
"Travis sudah pulang?" Pria itu tersenyum, melangkah menghampiri gadis kecilnya dan memeluknya begitu erat
Bahkan tubuh mungil itu terangkat karena ulah Travis sendiri, kakinya menggelantung di udara tidak bisa menggapai lantai. Tapi dia tidak protes sama sekali, justru gadis itu memeluk Travis kembali dan mengalungkan kakinya di pinggang pria itu.
"Aku merindukan mu..." Hazel bingung, antara paham dan tidak dengan apa yang Travis katakan itu.
Tapi dia tidak menjawab perkataan Travis, gadis itu hanya diam dan memeluk pria itu dengan erat tanpa mengerti apa pun. Hidung mancung pria itu menusuk di lehernya, menghirup aroma gadis itu dalam-dalam seolah ia tidak akan melepaskan semua itu begitu saja.
Mereka berdua berpelukan lumayan lama, sampai di mama Hazel sendiri yang mendorong dada bidang itu membuat Travis melepaskan pelukannya itu.
Tangan mungil itu menyentuh permukaan wajahnya Travis, yang di pegang menutup matanya menikmati sentuhan lembut dari Hazel. Apakah ini takdir? Bertemu dengan seseorang yang sudah lama hilang dan dia kembali sekarang.
"Kulitnya dingin..." Travis menggenggam tangan mungil itu, gadis itu menatap ke arah Travis dengan tatapan yang begitu lugu.
Menggemaskan, mungkin satu kata yang Travis katakan di dalam hati. Kepalanya memiring, mencoba meraih bibir mungil itu sekarang juga karena terlalu gemas. Tangan Hazel yang lain meremat kemeja pria itu sampai kusut.
Deruh nafas berat dan dingin yang menyentuh permukaan wajahnya membuat jantungnya seakan-akan mau meledak. Sampai Hazel merasakan sendiri bibir itu menyentuh pipinya, bukan bibirnya. Jangan salah paham, walaupun memang kebodohan Hazel bisa di manfaatkan akan semua itu.
Tapi Travis tidak akan melakukan itu, ia akan tetap menjaga gadis itu sampai di mana dia tahu semuanya tentang dunia ini dan lagi, dia meminta itu sendiri.
"Kenapa menunggu ku? Sudah malam, seharusnya kamu tidur, baby." Hazel menggelengkan kepalanya menolak ajakan Travis.
"Aku tidak suka sendirian."
"Benarkah? Tidak mau tidur sendiri?" Hazel menggelengkan kepalanya menolak, itu membuat Travis tertawa pelan dan mengangguk sekilas.
Membawa gadis itu ke ranjang, membaringkannya di sana. Sedangkan Travis akan membersihkan diri sebentar, karena tubuhnya terasa sangat lengket dan tidak nyaman jika langsung tidur.
__ADS_1
Masalah pekerjaannya, semua sudah selesai untuk hari ini. Dia terlalu cepat melakukan pekerjaannya, padahal dahulu dia sering menunda pekerjaannya karena malas. Tapi mungkin apa yang dikatakan David benar, kehadiran Hazel membuat Travis lebih sering pulang dan cepat mengerjakan pekerjaannya.
Hazel menunggu di atas ranjang, melihat Travis masuk ke dalam kamar mandi. Tenang saja, Hazel sudah mandi sejak tadi sore karena maid itu yang menyuruh. Bukan menyuruh, lebih tepatnya maid itu di suruh Travis.
Menunggu dengan waktu yang tidak begitu lama, tapi mungkin karena suasana malam memang lumayan menyeramkan untuk Hazel. Itu alasannya ia tidak mau tidur sendirian, mungkin dulu dia selalu sendirian karena tidak mengenal siapa pun. Tapi sekarang ada Travis, ia bisa meminta pria itu menemaninya sepanjang malam.
Terlalu banyak melamun, gadis itu benar-benar hanya diam sejak tadi. Sampai sebuah suara angin membuatnya menoleh ke arah balkon, pintu balkon yang memang terbuat dari kaca itu.
Gadis itu reflek mundur, ia melihat sendiri jika di sana seperti ada seseorang. Menggunakan jubah hitam dan matanya yang merah menyala, bahkan tatapannya seolah tepat ke arah Hazel sekarang.
"Si-siapa?" Tapi mungkin dia terlalu takut untuk menghadapi sendirian. Gadis itu langsung menutupi dirinya sendiri dengan selimut, berharap sosok tadi pergi.
Tidak di sadari jika seseorang memegang selimut itu membuat suara teriakan Hazel terdengar. Travis kebingungan karena apa yang Hazel lakukan di luar dugaannya. Pria itu lantas menarik gadis itu ke dalam pelukannya di saat itu juga.
"Hey, tenang ini hanya aku. Ada apa?" Hazel membuka selimutnya, melihat sudah ada Travis di dekatnya. Ia langsung memeluk Travis, tubuhnya gemetaran ketakutan.
"Tidak ada siapa pun, kamu akan di sini. Tidur lah, aku akan ada di sini bersama mu." Ucapnya dengan pelan, membuat Hazel berbaring dan tidur di pelukan Travis sekarang.
Tapi jangan berharap jika Travis akan diam saja setelah itu, tentu saja tidak. Pria itu diam-diam berpikir sekarang, ia berbicara di dalam pikirannya seolah akan ada yang menjawab. Lebih tepatnya dia tengah berkomunikasi dengan seseorang, Travis memeluk Hazel erat menutupi semuanya.
Sampai hampir 4 sosok berada di balkonnya dan menarik sesuatu, tentu saja itu membuat Travis merasakan semuanya. Ia tahu ada orang lain, dia sendiri yang memanggil mereka semua.
Sampai satu maid masuk ke dalam kamarnya, Travis beranjak dari tempat tidurnya, membenarkan selimut gadis itu. Dia menatap ke arah maid tersebut yang menunduk.
"Jaga dia, aku ada urusan mendadak."
"Baik tuan."
__ADS_1
Travis mengambil jaketnya dan keluar dari kamarnya, menuruni anak tangga bersama anak buahnya yang menunggunya di bawah sana. Beberapanya terlihat aneh, untung saja gadis itu sudah tidur dengan cepat.
"Ada penyusup, dia dari bangsa timur." Travis tidak menjawab sama sekali, dia terus berjalan keluar dari rumah dan berjalan ke arah taman dari sisi kamarnya tadi.
Dia berdiri di sana dengan tegak di sana, bawahannya sudah mengurus ternyata. Travis melangkah menghampiri, melihat siapa yang sudah berani menyusup di wilayahnya sekarang? Apa lagi dia berani membuat gadisnya ketakutan seperti tadi?
"Siapa yang memerintah mu kemari?" Travis berusaha tetap tenang meskipun ia sudah terlalu emosi dengan semua ini. Dia berani melangkah ke wilayahnya?
Tapi sepertinya dia tidak akan mengaku atau mengatakan sesuatu, Travis juga bisa marah jika sudah seperti ini. Pria itu memegang kepala orang berjubah tersebut yang menatapnya dengan tatapan tajam, nyalinya sudah cukup lumayan untuk menghadapi seolah penguasa daerah seperti Travis.
Dua sisi kepalanya di pegang oleh pria itu, dan dengan tenaganya yang tersisa sekarang, Travis membuka lebar mulut orang itu sampai bagian kulitnya robek sedikit demi sedikit. Dan seperti dugaan kepalanya langsung terlempar jauh, badannya yang ambruk dan langsung di bakar. Bagian kepala yang tadi lepas juga di bakar bersamaan dengan tubuh tadi.
Travis menyaksikan pembakaran itu hanya terdiam, cukup sadis. Tapi hal seperti itu memang lumrah di kalangannya, membunuh yang mencoba melanggar dan melewati batas. Nyawa adalah jaminannya.
"Jaga dengan ketat, aku tidak mau jika gadis ku terluka."
"Baik tuan." Travis berjalan kembali masuk ke dalam rumah, ia akan bersikap seolah tidak terjadi apa pun. Tapi siapa yang menduga ketika ia menaiki anak tangga dan akan pergi ke kamarnya.
Seseorang berlari ke arahnya dan langsung memeluknya. Tebak siapa, tentu saja Hazel. Gadis itu terbangun karena ia merasa tidak ada siapa pun di sampingnya, dia nekat keluar kamar padahal sudah di larang oleh maid yang menjaganya.
Travis memeluknya erat, begitu juga Hazel. Keduanya masuk kembali ke dalam kamar, maid yang tadi sudah kembali ke tempatnya lagi. Sepertinya meninggalkan Hazel sendirian memang ide buruk.
"Tadi dari mana?"
"Hanya mengambil minum saja, tidur lah lagi-"
"Travis tidak meninggalkan ku lagi kan?"
__ADS_1
"Tidak, maafkan aku."