
Di tengah hutan yang gelap itu, tidak ada yang menyangka jika di sana berdiri sebuah tempat di mana banyaknya para pemburu dan juga bhiksu di sana. Mereka berkumpul di sebuah kuil besar yang umurnya sudah ratusan tahun lamanya, ada beberapa tempat di sana yang dijadikan sebagai tempat tinggal para pemburu.
Jangan bilang jika kalian mengira jika para pemburu itu hanyalah pemburu biasa yang biasa menangkap hewan-hewan di hutan, maka dugaan kalian salah. Mereka adalah pemburu iblis, dan juga vampire. Itu alasannya mengapa mereka bersama bhiksu di sana.
Bukan tanpa alasan mengapa mereka bisa bersatu seperti itu, biasanya pendapat para bhiksu dengan pemburu akan bertolak belakang. Tapi tidak untuk kali ini, banyak orang yang meninggal dan semua itu adalah ulah para iblis, juga vampire.
Bukannya bersalah sangka di sini, semua bukti sudah ada. Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi sekarang, membiarkan semua orang mati hanya karena takut dengan sosok menyeramkan itu? Tentu saja tidak.
Bagaimana pun manusia juga punya kehidupan, manusia juga tidak akan mengusik jika bukan di usik duluan. Mereka juga menetapkan peraturan di mana warna desa di larang keluar kawasan desa yang sudah di segel, keluar tengah malam pun di larang meskipun hanya di sekitar desa.
Sebuah kejadian di malam hari, warga yang melanggar peraturan itu dia di temukan meninggal di tempat dengan keadaan darahnya habis tanpa sisa, bagian jantung dan hati juga hilang entah kemana. Tidak logis jika itu pembunuhan, jika saja kanibal. Mungkin semua badannya sudah di bawa semua, tapi ini di tinggal begitu saja.
Berita yang menghebohkan jagat raya saat itu, anggap saja sebuah peringatan yang nyata adanya. Tidak sampai sana, kasus yang sama terjadi di luar desa.
Ada keluarga yang tinggal di dal hutan, mereka terbiasa melakukan pertarungan dengan hewan buas atau semacamnya. Tapi mendadak nelayan yang baru saja pulang dari sungai mendadak terkejut ketika melihat rumah itu sudah dalam keadaan sepi.
Biasanya memang ada orang di sana, bahkan biasanya juga ramai. Nelayan itu mengaku jika dirinya sering di bantu oleh keluarga itu, nelayan itu juga kenal dengan satu keluarga itu dan akrab dengan mereka. Dengan alasan saling membantu satu sama lain, meskipun satu keluarga itu nampak aneh. Tapi nelayan itu mengabaikan.
Dia menemukan keadaan keluarga itu dalam keadaan mengenaskan, satu serigala berukuran besar tergeletak di dalam rumah dengan keadaan bersimbah darah sedangkan sisanya meninggal dalam keadaan mengenaskan.
Nelayan itu yang panik tentu saja menemui para pemburu dan bhiksu untuk meminta bantuan. Awalnya mereka mengira tidak ada yang selamat, kebanyakan memang tidak ada yang selamat.
Sampai di mana tanpa di duga seorang anak laki-laki di temukan dalam keadaan pingsan bersembunyi di lemari kecil. Dia meringkuk dengan keadaan pucat.
"Dia masih hidup." Mengejutkan sekali untuk mereka. Seorang anak kecil selamat, walaupun dia harus merelakan orang-orang terdekatnya harus meninggal.
Tapi pemburu itu menduga akan sesuatu, ia tidak yakin tapi ketika ia melihat mayat serigala yang berukuran tidak wajar itu. Ia menduga jika itu bukanlah serigala biasa, melainkan sosok manusia yang berubah menjadi serigala.
Bukan hanya pemburu itu yang merasakan keanehan itu, salah satu bhiksu tertua juga merasakannya. Bukan sebuah ciri-ciri yang dia rasakan, melainkan aura anak kecil yang di selamatkan oleh mereka yang membuatnya heran.
__ADS_1
Auranya bukan seperti manusia biasa, bahkan dia mempunyai sebuah udara yang terasa lain. Maksudnya adalah sebuah kekuatan kuat mengelilingi dirinya.
"Aneh, bagaimana bisa ada serigala di sekitar sini. Jika saja memang ada pasti sudah sejak dulu kita melihatnya."
"Benar, tidak wajar. Apakah kau merasakan sebuah keanehan itu juga?"
"Aku pikir hanya diriku saja yang merasakan aura kuat itu di dalam anak itu." Jika saja apa yang mereka rasakan itu benar adanya, maka dugaan mereka benar.
"Dia bukan manusia." Ucapan bhiksu itu, dia menatap ke arah semua orang dan mereka juga bertanya-tanya akan anak itu.
"Apa maksudmu? Jangan bilang-"
"Dia werewolf."
•••
Ia berusaha memberontak semampunya tapi tidak bisa, dia hanya bisa menangis di dalam penjara mengingat di mana kedua orang tuanya mati tepat di depannya saat itu. Sekarang, ia mendekam di dalam penjara tanpa tahu apa kesalahannya.
Salah satu kakinya yang di rantai seperti buronan, membuatnya semakin sakit hati. Bajunya berlumuran dengan darah, walah pucatnya yang udang membuat kesan lain ketika melihat dirinya.
"Ayah, ibu..."
Dia tergeletak di atas tanah tanpa alas, dia menangis sepanjang hari dan berharap jika semua ini hanyalah sebuah mimpi buruk. Berharap ketika ini benar-benar adalah mimpi, ada seseorang yang membangunkannya.
Tapi kenyataan apa yang dia rasakan seperti nyata apa adanya, ia harus apa sekarang? Melarikan diri rasanya mustahil untuk dirinya lakukan sekarang ini. Tidak ada jalan keluar, kegelapan yang menyelimuti membuat dirinya tidak bisa melakukan apa pun selain menangis.
Anak itu, yang tidak tahu apa kesalahannya. Manusia-manusia kejam itu tiba-tiba saja menaruhnya di dalam penjara tanpa alasan yang jelas.
Di sisi lain, di sebuah kuil mereka berkumpul dan membicarakan apa yang terjadi sekarang. Menemukan anak kecil yang ternyata bukan manusia biasa melainkan manusia serigala, sebuah keajaiban bagi mereka semua. Menemukan apa yang mereka cari selama ini.
__ADS_1
"Mau sampai kapan kita menaruhnya di dalam penjara seperti itu? Jika saja kebencian menguasainya, dia akan membunuh kita."
"Kekuatannya tidak masuk akal, aku tidak mendengar yang seperti ini."
"Cepat buat keputusan yang bagus, lagi pula dia masih terlalu kecil untuk di perlakukan seperti itu. Kebencian akan menguasainya nanti."
"Bersabarlah wahai saudara ku..." Dia juga mencoba memikirkan cara yang baik, tidak bagus jika saja kebencian menyelimuti itu akan menjadi sebuah masalah yang besar.
"Kita juga akan menggunakannya untuk membunuh para vampir itu nantinya, kita harus mendidiknya untuk menurut kepada kita."
"Bagus, ide mu memang bagus. Tapi caramu salah, dia akan memberontak-"
"Tidak, dia tidak akan melakukan itu. Jika saja dia memberontak, cambuk dia dan hukum dia agar mau patuh."
"Apa kau tidak merasa jika perkataanmu itu berlebihan? Kau seorang bhiksu, harusnya kau lebih manusiawi." Entah apa yang merasuki bhiksu itu, bukannya sebuah hal yang buruk.
Tujuannya memang baik mau melindungi orang-orang, tapi dia menggunakan anak kecil. Bahkan para bhiksu yang lain tidak setuju dengan pendapatnya yang terlalu kejam itu.
Maupun anak itu bukan manusia, dia juga punya hati dan perasaannya sendiri. Dia juga mahkluk hidup yang ingin kebebasan, tapi kenapa diperlakukan seperti ini? Ini bukan ide yang bagus.
"Ide mu buruk, kau mau menyiksanya?"
"Ini demi keselamatan, kau harus mengerti-"
"Kau egois, katakan saja hanya demi keselamatan mu."
"Kau membela serigala itu?"
"Masih masih anak-anak, sadarlah Chen!"
__ADS_1