuat tangannya. Bukannya cemburu pada Carla, Lanie justru terlihat biasa saja.
"Tante girang!" umpatnya tanpa sadar.
"Kamu kenapa Yank?" Brian menoleh pada tunangannya. "Tante siapa?" Clara mencecar.
"Tidak..., aku ke toilet sebentar."
Tak menunggu jawaban kekasihnya, Brian bangkit dari duduk, melangkah cepat menuju ruang di mana terakhir Lanie terlihat.
Di sela langkahnya, ia terus menoleh ke kanan dan kiri, demi memastikan tidak ada yang mengenali dirinya.
__ADS_1
Merasa cukup aman, segera ia menarik lengan Lanie untuk diseret memasuki pintu tangga darurat.
Lanie mengernyit. Jujur ia shock mendapat perilaku tiba-tiba pemuda itu. "Brian!"
Di pojokan dinding, Brian menghempas kecil tubuh Lanie. Sejenak mereka bertukar tatapan mata heran. "Apa kabar?" tanya datar Brian.
"Baik," untuk sekejap keduanya sempat terdiam. Entah, ada degup jantung yang tak biasa. Ini seperti, kerinduan yang sudah mendarah daging.
Di mata Lanie, Brian masih setampan dahulu. Dan bagi Brian, Lanie masih terlampau cantik dan seksi untuk ukuran Tante-tante berusia matang.
Brian menerawang. Ingin rasanya memakan bibir merona itu, memeluk tubuh terbentuk itu, dan menghirup dari dekat aroma seksi itu.
Segila itu dirinya, bahkan sampai detik ini, Lanie tak pernah bisa dia lupakan. Carla yang lebih muda saja, tak cukup mampu membuatnya setia.
"Tunangan mu cantik." Sekian detik termenung, akhirnya Lanie berani berujar kembali. "Selamat ya..."
Brian terkekeh getir. "Dia lebih segalanya darimu, asal kau tahu," sindirnya.
Lanie tersenyum, ia menunduk, kemudian ia angkat kembali pandangannya. Di banding bandingkan dengan gadis yang lebih muda, tentu bukan lawannya. "Tentu saja, dia masih muda, cantik, dan...,"
"Yang pasti tidak egois seperti mu Lanie!" Brian menyela ketus, dan Lanie tercengang mendengar suara murkanya.
Ekspresi pemuda itu seperti menyampaikan kemarahan. Entahlah... Lanie tak cukup paham apa yang ingin Brian katakan. "Aku rasa aku harus pergi, Brian."
"Karena hanya itu yang bisa kau lakukan, selama ini Lanie!" Tiba-tiba saja Brian berteriak di iringan kaki Lanie yang baru akan menjauh.
Tentu hal yang membuat Lanie shock. Lama tak bertemu, ia pikir tak ada lagi permasalahan di antara mereka. Terakhir kali, keduanya saling berjanji untuk menyudahi hubungan tidak lazim ini.
"Aku kira hubungan kita sudah selesai bukan? Kau sudah punya kekasih yang lebih baik dari pada aku, lalu apa lagi sekarang? Kau masih mau mencaci maki ku, Brian?"
"Kau pantas mendapatkan ini!"
Brian menjatuhkan bibirnya pada bibir lawannya. Meremas geram sesuatu yang tidak seharusnya ia sentuh sembarangan.
"Brian!" Tamparan mendarat di pipi kanan pemuda itu. "Apa-apaan kau hah?" Nyalang, Lanie menatap kecewa mantan kekasihnya.
Brian tergelak samar. "Bukankah kita sudah sering melakukannya? Terakhir, kita bercinta sambil memandangi Aurora. Kau ingat Tante?
"Hubungan kita sudah berakhir! Kau sudah punya kekasih. Pikir mu, aku ini apa hah?"
Brian mendekat. "Seperti ku dulu. Jadilah simpanan ku...."
Plakk!
Memegangi pipi sebelah kirinya, Brian mematung di tempatnya. Lantas, Lanie pergi setelah berhasil menjatuhkan dua kali tamparan di wajah tampannya.
__ADS_1