
Pukul delapan sudah lewat sepuluh menit, namun tubuh kaku Kaesang masih melekat pada ranjang kecilnya.
Brian yang baru saja tiba, pemuda rupawan itu mengerut tipis keningnya. "Kenapa? Kau sakit?" tanyanya, kemudian duduk melepas satu persatu sepatu sneaker miliknya.
"Kaki ku keram semua." Kaesang meringis. Jangankan untuk terbangun, bergerak sedikit saja, pria itu tak mampu.
"Gara-gara sepeda?" tanya Brian.
"Hmm," gumam Kaesang. Padahal, semalam ia pulang dengan taksi, sepeda Brian sengaja dilipat, berharap tak membuat kakinya terlalu keram.
Apalah daya, anak orang kaya, mungkin kah setegar itu mengarungi bahtera sepeda?
Mengingat kesedihannya Brian menghela napas berat, lalu menjatuhkan punggung pada ranjang kecilnya.
Sejenak, pandangan kedua pemuda tampan itu tertuju pada satu arah yang sama yaitu langit-langit kamar sederhana mereka.
"Kau kenapa?" setelah cukup lama hening, Kaesang memecahkan kesunyian dengan pertanyaan kepedulian ala teman. Ia melihat raut tak ramah dari pemuda yang seharusnya ramah.
Brian menoleh lemah. "Nanti malam, jemput Luna, pakai motor ku saja, malam ini aku tidak ke mana-mana," ujarnya.
"Kenapa?"
Lagi, Brian menatap langit-langit, raut wajah masih sendu memucat. "Malam tadi, malam terakhir kami," katanya lirih.
"Maksud mu?"
"Lupakan saja," gelak sumbang Brian, sekejap ia menertawakan nasibnya sendiri, selama ini ia terlalu banyak berharap pada hubungan tak wajarnya.
Wanita bersuami mana yang serius dengan pemuda sepertinya? Bodoh bukan? Sangat bodoh.
Sekilas Brian mengingat, bagaimana awal mula perjumpaannya bersama Tante Lanie.
Jebakan teman nakalnya membawa Brian menjadi satu dari puluhan berondong yang namanya tertulis di kelintingan kertas arisan.
Semua terjadi begitu saja, meski Brian tak tahu menahu mengenai kegiatan arisan para Tante kesepian, malam itu dirinya cukup menikmati kebersamaannya dengan Lanie.
Lanie cantik, seksi, mempesona, dari galaknya, juteknya, semua yang ada pada perempuan itu Brian menyukainya.
Satu tahun bersama, Brian cukup menikmati perselingkuhan mereka meski ia tahu Lanie bukan istri pria sembarangan.
Tak peduli seberapa banyaknya teman kampus yang menghardik dirinya, Brian tetap lanjut dengan hubungan tanpa status.
"Kalian bertengkar?" tanya Kaesang.
"Kami putus, dia tidak pernah memandang ku sebagai kekasihnya, aku hanya pelarian yang harus datang saat dia membutuhkan," lirih Brian.
"Kekasih bayangan?"
Brian menoleh senyum getirnya. "Itu definisi ku," jawabnya.
__ADS_1
...----------------...
Satu Minggu berlalu, Kaesang merasa tak ada perlakuan istimewa lagi selama tinggal di tempat yang sempit dan identitas barunya.
Semua berjalan tak seperti dahulu, ia harus mengantri, mengurus identitas, melamar pekerjaan dengan kelengkapan baru.
Bermodalkan pengalaman dan CV seadanya, ke sana kemari ia memasuki perusahaan, dari yang kecil sampai yang besar.
Ternyata tak semudah itu, nyatanya Rayden sang ayah menutup seluruh akses kerja putra sulungnya.
Bahkan, Rayden Mas Rafael tega meresmikan penghilangan nama Kaesang dari kartu keluarga.
Diaz Hardiman yang notabennya calon besan, pengusaha kain batik itu tak terima dengan langkah Rayden yang terkesan terburu-buru melepas Kaesang.
Kali ini, Valerie dan ayahnya datang ke kediaman keluarga Mas Rafael menuntut sesuatu yang harus mereka tuntut.
Ruangan tamu memanas saat Diaz mengeras suaranya. "Setiap hari Valey menangis, dan kau teganya melepas Kaesang begitu saja!"
Rayden terkekeh, lelaki tampan itu berdiri dengan posisi dada sempurna dan tangan ditahan di belakang tubuhnya.
"Aku hanya mencoret namanya dari daftar ahli waris dan kartu keluarga, bukan memutuskan hubungan pertunangan Kaes dan Valey, Diaz," entengnya.
"Lalu, kau pikir anakku harus hidup bersama putra mu yang terbuang, begitu?" sergah Diaz.
Rayden mengangguk. "Aturan tetap aturan, siapa pun yang berani membantah Rayden Mas Rafael, dia harus tahu hukumannya."
"Sekalipun dia putra mu yang seharusnya menjadi menantu ku?" potong Diaz.
"Kamu benar-benar gila, Rafael!" sentak Diaz kembali. "Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa kau berpikir putri ku akan tetap melanjutkan pertunangan setelah Kaesang bukan lagi anak mu?" lanjutnya.
Valerie mendekati lengan Rayden. "Kita bujuk sekali lagi Om, Kaes pasti mau kembali, jangan dulu coret nama Kaesang dari kartu keluarga Om, Valey mohon, kasihan Kaes kan Om?" rengeknya.
Alula dan Rayden terdiam bersamaan.
"Valey mau datang ke kost Kaes sekali lagi, mungkin saja setelah ini hatinya terketuk untuk pulang, dia pasti nggak mau jatuh miskin selamanya," imbuh Valerie.
Rayden tersenyum irit. "Keputusan Om sudah bulat Valey," kekeuh-nya.
Diaz kembali menatap putrinya. "Kau masih mau melanjutkannya Sayang?" tanyanya.
"Bagaimana bisa?" sela Valey. "Papa kan tahu, Valey alergi orang miskin, cinta juga harus realistis bukan?" tambahnya. "Teganya Om melakukan itu ke Kaes dan Valey," timpalnya.
"Tuan," seruan dari penjaga mengalihkan perhatian Rayden dan Alula.
"Hmm." Raden beringsut, ia memberikan cuatan wajah pada orang-orang setianya.
"Di depan ada Tuan muda datang," kata sang penjaga yang membuat Rayden melepaskan smirk remehnya.
Valerie sumringah. "Tuh kan, Valey bilang apa, dia pasti nggak betah jadi orang miskin Om," celetuknya.
__ADS_1
Alula memutar bola mata, Valerie selalu saja membahas miskin dan kaya. Sebagai wanita dari kalangan biasa, ia merasa ikut terhina.
Tak lama, dengan langkah pasti Kaesang dan Luna bergandengan tangan memasuki ruangan.
Rayden mengepal erat tangannya. Dari sini dia tahu, posisinya tidak lebih berharga daripada gadis cantik itu.
"Kaes." Alula merindukan sosok tampan putranya. Kaesang dan Luna berhenti tepat di hadapan suaminya.
"Hkm," tak seperti Alula yang mengusung tatapan syahdu, Rayden justru melepas smirk di antara sudut bibirnya. "Kau mau merengek minta ampun padaku hmm?" tanyanya.
"Sudah sulit kah hidup mu?" Berita penghilangan nama Kaesang dari kartu keluarganya, sudah pasti terdengar media, dan yah Kaesang pun pasti mendengarnya.
Kaesang menggeleng. "Kaes datang untuk memohon restu, malam ini juga Kaes mau menikahi Luna," ujarnya secepat itu.
"Kaes!" Alula menegur dengan mata melotot. Pernikahan bukan permainan rumah-rumahan anak kecil, yang jika lelah mereka bubar.
"Kamu mau menikahi wanita mu? Kau pikir Mami tidak tahu, selama ini kau diperlakukan tidak baik oleh Ibu wanita mu!" bentaknya.
Kaesang beralih pada ibunya. "Bukan wanita ku Mam, tapi kekasih ku! Namanya Luna, dia calon istri ku," cetusnya.
"Jangan becanda!" tegur Rayden. Bukannya gentar setelah dihilangkan namanya, Kaesang justru membawa gadis itu ke rumah.
Valerie dan Diaz tercengang mendengar berita tiba-tiba yang entah sejak kapan Kaes rencanakan.
Yang pasti tak sedikitpun terlihat, wajah khawatir Luna saat mendatangi mereka.
"Kau pikir pernikahan main-main?" ketus Rayden.
Kaesang terkekeh. "Apa Kaes pernah main-main dengan keputusan Kaes?" tanyanya.
Selain menggenggam erat tangan kekasihnya, Luna hanya menunduk kepala, bukti bahwa ia segan dan khidmat.
Rayden smirk. "Kau yakin pernikahan mu akan bertahan lama dengan wanita yang berasal dari keluarga broken?" cibirnya.
"Tuan Rafael!" Setengah mendelik, Kaesang menegur ayahnya. Mungkin kali ini Rayden sudah tahu dari mana dan bagaimana asal usul Luna termasuk pernikahan gagalnya bersama Mike, tapi bukan lantas dicemooh.
"Kaes!" Luna meraih lengan Kaesang yang sedikit beringsut dari posisi sebelumnya, Luna paham betul, kekasihnya tak terima hinaan sang ayah yang ditujukan padanya.
"Sekarang pertanyaan ku untuk mu," Rayden beralih pada Luna, dan gadis itu menatap sempurna ayah kekasihnya.
"Kau yakin Kaesang akan bisa hidup tanpa nama R-build group di belakangnya? Kau tahu, dengan kuasa ku, nama Kaes akan diblacklist dari seluruh perusahaan negara ini," katanya.
Sedikit saja Luna tersenyum, ia percaya tak ada yang bisa mengatur rencana Tuhannya, sekalipun itu raja. "Bukan keyakinan tentang itu Om, saat ini Luna hanya yakin kami saling mencintai," jawabnya.
"Jangan gila kamu!" Alula mendekat menyela pembicaraan mereka. "Memangnya hidup cuma makan cinta? Kamu pikir cinta saja bisa buat kalian bahagia?" timpalnya.
"Bahagia, bukan karena segala sesuatu yang baik. Tapi karena kami mampu, melihat hal baik dari segala sesuatu," sambung Luna.
"Kami masih punya Tuhan bukan? Maka itu, kami datang ke sini secara baik-baik, hanya meminta restu dari Om dan Tante," tambah Luna.
__ADS_1
"Tolong, lepaskan kami dari dosa besar ini," Luna mempererat genggaman tangan Kaesang. "Dosa ingin selalu bersama meski bukan pasangan halal," pintanya.
Alula terdiam menimbang ucap demi ucap yang terurai dari bibir Laluna. Terlihat jelas perbedaan usia ketika Luna berkata-kata dewasa sedang Kaesang amarah.