
"Sepertinya kau cukup sibuk ya." Gadis itu menoleh ke arah belakang, di mana seseorang berdiri di sana. Tersenyum ke arahnya tentu saja, pria itu nampak memperhatikan sejak tadi tapi tidak di tanggapi.
"Menurutmu, ada apa kau kemari?"
"Aku pikir kau akan mengatakan, apa kabar?" Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya, dia memang selalu datang dan ngerusuh.
Tapi tidak ada masalah di antara keduanya, mereka berdua memang berteman sejak lama atau lebih tepatnya memang sejak kecil. Tidak ada yang mengetahui akan itu, bahkan setiap identitas mereka sama-sama di sembunyikan satu sama lain. Masing-masing dari mereka berdua hanya tahu, jika mereka hanya manusia biasa.
Percaya atau tidak, memang seperti itu kondisinya. Walaupun di jaman sekarang, atau lebih tepatnya era dinasti seperti ini seolah mahkluk mitos di lupakan karena memang tidak pernah muncul. Tapi mereka ada di sekitar manusia, hanya saja memang tidak terang-terangan cara mereka menunjukan sesuatu.
"Kau mau makan? Kebetulan aku sedang masak." Pria itu mendekat, melihat apa yang gadis itu masak hari ini.
Memang tidak sering dia berkunjung apa lagi makan bersama, tapi memang bukan pertama kalinya mereka berdua makan bersama. Gadis itu tidak menghiraukan perkataan pria itu, dia hanya sibuk menyiapkan makanan dan kemudian menyiapkannya di atas meja alas di sana.
Suasana hari ini memang cocok untuk bersantai, memang lebih nikmat jika beristirahat sekarang. Tapi mungkin situasinya tidak memungkinkan sama sekali.
"Nicho! Apa yang kau lakukan bodoh?" Gadis itu menarik Nicholas dengan kasar, pria itu memang aneh sejak dulu dan mana bisa dia berubah seperti ini.
"Aku hanya melihat senjata mu saja, apa itu masalah?"
"Iya, itu masalah untuk mu. Mau makan atau ku siram sup ini ke wajahmu?" Nicholas justru tertawa karena perkataan gadis itu kepadanya, terkesan kasar memang tapi begitulah cara mereka berkomunikasi.
Keduanya nampak makan dengan tenang, menikmati suasana hari ini yang memang cukup tenang. Tapi Nicholas benar-benar tidak bisa fokus dengan acara makan siangnya karena ia merasa ada sesuatu. Kekuatan yang besar, dia memang sering merasakan kekuatan itu ketika berada di sekitar gadis itu.
__ADS_1
Tapi ia tidak bisa menanyakan sesuatu, karena lagi pula Nicholas tidak yakin dengan pemikirannya sendiri. Apakah pemikirannya benar? Ia tidak tahu pasti, ia melirik ke arah gadis itu yang sibuk makan dengan lahap.
"Zellen..." Ia menoleh ke arah Nicholas, ia menaikan alisnya sebelah. Merasa kebingungan dengan ekspresi yang dia tunjukan sekarang. Ia merasa memang ada yang tidak beres.
"Kau tidak menyembunyikan sesuatu dari ku bukan?" Seketika Zellen terdiam, tapi bukan berarti dia tidak bisa menjawab.
Sejujurnya ia ingin mengatakan semuanya, tapi ia tidak mau jika Nicholas menjauhi dirinya karena kemampuannya itu. Memang, Zellen adalah keturunan raja tinggi di luar sana tapi tidak untuk dirinya sekarang, ia bukan berada di wilayahnya sendiri.
Gadis itu mengembara mencari sesuatu, bukan sesuatu yang aneh jangan terlalu salah paham. Zellen mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk bertarung saja, senjata yang memang cocok untuknya walaupun dirinya sudah memiliki pedang andalannya.
Zellen tertawa pelan, ia bertingkah seolah tidak melakukan apa pun. Padahal sebenarnya Zellen menyembunyikan sebuah rahasia besar dari Nicholas.
"Apa maksudmu? Memangnya sudah berapa lama kau mengenalku sampai kau bertanya seperti itu?" Nicholas yang terdiam sekarang, tapi ia masih menatap ke arah Zellen.
Zellen pernah menyelamatkan Nicholas, gadis itu menemukannya di gubuk yang terbakar dan gadis itu yang menolongnya. Cukup aneh jika di pikirkan lagi, tapi mungkin Nicholas tidak berpikir sampai sana karena yang paling penting antara dirinya dan Zellen bisa keluar dari gubuk itu bersama, walaupun memang ada luka yang tertinggal.
Nicholas melihat ke arah lengan kiri Zellen, luka bakar itu ada di sana. Walaupun sudah lama, tapi bekasnya masih ada bahkan sampai sekarang.
"Maafkan aku, aku hanya-"
"Aku mengerti, kau curiga kepada ku? Wajar, aku memang suka menghilang ke sana kemari." Zellen sudah menduga sebenarnya, walaupun ia tetap tidak mau mengatakan apa pun.
Gadis itu sudah menduga jika suatu saat nanti cepat atau lambat, Nicholas akan tahu semua rahasianya termasuk kekuatannya itu. Kekuatan itu yang bukan dirinya dapatkan secara instan, melainkan berlatih dan mengembara di mana-mana. Ia hanya ingin menyelamatkan kerajaannya saja, sekarang kakaknya menjadi raja untuk menggantikan posisi ayahnya yang sudah sekarat.
__ADS_1
Tebak apa yang Zellen lakukan, dia mencari penawar untuk obat penyakitnya raja, sebut saja adalah ayahnya. Tapi Nicholas tidak tahu, dia bukan berasal dari daerah kekuasaan kerajaannya, Zellen menemukan Nicholas di perbatasan hutan lebat dekat dengan lembah.
Tanah itu, bukan wilayah dari kerajaannya. Maka dari itu Zellen menduga jika Nicholas hanyalah orang biasanya yang bertahan hidup saja, bukan bagian dari kerjaan mana pun. Maka dari itu Zellen percaya dengan Nicholas.
"Apa kau akan pergi setelah ini?" Nicholas tersenyum, dia memberikan cangkang kerang kepada Zellen.
"Mungkin iya, aku tidak akan kembali selama beberapa hari. Tapi aku akan usahakan akan datang ketika kau butuh bantuan ku, tiup cangkang kerang ini dan aku akan datang." Nicholas melangkah mundur masuk ke dalam hutan, dia benar-benar akan meninggalkan Zellen sendirian.
"Nicho..."
"Sampai jumpa, terimakasih untuk makanannya." Nicholas langsung berlari masuk ke dalam hutan dengan cepat. Meninggalkan suara samar dan kemudian menghilang begitu saja.
Zellen masih berdiri di sana, menatap kepergian Nicholas yang meninggalkan dirinya. Gadis itu menunduk, menatap cangkang kerang yang Nicholas berikan kepadanya.
"Maafkan aku..." Gadis itu membalikkan badannya dan kemudian berjalan masuk ke dalam rumah.
Melihat ke arah pedangnya berada, ia hanya menatap dengan penuh penyesalan. Zellen tidak tahu harus menjelaskan apa tapi, ia tidak mau kehilangan Nicholas. Ia menduga jika pria itu akan menjauhi dirinya setelah identitas terbongkar nanti, tapi ia menerima keadaan sekarang.
Tidak, ia tidak berharap semua ini terjadi. Namun, sepertinya ia harus menghadapi sendirian. Tapi bagaimana? Gadis itu memegang pedangnya, membawanya keluar. Gadis itu juga membawa sebuntal kain berisikan pakaiannya dan juga makanan cadangan.
Gadis itu menutup hidung sampai bibirnya dengan kain, menggunakan topi dan dia melangkah keluar dari rumah itu. Rumah itu bukan miliknya, ia hanya menemukan gubuk itu dan menjadikan tempat itu sebagai tempat tinggal sementara saja.
Melangkah mendekat ke arah api unggun, tangannya mengarah ke sana dan seketika air keluar dari telapak tangannya. Menghanguskan api itu dalam waktu singkat, berjalan ke arah kudanya. Menaiki hewan tersebut, dan kemudian pergi begitu saja dari sana.
__ADS_1
"Maafkan aku, aku tahu aku salah di sini. Tapi aku terpaksa, aku tidak mau kehilangan teman..."