
"Apakah dia akan kembali?" Keluarga kerajaan berkumpul, mereka mendadak cemas dengan keadaan salah satu anggota keluarga yang mendadak menghilang. Sudah cukup lama, pencarian selama ini tidak membuahkan hasil apa pun.
Putri dari kerajaan tersebut hilang, hanya beberapa barang yang hilang itu pun bisa di hitung. Tidak banyak harta yang di bawahnya, hanya beberapa perhiasan dan juga koin emas saja.
Entah bagaimana bisa dia bisa bertahan hidup di luar sana atau tidak, mereka tidak tahu sama sekali. Jarrel sendiri tidak bisa memastikan apa yang akan terjadi, dia adalah putra kedua yang tidak lain adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Adik terakhirnya yang menghilang, dan dia perempuan.
"Aku akan mencarinya-"
"Apa yang kau lakukan? Jangan bertindak sendirian, Jarrel." Jarrel berhenti melangkah di saat itu, dia menoleh ke arah kakak pertamanya yang tengah menatapnya dengan tatapan tajam, mengancam.

Ia melirik ke segala arah, beberapa penjaga menghalangi langkahnya sekarang. Apa maksudnya ini? Apa dia tidak khawatir dengan keadaan adik perempuannya sendiri? Dia hanya memerintah orang, tapi bukan mencarinya sendiri.
"Apa aku butuh jawabanmu?" Xander hanya menatap adiknya itu yang menantang dirinya sekarang. Ia paham, Jarrel khawatir tapi tidak seperti ini caranya.
"Tetaplah diam, aku tidak mau jika ada lagi yang hilang-"
"Itu bukan urusan ku." Ucapnya dengan datar, dia mengeluarkan pedangnya dan menebasnya dengan satu tebasan tepat ke arah mata angin.
Seketika saja belasan penjaga itu langsung terkapar di atas lantai tidak berdaya di sana, Xander hendak menahan Jarrel pergi. Namun, ibunya menahannya untuk tidak mengikuti anak keduanya itu.
Ia paham bagaimana perasaan sekaligus suasana hati Jarrel yang menang tidak baik akhir-akhir ini, mungkin karena menghilangnya adik mereka membuat suasana hatinya memburuk sampai detik ini. Jika saja dia tengah dalam keadaan marah, memutuskan sesuatu yang menang harus terjadi. Dia akan melakukan apa pun agar apa yang dia mau terjadi. Jarrel berbeda dengan Xander, dia lebih dari kata kejam.
"Jangan lakukan apa pun, biarkan dia melakukan apa yang dia mau. Lagi pula dia mau mencari Zellen."
__ADS_1
"Tapi ibu-"
"Percaya lah, ketika Jarrel pulang dia akan membawa Zellen pulang." Xander sebenarnya tidak yakin, tapi kemampuan adiknya itu memang tidak bisa di remehkan.
Apa lagi dia ahli dalam menggunakan senjata apa pun itu, terlebih lagi dia juga berlatih menguasai ilmu bela diri tentu saja dia bisa kembali dalam keadaan selamat, semoga saja seperti apa yang Xander harapkan.
Jarrel melangkah mengambil jubahnya dan kemudian dia berlari keluar kastil, dia mencari sesuatu di luar. Lebih tepatnya mencari kudanya, yang ternyata sedang makan rumput di halaman depan sana.
Ia menghampiri, mengusap kepala kuda itu dengan pelan. Jarrel berdoa agar apa yang ia harapkan bisa terjadi, menemukan adik perempuannya adalah harapannya.
"Bantu aku mencari adik ku, aku hanya bisa mengandalkan mu saja." Ucapkan kepada kuda putih itu, kuda itu seolah paham dan mulai merespon dengan gerakannya sendiri itu membuat Jarrel merasa ia di balas.
"Ayo kita cari, Zellen." Suara kuda itu keras terdengar bersemangat, pria itu tertawa pelan dan kemudian dia naik ke atas punggung kuda itu.
Kemudian dia pun segera pergi dari sana, masuk ke dalam hutan tanpa penjagaan sama sekali. Walaupun dirinya adalah seorang pangeran, tapi ia merasa tidak membutuhkan semua itu karena ia bisa melakukan semua itu sendirian. Kemampuannya sudah ia anggap cukup sekarang, semua bisa saja ia gunakan ketika ada kejadian tidak terduga nanti.
Gadis itu turun dari kudanya, ia juga mengikat kudanya di pohon yang sekiranya banyak makanan di sana. Ia tidak akan lama meninggalkan kudanya itu, mungkin hanya seharian saja untuk melakukan sesuatu.
Ia melangkah ke arah danau beku, cuacanya memang dingin di sana. Percaya atau tidak, ia merasa ada yang aneh di dalam danau tersebut. Ia menatap ke bawah, seperti ada ikan yang lumayan besar di dalam air tapi dia tidak menghiraukan semua itu karena menurutnya menyebrang dengan selamat sudah cukup untuknya.
Zellen melangkah semakin ke tengah-tengah danau tersebut, danau beku itu di keliling oleh perbukitan yang di selimuti oleh salju yang turun. Daerah itu memang sudah tertutupi oleh salju. Ia terus melangkah, sampai di mana ia melihat banyak orang di tempat jauh di sana.
Gadis itu hanya diam, mereka semakin dekat dan ia bisa melihat siapa yang berada di sana. Ia berusaha tetap setenang mungkin, tujuannya datang bukan untuk bertarung melainkan mencari obat untuk ayahnya. Sudah menduga akan ada kejadian seperti ini sebelumnya, karena beberapa daerah memang memiliki penjagaan yang terlalu ketat.
"Siapa kau? Berani sekali kau masuk ke dalam wilayah kami tanpa ijin." Gadis itu hanya diam, ia menatap dari atas sampai bawah pria tua di depannya.
__ADS_1
"Apakah seluruh alam semesta ini harus ijin? Kau lahir di ijinkan dewa, kenapa aku harus minta ijin kepadamu? Apakah kau yang membuat danau ini?"
Pria itu menggeram kesal, dia tidak melangkah mendekat karena memang aura dari gadis itu sudah menancap jelas di indra pendeteksi di dalam dirinya.
"Aku peringatkan kau mundur, kembali lah ke tempat mu sebelum kau mati di sini."
"Benarkah? Aku akan mati? Di tangan mu?" Gadis itu tertawa keras seolah meremehkan pasukan itu termasuk pemimpinnya yang berada di sana. Cukup lucu untuknya, mati di tangannya?
"Kau meremehkan ku?"
"Aku tidak bilang begitu? Tapi baguslah jika kau sudah sadar, aku tidak perlu membuang banyak ludah ku hanya untuk memberi tahu." Benar-benar ia memancing amarah seseorang seperti ini. Sebenarnya memang bukan niat awalnya, hanya saja menggoda pria tua itu ternyata menyenangkan untuk dirinya.
Zellen menatap ke bawah, di danau itu ternyata ada mahkluk lain. Sepertinya ia harus menuntaskan semua ini sesegera mungkin, tidak ada banyak waktu meladeni mereka semua. Apa lagi manusia di dalam air itu seolah akan menyantapnya sekarang, mahkluk apa itu?
Gadis itu hanya menatap mahkluk itu dengan tatapan tajam, tanpa dia sadari sendiri bola matanya berubah menjadi biru terang mengikuti warna air di sana. Mahkluk itu melihat perubahan Zellen, dia langsung pergi setelah itu. Zellen hanya diam menunduk, ia kembali mendongak.
Keadaan yang mendadak rumit ini memang merepotkan dirinya sekarang, tapi mau bagaimana lagi? Ia harus meloloskan diri dan masuk ke dalam wilayah mereka untuk mencari sesuatu yang berharga, Zellen tidak berminat harta mereka.
"Siapa kau? Aku tidak asing dengan penampilan mu-"
"Benarkah, perlu kah kita berkenalan dulu paman?" Zellen menatap mereka semua, warna mata mereka. Sudah ia duga mereka bukan manusia biasa, pantas saja mereka maju bisa sedekat ini.
"Aku di sebut, Finley. Karena kemana pun aku pergi, akan ada nyawa yang hilang hanyut bersama air." Gadis itu melempar topinya ke sembarangan arah, memperlihatkan bola matanya yang biru.
"Dia, serang dia!" Zellen mengeluarkan pedangnya dan menebasnya ke depan membuat angin yang cukup kencang secara bersamaan datang.
__ADS_1
Sampai di sisi lain seseorang datang, dia menyerang Zellen dari belakang dan itu membuat gadis itu melompat ke arah samping. Dia menebaskan pedangnya tepat di bawah es batu itu, danau yang membeku itu membuat bongkahan es tiba-tiba muncul dari bawah. Membuat dari mereka beberapanya tertancap di sana.
"Di-dia si penyihir itu..."