
Bab 11
"Ma, perkenalkan ini Naira, wanita yang ingin aku kenalkan pada mama sebelumnya, tepatnya dia adalah kekasihku," ucap Geffen melempar senyum tipis saat itu.
Mama Lita melempar senyum ketika Geffen membawakan seorang gadis yang sangat cantik di hadapannya, saat itu Nirma terlihat kesal lantaran Geffen tiba-tiba membawa wanita lain ke rumah tanpa se-izin nya.
"Mas, apa-apaan si kamu, kenapa kamu bawa wanita lain ke rumah, kita ini belum putus lo," ucap Nirma yang tidak terima dengan sikap Geffen padanya.
"Bukannya kau sendiri yang sudah membuat kesepakatan untuk hubungan kita, kau yang telah memilih pergi bersama pria lain, kau sendiri yang telah memilih berselingkuh, Nirma," seru Geffen menatap nanar ke arah Nirma.
"Apa, apa maksud nya?"
Tiba-tiba mama Lita mendekati Nirma dan mempertanyakan hal itu, Nirma nampak bingung harus menjawab apa karena sebenarnya mama Lita sama sekali tidak mengetahui hal ini. Ia menutupi kesalahannya agar mama Lita tetap meneruskan perjodohan antara dirinya dengan Geffen.
"Nirma, bisa kau jelaskan pada Tante apa maksud Geffen bicara seperti itu?" pinta mama Lita mendesak Nirma.
"Tante, aku bisa jelaskan semua ini, Tante jangan percaya ya sama Geffen," ucap Nirma yang memegang tangan mama Lita.
"Ya, kau harus jelaskan ini pada mamaku, dan mamaku harus tahu apa yang kau lakukan di belakang ku, kalau pergi kedua orang tuamu juga harus tahu masalah ini, agar tidak ada lagi perjanjian perjodohan di antara kita berdua." jawab Geffen yang memberikan penjelasan panjang lebar pada Nirma.
Mama Lita semakin penasaran, ia harus mendengar langsung pengakuan dari Nirma di hadapan Geffen dan juga Naira, gadis yang baru saja dibawa masuk oleh Geffen ke rumahnya. Saat itu Nirma mau tidak mau harus pasrah, dan mengakui semua kesalahannya, wajah Nirma memerah karena ia terlihat sangat tegang saat ia menjelaskan pada mama Lita.
"Apa, jadi apa yang dikatakan oleh Geffen selama ini adalah benar, kau berselingkuh dari Geffen dan kau memutuskan untuk menutupi semua ini dari Tante?" mama Lita terbakar emosi saat itu.
"Tante, aku bisa jelasin semuanya kok, Tante jangan marah-marah dulu ya," ucap Nirma berusaha membujuk mama Lita.
__ADS_1
"Tante sudah sangat senang sekali karena perjodohan kalian sangat dekat, bahkan saat Geffen menolak keras perjodohan ini, Tante lah yang memintanya untuk membawakan seorang gadis sebagai syarat penolakannya, tapi ternyata kau seperti ini Nirma, bagaimana caranya Tante bisa memaafkan dirimu." marah mama Lita pada Nirma.
Saat itu Nirma terlihat sangat malu, ia tidak tahu harus mengatakan apa, ingin menjelaskan pun sepertinya mama Lita sudah terlanjur kecewa. Begitu juga dengan Geffen yang nampaknya sudah tidak perduli, ia menggandeng erat jemari Naira yang sejak tadi tidak ada suaranya.
"Nirma, lebih baik kau pulang dulu, karena sepertinya Tante harus membicarakan masalah ini pada orang tuamu," ucap mama Lita mengusir Nirma dengan cara yang halus.
"Tapi Tante, please Tante tolong jangan batalkan perjodohan antara aku dengan Geffen," pinta Nirma membujuk mama Lita.
"Itu sudah menjadi pilihan Geffen, Tante tidak bisa menolak jika ternyata Geffen meminta hal yang lain." jawab mama Lita cetus.
Mama Lita membuang wajahnya, dan melipat kedua tangannya dengan membusungkan dada. Ia sangat kecewa pada Nirma yang sudah sangat ia percaya itu. Nirma akhirnya keluar dari rumah itu dengan rasa malu yang tidak bisa ia bendung lagi, sementara Naira sendiri merasa bersalah karena kehadirannya ternyata menimbulkan konflik bagi keluarga itu.
Geffen melepaskan genggaman tangannya pada Naira, dan hal itu disadari oleh Naira yang terlhat bengong. Ia melihat ada tatapan kekecewaan yang dirasakan oleh Geffen saat ia membuka tabir kebusukan kekasih nya. Namun Naira sendiri tidak berani berkata apapun, karena ia takut jika hal itu ia lakukan akan menambah luka baru di hati Geffen.
"Geffen, kenapa masih berdiri di tempat ini, ajak pacarmu itu duduk," ucap mama Lita.
Geffen mengajak Naira duduk, dan saat itu mama Lita meminta asisten rumah tangga untuk memberikan jamuan pada kekasih baru putranya itu, sejak tadi Naira sangat pendiam, ia tidak bersuara jika tidak ditanya.
"Nak, siapa namamu tadi?" tanya mama Lita menatap Naira.
"Naira, Tante," ucap Naira melempar senyum.
"Oh, Naira. Kamu sekarang kegiatannya apa, kerja di mana?" tanya mama Lita kembali menginterogasi Naira.
Mendengar pertanyaan kedua membuat Naira merasa bingung, ia bingung harus mengatakan apa saat itu, alih-alih takut menjawab akhirnya Naira memutuskan untuk menatap wajah Geffen terlebih dahulu dan memberikan isyarat.
__ADS_1
"Dia kuliah Ma, masih kuliah dan kerja di bidang kecantikan," sambar Geffen yang sebelumnya tidak mempersiapkan semua itu.
"Oh, kuliah. Kau masih sangat muda, kau menyibukkan diri kuliah dan bekerja, sangat mandiri sekali. Kalau orang tuamu?" tanya mama Lita lagi, yang saat itu terlihat sangat penasaran pada gadis yang ada di hadapannya.
"Kedua orang tuanya lagi ada tugas di luar negeri Ma, bisnis gitu," seru Geffen menjawab lagi.
"Geffen, apa kau tidak bisa diam dan membiarkan Naira menjawab sendiri pertanyaan Mama! Jangan kamu yang menjawab, karena Mama ingin mendengar Naira sendiri yang bersuara." pinta mama Lita menjelaskan, apa yang ia inginkan saat itu.
Geffen terdiam, ia tiba-tiba bungkam dengan tatapan mengarah pada Naira, mana mungkin ia diam ketika mama Lita seolah sedang menyelidiki Naira, bisa-bisa Naira akan salah menjawab dan semua akan terbongkar.
Mama Lita terus menanyakan tentang asal usul Naira, hingga membuat Naira dingin panas entah harus menjawab apa. Namun kali ini Geffen tidak akan diam karena itu akan mengangkut kebohongan nya pada mama Lita, ia tetap menjawab meskipun sebenarnya pertanyaan itu untuk Naira.
***
"Astaga, aku seperti sedang bertemu wartawan yang siap mencari tahu tentang informasi seseorang," ucap Naira meletakkan kedua tangannya di dada, sambil menyandarkan kepala di bagian badan mobil. Setelah mengobrol singkat Geffen memutuskan untuk mengajak Naira pulang, agar tidak mendapatkan lagi pertanyaan-pertanyaan dari mama Lita.
"Pak, kenapa kau tidak memberitahuku kalau aku akan mendapatkan banyak sekali pertanyaan," protes Naira menatap Geffen kesal.
"Aku sendiri tidak tahu Naira, kenapa mama ku sangat bawel padamu dan banyak tanya, aku bahkan tidak mempersiapkan ini sebelumnya," seru Geffen menepuk jidatnya sendiri.
"Aku tidak mau terlibat, ini salah mu, Pak," sergah Naira yang tidak mau disalahkan.
"Kenapa seperti itu, aku yang salah lalu kau tidak mau disalahkan juga? Itu tidak adil sekali, Naira." Geffen menatap kesal ke arah Naira.
Namun Naira tidak perduli dengan tatapan Geffen saat itu, ia ingin pulang ke kontrak kan untuk istirahat, karena kejadian hari ini membuat Naira sangat letih dan tidak ingin melihat Geffen untuk beberapa saat.
__ADS_1
"Pak, tolong antar aku ke kontrakan, aku sangat lelah," ucap Naira pada Geffen.
"Ke kontrakan? Enak saja, tidak bisa, kau lupa kalau kau ini bawahan ku, kau office girl di kantor ku, jadi kau harus kembali ke sana untuk bekerja," seru Geffen menolak permintaan Naira.