OBSESSION 2 : BOYFRIEND A VAMPIRE

OBSESSION 2 : BOYFRIEND A VAMPIRE
Chapter : 13


__ADS_3

Hazel sedang melihat maid itu membuatkan susu untuknya, ia hanya duduk dan memandangi maid itu saja. Sampai tanpa dia tahu jika ada seseorang di belakangnya, dia ikut duduk di sebelah Hazel.


"Sepertinya susu itu lebih menarik." Hazel langsung menoleh ke arah samping dan di kagetkan dengan kehadiran Travis yang tiba-tiba berada di sana.


Pria itu duduk di kursi tepat di sebelahnya, tapi kenapa bisa Hazel tidak menyadari? Pria itu hanya melihat bagaimana wajah itu memasang raut kebingungan, mungkin dia memang bingung.


Pasalnya tadi Travis keluar dari rumah untuk pergi ke suatu tempat, Hazel pikir akan lama tapi ternyata memang hanya sebentar. Pria itu mengambil segelas susu itu membuat Hazel semakin kebingungan sekarang.


"Itu punya ku..." Travis meminum minuman itu tanpa berkata apa pun, sedangkan Hazel menatap dengan tatapan yang sangat ingin.


Kenapa dia malah meminum susu itu? Padahal tadi Hazel dulu yang minta kepada maid tadi, sedangkan susu itu hampir saja habis tapi Travis berhenti minum. Dia melirik ke arah Hazel yang terus menatapnya dengan tatapan aneh seperti itu.


"Kenapa?"


"Itu punya ku." Travis tertawa pelan ketika ia melihat bagaimana ekspresi Hazel sekarang, dia pun menyuruh maid membuatkan susu lagi dan Hazel duduk di sampingnya sekarang.


Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang panjang, sudah hampir 2 bulan lamanya Hazel tinggal di rumahnya sekarang. Dia sudah bisa beradaptasi meskipun tidak semua dia berani lakukan, beberapa hari juga David datang untuk mengajarkan Hazel banyak hal dan juga David memberi tahunya akan sesuatu.


Perkembangannya sekarang lumayan pesat, bahkan sekarang Hazel sudah bisa membaca. Yang paling penting itu dulu, sisanya bisa di lakukan jika ada waktunya.


"Nanti ketika David datang, kamu tidak boleh nakal ya." Hazel mengangguk menurut, dia meminum susunya sendiri. Ia merasa kepalanya di usap pelan oleh Travis.


Dia hanya melirik tanpa ada respon sama sekali, sepertinya Hazel masih kesal dengan Travis masalah susu tadi. Travis membuang nafas panjang, dia beranjak dari tempat duduk dan dia akan berangkat bekerja sekarang. Ada panggilan mendadak yang membuatnya harus pergi sekarang juga.


Hazel melirik ke arah Travis yang akan pergi keluar dari rumah, gadis itu meletakkan gelasnya di atas meja. Dia turun dari kursi dan berlari ke arah Travis berjalan sekarang. Langkahnya yang tidak bisa sama dengan Travis, dia tidak bisa menyusul sampai di mana dia berlari dan menangkap tangan pria itu.

__ADS_1


Dia menoleh ke arah belakang, melihat tangannya di genggam oleh tangan mungil itu membuatnya tersenyum kemudian menoleh ke arah belakang dan menunduk. Menemukan Hazel di sana.


"Ada apa?"


"Kamu mau pergi? Apakah lama?" Travis jongkok di depan Hazel, mengusap rambut panjang itu.


"Aku tidak tahu, maafkan aku. Mungkin aku akan pulang sedikit malam-"


"Boleh aku ikut?" Apakah Hazel memikirkan apa yang dia katakan tadi? Travis sebenarnya tidak masalah jika harus membawa Hazel.


Tapi posisinya sekarang adalah, di mana dirinya tidak bisa memastikan apa di luar sana aman untuk gadis kecil itu. Ia tidak bisa membiarkan Hazel sendirian, bahkan ketika ada dirinya saja gadis itu masih dalam keadaan bahaya. Padahal ada Travis di sekitarnya, apakah masih kurang jelas khawatirnya Travis sekarang?


Dia hanya tidak mau gadis itu terluka, terluka sedikit saja mungkin ia akan mengutuk dirinya sendiri yang begitu ceroboh dan bodoh.


"Tidak bisa, kamu akan aman jika di dalam rumah ini. Lagi pula nanti ada David yang menemanimu sampai aku pulang nanti." Travis meyakinkan Hazel semampunya.


Sepertinya dia tidak ada jam mengajar di sekolahnya sekarang, dia nampak menggunakan pakaian santai dan tidak seperti biasanya. Dia datang membawa sesuatu, beberapa kantong makanan untuk Hazel. Sepertinya David juga sudah mulai. menerima keberadaan Hazel di dalam hidupnya sekarang.


"Kau sudah datang, aku pikir kau akan terlambat karena mengajar kelas mu." David menggelengkan kepalanya, dia tidak ada kelas hari ini untuk dia isi dengan pelajarannya.


"Aku tidak mengajar hari ini, bukan jadwal ku." David melihat ke arah Hazel yang berada di gendongan adiknya tersenyum, ia tidak pernah melihat Travis begitu memanjakan seseorang sampai seperti ini.


Pria itu memberikan kantung belanja penuh dengan makanan ringan dan beberapa susu kotak di dalam sana, Travis menurunkan Hazel ke bawah dan dia membawa tasnya.


"Hazel, dengarkan apa yang dikatakan olehnya. Sudah aku bilang tadi-"

__ADS_1


"Jangan nakal, iya aku akan jadi anak baik." Travis dan David sama-sama tertawa ketika mendengarkan perkataan polos dari gadis kecil itu.


Pertemuan yang tidak terduga, bahkan kepribadian yang berbanding balik dengan yang sebenarnya terjadi. Tapi ia bersyukur bisa dipertemukan dengan cinta pertamanya, setelah sekian lama menunggu.


"Aku akan pergi, jaga dia baik-baik." David mengangguk mengiyakan perkataan adiknya itu, dia melihat Travis yang mulai masuk ke dalam mobil dan segera pergi.


Sedangkan Hazel nampak tidak suka jika di tinggal oleh Travis, dia terus menatap ke arah gerbang yang terbuka itu dan melihat mobil yang pria itu kendarai sampai tidak nampak lagi.


"Ayo masuk ke dalam, udara siang tidak baik untuk anak kecil."


"Aku bukan anak kecil, aku sudah besar."


"Woh, benarkah? Tapi kenapa kamu masih minum susu?" David mencari topik untuk berdebat dengan Hazel.


Gadis kecil itu terus menjawab apa yang dia katakan sekarang, bahkan dia juga sering bercerita entah tentang apa. David merasa penasaran, penyerangan yang terjadi beberapa waktu lalu. Jujur saja ia mulai merasa khawatir, tapi walaupun begitu. Penjagaan di rumah itu juga semakin ketat, tanpa Hazel sadari sendiri gadis itu terkurung di rumah itu tapi dengan suasana berbeda.


David tidak akan bisa memastikan apa yang terjadi meskipun dia bisa melihat masa depan, tapi sekarang dia tidak bisa memastikan apa pun. Mata batinnya seolah tertutup ketika bersama Hazel, apakah itu sebuah keanehan?


Sedikit cerita ketika David bersama Hazel berada di taman belakang rumah itu, terdapat sebuah kolam renang yang sangat luas. David pikir tidak akan ada yang terjadi, mengawasi Hazel yang sibuk bermain air. Ia tidak merasa ada yang aneh.


Sampai di mana ia mulai panik ketika ia tidak sengaja melihat bola mata Hazel berubah menjadi warna biru, lumayan aneh tapi ia berusaha memastikan. Mata biru itu hilang, dan seketika air yang awalnya hidup mendadak mati sendiri.


Benar-benar kejadian yang tidak dapat ia duga sama sekali, ia juga sudah melaporkan semua yang dia rasakan ketika bersama Hazel kepada Travis. Agar pria itu lebih berhati-hati lagi setelan itu.


Dan sekarang, gadis itu sibuk makan sambil menulis tugas yang David berikan kemarin hari. David hanya berharap jika apa yang dia rasakan tidak pernah terjadi, ia hanya berharap saja.

__ADS_1


'Aku pikir tidak ada salahnya jika ingatannya kembali, tapi bagaimana dengan adik ku? Aku tidak mau dia terbunuh, oleh gadis yang dia cintai sendiri.'


__ADS_2