
Sebenarnya tidak ada yang menarik di rumah itu, hanya sebuah rumah yang memiliki ukuran yang tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil juga. Travis membawa gadis itu ke rumahnya, karena masa pemulihan di luka fisiknya juga sudah mulai sembuh. Hanya beberapa saja, sisanya mungkin pria itu bisa mengurus semua itu.
Gadis itu hanya berjalan mengikuti Travis dari belakang, dengan tangan mungilnya yang terus memegangi jas yang Travis kenakan sekarang. Tidak ada yang dipermasalahkan tentang itu, masuk ke dalam rumah pria itu di sambut hampir 5 maid di dalam sana. Itu membuat gadis itu langsung bersembunyi di belakang Travis, tangannya gemetaran.
Travis menoleh ke arah belakang, melihat gadis itu ketakutan seperti itu membuatnya merasa bersalah. Tapi mau bagaimana lagi, ini adalah keputusannya dan ia juga harus melatih mental gadis itu untuk bersosialisasi dengan banyak orang. Walaupun ia harus mengawasi banyak hal nantinya jika gadis itu sudah mulai aktif nanti.
"Tidak perlu takut, mereka akan membantu mu nanti jika aku tidak ada. Ayo berkenalan dulu." Ucap Travis dengan senyumannya yang memang benar-benar tidak ia tunjukkan sebelumnya. Walaupun dia seorang dokter, sikap dinginnya akan tetap ada jika tidak berkepentingan.
Itu membuat semua para maid terlalu heran dengan sikap Travis yang sekarang, memangnya siapa gadis yang pria itu bawa ke rumah sampai dia bahkan bisa merubah sikap Travis sampai seperti itu? Mereka sungguh bertanya-tanya akan semua itu.
Gadis berwajah bulat itu, dengan mata yang besar seperti boneka dan juga rambut panjangnya yang nampak halus itu. Dia cantik sekaligus manis secara bersamaan, pantas saja Travis sampai bersikap seperti itu.
"Hazel?" Gadis itu mendongak menatap ke arah Travis yang memanggil namanya, nama yang Travis berikan dua hari lalu.
Karena memang Hazel sebelumnya tidak bisa berbicara apa pun bahkan namanya sendiri saja tidak tahu, dia hanya menyebutkan kata-kata kasar. Mungkin itu adalah semua kata yang sering Hazel dengar selama di kurung di ruang kumuh tersebut. Gadis manis itu melangkah maju, tapi tangannya tidak melepaskan pegangannya. Travis hanya tersenyum, ia melihat bagaimana Hazel berusaha berkomunikasi walaupun dia masih takut.
"Hai, aku Hazel..." Ucapnya dengan nada rendah, ia takut dengan situasi sekarang. Bahkan tangannya sudah keringat dingin hanya karena berkenalan dengan orang-orang yang tidak pernah dia temui.
Travis hanya mengangguk, ia bangga bagaimana cara Hazel sudah mulai bisa berbicara meskipun hanya beberapa kata saja yang Travis katakan. Travis juga memberikan sebuah pelajaran kepada Hazel, membaca, menulis, dan banyak hal yang harus Hazel tahu. Di mana anak-anak seusia Hazel seharusnya sudah menguasai semua itu di luar kepala, tapi kondisi berbeda sekarang.
"Namanya Hazel, mulai sekarang kalian harus menghormatinya juga. Dia juga akan menjadi nyonya di sini, jadi jangan macam-macam kepadanya atau aku sendiri yang akan mengeksekusi kalian."
Mereka menundukkan kepala, menandakan mereka patuh dengan apa yang Travis katakan tadi. Pria itu hanya menunduk melihat Hazel kembali berada di belakangnya, kenapa tingkahnya lucu sekali?
__ADS_1
Travis berusaha membungkuk menyamakan tinggi badannya dengan gadis mungil itu yang memang hanya sedadanya, ia menatap mata bulat itu seperti boba. Bagaimana bisa ada mahkluk selucu ini?
"Kamu harus tetap di sini, mengerti?" Hazel hanya mengangguk, walaupun ia tidak terlalu paham tapi apa yang Travis katakan adalah mutlak.
Pria itu tersenyum dan mengusap kepala gadis itu dengan lembut, dia mengajak Hazel menaiki anak tangga untuk pergi menuju kamar yang akan Hazel tempati nantinya. Tentu saja sebuah kamar yang layak untuk di tempati, Travis membuka pintu kamar tersebut dan dia menarik Hazel masuk ke dalam.
Reaksi yang Hazel tunjukkan tidak bisa di tebak, dia hanya diam saja dan menatap ke segala arah dengan tatapan bingungnya. Travis menunduk, melihat reaksi dan ekspresi wajah Hazel yang terlalu menggemaskan.
"Ini kamar Hazel sekarang, bagaimana?" Hazel mulai melepaskan pegangannya dari Travis, gadis itu melangkah maju meskipun ragu.
Dia memegang banyak hal yang berada di dalam kamar barunya itu, dari semua buku-buku, rak, meja, kursi, bahkan sampai cermin di mana ia bisa melihat dirinya sendiri. Anak itu masih dalam keadaan linglung, dia terus menggerakkan kepalanya sendiri ke kiri dan ke kanan. Dia berpikir, bagaimana bisa di kaca itu mengikutinya? Gadis itu mencoba memegang cermin itu dan seketika gadis itu berlari ke arah Travis.
Tentu saja membuat Travis terkejut, bagaimana tidak? Ia baru melihat seseorang takut dengan bayangannya sendiri, padahal tidak ada yang menakutkan di sana.
Travis meraih Hazel, menggendong gadis kecil itu dan mengusap rambut yang panjang tersebut. Hampir sepinggang lebih. Bayangkan saja berapa panjangnya rambut halus itu.
"Takut..."
"Takut? Tidak ada yang menakutkan di sini, baby." Travis berjalan ke arah cermin tadi, dia membalikkan badannya agar Hazel bisa melihat dirinya sendiri.
"Buka matamu sekarang, tidak ada yang menakutkan. Bayangan itu, adalah dirimu bukan hantu atau semacamnya." Ucap Travis dengan nada pelan, dia tidak membuat Hazel semakin ketakutan.
Gadis itu mulai mendongak, mengintip di bahu Travis dan menatap bayangan yang benar-benar mirip dengan dirinya itu. Jujur saja gadis itu tidak pernah melihat bayangannya sendiri di cermin, hampir 16 tahun ini. Tidak pernah sama sekali, jangankan berkaca. Berdandan saja dia tidak pernah.
__ADS_1
"Bagaimana? Sudah tidak takut lagi?" Hazel mengangguk pelan, Travis hanya tersenyum dan berjalan ke arah ranjang yang sudah dia siapkan untuk gadis kecilnya itu.
Dia membuat Hazel duduk di atas ranjang, dengan Travis yang mengungkung gadis itu di sana. Posisinya sekarang di mana Hazel duduk di atas ranjang dengan Travis yang membungkuk dan kedua tangannya berada di sisi badan Hazel. Tatapan mereka bertemu sela beberapa saat, sampai di mana Travis mengusap rambut Hazel membuat gadis itu menutup matanya.
"Jangan takut, aku akan melindungimu."
'Melindungimu dari pada bajingan itu.'
Hazel tidak menjawab dan hanya menatap ke arah Travis saja, pria itu kembali berdiri tegak. Ia tidak mau sampai melukai gadis itu, mungkin karena memang aroma gadis itu menusuk hidungnya membuatnya tidak bisa menahan perasaan hausnya itu.
"Aku keluar dulu, jangan ke mana-mana sebelum aku memanggilmu sendiri." Hazel hanya mengangguk, melihat Travis pergi dari kamar tersebut begitu saja.
Di luar kamar, Travis benar-benar berusaha mengendalikan dirinya. Pria itu berlari ke arah lorong, ia menutupi hidungnya sendiri berusaha tidak mencium aroma manis sekaligus segar itu. Ia tidak mau sampai lepas kendali, masuk ke dalam kamarnya dan membuka kulkas di dalam kamarnya. Bukan berupa makanan atau minuman di dalam sana.
Melainkan cairan merah kental di dalam sana, pria itu mengambil salah satu kantung daerah itu dan kemudian meminumnya dengan rakus. Menutup matanya sendiri, bahkan taring mulai terlihat menancap ke kantung darah itu.
Sampai darah itu kandas olehnya sendiri, pria membuang nafas panjang dan terduduk di atas lantai. Warna matanya berubah sebelumnya, ia tidak mau sampai ada yang melihat perubahannya yang memang mengerikan itu.
Ia mengusap bibirnya sendiri yang lumayan ada bercak darah di sana, bahkan gigi taringnya yang masih terlihat di sana. Travis menatap dirinya sendiri, tidak ada dirinya. Mungkin itu alasan mengapa Hazel kebingungan dan ketakutan.
"Sepertinya aku harus menutup cermin itu." Ucapnya sendiri, mungkin warna matanya tidak akan berubah normal sebelum perasaan harus darahnya selesai. Dan selama itu juga dia tidak akan keluar dari kamarnya. Tidak mungkin Travis menyerang orang-orang di luar sana, benar-benar ia sudah berniat untuk berubah.
"Aku tidak boleh terus seperti ini, bisa-bisa dia menjauhi ku karena ketakutan."
__ADS_1