
"Nampaknya dia kekurangan gizi, itu alasan mengapa tubuhnya terlalu kurus untuk anak 16 tahun sepertinya. Beberapa luka memar, sayatan, sepertinya dia juga harus di ronsen juga agar tahu juga di mana luka yang lainnya." Travis hanya menatap ke arah Jino, sepertinya pria itu juga terlalu lelah karena semua pasien beberapa hari lalu yang membludak.
Jujur saja Travis juga sibuk dengan pekerjaannya yang juga menjadi seorang dokter ahli bedah juga, selain itu Travis juga mengurus perusahaannya yang sempat mendapatkan peningkatan sedangkan usaha perhotelannya yang masih dalam keadaan normal.
Kenapa dia menjadi dokter dengan gaji yang tidak seberapa sedangkan dia mempunyai banyak usaha di luar sana? Maka jawabannya adalah, memang sudah jadi keinginannya saja sebenarnya.
"Kapan ronsen akan di lakukan?"
"Menunggu anak itu pulih secara mental, sepertinya dia masih trauma dengan banyak hal. Apakah aku bisa memanggilkan psikiater untuknya?" Travis menggelengkan kepalanya, itu semua tidak perduli di lakukan.
Bukan karena apa, Travis hanya tidak mau menambah trauma anak itu akan banyak orang. Dia masih takut jika bertemu dengan banyak orang, orang asing pun dia tidak berani mendekat atau menatap saja tidak dia lakukan.
Travis hanya memikirkan sesuatu, sudah hampir 4 hari dia mengawasi gadis itu di tengah kesibukannya juga. Travis tidak akan lepas tanggung jawab begitu saja tentu saja, dia akan melakukan apa saja.
"Apa ada masalah lain?" Jino hanya merasa saja, tapi dia harap semua baik-baik saja. Keadaan gadis itu setelah dikeluarkan dari ruang bawah tanah saat itu, mengenaskan. Dia dengar saja dari beberapa perawat yang berbicara.
"Sepertinya ada yang salah, dia tidak pernah menyadari keberadaan ku meskipun aku berteriak sekali pun. Apakah ada yang aneh? Tolong periksa lagi."
"Sepertinya dia tidak bisa mendengar, tapi biar aku yang meriksa. Aku hanya memastikan saja." Ucapnya dan kemudian kedua pria dewasa itu pun berjalan ke arah ruangan tempat tujuan mereka.
Tenang saja gadis itu tidak sendirian, karena Travis mengirimkan orang untuk menemani gadis itu bermain agar tidak bosan. Tapi entah berhasil atau tidak ia tidak tahu, semoga saja baik-baik saja.
Ketika Jino membuka pintu, ia di sambut dengan suara teriakan yang membuat Travis masuk terlebih dahulu. Pria itu juga ikutan panik, dia melangkah menghampiri anak itu dan memeluknya agar dia tenang.
__ADS_1
Tapi gadis itu justru memukuli Travis, walaupun tidak akan berpengaruh untuk pria itu. Tapi anak itu kelewatan panik, entah apa yang terjadi. Travis menatap tajam ke arah perawat yang dia suruh menjaga anak itu, dia tengah terpojok dengan luka cakaran?
"Dia mengamuk dok, saya tidak tahu kenapa." Ucapnya dengan gelisah, dia berkata jujur apa adanya dan tidak di buat-buat sama sekali.
"Sepertinya dia masih ketakutan dengan lingkungan barunya." Ucap pria yang memiliki rambut berwarna merah tersebut, dia melihat gerak gerik gadis itu yang memang terlihat ketakutan sekaligus gelisah secara bersamaan.
"Hey, jangan seperti itu. Lihat aku, hey lihat kemari." Travis membuat gadis itu terdiam, kedua tangan besarnya menakup pipi tirus itu yang berlinang air mata.
Jemarinya mengusap pipi tirus itu dengan perlahan, membuat mata bulatnya terbuka dan mulai melihat ke arah Travis. Tidak ada reaksi apa pun, Travis memeluk anak itu lagi untuk menenangkannya.
Mengusap punggungnya dengan perlahan, rambut panjangnya itu ia usap dengan lembut. Membuatnya nyaman dengan lingkungan sekarang. Benar apa kata Jino, sepertinya anak itu masih trauma dan belum terbiasa dengan lingkungan baru yang memang terkesan mendadak untuknya.
Jino melangkah mendekat, dia melambaikan tangannya seraya tersenyum ramah. Agar tidak menakuti anak itu tentu saja, dia hanya diam melirik ke arah Jino dengan tatapan ketakutan. Dia memeluk Travis dengan erat seolah dia tidak mau melepaskan pelukannya.
"Sepertinya benar apa katamu, telinga bermasalah. Aku akan memeriksanya sekarang jika kau tidak keberatan." Ucapnya meminta ijin, Travis hanya mengangguk sekilas dan kemudian membawa gadis itu duduk di atas pangkuannya.
"Permukaan kulitnya merah, darah sudah kering. Sepertinya sudah lama, kemungkinan gendang telinganya pecah itu akibat kenapa darahnya keluar cukup banyak dan membeku di dalam telinganya." Travis hanya mendengarkan, dia masih menenangkan gadis itu yang masih ketakutan.
"Apa itu permanen?"
"Kemungkinan tidak bisa di obati. Tapi masalah bisa mendengar atau tidak, masih ada harapan. Aku akan memberikan alat pendengar, untuk membantunya tentu saja." Travis membuang nafas panjang, ia merasa iba sekali sekarang.
Dia masih kecil, dia juga anak perempuan yang belum legal dalam umurnya yang sekarang. Mengenaskan, sudah mendapatkan perlakuan kasar semacam ini entah sejak kapan.
__ADS_1
Jino hanya memperhatikan bagaimana Travis memperlakukan anak remaja itu dengan lembut, tanpa sadar pria itu tersenyum. Walaupun Travis termasuk dokter yang ramah kepada pasiennya, tapi jujur saja baru pertama ini dia terlalu banyak turun tangan.
"Sepertinya kau sangat menyayanginya." Travis hanya diam, ia memberikan sinyal kepada Jino membuat pria itu melirik ke arah perawat yang masih berada di sana.
"Baiklah, aku akan pergi. Ayo sus." Jino menyuruh perawat itu untuk keluar membiarkan Travis berada di dalam sana mengurus anak remaja itu.
Travis benar-benar hanya diam saja, dia memperhatikan gadis yang berada di pangkuannya. Keadaannya memang terlihat jauh lebih baik dari yang beberapa hari yang lalu, tapi ia masih tidak bisa memastikan banyak hal. Ia harus memastikan jika anak itu benar-benar sehat dan tidak ada luka dalam.
Pria itu menidurkan anak itu di bangsalnya, mungkin menyembuhkan mental seseorang bukan lah sebuah hal yang mudah. Banyak kenangan buruk yang tentu saja tidak bisa di lupakan sama sekali meskipun sudah ada usaha keras di balik itu semua.
Travis hanya melihat gadis itu menatapnya dengan tatapan polosnya, pria itu hanya tersenyum saja dan mengecup kening gadis itu dengan lembut. Sedangkan anak itu hanya diam karena tidak paham dengan apa yang terjadi, dia masih mencerna semua perlakuan yang Travis lakukan kepadanya.
Kecupan itu, membuatnya merasa nyaman sekaligus aman. Dia menutup kelopak matanya ketika Travis mengecup keningnya secara pelan, ia tidak pernah merasakan hal seperti ini meskipun itu dari keluarganya sendiri.
"Aku yakin kamu bisa sembuh, tetap bertahan, mengerti?" Anak itu hanya menatapnya penuh dengan pertanyaan, tatapan yang indah yang pernah Travis lihat sebelumnya. Tapi sayangnya itu sudah begitu lama terjadi.
Anak itu terus memegang jas yang Travis kenakan, tidak mau jika Travis meninggalkannya lagi seperti tadi. Jujur saja dia takut dengan orang asing, apa lagi baru saja bertemu. Semua perlakuan kasar dan keras yang pernah dia alami terbawa sampai sekarang, ia menganggap semua orang sama saja.
"Aku ada di sini, aku tidak akan ke mana-mana." Sepertinya dia masih tidak mengerti, anak itu tidak paham dengan bahasa isyarat.
Travis hanya diam saja ketika mendapatkan pelukan dari anak remaja itu, dia justru tersenyum karena itu. Dia tidak bisa lepas dari dirinya, sepertinya dia hanya bisa mengenal Travis saja. Pria itu memeluk balik gadis itu, ketika anak itu memeluknya dengan erat seolah tidak mau di tinggal.
"Segitunya tidak mau di tinggal ya, hm?"
__ADS_1
Travis mengusap helai rambut yang begitu lebat tersebut, dan juga halus. Aroma shampoo stroberi yang sebelumnya memang sudah Travis siapkan, membuat gadis itu semakin menarik. Pria itu memeluk dengan erat, mencium aromanya dengan rakus.
'Tidak aku sangka, kita akan bertemu dalam keadaan seperti ini.'