OBSESSION 2 : BOYFRIEND A VAMPIRE

OBSESSION 2 : BOYFRIEND A VAMPIRE
Prolog


__ADS_3

Di rumah sakit, dia nampak sibuk dengan segala pekerjaannya yang terasa tidak ada habisnya. Menbolak-balik data yang harus dia ketahui, harus mendata semua pasien yang ia tangani, berpikir keras untuk membuat mereka sembuh. Bukan sebuah hal yang mudah sebenarnya, tapi ia berusaha untuk melakukan yang terbaik.


Sampai di mana suara pintu terbuka membuat pria itu menoleh dan kemudian tersenyum ramah, bagaimana malaikat yang menyambut di depan gerbang surga.


"Selamat siang dok. Apa saya menganggu kegiatan anda?" Pria itu tersenyum, ia menyambut dengan ramah.


"Tentu saja tidak, ada yang bisa saya bantu?"


"Kebetulan, tadi saya melihat anak perempuan tapi dia seperti terkurung di ruang. Saya melihat karena dia berada di jendela, wajahnya penuh lebam dok. Polisi tidak menerima laporan saya, saya meminta bantuan kepada anda. Karena anda juga dokter kejiwaan dok." Ucap seorang wanita tua, ia nampak cemas.


Sepertinya tidak ada kebohongan di matanya, bahkan jelas bagaimana raut khawatir itu tersirat. Jika memang iya apa yang wanita itu katakan, apakah ia harus membantu? Tapi anak kecil yang terlibat sekarang, pria itu tidak bisa berdiam diri.


"Umur berapa gadis itu?"


"Sepertinya 16 tahunan. Hanya anda yang bisa saya andalkan dok." Wanita itu menangis, mungkin dia mengingat betapa mengenaskan anak itu.

__ADS_1


"Saya akan berusaha, berikan alamatnya di mana anda menemukan gadis itu. Saya akan berusaha membantunya." Ucapnya dengan senyuman yang ia lakukan agar wanita itu tidak merasa khawatir.


Wanita itu mengangguk menjawab perkataan dokter tersebut, sedangkan pria itu berpikir banyak hal setelah ini. Ia memegang ponselnya, mencari nama seseorang di sana dan ia harus mencarinya. Karena keadaan sekarang bukanlah keadaan yang biasanya ia hadapi. Sepertinya dia harus bertindak secepat mungkin.


"Terima kasih, dokter Travis. Saya sangat berhutang budi dengan anda." Ucapnya seraya menangis, dia begitu senang ketika ia bisa meminta pertolongan dan kali ini bukan sebuah penolakan melainkan sebuah bantuan.


Travis tidak tahu bagaimana semua itu bisa terjadi, ketika wanita itu pergi setelah memberikannya banyak informasi. Dan dia juga menyuruh wanita itu untuk datang besok untuk laporan lebih lanjut, karena Travis tidak akan sendiri. Ia tidak bisa menuntut sembarangan orang, mungkin dia bisa menjadi saksi dan juga pembicara di persidangan tapi bukan untuk menentukan hukuman seseorang.


...•••...


Sedangkan di sebuah tempat gelap dan lembab, tidak banyak pencahayaan di sana. Gelap, hanya suara air yang menetes dari jendela yang terbuka. Anak itu memeluk dirinya sendiri, duduk di atas lantai yang dingin dan berdebu. Ia berusaha bertahan meskipun terkadang ia merasa hidupnya adalah sebuah kematian belaka.


Entah apa maksudnya, karena yang gadis itu pikirkan adalah fungsi rambutnya adalah untuk di tarik. Tidak ada hal lain, ia merasa rambutnya adalah bencana untuk dirinya di kedepannya. Mata bulatnya yang berwarna hitam seperti boba menatap ke arah jendela kecil, lebih ke ventilasi udara di ruangan tersebut.


Jendela yang begitu pendek dari luar karena menyentuh tanah, tapi bagi gadis itu jendela kecil itu adalah tempat di mana ia bisa melihat dunia luar meskipun ia tidak bisa berlari bebas ke sana kemari.

__ADS_1


Sampai di mana sebuah suara pintu membuatnya semakin memeluk dirinya sendiri, ia takut jika harus di pukul lagi. Tapi ternyata seseorang yang kenyataannya adalah suruhan dari orang tuanya, membawakannya makanan.


Gadis itu hanya menatap dengan penuh perasaan ketakutan, ia tidak tahu harus bicara apa. Karena sejujurnya ia bicara masih kurang jelas karena ia tidak pernah di ajari bicara, yang ia tahu hanyalah kata-kata yang biasa dia dengar saja. Sisanya, dia tidak tahu sama sekali.


"Makan ini, jangan sampai ada sisa atau kalau tidak kau tidak akan diberikan makanan selama 3 hari sebagai hukuman." Ucapnya dengan kasar dan kemudian dia pergi begitu saja setelah lempar makanan itu.


Anak itu gemetaran bukan main, tapi ia melirik ke arah makanan yang berada di depannya. Terkesan tidak layak untuk di makan, tapi dia mana paham makanan mana yang layak dan makanan yang tidak layak konsumsi.


Dia mendekat, merangkak dan mencium aroma makanan tersebut. Seperti biasa, aroma tidak asing tapi dia tidak tahu apa sebutannya. Ia hanya mengambil makanan dengan tangannya dan memasukannya ke dalam mulutnya.


Tidak tahu apakah itu boleh atau tidak, tapi dia lapar. Kemarin dia tidak diberikan makanan karena kedua orang tuanya pergi, entah kemana tapi dia di tinggal di ruangan tersebut sendirian dan tidak diberikan makanan sedikit pun.


Katakan saja jika keadaannya memang mengenaskan, bahkan pakaian yang dia pakai sudah hampir 2 bulan lamanya. Ia tidak tahu apa pun, jangankan tahu sesuatu. Dia tidak pernah di ajari sesuatu. Wajahnya penuh dengan lebam dan pucat, seperti mayat hidup tapi dia masih bernyawa dengan segala rasa sakitnya.


Ia mengingat bagaimana saudaranya begitu bebas di luar sana sedangkan dirinya harus terkurung di dalam ruangan. Entah apa alasannya, tapi ia begitu iri. Ia ingin seperti saudaranya yang bebas seperti itu, bagaimana caranya? Ia berusaha pun rasanya sia-sia saja.

__ADS_1


Gadis itu hanya bisa menangis dalam diam, merasakan sakit di dadanya yang tidak ada darah sama sekali yang keluar dari sana. Ia hanya diam, memakan makanan yang tanpa dia tahu adalah makanan sisa dan busuk. Memaksakan diri tetap dalam keadaan baik-baik saja bukan lah hal yang mudah.


Menunduk dengan perasaan gusar dan tidak paham, ia harus bagaimana pun tidak akan berguna. Karena dia akan selamanya di dalam sana, tidak akan ada yang mengetahui keberadaannya sama sekali. Tapi gadis itu masih berharap, jika ada siapa pun, seseorang yang akan menolong dirinya.


__ADS_2