
"Zellen jangan jauh-jauh!" Jarrel mengejar adiknya yang berlari menghindarinya, mereka bermain di dalam kawasan istana yang tentu saja akan banyak penjaga yang akan melihat mereka berdua.
Bermain seperti itu, meninggalkan anak pertama sibuk dengan dunianya sendiri. Dia hanya membiarkan kedua adiknya itu bermain di kawasan istana dengan pengawasan ketat, walaupun kerajaan tergolong besar dan juga kawasan yang meluas, tidak menuntut kemungkinan musuh akan datang kapan saja.
Tidak ada halangan apa pun sebenarnya, tidak ada yang di khawatirkan. Xander percaya dengan Jarrel yang akan menjaga gadis kecil itu.
Di usianya yang sudah menginjak 15 tahun Jarrel sudah menguasai banyak hal, dia memang di takdirkan sebagai pelindung kerajaan. Ketika tengah acara bermain itu, tiba-tiba saja gadis itu berhenti membuat Jarrel bisa menangkap adiknya itu. Tapi sepertinya tidak ada tanggapan, sampai di mana ia ikut melihat ke sebuah arah.
"Apa itu?" Jarrel menyuruh agar Zellen tetap di belakangnya dan dia berada di depan untuk melindungi.
Istana memang dekat dengan hutan yang kawasannya memang tergolong besar, ada banyak yang terjadi di sana. Lelaki itu menatap tajam ke arah satu titik, matanya yang tajam itu seketika berubah menjadi warna biru seperti air yang mengalir tenang. Penglihatannya memang tidak bisa di anggap remeh, objek sejauh itu bisa dia lihat dengan jelas.
Lebih tepatnya dua pasa mata merah itu mendadak menghilang setelah Jarrel lihat. Sepertinya dia sudah menyadari apa yang Jarrel lakukan, kemampuan Jarrel. Dia pun segera menoleh ke belakang, melihat adiknya yang memegangi pakaiannya.
"Apa itu tadi kakak? Aku takut..." Jarrel tersenyum menutupi apa yang terjadi tadi, dia segera menggendong adik kecilnya dan membawanya masuk ke dalam istana secepat mungkin.
Dia tidak akan meninggalkan Zellen selama beberapa saat, mungkin ke depannya akan baik-baik saja tapi benar-benar esok hari tidak ada kepastian apa pun. Jarrel membawa Zellen ke ruangan utama di mana tempat yang luas bersamaan dengan hiasan mewah di sana, karpet berwarna biru itu tergelar dengan rapi dan di sana ada kursi kerajaan dengan kursi yang lain.
Rait wajah Jarrel yang panik membuat panglima Alexander khawatir, dia lantas menghampiri pangeran kedua itu yang tengah menggendong sang putri di sana.
"Ada apa pangeran? Ada sebuah masalah yang membuatmu khawatir seperti ini?" Jarrel tidak bisa menjelaskan semuanya tapi dia ingin bicara.
"Di mana ayah handa?"
"Beliau tengah berada di perpustakaan, pangeran." Tanpa menjawab apa pun, Jarrel langsung berjalan cepat ke arah perpustakaan yang di maksud.
Dia tidak mau membuang banyak waktu, Zellen yang masih berada di gendongannya hanya diam melihat raut wajah kakaknya yang sepertinya tengah panik dengan keadaan. Apakah karena objek yang tadi? Ia tidak tahu, tapi yang pasti ia beberapa kali melihat Jarrel seperti ini walaupun tidak sering.
Jarrel berjalan dan sampai di mana penjaga membukakan pintu perpustakaan untuk dirinya, pemuda itu masuk dengan membawa adik perempuannya itu. Kedatangannya yang begitu mendadak membuat sang raja terkejut.
"Ayah..."
"Apa yang membuatmu kemari? Apa ada masalah lain?"
"Iya, dan ini masalah yang penting." Pria itu menatap ke arah anaknya itu, melihat jika putri kecilnya juga di bawa seperti itu.
__ADS_1
"Ada apa dengan adikmu?"
"Biarkan dia di sini, aku tidak mau meninggalkannya sendirian." Jarrel bersih keras tetap membawa Zellen, pemuda itu menatap dengan tatapan serius.
Ia yakin pasti ada sesuatu yang membuat putranya itu datang ke sana, dengan raut wajah yang tidak bisa di tebak begitu saja. Sang Raja memberikan kesempatan untuk putranya itu menjelaskan apa yang terjadi.
Kejadian yang membuatnya sampai seperti ini, bukan sebuah masalah yang kecil melainkan masalah yang akan panjang ke depannya. Objek yang dia lihat tadi, dia katakan kepada ayahnya itu dengan jujur dan menjelaskan semuanya yang dia rasakan.
Dari cerita yang Jarrel katakan membuat raja itu perlahan mulai berdiri, bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah putranya itu. Dia pasti mengkhawatirkan keadaan adiknya, jauh dari itu Jarrel tidak pernah memperdulikan dirinya sendiri.
"Ayah akan berusaha, Jarrel. Pengawal! Siapkan pasukan dan perketat keamanan mulai sekarang! Aku tidak ada yang melukai anak-anak ku."
•••
"Kakak mau tidur di sini?" Jarrel mengangguk dengan senyuman meyakinkan, jawaban yang dia katakan membuat gadis kecil itu berteriak senang bukan main.
Setelah sekian lama mereka berdua tidak tidur bersama seperti ini, terakhir kali saat Zellen sakit kemarin. Itu pun tidak sepenuhnya tidur sampai pagi, Jarrel kembali ke kamarnya sendiri ketika Zellen sudah tertidur lelap. Tapi entah sekarang apakah dia akan tidur bersama Zellen sampai pagi atau hanya sampai Zellen tidur? Ia tidak tahu.
Jarrel menyiapkan segalanya dan kemudian tidur di ranjang yang luas itu, dengan Zellen di sampingnya dan memeluk dirinya. Adiknya itu memang paling manja jika bersama Jarrel.
"Iya, kakak akan di sini sampai pagi menemani Zellen. Cepat tidur nanti bunda marah." Zellen langsung tertidur setelah Jarrel mengatakan semua itu.
Jarrel tidak tidur, dia hanya mengawasi seraya membuat Zellen tetap tertidur dengan nyenyak. Pemuda itu menatap ke arah jendela besar di sana, ia menutup matanya secara perlahan dan seolah di dalam pikirannya dia tengah memanggil sesuatu.
Pemuda itu mulai beranjak dari sana, ia sudah memastikan jika adiknya sudah tertidur pulas. Ia berdiri di depan jendela balkon, tanpa di duga sesuatu datang dan membungkuk hormat kepadanya.
"Ada apa gerangan anda memanggil saya, pangeran Jarrel." Jarrel menatapnya dengan tatapan serius, ia tidak pernah melihat yang seperti ini.
"Bisa kau bantu aku memasang segel di sekitar istana? Aku butuh bantuan mu."
"Bisa saja, tapi membutuhkan waktu yang lama jika seorang diri. Kita harus memiliki 4 orang lainnya, kurang 2 orang lagi. Saya akan memanggil teman-teman saya yang lain untuk membantu."
"Panggil satu lagi untuk menjaga adik ku."
"Tentu saja, pangeran." Dia menutup matanya itu, dan ketika dia mulai membuka matanya. Bola matanya yang seketika berubah menjadi warna hijau menyala itu.
__ADS_1
Dan belum ada beberapa detik-detik hampir 3 orang tiba-tiba datang sudah sampai di sana, dan mereka memberikan hormat kepada Jarrel. Jarrel mengangguk sekilas untuk menjawab, orang itu menjelaskan apa yang akan mereka lakukan nantinya.
Setelah semua penjelasan di katakan dan mereka mengangguk paham, salah satunya tetap berada di ruangan tersebut menjaga Zellen agar tetap aman. Sedangkan Jarrel keluar dari kamar, bukan lewat pintu melainkan melompat dari balkon.
Terjun melewati sana bersama yang lain dan seketika kakinya menginjak rerumputan, secepat kilat ke 4 orang itu berpencar ke berbagai arah dan membuat sebuah titik di mana satu inti gerbangnya nanti akan di tuju.
Jarrel berlari cukup kencang, jangan di tanya bagaimana bisa dia melakukan semua itu. Dia memang mempelajari ilmu sihir tanpa di ketahui oleh siapa pun, itu kemauannya sendiri. Ia tidak suka di remehkan dan di banding-bandingkan dengan siapa pun.
Matanya yang sudah berubah menjadi warna biru adalah bukti jika dia mengeluarkan banyak tenaganya dan di tukar menjadi kekuatan yang akan dia gunakan sekarang. Gerbang berwarna emas itu perlahan terbangun tinggi bahkan tepat di atas puncak bangunan tertinggi sekali pun.
Gerbang berwarna emas itu seketika menutupi seluruh kawasan istana yang meluas, Jarrel akan membuat banyak gerbang agar tidak ada yang bisa masuk atau orang-orang masuk dengan sembarangan. Ia pastikan semua akan aman terkendali, sampai di mana gerbang berwarna emas, lebih seperti segel itu yang awalnya terlihat sekarang mulai hilang. Bukan, lebih tepatnya menjadi tembus pandang.
Jarrel dan yang lain berhenti di satu titik, pekerjaan mereka sudah selesai sekarang. Mereka membungkuk hormat kepada Jarrel dan kemudian pergi.
Jarrel berjalan ke arah tempat di mana tadi dia mendarat, dia melompat cukup tinggi dan sampai di balkon kamar adiknya. Dia menutup jendelanya dan kemudian dia pun tidur di samping adik perempuannya itu dengan perasaan lega.
'Tidak akan ada yang bisa masuk tanpa seijin ku.'
Di sisi lain, seseorang sepertinya sudah melihat apa yang pangeran itu lakukan. Dia kemudian berlari masuk ke dalam hutan, bahkan secepat kilat dia sudah menghilang bagaikan di telan bumi.
Di sebuah tempat lain, seseorang menunggu sebuah kabar bagus. Tapi sepertinya firasatnya tidak memungkinkan akan semua apa yang dia inginkan akan terjadi. Sampai di mana seseorang datang, dia berlutut di depannya dan membuatnya mengalihkan pandangannya.
"Apa yang membuatmu kemari, wahai pengikut setia ku?"
"Maafkan hamba, paduka raja. Tapi saya hanya akan menyampaikan sebuah berita, saya melihat pangeran Jarrel memasang gerbang segel di seluruh sudut istana dengan kekuatannya."
"Apa maksudmu? Dia hanya manusia biasa tidak berguna, bagaimana bisa dia memasang gerbang segel emas itu?"
"Saya kurang tahu menau soal itu paduka raja." Seketika itu pria itu langsung membanting barang-barang yang berada di sekitarnya, dia meraung penuh kemarahan yang ada.
Bagaimana bisa manusia biasa bisa memasang gerbang segel emas? Yang bahkan vampire saja tidak bisa menguasai ilmu setinggi itu. Jika saja memang ada bantuan, tidak ada yang bisa karena energi yang di korbankan harus banyak dan bisa saja ada ritual menukaran nyawa di ubah menjadi kekuatan.
Tapi tidak mungkin jika anak itu melakukan hal senekat itu, umurnya masih kecil. Dia bahkan belum menginjak umur 20 tahun, bagaimana bisa? Ia sungguh tidak habis pikir sekarang.
"Aku tidak bisa meremehkan bocah itu, harus ada cara lain."
__ADS_1