Office Girl Itu Kekasihku

Office Girl Itu Kekasihku
34


__ADS_3

Bab 34


"Naira,"


Geffen memanggil dari atas balkon, saat itu Naira baru saja ingin mundur karena ia tidak percaya diri. Namun panggilan itu seolah menjadi teman sebagai keputusan yang akan ia ambil saat itu.


Naira menggelengkan kepala, ia lalu melambaikan tangan bertanda bahwa ia tidak bisa masuk menemui kedua orang tuanya, namun saat itu Geffen menolak keras ketika Naira hendak mundur, karena Geffen memang sudah menantikan kehadiran Naira sejak tadi.


Naira akhirnya mendapatkan telpon dari Geffen yang langsung menghubunginya. Saat itu Naira mengangkat telpon dari Geffen yang masih berdiri di atas balkon, tatapan mata mereka saling beradu ketika keduanya sedang menempelkan telpon mereka di telinga satu sama lain.


"Kenapa kamu menelepon ku, Mas?" tanya Naira.


"Karena aku nggak mau kamu pergi Naira, sudah di depan rumah, kenapa kamu kalah mau pergi. Ayo sekarang masuk, aku tidak akan membiarkan mu ketakutan, aku yang akan menjemput mu, tunggu di situ." jelas Geffen yang kala itu langsung mematikan sambungan teleponnya.


Naira terdiam, ia memasukan kembali ponselnya ke dalam tas, lalu tak lama kemudian Geffen turun dari lantai dua untuk menemui Naira. Di perjalanan Geffen bertemu dengan mama Lita yang menghadangnya, saat itu mama Lita merasa aneh dengan tatapan mata Geffen yang terlihat sangat berbeda.


"Geffen kamu mau ke mana?" tanya mama Lita.


"Ma, aku mau jemput Naira," ucap Geffen.


"Naira? Naira sudah datang? Di mana dia?" mama Lita seolah ingin sekali bisa segera menatap wajah Naira.


"Ada di luar Ma, dia malu mau masuk rumah kita, makanya mau aku jemput." jawab Geffen dengan semangat.


Mama Lita melempar senyum tipis, ia membiarkan Geffen pergi menemui Naira yang berhenti di depan pintu gerbang. Kedatangan Geffen menjadi kekuatan bagi Naira yang masih merasa takut jika harus berhadapan dengan kedua orang tua kekasihnya itu. Dan dengan semangat Geffen mengajak Naira masuk serta menggandeng tangannya dengan erat.


"Jangan takut Naira, kedua orang tuaku bukan macan," bisik Geffen sembari menggiring Naira masuk.


"Aku tahu, tapi tetap saja aku ketakutan." jawab Naira, lirih.


Geffen melempar senyum, lalu setalah itu sambutan dari papa Danu dan mama Lita pun mengejutkan Naira, saat itu mama Lita dan papa Danu sudah menunggu di depan pintu yang tertutup, dan ketika Geffen membuka senyum manis mama Lita dan papa Danu pun terlihat sangat nyata.


"Halo Naira," sapa mama Lita menyambut Naira.


"H-halo Tante, Om," lirih Naira membalas sapaan dari mama Lita, lalu ia juga tak lupa menyalami mereka lalu mencium tangan mereka secara bergantian.


Mama Lita melempar senyum lalu mengajak Naira masuk, sikap manis itu baru saja dilihat oleh Naira setelah pertemuan tiga tahun yang lalu, ia tidak menyangka jika ternyata orang yang ia anggap sangat galak ternyata bisa bersikap sangat lembut sekali.


Tanpa basa basi lagi mama Lita meminta Geffen untuk mengajak Naira ke meja makan, acara makan malam yang sedang berjalan itu membuat Naira tidak karuan, bisa duduk di singgasana mewah bersama dengan kedua orang tua kekasihnya, satu per satu terasa sebuah mimpi yang dibuat menjadi nyata.

__ADS_1


Wajah Naira berseri-seri ketika menatap banyaknya hidangan makan malam yang disajikan, bukan karena tidak pernah makan, Naira sudah lama menjalin hubungan dengan Geffen, tentu saja makanan lezat dan mahal sudah dirasakan oleh Naira. Yang membuat dirinya berkesan adalah, menu makanan yang sangat banyak itu dimasak oleh tangan mama Lita sendiri, dan ia terharu karena diberikan kesempatan untuk menikmati makan malam bersama dengan kedua orang yang ia cintai.


"Naira, nikmatilah makan malam ini seperti kau sedang makan bersama dengan keluarga mu, jangan ragu," ucap mama Lita.


"Terima kasih banyak Tante, ini sangat lezat," seru Naira memuji masakan mama Lita.


"Lain waktu, kau bisa masak bersama denganku, apa sebelumnya kau pernah belajar memasak?" tanya mama Lita mulai nyaman mengobrol dengan Naira.


"Pernah Tante, saat aku tinggal di desa bersama kedua orang tua tiri ku, salah satu tugasku adalah memasak buat mereka. Tapi tentu saja masakan Tante jauh lebih lezat dari masakan buatan ku," sahut Naira merendahkan dirinya.


"Hahahaha, kau bisa saja Naira. Kau terlalu merendahkan dirimu, Tante saja belum tahu bagaimana rasanya masakan mu, kau sudah merendah begitu." jawab mama Lita tertawa lucu mendengar ucapan dari Naira.


Naira merasa sangat senang ketika mendengar ada tawa yang keluar dari ekspresi wajah mama Lita. Benar-benar tidak menyangka, Geffen yang melihat hal itu ikut tertawa. Susana meja makan pun menjadi pecah karena mendengar gelak tawa dari mama Lita.


Beberapa saat kemudian jamuan makan malam telah selesai, saat itu mama Lita, papa Danu, Geffen, dan juga Naira berada di ruang tamu, suasana serius itu mulai dirasakan oleh Naira yang merasa takut. Hingga tidak sadar bahwa saat itu Naira menggigit bibir bawahnya karena takut.


"Ma, sebenarnya apa si yang mau Mama dan Papa bicarakan, kenapa melihat kami seperti itu?" tanya Geffen yang sudah tidak sabar ingin sekali mendengar apa yang akan dikatakan oleh kedua orang tuanya.


"Sesuatu yang sangat serius Geffen, sama seriusnya dengan tatapan mama Mama dan Papa saat ini," ucap mama Lita yang tidak langsung memberitahukan.


"Ya Ma, apa itu. Jangan buat aku dan Naira menjadi penasaran begini." jawab Geffen yang sudah tidak sabar.


"Yang ingin sekali Mama tanyakan itu padamu, Geffen. Apakah kamu benar-benar mencintai Naira?" mama Lita menatap serius pada Geffen kala itu.


"Kenapa Mama justru mempertanyakan hal seperti ini Ma, ya kalau soal cinta jangan di tanya Ma, aku cinta banget sama Naira," ucap Geffen dengan terus terang.


"Kalau begitu kapan kalian akan menikah?"


Mama Lita dan papa Danu menatap mereka dengan sungguh-sungguh, pertanyaan itu membuat Geffen dan Naira terkejut. Sangat terkejut, karena mereka tidak percaya jika mama Lita dan papa Danu akan memberikan pertanyaan itu pada mereka.


"Kenapa kalian tidak menjawab, apa kalian tidak mau menjawab pertanyaan dari Mama dan Papa?" tanya mama Lita yang sudah tidak sabar kala itu.


"Ya Geffen, Naira, ayo berikan kami jawaban. Karena saat kami tahu jawabannya, kami berdua lah yang akan maju untuk mengurus semua keperluan kalian," seru papa Danu melempar senyum.


"Sebentar... Ma, Pa, ini nggak becanda kan?" tanya Geffen tidak percaya dengan penjelasan dari mama Lita dan papa Danu.


"Tidak mungkin kami main-main soal pernikahan Geffen. Saat kamu tidak memiliki pandangan seorang kekasih saja, kami rela mencarikan jodoh untuk kamu, tapi karena saat ini sepertinya kamu sangat cocok dengan Naira dan begitu sangat mencintai Naira. Maka kami tidak perlu repot-repot mencarikan mu jodoh." jelas mama Lita menatap papa Danu dengan senyuman.


Geffen merasa malu ketika mendengar penjelasan dari mama Lita, ia berpikir bahwa hal itu adalah sebuah aib yang seharusnya ditutupi. Namun hal itu tidak demikian untuk Naira, Naira merasa senang ketika mendengar cerita singkat itu, dan cinta Geffen pun berlabuh pada dirinya saat ini.

__ADS_1


Namun Naira tidak langsung menjawab pertanyaan dari kedua orang tua Geffen, ia menunggu Geffen yang mengatakan tentang keseriusan nya dalam mencintai dirinya.


Saat itu Geffen menatap Naira, lalu Naira saat itu juga sedang menatap dirinya, Naira tersenyum menunggu jawaban yang akan diberikan oleh Geffen padanya. sebelum itu terjadi Naira memutuskan untuk bertanya sesuatu terlebih dahulu pada kedua orang tua Geffen mengenai dirinya.


"Tante, Om, sebelumnya ada yang ingin Naira bicarakan," Lirih Naira mendahului Geffen.


"Apa Naira, apa yang ingin kau tanyakan. Tanyakan saja pada kami," ucap mama Lita membuka pintu dengan lebar.


"Sebelumnya yang ingin Naira tanyakan adalah, apa Tante dan Om sudah memikirkan matang-matang tentang pertanyaan yang Tante ajukan, apa Tante sudah memikirkan tentang siapa Naira, Naira hanya gadis desa yang memiliki masa lalu tidak baik Tante," Seru Naira yang mengingatkan pada mama Lita dan papa Danu kala itu.


"Ya, kami tentu saja tahu siapa dirimu Naira, namun kami juga saat ini sudah tahu bagaimana kau berusaha keras untuk berubah menjadi lebih baik lagi, kami melihat bagaimana usaha mu, sebab itulah kami tidak ragu untuk mempertanyakan ini padamu dan juga Geffen." jelas mama Lita sangat yakin.


Mendengar penjelasan dari mama Lita, membuat Geffen sadar bahwa kedua orang tuanya itu sudah sangat setuju dengan hubungannya dengan Naira, hingga Geffen sendiri tidak ingin berlama-lama untuk memberikan jawaban tentang pertanyaan mama Lita.


"Ma, Pa, kalau pun Mama dan Papa sudah memberikan kami berdua izin untuk menikah, maka aku sudah sangat siap untuk menikahi Naira," ucap Geffen dengan serius.


"Oh ya? Tentu Geffen, tentu saja kami berdua sangat setuju jika pernikahan kalian akan segera dilaksanakan, Mama juga tidak sabar untuk melihat putra Mama menikah dengan gadis yang ia pilih," seru mama Lita memberikan restu.


"Ya, Papa juga memberikan restu untuk kalian berdua, Papa akan mengurus semua keperluan pernikahan kalian, semua aman dan beres." jelas papa Danu melempar senyum.


Geffen dan Naira melempar senyum ketika mendengar bahwa papa Danu dan mama Lita sudah memberikan lampu hijau dan restu dalam acara sakral itu.


***


Saat Geffen mengantar Naira pulang ketika semua sudah selesai mengobrol kan masalah pernikahan dengan kedua orang tua Geffen. Setelah tiba di kontrakan Naira dan Geffen saling menatap saat itu.


"Naira, apa yang kamu rasakan saat ini?" tanya Geffen menatap kedua mata Naira dengan serius.


"Mas, tentu saja aku merasa sangat senang sekali dengan kabar ini, tapi aku merasa ada sesuatu yang mengganjal Mas," ucap Naira merasa sedih kala itu.


"Apa yang membuat perasaan senang mu menjadi tidak lengkap Naira, kau memikirkan apa?" tanya Geffen menatap serius, karena apa yang dirasakan Naira kala itu menjadi sangat penting baginya.


"Mas, apa di hari pernikahan kita nanti kedua orang tuaku tidak akan datang? Entah mengapa tiba-tiba aku kepikiran mereka Mas." jawab Naira dengan tatapan sedihnya.


Geffen tidak bisa berkata-kata, selama ini ada rindu yang tidak terucapkan oleh suara, Naira mencoba untuk menepis semua rasa takut ketika bertemu dengan kedua orang tuanya. Namun karena kini Naira percaya bahwa Geffen lah yang akan menjadi pelindungnya, Naira kini merasa ingin sekali bertemu dengan kedua orang tua tirinya.


"Aku mengerti Naira, kau tidak mungkin sampai di kota ini kalau bukan karena mereka, kalau begitu biarkan kedua orang tua ku yang mengurus pernikahan kita, dan kita berdua akan pergi ke desa untuk menjemput kedua orang tua mu, mau setuju?" tawar Geffen melempar senyum tulus saat itu.


"Mas, kamu serius? Ya Ampun, aku setuju banget Mas," ucap Naira merasa sangat senang.

__ADS_1


"Ya, besok kita akan pergi, dan sekarang lebih baik kau masuk dan istirahat lah, aku akan menjemput mu besok pagi." jawab Geffen yang meminta Naira untuk turun dari mobil.


__ADS_2