OBSESSION 2 : BOYFRIEND A VAMPIRE

OBSESSION 2 : BOYFRIEND A VAMPIRE
Chapter : 1


__ADS_3

Pria itu menelusuri koridor kantor kepolisian, sampai di mana ia bertemu dengan seseorang yang memang dia akan temui. Kedua pria itu berhadapan, mungkin tidak akan yang menduga akan kedatangannya.


"Apa yang membuatmu datang kemari? Apa ada masalah?" Tanyanya, namanya adalah Justin. Dia adalah kepala Kepolisian di Jakarta, mungkin dia sangat terkenal.


Selain dia memiliki banyak prestasi di bidang akademik yang bagus, dia juga suka bersosialisasi, ramah dan jangan lupakan visual yang teramat memikat kaum hawa sekali pandang saja.


Dia adalah sahabat Travis sejak kecil, mereka memang bersama sejak dulu dan walaupun mereka berdua sama-sama sukses dalam berbagai bidang masing-masing. Mereka tetap akan meluangkan waktu sekedar meminum kopi bersama di tengah kesibukan mereka.


Tapi karena memang Travis jarang berkunjung ke sana, mustahil dia sampai datang hanya karena masalah sepele. Pasti ada sesuatu yang terjadi membuat Travis mendatangi Justin terlebih dahulu.


"Ada, bisa kita langsung ke lokasinya untuk memastikan."


"Memangnya apa? Berikan aku 1 alasan kenapa sampai kau mendesak ku seperti ini?" Justin yakin semua alasan yang Travis katakan tidak akan ada hal sepele, itu adalah sebuah tragedi besar. Mungkin saja, Justin hanya memastikan saja bukan berarti dia tidak akan percaya.


"Aku akan jelaskan di jalan, kita harus menyelamatkannya." Justin seketika paham, ia menoleh ke arah seluruh anak buahnya yang tengah sibuk sendiri.


Dia langsung keluar dari ruangannya, memanggil dua detektif dan juga belasan polisi untuk menemani mereka ke lokasi. Setelah itu, Justin menyuruh Travis agar segera menunjukkan lokasi yang di sebutkan.


Keduanya menaiki kendaraan berbeda, dengan mobil Travis yang memimpin di depan di ikuti oleh mobil yang lain. Sengaja tidak menyalakan sirine, karena kata Travis itu tidak boleh terjadi. Karena itu akan menghambat pekerjaan mereka juga.


Travis punya rencana untuk melakukan ini, ia hanya butuh beberapa bantuan saja termasuk dia jika butuh Justin berada di sampingnya. Ia tidak mungkin membawa anak kecil pergi begitu saja, anak itu tidak akan percaya nantinya.


Sampai di lokasi, sebenarnya Travis hanya menyuruh Justin saja yang maju dan sisanya bisa menunggu aba-aba saja untuk maju selanjutnya. Biarkan ini menjadi sebuah kejutan yang menyenangkan, Travis memakai topinya dan kemudian turun dari mobilnya yang sudah berkata di depan sebuah rumah yang lumayan megah tapi tidak terlalu mewah.


Sampai di sana ia bersama Justin juga, dia tidak menunjukkan kartu Identitas kepolisiannya. Dia menyembunyikan kartunya, berlaga seperti orang biasa saja.


Mengetuk pintu secara normal dan tidak beberapa lama seseorang membuka pintunya, dia terkejut akan kedatangan dua pria di depan pintu itu. Justin tersenyum untuk menyapa dengan ramah.


"Apakah kami boleh bertemu dengan pemilik rumah?"


"Ada kepentingan apa ya, tuan?"


"Ini penting, saya minta tolong." Sepertinya art itu kurang yakin tapi beberapa saat kemudian dia membuka pintunya, Travis dan Justin pun masuk ke dalam.


Tidak ada siapa pun selain art dan beberapa penjaga di dalam sana, satu anak kecil yang tengah bermain di sana, dia nampak terkejut akan kehadiran dua orang asing yang secara tiba-tiba datang.

__ADS_1


Dia berlari masuk ke dalam kamar karena ketakutan. Sampai di mana Justin memberikan kode untuk mereka masuk ke dalam, tentu saja membuat orang-orang di rumah itu terkejut bukan main. Polisi tiba-tiba datang, masuk ke dalam tanpa permisi.


"Periksa semua ruangan yang ada di sini." Ucapnya tanpa terbantah sama sekali, semuanya mengangguk menurut dan mulai menelusuri seluruh rumah.


"Apa-apaan ini?! Apa yang kalian lakukan dengan rumah ku?! Keluar kalian semua!" Tidak ada yang mendengarkan sama sekali. Justin menghampiri wanita itu dengan tatapan ramahnya, masih dengan senyuman khasnya.


"Aku yakin rumah sebesar ini hanya ada beberapa ruangan saja, boleh aku ke ruang bawah tanah mu?"


"Apa maksudmu?! Kau sudah lancang masuk ke dalam rumah ku-" Justin menunjukan kartu Identitasnya dan memerintahkan anak buahnya memeriksa ruang bawah tanah.


Wanita itu seketika panik, menyuruh beberapa bodyguardnya untuk menahan para polisi itu yang mencoba menerobos. Yakin saja pasti ada sesuatu di dalam sana, Justin melirik ke arah Travis yang hanya diam menatap datar ke segala arah.


"Kau masih punya kemampuan bukan?" Travis menoleh ke arah Justin, dia hanya memalingkan wajahnya.


"Kau tahu terlalu beresiko melakukan itu."


"Aku tahu, biarkan aku yang melakukannya dan kau bisa menyusup ke sana." Travis tidak menanggapi sama sekali selain dia berjalan ke depan mengikuti polisi itu mulai mengangkat senjatanya ke arah para bodyguard itu.


Justin tersenyum tipis, ia harus melakukan ini sesekali saja jika dalam keadaan seperti ini. Ingat, ini hanya pemeriksaan bukan penyerangan tapi mereka bertingkah seolah di depan mereka adalah musuh mereka. Tapi jika seperti itu responnya, maka apa yang Travis katakan sepertinya benar adanya.


"Kami tidak melakukan apa pun, nyonya. Ini hanya pemeriksaan rutin saja, jika anda bersikap seperti ini maka kami akan melakukan penggeledahan dalam. Mengerti?"


"Kau tidak ada hak!"


"Yah, memang. Tapi ini tugas ku, nyonya. Kau juga tidak ada hak menghalangi pekerjaan ku di sini." Ucapnya, dia menyingkirkan wanita itu tapi dia justru menyerang membuat Justin mau tidak mau menyeret wanita itu dan menyuruh Travis memimpin di depan.


Justin membuat wanita itu merasa di serang dan ketika orang itu hendak memberontak keluar dari ruangan itu, dia tidak mau ada orang yang mencoba masuk ke dalam ruangan bawah tanah tersebut tapi sepertinya tidak ada kesempatan membuatnya harus melakukan yang tidak seharusnya dia lakukan. Justin hanya diam ketika wanita itu terus meronta.


"Lepaskan aku sialan!"


"Kau terlalu keras kepala." Justin merotasi bola matanya malas, dia menatap ke arah wanita itu. Di mana orang itu bisa melihat jelas jika tatapan mata yang tajam itu berubah membuatnya seketika kehilangan kesadaran.


Ambruk begitu saja, sedangkan Justin dia bertingkah seolah tidak melakukan apa pun. Dia keluar dari ruangan itu tanpa rasa bersalah, sampai di mana ia melihat bodyguard itu sudah tepar. Ia hanya tersenyum saja ketika melihat Travis berada di sana melihat saja.


Keduanya berdiri di sana mengawasi, sampai di dalam sana suara teriakan anak kecil membuat Travis langsung berjalan masuk ke dalam sana.

__ADS_1


Dua polisi perempuan mencoba menenangkan gadis itu, dia masih begitu kecil. Sifatnya tidak seperti anak-anak pada umumnya, dia nampak liar dari yang Travis duga. Pria itu melangkah maju.


"Hati-hati tuan, dia sangat-"


"Dia hanya anak kecil, kalian keluar dari sini. Aku akan menangani dia sendiri." Ucapnya dan mereka pun keluar membiarkan pria itu berdua saja dengan gadis kecil itu.


Travis hanya diam menatap dengan tatapan biasa, dia berjalan mendekat tapi anak itu justru semakin melangkah mundur. Antara dia ketakutan dan harus waspada dengan orang di depannya, dari penampilannya begitu mengenaskan.


Pria itu mencoba menyamakan tinggi badanya dengan anak itu, dia merogoh bungkus roti coklat. Entah sejak kapan dia membeli makanan itu, Travis membuka bungkus roti itu dan memberikan itu kepada anak itu. Tapi gadis itu tidak merespon, dia hanya semakin memojokkan diri di dinding dan bersembunyi di kain itu.


"Kemari lah, aku tidak akan melakukan apa pun. Makan ini, kamu lapar?" Gadis itu hanya mengintip dari balik kain itu, tidak berani mendekat. Tapi Travis tidak menyerah sampai di sana saja, dia mengambil permen di kantungnya dan memberikan itu juga kepada gadis kecil itu.


"Mau permen?" Gadis itu mulai keluar dari kain itu, cara jalan yang aneh untuk ukuran anak remaja sepertinya. Dia merangkak seperti hewan, apakah semenyedihkan itu?


Gadis itu mengambil permen itu dari tangan Travis dengan cepat, pria itu tidak menanggapi apa pun selain melihat tingkah anak remaja itu yang semakin terlihat aneh. Dia bahkan tidak bisa membuka bungkus permen itu, menggigit bungkus itu.


"Astaga, sini aku bantu." Gadis itu meletakan permen itu di lantai dan melangkah mundur. Mungkin dia ketakutan dengan keberadaan Travis.


Apa lagi kata coklat terang itu membuat gadis itu semakin ketakutan, Travis membuka bungkus makanan itu dan memberikannya lagi kepada gadis itu.


"Makan lah." Gadis itu masih tidak mau melangkah maju, entah apa alasannya. Travis pun memberikan isyarat agar dia mengambil permen itu, gadis itu mulai merangkak mendekat dan mengambil permen itu. Memasukannya ke dalam mulutnya, dia merasa heran dengan rasa itu? Kenapa aneh sekali?


Gadis itu terus menatap permen itu dan memakannya, Travis menamati anak itu sampai di mana ia tahu di mana titiknya. Dia membuang nafas, ia merasa memang semua ini seharusnya tidak terjadi.


"Bagaimana di dalam? Kau tidak apa-apa?" Suara Justin terdengar keras, tentu saja Travis akan mendengar suara pria itu. Tapi kenapa gadis itu seolah tidak mendengar apa pun?


'Apa dia tuli?"


"Aku baik-baik saja, sebentar lagi aku akan keluar. Tunggu sebentar lagi." Travis hanya meminta beberapa waktu saja, dia mengulurkan tangannya kepada gadis itu. Tentu saja tidak di respon, apakah dugaannya benar?


Travis keluar dari ruangan itu membuat Justin kebingungan, di mana anak yang di maksud oleh Travis? Kenapa dia tidak ikut keluar dengan Travis?


"Kau membawa baju? Atau sesuatu mungkin baju bekas?"


"Memangnya kenapa?"

__ADS_1


__ADS_2