OBSESSION 2 : BOYFRIEND A VAMPIRE

OBSESSION 2 : BOYFRIEND A VAMPIRE
Chapter : 4


__ADS_3

Tangannya tidak mau lepas darinya, tapi ia harus melakukannya karena tidak mau menghambat pemeriksaannya. Travis mengangguk seolah meyakinkan anak itu agar tidak ketakutan, gadis itu menutup mata ketika cahaya mendadak menusuk ke matanya.


Jino memeriksa apa yang berada di layar, bersama dengan Travis yang juga mengawasi. Tidak begitu patah tapi tetap saja anak seumurannya akan tetap merasa kesakitan.


"Retakan bagian bahu kiri, tidak terlalu parah. Ini bisa di tangani." Ucapnya, mencetak hasilnya menjadi lembaran. Alat itu mengeluarkan gadis itu, dia masih kaku di sana karena dia tidak tahu apa yang sudah terjadi.


Travis melangkah menghampiri, dia mengangkat anak itu dan menggendongnya lagi. Dengan selang infus yang bergelantungan bebas, keadaannya masih belum sepenuhnya pulih. Baru lima hari dia di rawat di rumah sakit, memastikan banyak hal tentangnya.


Jangan lupakan keberadaan Justin yang juga di sana, tentu saja untuk mengambil hasil bukti. Jadi dia bisa menuntut dengan alasan yang tepat bukan tanpa alasan, ronsen sudah di kirim ke android yang Justin punya. Pria itu membuang nafas panjang.


"Sepertinya akan panjang, karena dia juga punya anak perempuan yang masih begitu kecil." Jino menaikan alisnya sebelah, ia tidak begitu paham dengan apa yang Justin katakan.


"Anak perempuan lain? Berapa umurnya?"


"Masih 10 tahun, dia baru saja belajar beberapa hal tapi tidak banyak. Orang tuanya memang punya tempramen yang tinggi, anak kecil 10 tahun saja pernah dia banting." Jino hanya meringis miris. Bagaimana bisa?


Travis tidak begitu mendengarkan, dia sibuk dengan dunianya sendiri membuat dua pria itu saling menatap satu sama lain. Sikap Travis memang berubah semenjak gadis itu hadir dalam kehidupannya. Bukan tanpa alasan, tapi memang benar-benar ada alasan.


"Dia merindukan seseorang, sampai seperti itu."


"Biarkan saja, lagi pula apa kau tidak merindukan pacarmu?" Jino tidak mengatakan apa pun, ia hanya diam sampai di mana dia membawa hasil ronsen dan kemudian dia pergi.


Justin yang berada di sana juga diam, apakah dia salah bicara sekarang? Memang pria jaman sekarang mudah sekali terbawa suasana. Ia melihat Travis masih sibuk dengan kegiatannya.


"Lebih baik kau bawa dia ke kamarnya, biarkan dia tidur di bangsal saja."


"Kau akan kembali?"

__ADS_1


"Yeah, aku harus mengurus kasus ini juga bukan? Lagi pula bukan sebuah masalah besar, sedikit merepotkan sebenarnya." Justin menggaruk lehernya yang sama sekali tidak terasa gatal.


Travis keluar dari ruangan tersebut bersamaan dengan Justin di belakangnya, pria itu benar-benar kembali ke kantor polisi untuk mengajukan surat sidang dan menahanan pelaku. Ia juga tidak bisa diam saja.


Justin berjalan keluar dari lorong rumah sakit, belum saja dia keluar dari sana dan akan pergi ke parkiran untuk mengambil mobilnya. Ponselnya berdering, lantas pria itu mengangkat panggilan itu yang ternyata itu adalah pengurus panti asuhan.


Pria itu mendengarkan semuanya, sampai di mana suara anak kecil meloloskan diri dari indra pendengarannya sekarang, Justin tersenyum ketika anak itu mencarinya. Dia masuk ke dalam mobil, meletakkan semua barang-barang yang dia anggap penting ke tempat yang aman.


Menyambungkan sambungan telpon ke bluetooth mobil. Agar ia tidak perlu terlalu repot memegang ponselnya karena dia juga harus berkendara, waktunya tidak banyak.


"Paman di mana?"


Justin menatap ke depan melihat keadaan jalanan karena dia akan keluar dari parkiran, dia membuang nafas panjang tapi sekaligus ia juga senang. Biasanya ia tidak pernah di cari sampai seperti ini.


"Paman? Paman sedang di luar, Vio mau apa?Paman belikan nanti ya."


Justin lagi-lagi di buat tertawa, entah apa yang lucu? Tapi ia merasa dunianya lebih ramai saja, anak itu yang dia temukan kemarin. Dia di masukan ke pantai asuhan karena tidak ada yang mengurusnya, orang tuanya juga di tahan di sel. Mana mungkin dia membawa anak kecil ke penjara, bisa-bisa anak itu ketakutan.


"Ya sebentar lagi ya, tunggu sebentar oke." Anak itu bersorak kegirangan dan kemudian sambungan pun di putus. Justin menggelengkan kepalanya, jujur saja dia gemas dengan anak kecil itu. Saking gemasnya ia memijat keningnya karena pusing.


"Kenapa anak itu menggemaskan sekali?"


•••


Pria itu berjalan melewati banyak orang, dia masuk ke sebuah ruangan dan ia menyerahkan amplop berukuran besar di atas meja tersebut, dia menatap ke arah pria di depannya.


"Apa ini?" Tanyanya seraya melepaskan kacamatanya, dia mengambil amplop itu dan melihat pria itu duduk di kursi di depannya.

__ADS_1


"Semua bukti gugatan tentu saja, lalu apa lagi?" Pria itu hanya mengangguk paham, memeriksa segala bukti itu dan menyusunnya di sebuah lap untuk di tata di raknya nanti. Pekerjaan bukan hanya satu saja, banyak sekali pekerjaan sampai-sampai mau pingsan.


"Bagaimana dengan anak yang kau temukan itu? Katanya ada dua bukan?"


"Yah, Travis yang mengurusnya. Sedangkan yang satunya aku titipkan di panti asuhan agar dia bisa di rawat di sana, lagi pula di sana dia banyak teman."


"Kau tidak mau seperti Travis?" Justin mendadak diam, memang Travis terlalu baik hati sampai mau mengurus anak orang.


Tapi Justin tahu semua itu ada alasannya, tapi apa alasan Justin merawat anak kecil? Lagi pula jam kerja Justin sangat padat. Bisa saja Justin meluangkan banyak waktu, tapi dia terlalu cepat bosan dengan situasi. Maka dari itu Justin memilih menjadi kepala kepolisian agar sibuk saja, tidak memikirkan banyak hal.


Justin hanya diam, sampai dia mengingat sesuatu dan dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya yang dia bawa. Melemparkan kantung darah itu kepada pria di depannya, dia menangkapnya dengan satu tangan dengan sigap.


"Apa ini?"


"Travis yang memberikan itu kepada mu, berusahalah dengan keras agar tidak membuat anak arogan itu kecewa berat kepada mu." Dia hanya tersenyum saja. Namanya adalah Damian, tertera di papan namanya di meja.


Justin memutar kursi, ia menunggu sebenarnya tapi entah Damian merasa atau tidak. Pria itu membuang nafas panjang, ia melihat apa yang Damian kerjakan.


"Apakah prosesnya akan selama itu?" Tanyanya, ia menjilat gigi taringnya sendiri seraya menatap ke arah Damian.


"Sepertinya begitu." Balasnya, dia menekan remot agar menutup korden ruangannya secara otomatis. Tidak akan ada yang tahu apa yang dia lakukan.


Damian membuka tutup kantung darah tersebut, meminumnya sampai tandas tanpa sisa. Bibirnya berwarna merah darah semakin terang, Justin hanya terkekeh pelan. Sepertinya Damian terlalu haus menahan segala nafsunya akan darah. Pria itu menjilat giginya sendiri, memastikan tidak ada bercak darah yang tertinggal di bibirnya.


"Ucapkan terimakasih ku kepada sahabatmu itu."


"Tentu saja."

__ADS_1


__ADS_2