
Di tengah kota sekarang, karena memang hari ini adalah jam di mana semua orang benar-benar sibuk dengan urusan masing-masing. Sehingga tidak ada waktu untuk memikirkan hal yang sama sekali tidaklah penting untuk dipikirkan.
Tertera nama di papan nama tersebut, dia hanyalah seorang desain mobil yang memang terkenal di kalangan perusahaan otomotif di sana. Jangan bertanya bagaimana dia bisa melakukan semua itu? Impiannya memang ingin membuat mobil yang berbeda dari yang lain.
Perusahaan juga membayarnya dengan bayaran yang mahal akan semua ide cemerlangnya itu. Pria itu populer di perusahaan itu meskipun dia tidak terlalu mencolok di antara yang lain.
"Aku harap kau tidak melupakan waktu yang sibuk ini." Dia mendongak tapi tidak menjawab perkataan temannya itu. Dia tengah sibuk dengan acara berimajinasinya sekarang.
"Tidak, ada apa kau kemari?"
"Hanya mau melihat, ide bagus apa yang sudah kau ciptakan. Aku yakin karyamu ini akan kembali menjadi sorotan publik, ingat bulan lalu? Kau terkenal kawan." Pria itu hanya mendengarkan dengan ekspresi yang datar seolah memang tidak minat dengan semua itu.
"Itu tidak penting, bukan urusanku."
"Jangan terlalu acuh seperti itu. Nanti kau tidak bisa mendapatkan pasangan hidup jika kau terus seperti ini."
"Aku tidak butuh pasangan hidup, tanpa pasangan aku masih bisa hidup."
"Benar juga, tapi itu bukan yang aku maksud. Jarrel Calvianbert." Lagi-lagi dia mengabaikan temannya itu, terlalu banyak di acuhkan seharusnya tidak sedekat ini. Tapi kenyataannya semakin di acuhkan semakin dekat saja.
Bukan karena mereka adalah homosexual, mereka berdua memang berteman sejak menduduki bangku kuliah di semester pertama. Kebetulan mereka satu jurusan yang sama membuat mereka dekat, bukan mereka berdua. Melainkan memang hanya Vion yang mendekat kepada Jarrel.
Melihat pria itu hanya sendirian dan menyendiri, membuatnya bertanya-tanya. Dia sebetah itu sendirian seperti itu? Vion saja tidak sanggup jika harus berdiam diri di dalam kamar seorang diri seperti ini, tapi lihatlah Jarrel mampu. Dia manusia atau apa?
"Baiklah aku akan pergi, have fun!" Pintu tertutup di saat dia sudah mulai pergi. Sedangkan Jarrel yang masih berada di sana hanya menatap tanpa minat, dan pada dasarnya memang tidak perduli dengan sekitarnya ia lebih memilih melanjutkan kegiatannya yang sebelumnya.
...•••...
__ADS_1
"Saya pulang, Hazel?" Travis baru saja pulang dari rumah sakit, kebetulan memang banyak sekali tugas yang harus dia kerjakan di tambah ia memegang perusahaan besar sendirian membuat tugasnya semakin banyak.
Pulangnya memang lumayan telat, tidak seperti apa yang dia katakan tadi pagi jika dia akan pulang cepat. Tapi tepat pukul 2 malam dia baru pulang ke rumah, ia lumayan panik saat masuk ke dalam rumahnya sendiri karena terlalu sunyi.
"Hazel?" Travis berjalan cepat ke arah anak tangga, dia berusaha agar tidak panik tapi tetap saja dia masih saja panik.
Sampai tepat di mana Travis membuka pintu kamar Hazel, ternyata gadis itu berada di sana. Dia main sendirian di atas lantai, padahal sudah jam 2 malam dini hari tapi dia tidak tidur. Travis menatap punggung gadis itu, sampai di mana Hazel sadar jika ada orang lain yang membuatnya menoleh ke arah belakang.
Mendapati Travis berdiri di amban pintu membuatnya langsung berdiri dan berlari ke arah Travis, memeluk pria itu yang di mana dia hanya setinggi dada pria itu saja.
Travis yang mendapatkan pelukan mendadak itu awalnya hanya diam saja, tapi ia segera membalas pelukan tersebut dan menggendong gadis itu. Dia menatap ke arah pintu balkon yang memang terbuat dari kaca, ia mendapati bayangan yang tidak asing.
Tepat di telinganya ia mendengar suara seseorang, Travis tahu siapa itu jadi dia hanya diam saja dan memeluk Hazel. Tidak membiarkan Hazel menoleh ke belakang sebelum bayangan itu hilang bagaikan di tiup angin.
"Lama sekali, Hazel menunggu sejak pagi."
Benar apa katanya, sudah jam 2 malam tapi Hazel tidak segera tidur dan malah bermain. Bayangkan saja jika saja Travis tidak pulang dan pulang pagi hari besok, mungkin Hazel tidak akan tidur sampai pagi esok hari juga.
Gadis itu memang betah membuka matanya dan jangka tidurnya yang lumayan cepat, tidak terlalu normal untuk anak seusianya yang memiliki jam tidur yang sedikit dan lebih banyak jam di mana dia melakukan aktivitasnya sendiri.
"Maaf, aku tidak tahu ini jam berapa..." Travis paham, mungkin memang Hazel masih tidak paham dengan jam. Tapi seharusnya dia tahu mana malam dan mana siang.
"Lihat di luar sana? Terang atau gelap?"
"Gelap..."
"Berarti sudah malam, ayo tidur cepat karena besok kamu harus sekolah juga." Hazel hanya diam saja ketika Travis membawanya berbaring di atas ranjang itu.
__ADS_1
...•••...
Jarrel tengah berada di dalam kendaraannya sekarang, ia akan pulang ke rumah. Pekerjaannya memang belum sepenuhnya selesai, tapi ia hanya mau istirahat sejenak sebelum melanjutkan semua itu sampai selesai secara tuntas.
Menatap ke depan dengan tatapan datarnya, ia bahkan jarang tersenyum. Karyawan bahkan lebih takut kepadanya ketimbang dengan petinggi yang lain yang jauh lebih berkuasa tentunya, tapi mereka justru takut dengan Jarrel.
Mungkin karena aura yang Jarrel keluarkan terkadang memang seperti mengintimidasi setiap orang yang berhadapannya secara langsung.
Tapi sebenarnya semua itu hanyalah cover semata, sebenarnya Jarrel tidak seperti itu. Ia hanya merasa kesepian, selama bertahun-tahun ia hanya tinggal seorang diri di sebuah rumah mewah. Tanpa orang tua, dia hanyalah seorang anak yang hidup sebatang kara.
Karena kesendiriannya itu dulu ia sempat menjadi korban perundungan di sekolahnya, tapi sekarang sudah tidak lagi. Karena kekuasaan yang besar itu sudah berada di dalam genggamannya, memiliki niat menjatuhkan orang-orang yang dulu pernah membuatnya menderita secara perlahan. Bukan ide yang buruk, lagi pula Jarrel tidak akan punya waktu untuk melakukan semua itu.
Tepat di depan sana ia melihat ke arah langit, di mana sekarang banyak sekali bintang di tengah malam seperti ini. Jarrel sangat suka dengan langit malam, karena menurutnya jauh lebih menenangkan. Mobilnya berhenti di satu tempat, lebih tepatnya di sisi jembatan jalanan yang besar itu. Ia turun dari kendaraannya, melihat ke arah lautan yang luas itu.
Jarrel takut dengan lautan entah kenapa, tapi dia juga penasaran dengan lautan itu. Tapi di sisi lain perasaan takutnya itu lebih menguasai. Tepat ia tengah memikirkan banyak hal, secara tiba-tiba satu kunang-kunang membuatnya mengalihkan pandangannya.
Ia melihat serangga bersinar itu tepat di depannya, Jarrel tersenyum dan mencoba menyentuh kunang-kunang itu. Serangga itu ber singgah di jemari Jarrel, itu membuatnya teramat senang.
"Hey, apakah kamu sendirian di sini? Tempat mu bukan di sini, seharusnya kamu berada di hutan. Apakah kau tersesat di sini?"
Jarrel mengajak serangga itu bicara seolah akan ada jawabannya, walaupun ia tahu sendiri apa yang dirinya lakukan adalah sebuah kegilaan. Tapi ketika ia sibuk melihat berapa indahnya makhluk terbang yang bersinggah di jemarinya itu, secara tiba-tiba sebuah suara membuatnya semakin terdiam.
Tidak banyak kendaraan yang lewat karena memang sudah terlalu malam untuk seseorang pergi jalan-jalan. Tidak mungkin ada orang lain, karena jauh mata memandang hanyalah ada laut, langit dan jalanan saja. Jarrel mencoba tetap diam, mungkin saja salah pendengarannya saja. Tapi sepertinya ia salah akan pendapatnya sendiri karena suara itu benar-benar bisa ia dengar secara jelas.
"Pangeran Jarrel."
"Jangan gila malam-malam seperti ini, mana ada orang lain di jam segini?" Jarrel memutuskan untuk segera pulang, bukannya dia takut akan suara misterius tadi. Ia berpikir suara itu hanyalah halusinasinya saja karena terlalu lelah bekerja selama seharian.
__ADS_1