OBSESSION 2 : BOYFRIEND A VAMPIRE

OBSESSION 2 : BOYFRIEND A VAMPIRE
Chapter : 21


__ADS_3

Percaya atau tidak terkadang kejadian yang tidak pernah di duga akan terjadi, walaupun di kemajuan teknologi seperti sekarang dapat melakukan apa saja. Tapi tidak akan menutup kemungkinan teknologi bisa mengalahkan kepercayaan seseorang, bahkan dari seorang anak kecil sekali pun.


Bagaimana bisa? Tentu saja semua itu bisa saja terjadi, kepercayaan seseorang tidak akan bisa dipecahkan begitu saja tanpa alasan yang jelas. Di mana seseorang meyakini jika dunia fantasi sebenarnya memang ada hanya saja memang tidak ada yang tahu di mana letaknya.


Hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk dunia mereka, itu sudah pasti. Jika saja keluar dari dunia mereka bukanlah hal yang mudah seperti saat kau masuk ke dalam dunia fantasi itu. Di mana banyak mahkluk yang tidak dapat di duga, atau bahkan tidak di duga kehadirannya di dunia ini.


Seseorang tengah sibuk membaca buku di perpustakaan, mencari sesuatu yang mungkin menurut orang-orang akan sangat aneh jika di cari tahu. Tapi ia percaya dunia fantasi itu ada.


"Kau sedang mencari apa?" Gadis itu menoleh ke arah di mana seorang pria berada, dia berdiri di sana menatapnya.


"Mencari buku tentang Elf, apakah di sini ada?" Pertanyaan yang tertuju kepadanya, ia tidak pernah tahu jika banyak orang yang masih tertarik akan cerita fantasi seperti ini.


Pria itu bahkan melihat semua orang nampak memperhatikan gadis itu, mungkin mereka hanya merasa aneh saja. Di mana gadis itu sudah cukup lama mencari buku-buku yang berbau fantasi, bahkan dia juga menulis hal yang aneh tentang dunia yang tidak ada itu.


Pria itu bernama Sean, dia penjaga perpustakaan di sana. Dia juga bertugas membantu para pengunjung untuk mencari buku yang di inginkan, dan menjaga keadaan sekitar agar tetap dalam keadaan tenang agar orang-orang yang tengah fokus bekerja tidak akan terganggu.


"Elf? Aku pikir orang-orang sudah melupakan semua itu, ada satu buku jika kau mau."


"Boleh, tidak apa-apa jika aku pinjam sebentar?" Sean tersenyum akan pertanyaan yang gadis itu layangkan kepadanya.


"Tentu saja, ayo ikut aku." Sean menunjukan satu arah di mana rak yang memang jarang di kunjungi karena di sana hanyalah buku tua saja.


Tidak ada yang berminat membaca buku lama, orang-orang lebih suka buku baru atau baru saja rilis dari penerbit. Sean mencari di beberapa barisan buku di sana, walaupun tidak berdebu tapi tetap saja rak itu jarang di kunjungi orang-orang.


Gadis itu hanya melihat dan menunggu Sean mencarikannya buku yang dirinya cari, pria itu nampak serius mencari buku itu. Sampai di mana sepertinya dia sudah menemukan buku yang dia maksud tadi, mengambil satu buku tebal di atas sana. Dan memberikannya kepada gadis itu.

__ADS_1


"Ini, bukunya sudah lama jadi jangan heran banyak kata-kata yang asing itu."


"Aku mengerti, terimakasih penjaga." Sean hanya mengangguk dan tersenyum dengan ramah kepadanya.


Sean hanya berpikir jika tidak ada orang yang percaya akan dunia fantasi lagi, tapi kenyataannya tidak. Bahkan masih ada yang masih mau mencari tahu akan semua itu, mencari kebenarannya sendiri sebelum semuanya usaha dan hasil membuat orang kecewa.


'Apakah dia paham dengan buku itu? Tulisan yang sudah lama di lupakan bahkan bahasa yang berbeda. Cukup pintar jika dia bisa membaca buku fantasi itu.'


...•••...


"Perpustakaan sudah mulai sepi, apa kau yakin akan berjaga di sini sampai malam?" Sean menoleh ke arah temannya dan kemudian tersenyum.


"Nanti juga aku akan pulang, jika kau mau duluan silahkan."


"Baiklah kalau begitu, aku duluan ya? Jaga dirimu." Sean melambaikan tangannya dan kemudian dia melanjutkannya acara membacanya.


Yakin saja jam 10 malam, mana mungkin ada orang lain di tambah perpustakaan memang sudah tutup sejak jam 9 malam tadi. Tidak ada orang, semua itu mustahil saja jika terjadi karena Sean dan juga beberapa penjaga lain sudah memeriksa keadaan di bagian perpustakaan yang lain tapi memang tidak ada pengunjung.


Sean memilih mengabaikan perasaan yang aneh itu dan melanjutkan acara membacanya lagi, walaupun ia tidak fokus karena tidak tahu apa penyebab perasaannya yang sama sekali tidak nyaman.


Tapi lagi, ia merasakan ada sesuatu. Sean yang merasa sudah ada yang tidak beres kemudian beranjak dari tempat duduknya dan kemudian menghampiri ke arah di mana dia curiga ada yang terjadi. Kemungkinan saja masih ada orang lain, apakah itu benar? Tapi Sean juga tidak yakin akan semua itu. Ia yakin sudah memeriksa semua tempat tadi dan tidak menemukan apa pun, itu sungguhan.


Sean pergi ke satu rak paling ujung, jarang ada orang di sana bahkan pengunjung juga enggan ke sana. Sampai di mana ia memeriksa, tidak ada siapa pun di sana. Lalu tadi itu apa? Sean pun memilih kembali ke tempat awal. Namun, tiba-tiba saja ia mendengar suara buku terjatuh membuatnya menoleh.


"Apa itu?" Sean menoleh dengan penuh perasaan terkejut, melihat satu buku itu terjatuh di atas lantai.

__ADS_1


"Buku ini? Buku fantasi yang tadi." Sean mengambil buku itu dari sana, melihat keadaan buku itu yang masih baik-baik saja. Untung saja tidak ada yang rusak satu pun, atau bahkan licet.


Tentang buku itu tadi, gadis itu awalnya mau meminjam buku itu tapi karena buku itu tidak ada kartu pinjaman jadi buku itu tidak bisa di bawa pulang. Sean terkadang merasa bersalah akan itu, gadis itu pasti suka dengan buku ini.


Tapi ada yang aneh dengan buku itu. Melihat cover buku itu yang terkesan sudah aneh, Sean meletakkan buku itu ke tempat awal. Tapi secara tiba-tiba, kunci buku itu terbuka membuatnya terkejut untuk sekian kalinya.


"Apa-apaan ini? Kenapa mendadak menjadi aneh seperti ini?" Sean pun mengambil buku itu lagi dan lagi, dia bisa melihat dengan mata kepala sendiri jika buku itu terbuka sendiri.


Secara reflek Sean menjatuhkan buku itu jatuh ke atas lantai, Sean melangkah menghindari buku itu. Ia yakin pasti ada yang tidak beres di sekitar sana, tapi sela 2 tahun ia bekerja sebagai penjaga perpustakaan tidak ada yang aneh seperti ini. Anggap saja ini adalah pengalaman pertama kali baginya.


"Aku pikir semua ini pasti hanyalah sebuah mimpi saja." Sean segera mengambil buku itu lagi, menutup buku itu dan meletakkannya lagi ke asalnya yang awal.


Kemudian dia pun segera beranjak dari sana meninggalkan tempat yang tadi, membereskan barang-barangnya secepat mungkin dan dia pun segera pergi dari perpustakaan karena sudah merasa tidak nyaman sama sekali.


Sean berjalan menuju ke rumahnya, dengan langkah cepat. Ia membayangkan yang buruk, di kepalanya hanya ada kejadian buruk yang membuatnya berhenti melangkah. Memegang kepalanya yang terasa pening setengah mati, ia harus apa sekarang?


Mendadak bayangan aneh yang muncul di kepalanya, di mana ia melihat wajah seseorang yang berlumuran dengan darah dan seseorang yang di bakar dalam keadaan tidak bernyawa. Tiba-tiba saja darah mengalir melalui hidungnya, itu membuat beberapa orang yang melihat keadaannya sekarang ikut berhenti dan menghampiri Sean.


"Hey nak? Kamu tidak apa-apa? Hidungmu berdarah banyak sekali." Sean mendongak, wajahnya mendadak terlihat pucat. Membuat beberapa orang memperhatikannya ikut merasa khawatir akan keadaannya.


"Aku baik-baik saja, mungkin hanya terlalu lelah."


"Begitu kah? Lebih baik kamu pergi ke rumah sakit saja, periksaan keadaanmu sekarang."


"Tidak perlu, terimakasih nyonya." Sean mencoba tetap bertahan, dia bahkan masih sempat tersenyum dan bersikap ramah.

__ADS_1


Ia menjadi merasa aneh karena orang-orang mengkhawatirkan akan keadaannya sekarang, tapi ketika ia melihat dirinya sendiri di bayangan kaca itu membuatnya merasa, sepertinya memang benar apa orang-orang. Ia tidak dalam keadaan yang baik.


"Sepertinya besok aku harus ke dokter."


__ADS_2