
Bangunan berlantai delapan berlogokan R-build menjadi tempat pilihan Rayden untuk menikahkan putranya.
Sebuah gedung khusus yang biasanya disewakan untuk acara pernikahan, atau pun acara-acara sejenisnya.
Malam sebelum akad nikah dilangsungkan, Alula dan Karlina masih sibuk memberikan treatment demi treatment pada Kaesang.
Bukannya terlihat segar, wajah Kaesang justru bermuram durja. Satu bulan sudah Kaesang tak diizinkan bertemu dengan calon istrinya.
Alasannya selalu sama yaitu pamali, pamali dan pamali. Eyang memang sekritis itu, dan mau tidak mau semua harus sesuai dengan pintanya.
Padahal, Kaesang dan Luna sudah berada di gedung yang sama. Luna di kamarnya dan Kaesang di kamar lorong sebelah.
Seharusnya bisa bertemu, tapi Eyang terlalu kolot untuk bisa disamakan pemikirannya dengan pemuda masa kini seperti Kaesang.
Tengkurap di atas ranjang beralaskan matras, Kaesang diberikan pijitan aroma terapi dari mas mas pekerjaan spa.
Kepalanya mendongak, menatap sang ibunda duduk di sisi ranjang miliknya.
Eyang putri dan Eyang Kakung ada di sofa, sementara Rayden sibuk berkutat dengan ponselnya. Sesekali berdiri, berjalan, duduk.
Masih banyak yang perlu dilakukan sebelum acara dimulai, salah satunya berkomunikasi dengan para pekerjanya.
"Mam." Seperti balita Kaesang menarik narik blouse putih ibunya.
"Hmm?" jawaban Alula hanya sebatas bergumam pelan, wanita itu tengah asyik merawat kulit wajah dengan skincare malam.
"Boleh Kaes ketemu Luna?" bisik Kaesang yang berhasil mengundang tolehan kepala sang ibunda. "Sebentar saja," bujuknya.
Alula melirik mertuanya sekilas lantas kembali menatap putranya. "Nggak boleh Kaes, nanti Eyang marah-marah lagi, inget loh, Eyang nggak boleh sampai marah-marah, kondisi kesehatannya terlalu rentan," ujarnya.
Kaesang mendengus. "Tapi lama-lama Kaes juga yang rentan gara-gara nggak ketemu Luna," gerutunya. "Bayangkan, satu bulan Mam!"
"Besok acaranya Kaes, besok kamu dah jadi suaminya, sabar kenapa sih?" Geram, Alula sampai lupa untuk menekan suaranya yang cempreng.
Rayden menggeleng ringan mendapati percekcokan mereka. Terlihat juga, raut Kaesang mengecut sambil menggerutu.
"Sabar dulu, besok juga ketemu," tambah Alula.
"Nyicil dikit boleh kali."
"Huss!" Rayden memukul kepala putranya dengan bantal. "Kamu ini! Nggak tahu malu ngomong sama orang tua! Nyical, nyicil!"
Kaesang beralih pada ayahnya. "Nyicil dikit maksudnya pengen liat mukanya sama cium dikit kalo boleh Pi, pikiran Papi terlalu ngeres, pasti dulu Papi suka nyicil juga," tukasnya.
"Sembarangan kamu!" Alula yang kali ini melayangkan bantal pada wajah putranya.
"Di budaya mana pun, dalam agama apa pun, menyentuh wanita yang belum jadi istri mu nggak boleh, paham," wejangannya.
Kaesang mendengus. "Seenggaknya kasih Kaes ponsel dong, Kaes pengen telfon Luna bentar."
"Nggak bisa!" Eyang yang mendengar, lalu mengeluarkan suaranya. "Pamali!" katanya.
"OMG, ..." keluh Kaesang. "Aku benci Pak Mali!" gumamnya. Sang pemijat terkikik mendengar gerutuan calon mempelai pria.
"Apa ketawa?" Kaesang sedikit memutar kepalanya demi melihat tawa menyebalkan pekerjanya
__ADS_1
"Tidak Tuan," geleng pria itu.
"Besok, kalo ketemu Pak Mali, kasih dia pelajaran! Bila perlu lakban mulutnya biar nggak lagi kasih wejangan aneh!"
Sang pemijat tergelak kecil, sepertinya tidak ada kolerasi antara pamali dan Pak Mali.
...----------------...
Malam telah larut, lalu embun pagi berusaha menyingkirkan selimut gelap kantuk sang malam, dan begitu pula dengan terik matahari yang ingin menunjukkan eksistensi.
Gedung megah ini sudah sibuk dari beberapa hari yang lalu, bahkan untuk hari ini saja, para pekerja dari wedding organizer sampai yang catering sudah sibuk sedari sebelum subuh.
Koki, pelayan, perias pengantin, pagar Ayu, dan para tamu disibukan dengan urusannya sendiri.
Dalang memainkan peranannya, para sinden juga duduk di masing-masing tempatnya.
Makanan tergelar luas, apa pun menunya bisa ditemukan di dalam sana. Suvenir pernikahan sudah di hamparkan.
Semua sibuk, tak terkecuali Kaesang dan Luna yang telah siap di tiap-tiap posisinya.
Di sisi Lanie dan Diana, Luna cantik dengan riasan manten ala Jawa sementara di tempat yang sedikit terpisah Kaesang duduk di atas kursi akad menghadap sang penghulu nikah beserta wali hakim dan para saksinya.
Kedua mempelai sama-sama mengenakan warna putih, mereka lebih dari cukup untuk penggambaran serasi.
Amas, Derry dan Virza sedia di sisi pengantin pria.
Mengenakan batik termahal, Rayden setia mendampingi putra pertamanya, Damar dan Bulan si kembar bungsu ikut duduk di sisi ayah tampannya.
"Bukankah calon istri Mas Kaes itu cewek yang dulu Bulan tabrak yah?" bisik Bulan di telinga Damar.
"Hihi," tawa Bulan sembari menutup mulut mungilnya. "Ternyata mereka berjodoh."
Sah, sah sah... tergema sudah di segala penjuru ruangan.
Tak seperti Damar dan Rembulan sang adik, Kaesang justru gusar menoleh ke arah yang dirasa ada Laluna kasihnya.
Sumpah demi apa pun, bahkan sampai Ijab disahkan Kaesang belum melihat bagaimana wajah Luna saat ini.
"Mas kenapa? Mas butuh apa? Biar Bulan yang ambil deh," tawar Bulan. Kaesang hanya menjawab dengan gelak kecil dan pelukan di kepala adik manisnya.
Brian baru datang, segera pemuda tampan itu memeluk dengan tepukan akrab di punggung Kaesang. "Selamat kawan!"
"Terima kasih sudah datang, walaupun telat, yah sebelas dua belas sama polisi India, ijab sudah selesai kau baru datang," sindir Kaesang.
Brian tergelak renyah. "Sorry, kemarin aku datang, tapi sampai depan tidak dibolehkan masuk, penjagaan ketat di luar, ponsel mu juga tidak bisa dihubungi," keluhnya.
Kaesang menghela. "Begitulah kira-kira tidak enaknya jadi Kaesang, semua serba diatur sama Pak Mali," katanya berkeluh.
Brian lagi-lagi tergelak, tapi bagaimana pun keluarga memang selalu ingin memberikan yang terbaik, salah satunya dengan ritual yang menurut mereka tradisi turun temurun.
Budaya yang masih cukup kental ini diikuti oleh seluruh anggota keluarga Kaesang.
"Luna mana?"
Kaesang mendengus mendengar pertanyaan Brian Anggara. "Aku saja belum melihatnya," jawabnya.
__ADS_1
"Sabar."
...----------------...
Tepat pukul sembilan pagi teng, untuk yang pertama kalinya Kaesang bisa melihat lagi kelebatan raga istrinya.
Yah, dengan mahar yang bombastis tinggi Luna telah resmi menjadi istri sahnya.
Sesuai runtutan acara Luna digiring ke pelaminan begitu pun dengan Kaesang.
Lagi-lagi serangkaian ritual mereka lakukan sesuai dengan tuntunan dari sang Eyang.
Di sela kegiatannya, manik hijau lelaki itu terus tertuju pada wajah cantik berbalut riasan pengantin.
Entah lah, satu bulan saja tak bertemu kenapa bisa Luna bertambah secantik ini. Manglingi, mungkin begitu definisinya.
Luna tersenyum simpul, tatapan itu seolah memendam sebuah kata ancaman. "Apa kabar my sexy and hot wife?"
Benar saja, pertanyaan Kaesang cukup membuatnya merinding. Belum sah saja sudah mesum, bagaimana dengan malam ini?
"Jadi aku istri mu?"
"Of course!" jawab cepat Kaesang. Mereka berdiri berjajar di hadapan kamera dengan mulut yang sahut menyahut.
"Jangan coba-coba lari dari ku malam ini, pastikan tidak ada drama datang bulan!"
Luna mengulum senyum, di sela-sela kegiatan yang membuatnya pusing Kaesang cukup menjadi mood booster baginya.
...----------------...
Di sudut tempat, berbalut pakaian mahal Mike baru tiba dengan membawa serta istri ke duanya. Bagaimana pun, Lira perlu datang ke acara pernikahan adik bungsunya.
Pandangan Mike mengedar, matanya menemukan kecantikan Laluna, kebahagiaan wajah tampan Kaesang, lalu yang paling utama senyuman manis istri pertamanya.
Lama tak pulang, rupanya Lanie berdiri di tengah-tengah tamu undangan. Terlihat, Lanie juga mengundang banyak teman-temannya.
Tak ayal, yang menikah adalah adik bungsu, tentu saja Lanie juga ikut meramaikan pesta pernikahan megah ini.
Melihat itu, Mike berjongkok untuk mensejajarkan diri pada wajah Lira yang sangat cantik dengan busana menawan berwarna putih.
"Sayang."
"Iya."
"Kau tunggu dulu di sini, pengawal dan pelayan akan menemani mu," kata Mike. "Aku ada urusan sebentar," pamitnya.
Lira tergeming, ia tahu Mike pasti akan mendatangi istri pertama. Selama Lanie pergi dari rumah, Mike terlihat begitu gusar.
Hanya saja, Mike terus menerus menjaga perasaannya yang rapuh. Padahal, tanpa diucapkan Lira paham apa yang Mike resah kan.
"Kamu tunggu ya," ulang Mike.
"Iya." Anggukan kepala Lira diberikan elusan lembut, sebelum kemudian Mike berputar arah dan melangkahkan kakinya.
...đŸ“¢ Minta bintang Lima nya, boleh, kalo enggak ya udah deh komen ajah deh, huhu, terimakasih atas kesetiaan kalian.......
__ADS_1