
Di hutan yang begitu lebat, beberapa obor di padang agar bisa menerangi beberapa tempat agar bisa melihat jalanan yang memang di penuhi dengan bebatuan dan lumpur. Gadis itu berjalan sendirian, sebenarnya ia juga tidak sendiri hanya saja keadaan ini membuatnya merasa seperti sendirian.
Melirik ke segala arah, tujuannya adalah mencari pemukiman warga terdekat dan ia juga harus pergi ke pasar untuk membeli beberapa makanan pokok yang tidak dia temukan di hutan. Gadis itu berjalan begitu saja, menggunakan topi yang berbentuk bulat menutupi sedikit sebagian dari wajahnya.
Sampai di mana ia menemukan keramaian di sana, ia melangkah maju menghampiri dan mencari apa yang dia cari. Di tengah ia mencari bahan makanan secara tiba-tiba saja suara terompet membuatnya mengalihkan pandangannya, lebih tepatnya ke arah bendera itu.
Bersamaan dengan suara kuda membuatnya mengikuti warga yang lain yang memberikan jalan, ia tidak tahu apa pun jadi ia hanya mengikuti saja agar tidak terkena masalah saja. Bisa merepotkan jika itu terjadi.
"Berikan jalan! Pangeran akan melewati wilayah ini! Berikan hormat kalian kepadanya!" Suara yang cukup keras, membuat semua orang menunduk dan membungkuk hormat.
Sedangkan gadis itu tidak melakukannya, dia hanya menatap ke arah di mana sosok pria menaiki kuda berwarna hitam itu. Tatapan tajamnya yang terkesan dingin dan kosong, ia hanya menatap sampai di mana pria itu melirik. Gadis itu langsung menunduk mengikuti yang lain, ia tidak mau ketahuan.
Pria itu terus memperhatikan gadis itu sampai berlalu begitu saja, ia pun segera mendongak dan mereka semua bubar kembali ke urusan masing-masing. Ia masih bertanya-tanya ada apa di sini?
"Hey nak, kenapa kau tadi tidak membungkuk?" Tanya seorang wanita berumur itu, gadis itu tidak tahu harus menjawab bagaimana.
"Maafkan aku, tadi aku tidak terlalu paham dan aku mengikuti saja."
"Kau bukan orang sini?"
"Iya, aku orang baru di sini. Maka dari itu aku tidak terlalu paham dengan apa yang terjadi." Wanita itu mengangguk paham, mungkin orang baru tidak tahu apa yang terjadi dan juga tidak tahu bagaimana kebiasaan warga di sana.
"Jika kejadian tadi terulang lagi, ikuti saja yang lain. Jangan membuat kesalahan jika kau ingin hidup di dunia ini." Ucapnya dan kemudian dia pergi begitu saja meninggalkan gadis itu.
•••
__ADS_1
Dia turun dari kudanya dan melihat ke arah sekitarnya, semua nampak aman tidak ada masalah di sana. Ia menoleh ke arah kejadian, dia menghampiri ke arah di mana salah satu warga desa yang hanya menunduk ketakutan di depannya.
"Apa kau melihat semua yang terjadi?" Ucapnya dengan tatapan menuntut, mata yang begitu tajam di tambah warna matanya yang berwarna oranye cerah itu menonjol sekali.
"Hamba tidak tahu tentang itu pangeran, hamba melihat orang ini sudah meninggal di sini. Maka dari itu hamba meminta bantuan, selebihnya hamba benar-benar tidak mengetahui apa pun." Ucapnya dengan nada ketakutan.
Pria itu menoleh ke arah mayat yang tengah di amankan, untung saja tidak ada hewan buas di sana yang memakan mayat itu. Jika memang ada, mungkin tidak ada yang menemukan mayat itu dalam keadaan utuh. Tidak akan ada yang tahu menyebab asli mengapa dia bisa meninggal.
Ia melihat ke segala arah, memang auranya sedikit berbeda di sana tidak seperti biasanya. Jujur saja memang bukan pertama kali dirinya mampir di tempat tersebut, sudah berulang kali hanya saja hawanya tidak seperti ini.
"Bawa mayat itu dan berikan pengumuman, agar keluarganya bisa mengetahui keadaannya."
"Siap laksanakan pangeran."
Ia berpikir memang sedang ada sesuatu, dan semua itu bukan memberikan pertanda baik melainkan sebaliknya. Ini tidak boleh di biarkan begitu saja karena mungkin saja rakyatnya akan menjadi korban, ia yakin ada sesuatu yang terjadi sekarang.
Di tempat lain, gadis itu membawa barang belanjaannya sendirian dan dia membuka pintu rumah sederhananya, hanya gubuk saja tapi layak di jadikan tempat tinggal. Tidak ada yang di permasalahkan dengan tempat tinggalnya sekarang.
Meletakkan bahan makanan ke tempat yang aman agar binatang tidak datang dan memakan jatahnya, setelah itu dia hendak meletakkan pedangnya. Namun, suara aneh membuatnya enggan meletakkan pedangnya.
Gadis itu menoleh ke arah pintu gubuknya, seperti ada seseorang di sana. Ia pun segera menghampiri, tentu saja dengan membawa senjata untuk berjaga-jaga. Ia mendekat, menghampiri dan ia membuka pintunya.
Dan benar saja sesuatu menyerang membuat gadis itu menebaskan pedangnya begitu saja membuat hampir dari lima sosok itu terpental lumayan jauh karena tebasan pedang gadis itu.
Bukan pedang biasa, pedang itu memang memiliki kelebihan atau lebih tepatnya kekuatan. Menyalurkan kekuatan yang gadis itu punya membuat butiran cahaya berwarna biru muncul di sekitar pedang itu, tatapan tajam dan fokus tertuju kepada mahkluk itu.
__ADS_1
"Kau? Manusia penyihir."
Mungkin itu yang mereka tahu, padahal gadis itu bukan penyihir seperti apa yang mereka katakan. Kekuatan itu hadir karena latihan ketat, dan tentu saja dengan menjinakkan alam juga dia bisa mendapatkan kekuatan hebat seperti itu.
"Jaga ucapanmu, aku bukan menyihir."
"Kau masih tidak menyadari itu, kekuatan mu itu adalah kutukan. Hahahahaha!"
Gadis itu menggeram marah tapi dia tahan, genggamannya kepada pedangnya semakin kuat. Sampai dia mengeluarkan kekuatannya dan menebas semua mahkluk itu, tidak di sadari jika mahkluk itu bisa berteleport tepat di belakangnya dan.
"AAHHGGKKK!!!"
•••
Matanya terbuka karena terkejut, gadis itu langsung terbangun dari tidurnya. Menatap sekeliling tidak ada siapa pun, ia memeluk bonekanya sendiri dengan gemetaran. Matanya menoleh ke arah jendela, entah mungkin efek ketakutan dengan mimpinya sendiri dia seolah melihat bayangan.
Gadis itu langsung berlari keluar kamarnya dengan membawa bonekanya di tangannya, dia mencari kamar Travis dan masuk begitu saja. Menutup pintu kamar Travis, membuat pria itu menoleh.
"Ada apa, baby?" Ucapnya dengan senyuman tipis, gadis itu tidak menjawab selain berlari ke arah Travis. Menaiki ranjang itu dengan terburu-buru, langsung memeluk Travis tanpa berpikir panjang.
Ia terlalu takut menjelaskan apa yang terjadi, sedangkan respon Travis hanya diam karena dia kebingungan sekarang. Ia menarik selimutnya untuk menutupi badan mungil Hazel yang memeluk dirinya, dia sepertinya tenggelam dengan selimut besar itu.
"Apa kamu bermimpi buruk?" Tidak ada jawaban sama sekali, mungkin Hazel memang terlalu takut.
Travis melanjutkan pekerjaannya seraya mengusap rambut panjang gadis itu yang memeluknya erat dari samping, tidak keberatan sama sekali. Travis juga tidak protes sama sekali, pria itu tidak lagi mengeluarkan suara ketika ia melihat Hazel sudah tertidur lagi. Ia tertawa pelan, menggelengkan kepalanya heran.
__ADS_1
"Bahkan sifatnya saja masih sama seperti dulu."