
Travis selesai membersihkan dirinya, ia keluar dari kamar mandi dan melihat kondisi di luar. Melihat gadis itu masih tertidur pulas di atas ranjangnya, meringkuk di sana seraya memeluk boneka pemberiannya kemarin.
Sepertinya dia suka dengan boneka tersebut, lantas pria itu berjalan menghampiri dan melihat kondisinya lebih dekat. Sepertinya semalam dia benar-benar mimpi buruk, entah apa yang membuatnya sampai berlari ke kamarnya dengan raut wajah ketakutan sekaligus gelisah seperti kemarin malam.
Ia memilih untuk memakai bajunya dan bersiap akan berangkat bekerja, ia tidak mungkin menunda pekerjaannya karena semua itu juga akan menghambat segalanya. Ketika ia baru saja memakai dasi, suara seseorang membuatnya menoleh ke arah belakang.
"Sudah bangun?" Gadis itu menoleh dan mengangguk pelan, Travis tertawa pelan karena dia merasa gemas dengan gadis itu.
"Mau mandi dulu atau langsung sarapan?" Tanyanya, menghampiri gadis itu dan duduk di sisi ranjang. Sepertinya tidurnya nyenyak semalam, walaupun tertunda beberapa saat karena mimpi.
Hazel mengusap matanya tapi di tahan oleh Travis, itu tidak baik untuk kesehatan mata katanya. Sedangkan gadis itu yang tidak tahu soal apa pun hanya menurut saja, sampai di mana badanya seperti melayang dan ternyata Travis menggendongnya keluar kamar.
Dengan pakaian rapi seperti itu, sepertinya Travis akan berangkat bekerja nanti. Karena mungkin akan meninggalkan Hazel dalam waktu yang lama nantinya karena pekerjaannya bukan hanya satu saja, ia juga harus menitipkan Hazel. Semoga saja semua akan baik-baik saja nanti sampai dia pulang ke rumah.
Sarapan bersama, sampai di mana Travis keluar rumah dan harus bekerja. Meninggalkan Hazel kepada beberapa maid di dalam rumah, tentu saja dengan penjagaan yang sangat ketat darinya agar tidak ada yang terjadi.
Pria itu masuk ke dalam mobil sedikit ragu, sampai di mana ia melihat Hazel melambaikan tangan ke arahnya membuatnya tersenyum. Sepertinya hidupnya akan jauh lebih berwarna dari yang sebelumnya. Setelah berpamitan dan kemudian pergi.
Hazel terdiam di depan pintu, sejujurnya ia tidak suka sendirian walaupun sudah sering. Tapi sekarang berbeda bukan? Dia berada di dunia luar di mana ia tidak pernah berada di sana.
"Nona, mari masuk ke dalam." Hazel mendongak menatap wanita itu yang menuntunnya masuk ke dalam rumah.
Memang agak aneh sekarang, karena kemarin warna mata mereka berbeda dan sekarang semuanya hitam. Walaupun Hazel memang tidak tahu bagaimana bentuk orang di luar, tapi dia juga sangat pintar dalam hal mengingat sesuatu.
"Anda ingin membersihkan diri terlebih dahulu? Guru anda akan 2 jam lagi."
"Guru? Apa itu?" Hazel menatap penuh dengan pertanyaan, tentu saja mereka terkejut dengan pertanyaan yang Hazel katakan itu. Hazel benar-benar tidak tahu?
__ADS_1
Tapi mungkin seketika mereka mengingat apa yang Travis katakan sebelumnya, jelaskan yang sekiranya penting di jelaskan ketika Hazel bertanya sesuatu. Gadis itu belum tahu apa pun karena hidupnya di habiskan di dalam ruang bawah tanah selama itu.
"Guru itu, seseorang yang akan membantumu mengetahui apa pun. Pertanyaan mu akan di jawab sedemikian rupa, tanyakan apa yang ingin kamu tanyakan kepadanya. Dia tahu semuanya." Jelasnya, walaupun penjelasannya lumayan melengse.
"Benarkah? Dia tahu semuanya?" Wanita paruh baya itu mengangguk dan tersenyum ramah, Hazel tersenyum dan kemudian dia melompat seperti anak kecil yang kegirangan.
"Aku mau bertemu dengan guru."
"Benarkah? Bersemangat sekali ya, tapi sekarang Hazel harus mandi dulu biar bersih." Karena pemikiran gadis itu pada dasarnya memang masih terlalu kekanakan, dia hanya menurut dan percaya.
Gadis itu berlari menaiki anak tangga bersama dua maid yang akan mengurusnya selama membersihkan diri. Karena Hazel belum tahu bagaimana cara membersihkan diri dengan baik, maka dari itu mereka membantu. Tenang saja, maidnya semua perempuan.
Mana mungkin pria ikut masuk, jika saja ada mungkin sudah di penggal oleh Travis sendiri. Wanita tadi tersenyum ketika melihat Hazel yang begitu berantusias ketika akan belajar, lumayan aneh untuk ukuran anak seperti Hazel. Kebanyakan remaja tidak suka belajar, tapi Hazel nampak senang mendengar kata belajar.
Ia jadi mengingat masa lalu, di mana ia mengingat seseorang di masa lalunya dahulu. Gadis pemberani yang sangat pintar itu, senyumannya yang indah dan juga tangguh. Dia juga suka belajar, apa pun itu dia harus tahu. Sama seperti Hazel, mereka berdua memang persis.
"Sepertinya tuan sudah menemukan apa yang dia cari selama ini."
"Jangan terlalu banyak melamun, itu juga tidak bagus untuk dirimu." Ucapnya, sebenarnya ia mengingatkan saja selebihnya ia tidak ada niat apa pun.
Sedangkan pria itu hanya diam, entah apa yang dia pikirkan sekarang ini. Tapi ia merasa ada yang lain dengan suasana sekarang, pria itu menoleh ke satu arah dan ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari yang biasa.
Tentu saja kelakuan Nicholas membuat Riki ikut menoleh ke arah ke mana pria itu juga melihat. Kenapa dia sering melihat ke arah sana?
"Ada apa-"
"Kau merasakan sesuatu?" Riki menaikan alisnya, apa maksudnya? Riki benar-benar tidak merasakan apa pun padahal dia juga punya kemampuan bisa merasakan sesuatu lebih tajam dari Nicholas. Tapi kenapa hanya Nicholas yang merasakannya?
__ADS_1
"Apa maksudmu? Tidak ada apa-apa."
"Aku merasakannya, Riki. Dia pasti berada di sekitar sini." Riki bertambah kebingungan sekarang, apa yang Nicholas katakan sama sekali tidak dia mengerti.
Sampai di mana Nicholas melangkah ke satu arah dengan langkah terburu-buru membuat Riki ketinggalan, pria itu pun mengikuti Nicholas karena tidak mau kehilangan jejak. Di satu tempat, di mana tebing tinggi itu langsung ke lautan yang luas.
Memangnya ada apa di sana? Di sana hanyalah lautan luas yang di mana memang tidak ada apa-apanya, jangankan hewan lewat yang terlihat manusia terlihat tentu saja mustahil. Lautan bagian sana adalah lautan yang berbahaya karena ombaknya sekaligus arusnya yang terlalu besar.
"Apa yang kau lakukan?" Pertanyaan Riki yang tidak di jawab sama sekali, sepertinya Nicholas sudah gila.
Riki hanya diam memperhatikan gerak-gerik Nicholas saja dari jarak tertentu, sampai di mana seekor serigala berukuran besar dengan corak bulu berwarna putih coklat datang. Membuat Riki menoleh ke arah sana, bukannya takut atau menghindari. Riki justru menghampiri, dia mendekat seolah bisa berkomunikasi dengan serigala besar itu.
Mungkin dia paham dengan apa yang serigala itu katakan, Riki mengangguk seolah benar-benar paham. Serigala itu pun pergi begitu saja meninggalkan Riki dan Nicholas yang masih berada di sana.
"Sepertinya kita harus kembali ke markas." Nicholas tidak menanggapi apa pun, dia hanya diam terus menatap ke arah lautan tanpa henti.
"Kira-kira, apakah dia akan kembali?"
"Nicho-"
"Jawab saja. Aku tidak suka jika kau terus mengelak akan pertanyaan ku." Riki mendadak kaku, ia terdiam dan mencoba mencari jawaban.
Di sisi lain ia juga ragu harus menjawab dengan kalimat apa, tapi ia juga tidak mau menyakiti Nicholas begitu saja. Pria malang itu menunggu pujaan hatinya selama bertahun-tahun tanpa henti dan tanpa jeda selama sisa hidupnya.
"Aku tidak tahu..." Nicholas kembali menoleh ke arah lautan, ia tersenyum sendiri. Sepertinya ia sudah gila karena terlalu banyak berharap akan hal yang mustahil terjadi.
Sampai di mana pria itu melangkah pergi begitu saja, membuat Riki kembali bimbang dengan perkataannya. Nicholas berhenti melangkah, dia melirik sekilas ke arah Riki yang masih berdiri di tepi tebing dan menatapnya.
__ADS_1
"Berhenti menatap ku dengan tatapan seperti itu." Tepat di saat itu, pria itu berlari dan seketika berubah menjadi seekor serigala dengan ukuran tiga kali lipat dari ukuran normal atau mungkin empat sampai lima kalinya.
Sedangkan Riki masih berdiri di sana, memang kejadian buruk saat itu bukan hanya Nicholas yang merasakannya tapi juga Riki. Tapi dia mencoba bertahan dengan segala cobaan berat itu, tapi di sisi lain. Ia juga tidak akan paham dengan apa yang Nicholas rasakan.