
Travis keluar dari ruangan itu, dia membawa gadis kecil di gendongannya. Tentu saja dengan kemeja cadangan yang Justin bawa di mobilnya sebelumnya tadi, kemeja terlalu besar untuk ukuran anak sekecil itu. Rambutnya sangat panjang, beberapa luka terlihat membuat siapa saja akan merasa iba dengan gadis kecil itu.
Justin yang melihat itu hanya bisa terdiam, bagaimana bisa Travis bisa mengetahui tentang keberadaan gadis itu? Tapi dia benar-benar tidak menceritakan apa pun tentang itu.
"Kasihan sekali, orang tua biadab mana yang melakukan ini?"
"Aku akan membawanya ke rumah sakit, aku akan memeriksanya." Ucapnya seraya menepuk punggung gadis itu dengan pelan, membuatnya tertidur.
"Kau juga akan merawatnya? Tidak usah terlalu repot seperti itu, aku sudah menghubungi pihak panti asuhan untuk mengurusnya." Travis menoleh ke arah Justin, tapi entah kenapa aura yang Travis tunjukkan mendadak membuat satu rumah menjadi gelap.
"Aku akan merawatnya sendiri, terimakasih atas bantuan mu." Travis berjalan begitu saja melewati Justin, pria itu menggendong anak itu keluar dari rumah.
Tapi Justin merasa aneh dengan anak yang berada di gendongan sahabatnya itu, ada yang merasa familiar. Hanya saja Justin secepat mungkin mengalihkan pikirannya, dia kembali berpikir. Travis mungkin tengah merasa tidak enak, lagi pula pengalaman di kurung bukan hanya gadis itu saja yang mengalami, tapi mungkin ini terlalu parah.
"Tangkap wanita tadi, dan cari dimana suaminya."
"Tapi bagaimana dengan anak kecil yang tadi?" Justin menatap ke arah pintu kamar yang tertutup, memang sebelumnya ia melihat anak gadis yang berlari bermain bola.
Tapi anak itu langsung masuk ke dalam kamar ketika melihat Justin, pria itu berjalan mendekat ke arah pintu itu dan mengetuk pintu tersebut dengan pelan. Tidak beberapa lama kemudian pintu terbuka, Justin tersenyum lagi.
"Orang tuamu akan pergi ikut bersama ku, kamu mau ikut aku juga?" Anak gadis itu hanya menatap dengan tatapan tidak paham, dia menatap ke segala arah. Banyak polisi di sekelilingnya membuatnya ketakutan.
"Apa ada penjahat di sini?" Justin tertawa pelan, ia menggelengkan kepalanya dan mengulurkan tangannya kepada gadis kecil itu.
"Dia akan kami tangkap karena sudah jahat."
__ADS_1
"Kamu orang baik?"
"Tentu saja, aku orang baik."
...•••...
Mungkin sekarang di rumah sakit itu ia menjadi pusat perhatian banyak orang, tapi dia tidak perduli dengan semua itu selain membawa anak itu ke ruangannya. Ia akan memeriksanya setelah ini, ia hanya khawatir saja dengan keadaannya.
"Dokter Travis?"
"Siapkan satu kamar inap VVIP, administrasi aku yang tanggung." Perawat itu mengangguk, menghubungi pihak lain untuk menyiapkan ruangan yang Travis minta sekarang.
Sedangkan pria itu terus berjalan mengikuti perawat tadi untuk pergi ke kamar yang dia minta, sambil menggendong anak itu yang masih tertidur pulas di bahunya. Sepertinya dia kelelahan dengan hidupnya yang sebelumnya, sungguh anak yang malang.
Sampai di mana mereka sampai, ia menyuruh perawat itu membersihkan badan anak itu agar jauh lebih baik dari yang sebelumnya. Travis menunggu di luar ruangan sampai acara membersihkan itu selesai, tidak terlalu lama sampai di mana perawat itu keluar.
"Panggilkan, Jino."
"Baiklah." Travis masuk ke dalam ruangan, di sana sudah hanya mereka berdua saja. Entah kenapa ia merasa iba dengan keadaan gadis kecil itu sekarang, ia sudah mendapatkan pesan dari Justin jika pihak terkait sudah di tangkap. Tapi hasil sidangnya akan datang beberapa minggu ke depannya.
Ia tidak yakin jika gadis itu bisa datang ke sidang nantinya, dia bahkan tidak bisa berbicara. Apakah ia harus menyekolahkan nya? Akan terasa aneh jika baru saja keluar langsung sekolah, sepertinya Travis akan materi sendiri saja sebelum gadis itu beradaptasi dengan lingkungan baru sekarang.
Travis hanya berdiri di sana sambil menatap saja, tidak ada niatan lainnya. Semua luka-luka itu, nampaknya masih terlihat baru. Pria itu membuang nafas panjang, sampai di mana suara pintu membuat perhatiannya teralihkan.
Jino datang, dia dengan pakaian dokter lengkapnya. Dia nampak kebingungan ketika mendapati Travis di ruangan orang lain. Tidak biasanya memang.
__ADS_1
"Ada apa? Tumben memanggil ku."
"Aku hanya meminta bantuan mu, periksa anak itu." Jino menoleh ke arah bangsal di mana ada gadis remaja di sana, badannya kurus sekali.
"Kau menemukannya di mana?" Tidak di jawab oleh Travis, tapi Jino tetap memeriksa keadaan remaja itu dengan teliti tanpa meninggalkan apa pun.
Sepertinya ia harus mengambil sempel untuk di uji di laboratorium nanti, agar bisa di lihat apakah ada penyakit atau virus lainnya. Tidak akan ada yang tahu apa yang akan terjadi nantinya, Jino menyuntikkan cairan berwarna kuning ke dalam infus gadis itu.
"Aku akan membawa hasilnya kepadamu nanti, dia harus banyak istirahat sepertinya. Apa aku juga mengobati lukanya?"
"Tidak perlu, aku bisa urus bagian itu."
"Baiklah, sampai jumpa." Jino pun keluar dari ruangan tersebut, menyisakan Travis bersama anak remaja itu di sana.
Tidak akan ada yang terjadi, tenang saja. Pria itu hanya duduk memperhatikan saja dari jauh, lagi pula ia tidak mau jika gadis itu terkejut akan kehadirannya untuk saat ini. Dia pasti merasa asing dengan lingkungan itu mungkin di katakan wajar, dia di kurung entah sudah berapa lama.
Wajah itu yang begitu tenang menutup matanya, deruh nafas yang begitu tenang juga memenuhi ruangan itu. Sepertinya memang bukan sebuah hal baru, seolah Travis pernah masuk dalam situasi seperti ini sebelumnya.
"Wajahnya familiar, tapi aku tidak terlalu ingat kapan aku melihat wajah itu."
Tapi ia berusaha untuk melupakan pemikiran anehnya itu, ia hanya duduk di sana berdiam diri tanpa melakukan apa pun di sana. Sebenarnya memang membosankan, tapi ia melakukan itu juga bukan tanpa alasan. Ia menjaga gadis itu jika saja dia sudah bangun nanti, ia bisa bertanya banyak hal. Tidak, hanya beberapa saja.
Keadaannya yang tidak memungkinkan sekarang, Travis beranjak dari tempat duduknya dan mengambil beberapa obat luka yang sudah tadi perawat siapkan sebelumnya. Ia menarik kursi di dekat bangsal tersebut, ia juga membersihkan luka itu terlebih dahulu sebelum di obati dengan alkohol khusus luka itu.
Jika tidak di bersihkan terlebih dahulu, mukanya bisa infeksi kuman. Itu juga tidak baik untuk kesehatan juga, pria itu melakukan kegiatannya itu dengan perlahan. Sesekali ia melirik ke arah gadis itu tidur, tidak terusik sama sekali. Ia sampai tersenyum sendiri.
__ADS_1
"Sepertinya dia memang terlalu lelah untuk sekedar membuka matanya."