
Travis melangkah ke arah meja makan, ternyata semua makanan sudah siap di atas meja. Pria itu mendekat, semua bawahan langsung membungkuk memberikan hormat kepadanya. Auranya memang sudah seperti ini, tatapan tajam, auranya yang terkesan menuntut akan banyak hal membuat semua orang akan bertekuk lutut di bawahnya secara reflek.
"Apakah Hazel sudah siap?" Tanyanya seraya menatap ke segala arah, dia mencicipi semua makanannya dan memastikan semua bisa di makan oleh gadis kecilnya.
"Sepertinya nona masih tidur, Tuan." Travis mengangguk paham, ia kemudian melangkah menjauh dari kembali menaiki anak tangga.
Pria itu akan memastikan semuanya sendiri di sana, dia berjalan ke arah di mana kamar Hazel berada. Ia membuka pintu tanpa permisi, melihat gadis itu ternyata tertidur di atas lantai bukannya di atas ranjang yang sudah Travis sediakan. Pria itu membuang nafas panjang, sepertinya memang belum terbiasa.
Travis melangkah mendekat dan mengangkat Hazel, menggendong gadis itu dan menepuk bahu mungil itu. Tidak ada unsur kekerasan di sini, karena Travis juga sudah berjanji kepada dirinya sendiri.
"Kenapa tidur di atas lantai, hm? Sudah ada ranjang yang nyaman, jangan samakan tempat mu dulu dengan sekarang, baby." Ucapnya dengan perlahan, tapi sepertinya Hazel terlalu mengantuk. Tapi sekarang sudah saatnya makan malam.
"Hazel, bangun sebentar." Gadis itu hanya bergerak sebentar dan kemudian tidur lagi. Bagaimana raut wajah Hazel yang tidak mau di usik, kenapa menggemaskan begini?
"Hazel."
"Masih ngantuk..."
"Makan malam sebentar, lalu boleh tidur lagi. Bangun ya sayang..." Hazel mendongak, dia mengusap matanya sendiri tapi tangannya di tahan oleh Travis.
"Jangan mengusap mata mu begitu, nanti sakit." Hazel tidak menjawab, Travis membawa gadis itu ke kamar mandi dan dia menyalakan air wastafel, kemudian membasuh tangannya sendiri dan membasuh air ke wajah Hazel.
Agar gadis itu tidak terus mengantuk, setelah itu Travis membawa Hazel ke ruang makan segera. Karena waktu makan malam akan habis sebentar lagi, tapi tidak akan masalah sekarang. Ia juga harus bersabar, Hazel juga masih terlalu kecil untuk memahami segalanya di tambah dia pertama kalinya berada di situasi seperti ini.
__ADS_1
Setelah sampai di ruang makan, Travis tidak membawa gadis itu duduk di kursi sendiri. Melainkan membuat Hazel duduk di pangkuannya, tentu saja akan membuat semuanya terkejut.
"Buka matamu, ayo makan."
•••
Di tempat lain, lebih tepatnya di hutan yang lebat. Dia hanya berdiam diri menatap ke arah depan, melihat bagaimana aliran sungai itu yang begitu tenang tapi tidak seperti hatinya sekarang. Ia merasa ada yang aneh membuatnya hampir beberapa hari ini tidak bisa tidur, sebenarnya sudah lama terjadi seperti ini.
Tapi dia juga berusaha tetap bersikap normal, tapi tetap saja tidak bisa. Mungkin pengaruh masa lalu membuatnya terus terlalu hanyut dalam masalah yang sudah lama terjadi.
Sampai seseorang menghampirinya, berdiri di belakang lelaki itu dengan jarak lumayan jauh. Menatap temannya yang terus diam seperti itu, jujur saja ia tidak terbiasa dengan kondisi seperti ini. Semenjak kejadian itu terjadi, temannya itu terus berdiam diri di sekitar sungai di mana kejadian itu bermula dan berakhir juga di sana.
"Apa yang kau lakukan di sana?" Tidak ada jawaban apa pun, ketika ia mendekat dan bersandar di salah satu pohon besar di sana.
"Tidak ada, untuk apa kau kemari?" Riki hanya membuang nafas panjang, seharusnya memang tidak seperti ini. Kenapa dia terlalu terus berlarut-larut dengan masa lalu seperti ini?
"Dia akan kembali, jangan berbicara seolah kau tahu segalanya sialan." Ucapnya dengan tatapan tajamnya, warna matanya yang memiliki warna cenderung terang itu menatapnya seolah akan membunuh Riki di saat itu juga.
Sampai di mana Nicholas memilih untuk pergi dari sana, dia beranjak dari tempat duduknya dan kemudian pergi begitu saja meninggalkan Riki yang masih berada di sana. Lelaki itu menoleh ke arah di mana Nicholas pergi. Hanya bisa menatap punggung tegap itu saja tanpa melakukan apa pun.
Rasanya juga akan sia-sia saja jika terus beradu argumen, karena mau bagaimana pun mereka tidak akan paham bagaimana menjadi Nicholas.
Di mana seorang pria yang harus berjuang untuk mendapatkan seorang gadis yang dia cintai, dia juga harus bersaing dengan seseorang yang jelas memiliki kekuatan yang jauh lebih kuat dari dirinya. Tapi Nicholas tidak terlalu memakan omongan orang lain, dia terus nekat maju. Sampai di mana sebuah pertempuran melibatkan gadis itu, gadis terlalu tangguh itu.
__ADS_1
Dia gugur di dalam peperangan itu, dengan membuat luka duka kepada dua pria yang memiliki tahta saja. Namun, mereka berbeda dalam status apa pun. Mereka yang sama-sama mencintai, sama-sama menunggu, dan saling memperjuangkan banyak hal.
Kisah yang terlalu tragis jika di bayangkan, semua itu berakhir dengan mengenaskan. Membuat satu nyawa harus melayang begitu saja tanpa bersalah, tapi dia juga membuat sebuah semangat pejuang yang tinggi.
"Kenapa dia terlalu yakin jika gadis itu akan kembali? Padahal dia sendiri yang melihat jika gadis itu sudah meninggal begitu saja." Memang Riki tidak akan paham bagaimana menjadi Nicholas, tapi terlalu larut dalam duka juga tidak baik.
Di tempat lain. Nicholas berada di sebuah bangunan tua, salah satu bangunan di mana seseorang dari derajat tertinggi di kalangan manusia akan mengasingkan diri untuk menambah ilmu. Bangunan itu, sekarang sudah terbengkalai. Seharusnya begitu, tapi sayangnya tidak.
Nicholas merawat bangunan itu sendiri, bahkan semua barang-barang yang berada di dalam sana juga masih dalam keadaan utuh. Semua bersih, tidak ada yang hilang satu pun dan semuanya nampak terawat. Seperti tidak di tinggalkan pemiliknya.
Pria itu menatap ke arah salah satu lukisan, yang tentu saja lukisan itu sudah berusia sangat tua bahkan katakan saja jika lukisan itu sudah berusia ratusan tahun lamanya berada di sana.
Dia menyentuh lukisan itu, mengusap permukaannya seolah dia tengah menyentuh secara langsung objek yang berada di dalam lukisan itu.
"Kau akan kembali bukan? Kau sudah berjanji kepada ku dahulu, jika kau akan kembali dan menemui ku nanti..." Ucapnya dengan nada pelan terkesan lirik.
Tanpa sadar air matanya menetes begitu saja, sungguh ia merindukan sosok yang berada di dalam lukisan tersebut. Sangat amat merindukannya, ia ingin memeluknya lagi seperti dahulu kala. Tapi sepertinya rasanya mustahil untuk sekarang, apakah dia kembali atau tidak?
Pria itu terus memandangi lukisan itu tanpa henti, seolah ia tidak akan pernah merasa bosan jika ia terus melihat. Percaya atau tidak, sebuah mitos lama di mana werewolf ketika di bulan purnama dan tepat di saat itu dia melihat seseorang, maka dia akan mencintai orang itu sampai kapan pun. Tidak akan tergantikan sama sekali, sudah menjadi takdirnya.
"Aku menunggu mu, aku akan tetap menunggu mu. Kau tenang saja, aku tidak mendengarkan perkataan siapa pun. Kau tahu bukan, jika aku akan terus mencintaimu sampai kapan pun..."
"Aku akan terus mencintai mu, sampai kapan pun dan di saat itu juga aku akan terus menunggu mu hadir di dalam kehidupan ku lagi." Ucapnya, dia menunduk.
__ADS_1
Menempelkan keningnya di lukisan tersebut, matanya terus meneteskan air mata tanpa henti. Terlalu merindukannya, terlalu berat juga untuknya merasakan semua ini. Dia terus menatap ke arah lukisan tersebut.
"Aku masih menunggumu di sini..."