
Bab 25
"Gue harus ngejar Naira, gue harus tahu apa yang terjadi sama kesepakatan mereka, gue nggak bisa diem aja kayak gini." ungkap Anya yang memutuskan untuk berlalu pergi.
Naira terduduk sendiri di dalam kontrakan yang sangat kecil, ia menangis tersedu-sedu saat mendengar dan mengingat kembali wajah dan ucapan mama Lita, yang sebelumnya ia kenal sebagai wanita berkelas dan juga tidak banyak bicara. Kini sosok mama Lita sudah seperti monster yang menakutkan baginya. Membuat Naira terus saja menangis seorang diri di sana.
"Kenapa Tuhan, kenapa nasibku seburuk ini, aku tidak beruntung di desa, ibu dan ayahku tega menjual ku pada mucikari, di kota aku pun tidak beruntung, aku harus terjebak dalam kesepakatan yang membuat harga diriku terinjak seperti ini, kenapa Tuhan, kenapa!" marah Naira pada dirinya sendiri.
Setibanya di rumah kontrakan kecil, dan Anya sempat mendengar ucapan dari Naira, membuat Anya merasa sangat kasihan, sebagai seorang teman yang selama ini dekat dengan Naira, membuat Anya tersentuh ia memutuskan untuk segera mendekati Naira.
Naira menyadari kedatangan Anya, dan kala itu ia melihat temannya sedang merenggangkan kedua tangannya, sebagai bentuk prihatin pada Naira yang saat itu sedang menangis.
"Mau gue peluk?" tawar Anya yang sudah siap menjadi sandaran Naira.
Naira terdiam, ucapan itu membuat Naira bertambah sedih, ia menganggukkan kepalanya pelan lalu dengan cepat Anya mendekap nya. Tangis Naira kembali pecah ketika mendapatkan pelukan dari Anya, ia merasa bahwa saat ini ia tidak sendirian. Ia memiliki seseorang yang peduli padanya dan saat ini ada di hadapannya.
__ADS_1
"Lo berhak nangis, menangis lah kalau itu yang membuat lo merasa lega, menangis nggak dilarang, gue akan temenin di sini untuk lo," ucap Anya yang sejak tadi mengusap-usap punggung Naira.
"Kenapa, kenapa nasibku seperti ini, aku terjebak. Ini bukan keinginan ku, aku sama sekali tidak tertarik untuk berurusan dengan pria kaya itu, tapi aku terpaksa menyetujui permintaan nya karena aku ingin membayar budi, bukan aku yang ke gatalan ingin mendapatkan seorang kekasih seperti dirinya, bukan aku, hiks," seru Naira yang saat itu melepaskan pelukannya, lalu dengan cepat Anya kembali meraih tubuh mungil Naira yang sudah basah dengan peluh.
"Gue, gue tahu perasaan lo, lo berhak marah, lo berhak semarah mungkin sama pak bos. Atau lo bisa sekalian maki dia kalau nanti lo ketemu sama dia, lo bilang kalau ini bukan keinginan lo," sahut Anya yang membebaskan Naira untuk melakukan apa saja.
"Dia, di depan mamanya dia tidak bisa berbicara, di depan mamanya dia seperti sangat senang sekali ketika aku dihina. Bahkan tidak ada sama sekali pembelaan yang aku dengar dari mulutnya, dia bahkan sama sekali tidak mengatakan bahwa ini adalah rencananya. Dia membiarkan aku terpuruk dalam kesedihan dan hinaan seperti ini."
Naira menuding ke arah pintu, dengan tidak sadar ia telah menghina Geffen, yang mereka tidak ketahui bahwa saat ini Geffen sedang bersembunyi di balik pintu itu. Sudah sejak tadi dia datang, namun Geffen terhenti di tengah jalan lantaran melihat Naira yang sedang menangis dan ditenangkan oleh salah satu karyawan nya juga.
"Ya, kau benar Naira, ini semua adalah salahku, dan tidak seharusnya aku membiarkan kau menangis histeris seperti ini, aku yang salah Naira."
Geffen berbisik lirih pada dirinya sendiri, dan saat itu Geffen memutuskan untuk pergi dari tempat tersebut untuk bertemu dengan mama Lita. Tidak bisa ia diam saja sementara ia telah menyakiti hati seorang wanita sepolos Naira. Bahkan selama mereka bersepakat untuk menjadi kekasih pura-pura Naira tidak pernah membuat kesalahan fatal hingga membuat Geffen merasa sangat bersalah.
Tiba nya di rumah, mama Lita sedang duduk di kursi ruang keluarga bersama dengan papa Danu, saat itu papa Danu terlihat sangat marah. Ia marah lantaran telah mendengar berita tentang putranya yang menjalani hubungan dengan seorang office girl. Tidak ada satu poin pun yang terlewat, mama Lita menceritakan semuanya pada papa Danu.
__ADS_1
"Berani sekali kau pulang setelah membuat sebuah kesalahan sebesar ini, Geffen!" marah papa Danu yang saat itu terlihat sangat malu.
"Kenapa Pa, kenapa Papa marah-marah seperti ini?" tanya Geffen tidak mengerti.
"Masih saja tidak mengerti? Apa kau pikir Papa tidak tahu apa yang kau lakukan di kantor Geffen, dan mama mu telah melihat semua yang terjadi, kenapa Geffen, kenapa kau memilih seorang office girl untuk menjadi kekasih mu, ha!" maki papa Danu yang kala itu tidak bisa menahan dirinya untuk tidak marah.
"Pa, kita tidak pernah tahu kepada siapa kita jatuh cinta, dan aku sebelumnya hanya melakukan kesepakatan semata pada Naira untuk pura-pura menjadi sepasang kekasih, karena sejak aku tahu Nirma selingkuh, aku sudah tidak percaya lagi dengan wanita di kota ini. Naira memiliki sebuah masalah yang tidak ada satu orang pun yang tahu, dia berasal dari kampung. Dia berhasil melarikan diri karena kedua orang tuanya tega menjualnya dengan seorang mucikari, Naira pergi dari desa ke kota ini untuk bisa lolos dari kejaran mucikari itu. Lalu suatu ketika, aku dipilih oleh Tuhan untuk membantunya lepas dari masalah ini, sebab itulah Naira memiliki hutang budi padaku. Dan aku memanfaatkan hutang budinya untuk menjadi kekasih pura-pura ku. Di sini, dia tidak bersalah, tapi aku yang bersalah."
Panjang lebar Geffen menjelaskan pada kedua orang tuanya. Memberitahukan sedikit kisah tragis yang ia temui ketika berurusan dengan Naira, dan ia juga meminta kedua orang tuanya untuk menghukum saja dirinya, tetapi jangan sampai menghina Naira karena dia tidak bersalah.
Mendengar penjelasan dari Geffen membuat mama Lita dan papa Danu saling menatap satu sama lain, mereka baru tersadar dari kesalah-pahaman yang terjadi. Mereka berpikir sebelumnya bahwa Naira lah yang mencoba untuk menggoda Geffen dan mereka marah lantaran antara Geffen dan Naira sangat berbeda kelas.
"Ma, Pa, aku mohon tolong jangan marahi Naira dan jangan hina dia. Aku sangat mengenal pribadinya, dan selama dia menjadi kekasih pura-pura ku, aku tidak pernah melihat sisi buruk dari dirinya, bahkan dia bukan wanita yang kebanyakan aku kenal, yang matre dan gila harta, dia sama sekali tidak pernah meminta apapun dariku selain patuh dengan semua perintah ku, dia gadis yang baik," ucap Geffen yang mencoba untuk mengambil hati kedua orang tuanya.
"Tapi tetap saja kau dan Naira tidak sekelas Geffen," sergah mama Lita.
__ADS_1
"Untuk apa sekelas jika di antara kami justru hanya mengincar harta saja, apa Mama tidak belajar dari seorang Nirma? Wanita yang Mama Papa pilih untuk ku, bagaimana dia sekarang, dengan sangat berani dia selingkuh dan di dalam perselingkuhan itu aku sudah kehilangan uang banyak untuk kebutuhannya, untuk apa wanita seperti itu," seru Geffen membela diri.