OBSESSION 2 : BOYFRIEND A VAMPIRE

OBSESSION 2 : BOYFRIEND A VAMPIRE
Chapter : 19


__ADS_3

Tusukan itu membuat pemuda itu terbatuk, mengeluarkan darah dari mulutnya. Xander berteriak kencang ketika ia melihat apa yang seharusnya tidak dia lihat. Jarrel berdiri di sana dalam keadaan tertusuk banyaknya anak panah.


"Tidak! Jarrel!!!"


Pemuda itu menatap ke anak panah yang menusuk ke badanya, darah mengalir tanpa henti. Xander berlari terus tanpa tahu arahnya, ketika matanya sendiri melihat adiknya dipanah dengan banyaknya tusukan itu. Badannya melemas, tapi sepertinya kematian tidak berlaku untuk Jarrel.


Dia memegang panah itu dari tubuhnya dan mencabut tusukan itu tanpa beban, darah di mulutnya memang tidak menutupi betapa sakitnya semua itu. Tapi tertutupi dengan senyuman menantang dari Jarrel, siapa yang tidak terkejut ketika Jarrel yang terpanah hampir lebih dari 10 bisa melepaskan semua itu dengan mudah.


Dia mematahkan panah terakhir dengan tangan kosong sebelum semua itu di bakar olehnya. Jarrel tersenyum lagi, dia menusukkan panah itu ke atas tanah dan kunci segel kembali dengan mudah bahkan jauh lebih kuat. Segel yang kembali terpasang membuat para mahkluk itu hampir saja masuk terpental jauh. Kekuatan itu menepis segala bentuk iblis yang akan masuk.


"Kau terkejut?"



Bekas darah yang jelas terlihat di sana, tidak membuat Jarrel lemah. Dia berdiri dengan tegak dengan tatapan yang seolah-olah dia benar-benar merendahkan mahkluk itu, bahkan sekarang di mana para vampire itu menatapnya penuh tidak percaya. Panah itu tepat mengenai jantung, bagaimana bisa Jarrel dengan mudah mencabut panah itu seolah tidak terkena sama sekali? Darah itu jelas membuktikan panah itu memang mengenai sasaran, tapi kenapa?


Xander yang berada di belakang tidak percaya dengan apa yang ia lihat, antara ia bersyukur dan tidak percaya. Sampai secara tiba-tiba bangsa Elf datang dan salah satunya membuat Xander pergi.


"Ayo kita pergi, pangeran."


"Apa maksudmu? Adikku berada di sana, dia melawan vampire itu sendiri-"


"Pangeran Jarrel tidak sendirian, ada kami." Xander awalnya tidak bisa mempercayakan adiknya sendiri kepada orang lain, apa lagi dia tidak kenal siapa para Elf yang tiba-tiba saja datang itu.

__ADS_1


Tapi ketika ia melihat Jarrel yang menoleh ke arahnya dengan mata tajamnya yang berwarna biru, di mana benar-benar tidak pernah Xander melihat yang seperti ini. Senyuman itu, membuat Xander seketika benci dengan keadaan ini.


Xander yang di bawa pergi oleh salah satu Elf untuk masuk ke dalam kastil, bukan hanya para Elf saja. Tapi juga satu ekor naga yang mendadak muncul di atas langit, dia menyemburkan api ke arah para musuh yang tetap saja tidak mau menyerah. Naga itu, yang pernah Jarrel tolong dahulu.


"Kau... Memang seharusnya aku tidak meremehkan dirimu sejak awal, kekuatanmu sangat besar. Tapi kekuatan itu akan hilang saat kau mati!"


Jarrel menghindari semua serangan itu dengan mudah, masalah kekuatannya yang kembali sepenuhnya atau belum. Sebenarnya belum sepenuhnya, tapi jika hanya untuk mengalahkan mereka masih cukup saja. Pemuda itu membalas semua serangan yang ada, sampai di mana dia membuat salah satu dari vampire itu membeku.


Tangannya memegang bagian dagu dan kepala bagian atas, dan tanpa tenaga terlalu banyak Jarrel memutuskan kepala itu dari lehernya. Kepala itu terlempar ke satu arah, dan dengan cepat Jarrel membakar kepala itu sampai tidak ada sisa lagi, dan membakar tubuh membeku itu dengan api yang dia keluarkan.


"Tidak!! Apa yang kau lakukan?!!!" Jarrel menoleh ke arah suara, dan mengarahkan tangannya ke depan sehingga peperangan dia selesaikan.


...•••...


"Tidak bisa! Jarrel masih di luar!"


"Dia masuk ke medan perang ibu! Apa yang aku lakukan?" Xander tidak bisa melakukan apa pun karena para Elf memberikan segel di seluruh pintu di kastil, ia tidak bisa keluar. Entah kekuatan apa yang para Elf itu keluarkan sekarang, bahkan kekuatan yang Xander miliki tidak bisa menembus segel tersebut.


Ia sudah sangat amat frustasi di tambah dia masih ingat betul bagaimana panah itu menusuk ke badan Jarrel, dan Jarrel mengeluarkan semua panah itu dari tubuhnya dengan mudahnya. Selain itu, mata biru itu tidak pernah Xander melihat.


"Jarrel ada di luar? Apa yang sudah dia lakukan? Dia bahkan belum sembuh..." Zellen keluar dari ruangan itu, dia mengintip dari celah pintu. Ada banyak orang di luar ruangan tersebut dan ada Xander.


Zellen berjalan menghampiri Xander dan memeriksa keadaannya, tidak ada yang terluka di sana. Tapi dia mencari seseorang lagi, mereka bilang Jarrel pergi keluar padahal dia belum sembuh.

__ADS_1


Xander tidak bisa menjelaskan apa pun kepada adik perempuannya, di sisi lain Zellen sudah tidak bisa berpikir. Ia takut jika sesuatu terjadi kepada kakaknya, sampai di mana cahaya matahari mulai masuk ke dan kastil. Menandakan hari sudah pagi, malam sudah berlalu sekarang.


"Kakak..."


"Iya Zellen? Kakak di sini." Suara yang begitu berat itu membuat Zellen yang awalnya menunduk berharap kakaknya akan datang, dia mulai mendongak.


Di mana di depannya sekarang, Jarrel berdiri dengan darah di mulutnya. Zellen menangis kencang dan berlari ke arah kakaknya itu, semua orang langsung mencari keberadaan Zellen yang ternyata sudah berada di dalam pelukan Jarrel sekarang.


Xander dan ibunya itu berlari ke arah kedua orang itu, memeluk mereka berdua dengan erat. Seolah benar-benar tidak mau melepaskan, Xander sudah terlalu khawatir sekarang dan ia sudah lega ketika melihat Jarrel sudah berdiri di depannya sekarang. Zellen terus menangis karena darah yang keluar dari luka tusukan itu terus keluar.


"Aku baik-baik saja, jangan khawatir..."


...•••...


"Seharusnya kau tetap berada di kamarmu, kenapa kau keras kepala sekali?!"


"Aduh! Berhenti memukuli kepala ku bodoh." Jarrel menendang kaki kakaknya itu membuat dia mundur. Jarrel memegangi kepalanya yang sakit karena di pukuli terus oleh Xander. Memang ia ceroboh dan keras kepala, tapi semua sifatnya itu kenyataan mampu menyelamatkan nyawa orang lain.


Xander tahu jika Jarrel memang kuat, kekuatannya yang besar itu memang berpengaruh akan keamanan kerajaan. Tapi di sisi lain, ia tidak mau adiknya itu terluka. Jarrel mendapatkan pengobatan lagi, banyak tusukan panah yang belum di obati, walaupun dia tidak merasakan sakit tapi luka itu masih terbuka lebar.


"Berhenti melakukan hal yang berbahaya, kau bisa mati."


"Tapi aku tidak mati. Aku masih hidup, bahkan bisa bernafas sampai sekarang. Berhenti meremehkan ku, pangeran mahkota." Jarrel menekan perkataannya, ia tidak suka di atur seperti itu. Melakukan apa yang dia suka, lagi pula Jarrel tahu di mana batas ia harus terus bermain dan harus berhenti.

__ADS_1


"Lakukan saja apa yang aku katakan, jangan keluar dari kamar sebelum semua lukamu sembuh total."


"Hey! Kau curang!"


__ADS_2