
Pria itu datang dengan menggunakan pakaian casuals, tentu saja agar lebih terlihat santai saja dan lagi pula ia tidak mengajar di sekolahan. Adiknya memintanya untuk mengajarkan sesuatu kepada seseorang, ia sudah tahu semuanya tentu saja dia tahu tanpa harus Travis beri tahu.
Dia masuk ke dalam rumah tersebut, dan di sambut maid sekaligus bodyguard di sana. Entah kenapa ia merasa jika Travis terlalu berlebihan, tapi ya sudah lah.
"Selamat datang tuan, nona sudah menunggu di perpustakaan."
"Ah, baiklah. Terimakasih atas informasinya." Maid itu langsung pergi ketika pria itu mulai beranjak dan pergi ke perpustakaan yang maid tadi katakan.
Dia tahu semua ruangan yang berada di rumah itu, walaupun ia tidak terlalu sering datang karena dia tahu adiknya itu terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Tapi sepertinya setelah ini, dia akan banyak meluangkan waktu untuk gadis itu.
Tentu saja, dia terlalu lama menunggu gadis itu hadir di dalam kehidupannya selama ini. Bagaimana dia bisa menyia-nyiakannya begitu saja dengan mudah? Tentu saja tidak seperti itu.
Dia membuka pintu perpustakaannya, melihat seseorang tengah menunggunya di sana. Entah apa yang dia lakukan di sana? Tapi ia berusaha tetap profesional sekarang, ia melangkah menghampiri gadis itu yang sibuk dengan dunianya sendiri karena terlalu lama menunggu mungkin.
"Hey, apakah kamu terlalu lama menungguku?" Mungkin kedatangannya yang tiba-tiba membuat gadis itu terkejut, bahkan dia sampai bersembunyi di balik kursi.
Ia sedikit merasa kebingungan dengan tingkah gadis itu sekarang, tapi ia tidak boleh terlalu gegabah karena itu juga akan membuat Hazel semakin ketakutan. Pria itu membuang nafas panjang, sepertinya ia harus memakan waktu banyak untuk beradaptasi dengan Hazel. Gadis itu memang sulit di dekati.
"Jangan takut, aku tidak akan menyakiti mu sama sekali. Aku kakaknya Travis, David. Aku akan mengajarkan mu banyak hal sekarang, agar kamu tahu cara menghadapi dunia luar seperti ini. Jadi, bagaimana?" Hazel sepertinya masih mencerna perkataan David sekarang. Tapi gadis itu segera keluar dari tempat persembunyiannya.
"Jadi kamu guru?"
"Iya, aku seorang guru. Mari kita mulai perkenalan dulu, jangan terlalu terburu-buru, santai saja." Hazel mulai berdiri di depan David tapi masih menggunakan jarak di antara mereka berdua.
David tidak masalah dengan semua itu, entah kenapa ia mendadak memikirkan sesuatu sekarang. Memang ia berpikir jika gadis di depannya sekarang bukanlah sosok yang asing di pandangannya, dia pernah melihatnya tapi dalam bentuk kepribadian yang berbeda.
'Aku tidak menduga akan semirip ini.'
__ADS_1
"Jadi kamu mau bertanya tentang sesuatu? Aku dengan senang hati akan menjawab pertanyaan mu." Ucapnya, ia mencoba membuat Hazel nyaman dengannya terlebih dahulu karena dari itu semua ia bisa membuat Hazel bisa berkomunikasi sekaligus dia bisa belajar lebih tekun. Lebih tepatnya tidak canggung dengan guru sendiri, itu akan menghambat kefokusannya selama belajar.
"Bolehkah?"
"Tentu saja boleh, kamu mau bertanya tentang apa?"
Hazel seolah tengah berpikir, atau mungkin mengingat sesuatu. Sebenarnya Hazel ingin bertanya kepada Travis tapi pria itu nampak sibuk dan terburu-buru tadi, Hazel tidak bisa bertanya apa pun saat itu.
"Kata Travis, aku bermimpi buruk. Apa itu?"
"Mimpi buruk? Coba ceritakan apa yang kamu lihat saat kamu tertidur." David juga kurang bisa menjelaskan semua itu, tapi ia mencoba untuk berpikir keras. Ia juga penasaran jujur saja.
Karena yang David ketahui, di mana mimpi adalah menyangkut kehidupan yang sebelumnya atau lebih tepatnya mengulang lewat mimpi dengan kejadian yang sama persis. Mungkin dari diri sendiri tidak akan mengingat apa pun, tapi jiwa mengingat semuanya.
Ketika ia memperhatikan Hazel menceritakan apa yang dia lihat ketika tertidur semalam, dugaannya benar adanya. Hazel melihat semuanya, di mana dia hidup dengan tubuh yang sama tapi dengan kemampuan berbeda. Tentu saja gadis itu akan merasa kebingungan dengan semua itu.
David tidak mau terburu-buru, ia mencoba tetap diam dan mendengarkan semua cerita yang Hazel katakan kepadanya. Apakah ia harus menjawab pertanyaan Hazel sebelumnya? Dengan jawaban yang apa adanya?
"Itu hanyalah bunga tidur, alam bawah sadar. Itu bawaan, tidak ada sangkut pautnya dengan apa pun. Jangan terlalu di pikirkan." Hazel mengangguk patuh, tapi walaupun begitu ia terus memikirkan mimpi semalam itu terus menerus.
Sedangkan David sendiri, dia berusaha membuat Hazel melupakan semua mimpinya itu. Setidaknya ia sudah berusaha melakukan semua itu, tidak akan bertahan lama memang karena David juga tidak bisa memastikan apakah mimpi itu akan datang lagi atau tidak.
Selama hampir 3 jam lamanya mereka berbicara banyak hal, lebih tepatnya David yang membuka topik dan juga menjawab semua pertanyaan yang Hazel tanyakan kepadanya.
Pertanyaan random, apa yang Hazel tidak tahu maka akan dia jawab semuanya tanpa terkecuali. Sampai di mana waktunya David harus pergi karena dia ada urusan setelah itu.
"Sepertinya aku harus pergi sekarang, kamu bisa menggambar dulu."
__ADS_1
"Apakah besok akan di nilai?" David tersenyum, dia mengangguk dan mengusap kepala Hazel dengan pelan.
"Jika gambar mu bagus, akan aku berikan hadiah."
"Horee!" David lagi-lagi di buat tersenyum oleh kelakuan Hazel, pria itu keluar dari perpustakaan dan pas sekali ketika Travis sudah pulang dari rumah sakit.
Pria itu melepaskan jasnya dan memberikan jasnya kepada para maid, dia menoleh ke arah kakaknya. David menuruni anak tangga, menghampiri Travis yang menunggunya di bawah sana. Travis melepaskan kaos tangannya, dan melirik ke arah pintu perpustakaan yang masih terbuka.
"Bagaimana? Apakah mengajarinya terlalu sulit?"
"Dia banyak bertanya, kau baru pulang dari rumah sakit?" Travis mengangguk, walaupun jujur saja dia lelah karena terus menggunakan kemampuannya selama bekerja.
Menjalani operasi darurat tadi pagi, tentu saja itu melelahkan untuknya dan untung saja bisa di selesaikan dengan cepat olehnya. Walaupun ia harus berurusan dengan pasien yang lain.
"Dia mengingat kejadian masa lalunya, tapi beruntung lewat mimpi." Ucapan David membuat Travis menoleh ke arah pria itu, penuh dengan tatapan pertanyaan.
"Apa maksudmu? Dia mengingat sesuatu?"
"Aku tidak bisa memastikan semua itu, jika dia mengingat tentang kehidupannya dulu. Itu cukup beresiko." Travis hanya menunduk, berpikir keras untuk mengatasi apa yang belum terjadi.
David juga hanya mengingatkan, bagaimana pun ia tidak mau sesuatu terjadi kepada saudaranya. Selebihnya ia tidak bisa melakukan apa pun, jujur saja walaupun dirinya bukanlah manusia biasa tapi kemampuan gadis itu sudah di luar kendalinya.
"Aku hanya mengingatkan, jangan terlalu di pikirkan. Cepat temui dia, sepertinya dia sudah menunggu mu sejak tadi. Aku akan pergi sekarang." Setelah melihat David yang pergi dari rumahnya, Travis berjalan ke arah perpustakaan itu dan dia melihat keberadaan Hazel yang menggambar di sana.
Bukannya apa, Travis hanya tidak mau kejadian yang lalu terulang lagi. Jujur saja, ratusan tahun ia harus menunggunya hadir di dunia ini dan baru kali ini ia menemukannya dalam keadaan berbeda. Mungkin ingatannya juga tidak akan langsung muncul secara bersamaan, tapi tetap saja.
'Aku tidak mau kehilangan mu lagi.'
__ADS_1
Gadis itu menoleh ke arah belakang karena dia merasa memang ada orang lain di sana. Benar saja, dia melihat Travis berdiri di sana dan menatap dengan tatapan kosong ke arah depan. Entah apa yang pria itu pikirkan sekarang? Tapi Hazel mencoba memanggil pria itu.
"Travis..."