
Bab 24
Mama Lita kini sudah ada di depan Naira, dan saat itu Nairn pun tidak bisa berkata apa-apa lantaran mungkin hari ini adalah hari terakhirnya untuk menjadi kekasih Geffen.
Sementara Geffen sendiri tetap diam di tempat nya dengan hati gemetar lantaran kini mamanya sudah ada di hadapan Naira.
"Wajah mu sangat tidak asing, siapa namamu?" tanya mama Lita yang mencoba untuk mengingat wajah wanita yang ada di hadapannya itu.
"Ee-a, aku," Naira bersuara dengan nada yang gemetar, menambah kecurigaan mama Lita padanya.
"Sepertinya kita pernah bertemu, tapi di mana ya?" mama Lita mulai berpikir dan saat ia benar-benar mengingat nya, wajahnya memerah dan menatap Naira dengan tajam.
"Kau Naira! Kekasih putraku?" sambungnya dengan telunjuk yang mengarah di wajah Naira.
Saat itu Naira tidak bisa berkutik. Rasanya benar-benar tidak bisa berkata apa-apa karena tiba-tiba ia merasa lidahnya sangat kaku. Dan saat itu Geffen mendekati keduanya lalu menatap ke arah mama Lita.
"Dia benar Naira kan, Geffen?" ulang mama Lita mempertanyakan tebakannya.
"Ma, bisa kita jelasin kok, Ma," ucap Geffen yang saat itu juga sudah tidak tahu harus berkata apa.
"Apa, apa yang mau kalian jelaskan? Kamu mau mengatakan kalau selama ini kamu berpacaran dengan seorang office girl ini?" mama Lita memekik dengan tatapan yang menyeramkan.
__ADS_1
"Ma, aku bisa menjelaskan, sebenarnya__"
"Sebenarnya apa, apa sebenarnya yang kamu pikirkan Geffen, kamu menolak perjodohan dengan Nirma tapi kau berpacaran dengan office girl ini? Oh, astaga, Mama benar-benar tidak menyangka Geffen!" marah mama Lita yang saat itu menatap tajam ke arah Geffen dan juga Naira.
Saat itu mama Lita tidak terkontrol, di tempat itulah mama Lita menghina dan mencaci Naira dengan sesuka hatinya. Wanita miskin, begitu lah mama Lita menyebut Naira saat ini, dan tidak bisa terhindarkan dari kemarahan mama Lita saat itu, begitu pun dengan Geffen yang juga sudah membuat mama Lita kecewa, tidak luput dari kemarahan mama Lita yang saat itu kehilangan kendali.
"Apa yang kau inginkan wanita miskin, kau ingin uang berapa agar kau bisa menjauhi putraku, putraku adalah CEO di kantor ini, apa kata dunia dan rekan kerjanya kalau dia memacari seorang office girl seperti dirimu?" tanya mama Lita seolah ingin sekali membeli harga diri Naira.
Mendengar pertanyaan tersebut seketika membuat air mata Naira tumpah, ia tidak menyangka jika saat itu ia harus mendengar pertanyaan yang amat sangat memalukan itu di telinganya. Bahkan ia sendiri sebelumnya tidak percaya jika tidak ada pembelaan sama sekali dari Geffen sejak tadi. Geffen hanya meminta mama Lita untuk berhenti berbicara, namun sama sekali tidak menjelaskan bahwa sebenarnya mereka hanyalah pura-pura.
"Maaf Tante, jumlah rupiah yang kau tanyakan itu tidak sama sekali membuat saya bernafsu untuk menyebutkan berapa jumlah rupiah yang aku inginkan, yang aku ingin kan saat ini adalah harga diriku yang dikembalikan, sebelumnya kau tanyakan saja pada putramu ini, kesepakatan apa yang telah kami lakukan hingga sampai di titik ini," ucap Naira dengan air mata yang tak tertahan.
"Oh ya, kau tidak mau uangku? Wah, wah, wah, berapa harga dirimu gadis miskin? Coba sebutkan, aku tidak akan keberatan dengan jumlah yang akan kau sebutkan," seru mama Lita yang terus menantang Naira.
"Untuk dirimu Pak, terima kasih karena sejauh ini, kau hanya diam dan tidak melakukan apapun untuk membelaku, sekarang aku sadar, bahwa selama ini kau hanya membutuhkan kepolosan ku." sambung Naira menatap penuh kebencian pada Geffen.
Setelah itu Naira pergi berlalu meninggalkan ruangan tersebut, dengan derai air mata yang membasahi pipinya membuat para karyawan yang berpapasan dengannya menjadi curiga, sementara Geffen sendiri saat itu merasa sangat bingung harus mengejar siapa, apakah ia akan mengejar Naira yang telah pergi dari ruangannya, atau menjelaskan semuanya pada mama Lita saat itu juga.
Geffen kalut, ia tidak tahu harus melakukan apa saat itu. Hingga ia memutuskan untuk memilih mengejar Naira daripada menjelaskan semuanya terlebih dahulu.
"Geffen, berhenti kau!"
__ADS_1
Pekik mama Lita yang saat itu mengejar Geffen. Di lantai dua, tempat di mana banyak karyawan yang sedang bekerja mendengar pekikan dari mama Lita pada bos besarnya, mama Lita dan juga Geffen pun menjadi sorotan perhatian meraka yang terlihat sedang sama-sama tegang.
"Ma, aku harus mengejar Naira, Mama harus tahu sesuatu yang Mama tidak ketahui," ucap Geffen buru-buru.
"Apa, apa yang penting bagi Mama yang Mama tidak ketahui, selain kenyataan bahwa kalian berdua ternyata berpacaran, ha?" tanya mama Lita dengan nada sangat lantang.
Geffen menoleh ke kanan dan ke kiri, habis lah dia, karena saat ini seluruh mata sedang melihat kenyataan yang terjadi. Mereka mendengar berita itu, berita bahwa dirinya selama ini telah menjalin kasih dengan Naira, seorang office girl di kantor tersebut.
"Ma, cukup Ma, tolong dengar dulu," ucap Geffen yang sudah merasa sangat malu.
"Harusnya kau berpikir seribu kali lipat terlebih dahulu untuk melakukan ini Geffen, wanita yang kau banggakan di hadapan Mama dan papa, ternyata hanyalah seorang office girl yang tidak ada derajatnya di kantor ini!" mama Lita lagi-lagi memercikkan api yang melukai Naira, Naira masih mendengar karena Naira masih ada di lantai yang sama.
Saat itu tidak ada harapan lagi bagi Naira untuk bertahan di sana, Anya yang saat itu sedang bersama Naira benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi, hingga ia harus berkali-kali mengucap tanya pada Naira yang hanya mampu menangis saat itu.
"Aku harus pergi, aku harus pergi dari sini, hiks," ucap Naira yang kala itu sudah mengganti seragamnya dengan pakaian yang sebelumnya ia simpan di dalam tas.
"Tapi lo harus jelasin dulu apa yang sebenarnya terjadi Naira, kenapa hubungan lo dan pak Bos menjadi seperti ini?" tanya Anya tak berhenti mendesak Naira.
"Nanti kamu pasti akan tahu sendiri, aku ingin pergi dari sini, sangat sakit sekali saat mendapatkan penghinaan dari nyonya Lita." jawab Naira kembali bersedih saat itu.
Naira berlalu pergi tanpa ada satu orang pun yang bisa menahannya. Suasana kantor itu menjadi sangat hening ketika mama Lita dan Geffen bertengkar. Karena sangat malu, akhirnya Geffen membawa mama Lita pulang, ia tidak mau melanjutkan pertengkaran itu di tengah banyaknya karyawan yang menonton mereka.
__ADS_1
Seluruh karyawan menggosip-kan kejadian ini, tidak ada yang terlewat, mereka semua membicarakan tentang Naira dan juga Geffen tanpa terkecuali, bahkan kabar ini sudah menyebar ke seluruh kantor dan rekan-rekan kerja Geffen. Karena saat itu ada salah satu karyawan yang sengaja mem-vidio saat Geffen dan mama Lita bertengkar beberapa saat yang lalu.
Karena Geffen dan mama Lita sudah kembali, dan juga para karyawan sedang sibuk membicarakan topik ini, membuat Anya menjadi sangat gelisah, dan khawatir pada Naira.