
Mike tersenyum manis pada sederet teman elit Lanie. Satu persatu Mike memberikan jabat tangan akrab.
"Apa kabar Mike, lama nggak ketemu kita," sapaan dari perempuan bergaun hijau botol.
Sejatinya Lanie tahu, temannya ini sedikit menyindir secara halus.
Mike memang sudah terlalu lama tak menemani Lanie bepergian, terbayang dari semenjak ada Lira, Mike lupa diri.
Ke mana pun Lanie pergi, wanita itu selalu sendiri, dan ke acara mana pun Mike pergi Lira saja yang Mike tenteng. Bertahun-tahun Lanie dan Mike tak terekspos besama.
Lanie diam tak merespon, kali ini apa pun yang ia rasakan Lanie harus tetap bahagia demi bayi yang ada di dalam kandungannya.
"Aku baik," jawab ramah Mike seraya tersenyum.
"Tambah ganteng ajah suami mu Lanie," timpal satu teman lainnya. Dijawab dengan senyum tipis Lanie.
Memiliki suami tampan tidak berarti kehidupan pernikahannya bahagia. Lanie cukup sadar, ketampanan itu lah yang perlahan membunuh rasa cintanya.
"Kita bicara sebentar," ajak Mike lantas menatap bergantian teman-teman Lanie.
"Sorry, kami tinggal dulu," pamitnya.
"Ok," jawab satu persatu temannya.
Lanie pasrah saat Mike menarik pergelangan tangannya untuk dibawa ke suatu tempat yang lumayan jauh dari para tamu.
Tak ada ekspresi apa pun selain datar dan malas yang Lanie suguhkan, sudah terlalu banyak tangisan dan amarah yang Lanie burai di hadapan Mike.
Mike tetap saja berlanjut menyakitinya, menduakannya, bahkan bermain dengan wanita lain sebelum Luna datang dan Lira siuman.
Di lorong yang sedikit sepi, Mike berhenti langkah lalu kembali menatap sayu wajah datar istri pertamanya.
Entah lah semenjak hamil, Lanie memiliki pancaran aura yang berbeda. Mike sadar ia sudah terlalu acuh pada wanita itu.
Cukup lama Lanie berbuat sesuka hati dan Mike terus tak mau peduli, membuang uang, berpesta, mabuk, Mike diam saja.
__ADS_1
Tulang yang bengkok akan patah jika dipaksakan lurus, tapi membiarkan bengkok pun nyatanya bukan solusi terbaik.
Lihatlah hasilnya, Lanie hamil anak pria lain yang entah siapa, Mike terus memikirkan hal ini dari semenjak pertengkaran mereka.
"Kau yakin mau bercerai dari ku?" tanya Mike akhirnya menyeletuk. Lanie sedikit menghela pelan, sebelum mengangguk kepala.
"Tentu saja, aku sudah serahkan semuanya ke pengacara, aku minta jangan ada banding, aku ikhlas kalau kau mengambil seluruh harta benda kita, aku tidak akan mengusutnya, syaratnya permudah semuanya," jawab Lanie.
"Kamu lupa dari nol kita bersama," sahut Mike, ke dua lengan Lanie dicekal nya.
Lanie mengangguk pelan. "Aku tidak akan lupa, karena sepertinya kamu sendiri yang baru mengingatnya," ujarnya.
"Pikirkan lagi Lanie." Mike menekan intonasi dan ekspresinya. "Aku akan terima meski kau hamil dengan pria lain, tapi lupakan soal perceraian kita," pintanya.
"Kau lupa, aku hanya acuh karena kesal, dan meskipun kesal aku tidak pernah mengungkit tentang kesalahan mu satu tahun yang lalu!"
Lanie terkekeh getir. "Kamu merasa berjasa sudah menutupi kejahatan ku?" tanyanya.
Anggukan kepala Mike menjawab. "Harusnya kamu sadar, itu semua, because I love you!"
"Luna benar, lelaki bukan kopi yang meskipun pahit harus tetap dinikmati, aku mundur, aku mau lepas dari mu," tambahnya.
"Tidak akan ada ruginya Mike, harta mu tidak akan pernah hilang meski kita bercerai, aku ikhlas, kau tak benar-benar mencintai ku, kau hanya mencintai Lira," imbuhnya.
"Pernikahan kita hanya karena aku terlalu percaya diri," timpalnya lagi.
"Mana ada pria yang mau dengan wanita yang pernah disentuh banyak pria? Harusnya aku sadar diri dari awal," lanjutnya.
Mike menggeleng, entah kenapa setelah Lanie tak lagi berkata kasar hatinya seakan terketuk iba dan merasa bersalah. "Kamu salah paham," katanya.
Lanie menggeleng. "Belasan tahun bersama, tidak membuat ku bahagia Mike, nyatanya aku lebih bahagia setelah tinggal terpisah dari mu," ucapnya.
"Kau mau menikah lagi?" tanya Mike pada akhirnya. "Dengan pria yang menghamili mu hmm?" cecarnya.
"Aku tidak terpikir ke arah situ," jawab Lanie.
__ADS_1
Mike menggertak giginya. "Aku yakin mereka yang berhubungan dengan mu, just for fun, mereka hanya memanfaatkan keroyalan mu Lanie," seriusnya.
Lanie tergelak, bahkan lebih renyah dari sebelumnya. "Apa bedanya dengan mu?"
Mike geram. "Kau tahu aku berbeda, selama beberapa belas tahun aku selalu menjaga mu, kau tahu aku mengembangkan bisnis untuk mu juga," catuknya.
"Itu tidak cukup Mike," geleng Lanie.
Wajah tampan Mike mengeras. Perdebatan ini tidak kunjung mendatangkan solusi, lebih baik ia tarik saja lengan istrinya untuk diseret.
"Pulang," putusnya sepihak.
Lanie meronta. "Mike!" Bersamaan dengan itu, sebuah kelembutan yang sangat ia kenal menyentuh satu lengannya.
Ditolehkannya kepala Lanie secara cepat, dan secepat itu pula wajah tampan seorang pemuda terdapat di hadapan retinanya.
"Brian," celetuknya. Yah, pemuda itu yang menarik satu lengannya hingga Mike terpaksa menoleh ke arah yang sama.
Lanie sanggup tersenyum, Brian yang terakhir dia lihat setelah hampir empat bulan berlalu, tak jauh berbeda penampilannya.
Jas mahal yang dipakai pemuda itu, mestinya terbandrol dengan harga yang mahal, tapi bagaimana bisa Brian membelinya sedang selama satu tahun terakhir pemuda itu tak pernah menyentuh uang darinya?
Lanie baru menyadari, Brian tak pernah mengenakan pakaian murah, sementara uang yang dia berikan tak pernah berkurang.
Brian melepaskan tangan Mike dari lengan Lanie. Sejatinya Mike masih bingung dengan keberadaan laki-laki muda itu.
Kerutan kening muncul. "Kau?"
"Dia sudah bilang ingin bercerai, seharusnya kau sadar, kau sudah tidak pantas lagi memaksanya!" lirih Brian yang penuh dengan nada tekanan.
Mike terkekeh remeh. "Siapa kau ini? Ingusan," cibirnya. Bahkan tatapan mata Brian tak dianggap ancaman bagi Mike.
Brian menyeringai kecil. "Gimana kalau ternyata, anak ingusan ini yang meniduri istri mu?" tanyanya.
Redup sudah lengkungan bibir Mike, hatinya seolah terkoyak mendengar omong kosong pemuda tampan nan muda itu.
__ADS_1
Huaaaa akhirnya bisa dua bab, terima kasih dukungannya... mentemen...