
Bab 15
"Terima kasih banyak Pak, sebenarnya aku tidak tahu apa yang membuatmu sampai melamun seperti ini, apa yang membuat mu seperti sedang memikirkan banyak hal," ucap Naira menatap Geffen penasaran.
"Aku tidak pernah bertengkar dengan orang tuaku, dan malam ini apa yang kulakukan, aku membuat mereka marah dan sangat murka," seru Geffen yang memikirkan hal itu.
"Pak, kau sangat beruntung sekali, karena memiliki kedua orang tua yang sangat perduli dan perhatian padamu, tidak seperti diriku, yang orang tuanya justru tega menjual ku pada mommy chan. Tapi semua kembali padamu Pak, pernikahan itu sangat lah serius untuk dibahas, dan Bapak harus memikirkan ini matang-matang, kalau bisa jangan sampai keputusan Bapak ini melukai hati kedua orang tua Bapak yang berharap banyak." jelas Naira mengutarakan pendapatnya.
Geffen mengangguk pelan, ia mengerti maksud dari ucapan Naira, untuk itu ia merasa sedikit tenang karena ada Naira di sampingnya. Saat itu Geffen berpikir untuk melakukan sesuatu agar Nirma sendiri lah yang harus mengakui perbuatannya, dan ia pun terbebas dari kemarahan orang tua yang tidak tahu masalahnya.
"Naira, aku membutuhkan bantuan mu lagi," ucap Geffen menatap Naira.
"Apa Pak, bantuan apa yang kau ingin aku melakukannya, kalau aku bisa, aku pasti akan melakukan itu Pak," seru Naira yang memasang wajah tegap, siap dan setuju kapan pun bos nya itu meminta bantuan.
"Aku ingin Naira mengakui semua kesalahannya, tanpa harus aku yang menghasut mereka untuk percaya, aku ingin dia sendiri yang ketahuan bahwa dia telah bermain api di belakang ku, yang harus kau lakukan adalah mengabadikan setiap momen yang mencurigakan dari dia dan menjadikan itu sebagai barang bukti," sahut Geffen dengan semangat.
"Apa Pak, jadi profesi saya Bapak ganti? Nggak bisa gitu dong Pak, Bapak tahu kan saya ini dari kampung dan tidak tahu seluk beluk dari kota ini, bagaimana caranya agar saya bisa mendapatkan bukti perselingkuhan kekasih Bapak itu," protes Naira yang memang tidak tahu apa-apa tentang wilayah yang saat ini ia tinggali.
"Aduh, dasar payah. Lalu apa yang bisa kau lakukan untuk ku." omel Geffen yang menganggap bahwa Naira tidak bisa apa-apa.
Naira sendiri tidak ada jawaban lain selain pasrah, karena memang ia tidak punya keahlian untuk melakukan hal yang diinginkan oleh Geffen.
"Pak, bukannya Bapak ini orang punya ya, kenapa Bapak tidak membayar seseorang saja untuk mencari bukti tentang perselingkuhan kekasih Bapak itu?" Naira nampak memberikan sebuah ide.
__ADS_1
"Lalu gunanya kau yang akan membayar hutang budi padaku apa!" sergah Geffen yang masih tidak puas jika bukan dirinya yang turun tangan.
"Oke Pak, baik. aku akan menyelidiki semua ini, tapi aku tidak sendirian ya Pak, aku punya teman di kantor yang mungkin akan sangat membantu ku, tapi sebelumnya aku minta tolong modali aku ponsel, agar aku bisa menyimpan gambar atas penyelidikan ini," pinta Naira mengangkat kepalanya menatap Geffen.
"Kalau itu tidak masalah, bukan hal yang berat untukku lakukan." jelas Geffen setuju.
Naira melempar senyum, mau tidak mau ia harus melakukan hal itu karena permintaan dari Geffen. Setelah mendapatkan jalan untuk masalah nya, Geffen pun memutuskan untuk mengajak Naira pulang, waktu yang sudah cukup larut membuatnya harus mengembalikan Naira ke rumahnya.
***
Tibanya di kantor, keesokkan paginya Naira kembali ke kantor dengan semangat baru, namun PR yang masih mengganggu pikirannya itu tidak bisa hilang dari kepalanya sejak semalam, ia bingung harus melakukan apa dan siapa yang akan menjadi partner nya ketika menyelidiki kasus percintaan antara Geffen dan juga Nirma.
Saat itu Naira nampak tidak semangat melakukan pekerjaan, apalagi saat orang-orang memesan minuman padanya, ia nampak tidak fokus mencacat siapa saja yang ingin memesan minuman padanya. Sampai akhirnya Naira bertemu dengan Anya yang ada di dapur, saat itu Anya terlihat penuh senyum ingin menggoda Naira yang ia tahu semalaman ia pergi berkencan.
"Sesuatu yang tidak ingin aku ingat, tapi terus terbayang untuk menyelesaikan semua tugas itu," sahut Naira dengan tidak sadar telah mengeluh pada Anya.
"Apa maksud mu, Naira?" tanya Anya mendekati wajah Naira yang terlihat tidak bersemangat.
"Kencan yang membosankan, aku tidak suka dengan tadi malam, aku ingin sekali pulang kampung saja," seru Naira yang terlihat putus asa.
"Loh, kenapa pulang kampung? Harusnya lo itu seneng tahu, bisa jadi bagian dari kantor ini, apa teman kencan lo itu melakukan kesalahan? Apa yang dia lakukan sampai membuat lo kayak gini, ha! Cerita sama gue." Anya terlihat memasang badan saat Naira mengatakan hal seperti itu, padahal yang sebenarnya terjadi bukan lah demikian.
Saat itu Naira pun akhirnya memutuskan untuk membagi cerita pada Anya, ia menceritakan misinya dan apa hubungannya dengan Geffen, dengan syarat Anya tidak boleh membocorkan semua rahasia itu pada siapapun, dan saat itu Anya terlihat sangat terkejut ketika ia tahu apa hubungannya Naira dengan Geffen.
__ADS_1
"Jadi sekarang ini lo pacar pura-pura nya Pak Bos? Terus cowok yang lo bilang mau kencan sama lo semalam itu bukan office boy di kantor, tapi melainkan Pak bos sendiri?" tanya Anya dengan tatapan membulat.
"Ssst, jangan kenceng-kenceng!" Naira menutup mulut Anya dengan tangannya, seolah ia telah melakukan kesalahan besar karena telah menceritakan hal yang sangat rahasia itu.
"Lo tenang aja, rahasia lo aman sama gue, tapi lo harus kasih tahu dulu ke gue, apa yang membuat lo terjebak dalam situasi ini" ucap Anya sedikit berbisik.
"Nanti siang gue akan ceritain semua sama lo, sekarang gue harus antar minuman ini dulu ke karyawan lainnya, gue takut nanti mereka marah karena menunggu terlalu lama." jawab Naira yang tidak ingin sampai pikirannya kali ini menggangu pekerjaannya.
Saat sedang mengantarkan minuman pada para karyawan lainnya, Naira tidak sengaja bertemu dengan Geffen yang baru saja tiba, saat itu Geffen menghampiri Naira yang sedang membagi-bagikan kopi pada karyawan.
"Naira, tolong antar juga kopi untuk saya, dan ingat, tolong jangan terlalu banyak gula," ucap Geffen yang saat itu bersikap sangat dingin dan tegas.
"Iya, baik Pak." jawab Naira mengangguk cepat.
Setelah selesai membagikan minuman, Naira pun membuatkan kopi sesuai dengan permintaan Geffen, saat itu Geffen bersikap profesional di kantor saat bertemu dengan Naira, Naira mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk oleh Geffen, Naira pun masuk dan memberikan kopi yang dipesan oleh Geffen.
"Ini Pak, kopinya," ucap Naira meletakkan kopi tersebut di sudut meja.
"Iya, terima kasih banyak, tunggu sebentar," ucap Geffen yang ingin memberikan sesuatu pada Naira.
"Ada apa lagi Pak, tolong jangan bahas dulu masalah yang semalam, aku ingin menikmati pekerjaan hari ini di sini," seru Naira yang tidak ingin sampai Geffen membahas tentang sesuatu yang akan menggangu pikirannya.
"Bukan, aku tidak akan membicarakan hal apapun, aku hanya ingin memberikan ini padamu." jawab Geffen menyodorkan sebuah kotak berisi ponsel sesuai dengan permintaan Naira.
__ADS_1
Naira terdiam sejenak, saat ia menatap isi kotak yang sebelumnya dia lah yang meminta pada Geffen.