
Jarrel mempercepat laju kudanya karena firasatnya sudah mengatakan ada yang terjadi kepada ayahnya sekarang, itu membuatnya semakin khawatir. Burung-burung di hutan itu seolah tengah memberi tahunya akan sesuatu, hewan tidak akan berbohong bukan? Burung-burung itu bahkan menunjukan jalan kepadanya, dan kunang-kunang menerangi perjalanannya sekarang.
"Katakan kepada, Noah. Aku membutuhkan bantuannya sekarang, bisakah?" Burung itu hanya menoleh ke arahnya dan kemudian terbang ke satu arah itu.
Sedangkan pemuda itu terus melaju tanpa henti, sampai di mana ia melihat kabut tebal di sana. Bukan sembarangan kabut, ia yakin itu bukan kabut biasanya, karena biasanya kabut yang ia lihat tidak setebal ini bahkan rumput saja seperti terinjak gerbang kabut.
Jarrel berusaha tetap tenang, dia turun dari kuda hitam miliknya dan mulai masuk ke dalam kabut itu. Dengan mudahnya ia meloloskan diri dari saja, masuk ke dalam kawasan yang seharusnya tidak dia masuki.
Dia masih terlalu muda harus menghadapi semua itu, tapi tekatnya sudah terlalu bulat. Pangeran kedua itu langsung mengambil pedangnya dari belakang, bahkan ketika ia melihat sepasang mata merah itu membuatnya menyalurkan kekuatannya melalui pedang yang dia pegang sekarang dan menebaskannya ke arah musuh dengan cekatan.
Satu tebasan pedang itu membuat kabut yang menutupi pemandangan di depannya seketika memudar membuatnya bisa melihat jelas jika ayahnya tidak berdaya di sana. Dengan asap hitam yang melilit di badannya seperti ular kobra.
"Ayah..."
"Wow! Lihat, ada anakmu ternyata. Tidak aku duga jika dia akan datang kemari, apa kau yang menyuruhnya datang Damian? Tega sekali dengan anakmu, dia masih kecil untuk bertarung dengan orang dewasa." Di mana pria itu menoleh tepat di mana anaknya berdiri.
Bibirnya seolah mengatakan jika Jarrel harus pergi dari sana sebelum semuanya terlambat, tetesan air mata yang keluar dari matanya itu birunya itu, membuat ayahnya sendiri tidak percaya dengan apa yang ia lihat sendiri. Air mata itu jatuh tepat di atas rumput yang mati dalam waktu singkat, kedua tangan perlahan menguat.
Mungkin mereka tidak akan tahu akan apa yang akan Jarrel lakukan, tapi mereka juga sudah menyadari aura kuat yang berada di dekat mereka adalah milik Jarrel, pangeran kedua.
"Kau cukup kuat juga, bagaimana jika kita taruhan. Kau mengalahkan tiga anak buah ku, akan ku lepaskan ayahmu, tapi jika kau kalah, kau harus ikut denganku."
__ADS_1
"Ja-jangan Jarrel..." Tapi sepertinya John tidak akan pernah membiarkan Jarrel menang, ia tahu bagaimana kekuatan anak di depannya sekarang.
Kekuatan besar yang memang lumayan tidak wajar jika saja manusia biasa seperti Jarrel bisa menampung kekuatan sebesar itu, tapi karena anak itu pada dasarnya keras kepala dan menerima taruhan tersebut, John juga tidak akan pernah mau kalah.
Sampai tiga anak buah John bahkan termasuk Luke juga berada di depan Jarrel sekarang, tatapan Jarrel masih kepada ayahnya yang mencoba menghentikan aksi gilanya itu, tapi kenyataannya Jarrel tidak mau mendengarkan.
Anak itu mulai melangkah mundur dan mulai menutup matanya, bukan tanpa alasan. Dia hanya mau memberikan sinyal kepada teman-temannya agar tidak terlalu cepat datang karena ia juga harus mengurus para vampire itu sendirian.
Kekuatannya memang besar, tapi selain itu resiko yang harus Jarrel tanggung juga besar juga. Di mana pemuda itu sudah mulai menggunakan pedang yang dia gunakan, tangannya di sayat sendiri dengan ujung peda sampai ke pegangannya. Jangan di bayangkan seberapa dalam luka di tangannya itu, darah mulai menetes memancing para vampire itu maju kepadanya.
Pada saatnya Luke melangkah maju dengan dua yang lainnya, matanya mulai terbuka dan di sanalah dia mengeluarkan gelombang air dari tangannya, menebaskan pedangnya ke air tersebut dan membekukan air tersebut membuat tubuh mereka perlahan membeku.
Kakinya yang mulai berlari cepat mengambil alih badan ayahnya dan membawa ayahnya pergi dari sana di tengah api berkobar memberikannya waktu untuk pergi. Jarrel sudah menghabiskan banyak tenaga walaupun sepertinya dia tidak mengeluarkan banyak kekuatannya, tapi kekuatannya itu mengambil jangka panjang agar bisa membawa ayahnya pergi.
Prajurit yang jumlahnya puluhan itu sudah habis, bahkan mayatnya berada di mana-mana. Jarrel membawa ayahnya yang dalam keadaan sekarat sekarang, dengan air mata yang masih membendung di matanya. Di sisi lain ia harus kuat, bahkan di mana kedua tangannya sibuk dengan urusan masing-masing.
Tangan kirinya yang ia gunakan untuk menunggangi kuda dan tangan kanannya untuk menahan ayahnya agar tidak jatuh ke tanah selama kudanya melaju cepat ke kastil.
"Tidak aku mohon, ayah harus bertahan!" Padahal di sisi lain, Jarrel memiliki luka bakar. Itu karena ulahnya sendiri, api yang seharusnya tidak dia keluarkan sekarang justru dia keluarkan.
Ia terpaksa melakukan semua itu, pantangan itu sudah dia terima. Dengan luka kabar basah yang baru saja dia terima, sudah bersinggah di tubuhnya, tidak memperdulikan rasa sakit itu. Jarrel berusaha cepat sampai ke kastil, keadaan raja dalam masa kritis.
__ADS_1
...•••...
"Pangeran kedua datang! Buka gerbangnya!!!" Gerbang dari wilayah utara terbuka karena kedatangan Jarrel yang terburu-buru, semua orang melihat keadaan raja yang tengah sekarat di atas kuda itu bersama putra keduanya.
Rakyat merasa cemas akan hal itu, kabar cepat menyebar dan sampai di mana Jarrel berhasil sampai ke kastil tepat pada waktunya. Para prajurit yang membantu Jarrel untuk membawa raja ke tempat yang aman sekaligus mengobatinya, kedatangan Jarrel di sambut oleh Zellen yang berlari kencang sendirian.
"Kakak!!" Jarrel yang melihat adiknya berlari ke arahnya dengan tangisan kencang, ia hanya tersenyum melihat gadis itu berlari ke arahnya. Sampai di saat kesadarannya tinggal sedikit, membuatnya ambruk dari atas kuda tepat ke tanah dia terjatuh.
Semua orang terkejut akan apa yang sudah terjadi, Xander yang baru saja datang karena mendengar kabar jika Jarrel pulang bersama ayahnya dalam keadaan sekarat membuatnya panik, adiknya yang sudah berdiri di depan di mana Jarrel terjatuh. Xander langsung berlari ke arah sana, dia menarik adiknya yang menangisi keadaan Jarrel sekarang.
Para prajurit yang ada membantu membawa Jarrel masuk ke dalam kastil, mendapatkan pengobatan yang cepat. Xander tidak tahu apa yang sudah terjadi sekarang, tapi yang pasti ketika ia menoleh ke arah ujung kastil.
Melihat jelas gerbang transparan itu terlihat membuat ia yakin, Jarrel yang melakukan ritual pembuatan segel di kastil agar tidak ada vampire atau penyihir yang masuk kastil.
"Kakak!! Kakak kenapa?! Kakak!"
"Jangan menangis, Zellen. Jarrel akan baik-baik saja, tenang lah."
"Tapi kakak hiks hiks..." Xander memeluk Zellen, berusaha menenangkan adiknya itu. Semua yang sudah terjadi, jujur saja tragedi paling parah dari yang sebelumnya karena Jarrel sendiri yang turun tangan bukan orang lain.
'Aku tahu niatmu baik, tapi tidak seperti ini...'
__ADS_1