
Bab 36
"Jadi ini calon suami mu, Naira?" tanya Hanum ketika sudah dijelaskan semua nya pada Geffen mengenai kedatangan mereka.
"Ya Bu, Pak, ini Mas Geffen, calon suami ku, aku bersyukur karena sebelumnya aku terlepas dari mommy chan dan bertemu dengan Mas Geffen, sekarang pertemuan ini akan menjadi sebuah ladang pahala karena aku akan menikah dengannya," ucap Naira dengan bangga memperkenalkan Geffen pada kedua orang tua tirinya.
"Ibu dan Bapak senang mendengarnya, semoga kalian berdua bahagia sampai tua." jawab Hanum dengan kedua mata berlinang air mata.
Begitu pun dengan Burhan yang merasa begitu menyesal, ia merasa gagal karena telah menjadi orang tua yang tidak baik pada Naira, namun ia senang karena kehidupan Naira kini akan sangat berbeda dari kehidupan di masa lalunya.
Geffen menjelaskan bahwa ia akan mengundang Burhan dan Hanum untuk datang ke kota, menghadiri pesta pernikahan dirinya dengan Naira, dan undangan itu tidak mungkin ditolak oleh mereka, karena undangan itu sungguh seperti sebuah kejutan dan hadiah terindah untuk mereka. Bertemu dengan Naira kembali dengan keadaan Naira sudah bertemu dengan kehidupannya. Geffen dan Naira merasa sangat senang, karena undangan nya tidak bertepuk sebelah tangan, sepertinya memang Burhan dan Hanum sudah sanga berubah, dan saat itu juga Geffen meminta mereka untuk segera bersiap-siap karena meraka akan dibawa ke kota oleh Geffen dan Naira.
"Jadi kami akan ikut kalian ke kota?" tanya Burhan masih tidak percaya.
"Iya Pak, Mas Geffen dan aku akan membawa kalian ke kota, karena kami akan segera melakukan pernikahan, jadi kami sangat membutuhkan kehadiran Ibu dan Bapak di sana," ucap Naira melempar senyum.
"B-baik lah, kalau begitu biar Ibu yang akan mempersiapkan semuanya." jawab Hanum segera bangkit dari tempat duduk nya.
Saat itu Hanum merasa sangat senang karena ia akan melihat putri sambungnya menikah, ia bersyukur karena masih bisa melihat putri nya yang kini akan menikah.
Beberapa saat kemudian Hanum kembali dengan membawa sebuah tas berisi pakaian dirinya dan juga suaminya, ia menunjukan bahwa dirinya sudah sangat siap kala itu.
"Kalau begitu, kita bisa pergi sekarang. Mungkin untuk sampai di kota di malam hari, jadi kita harus melanjutkan perjalanan sekarang saja," ucap Geffen pada mereka.
__ADS_1
"I-iya, ayo kalau begitu." jawab Burhan melempar senyum lalu mengikuti langkah kaki Geffen bersama Naira.
Tibanya di kota, Naira meminta Geffen untuk mengantar dirinya dan orang tuanya di kontrakan, namun Geffen menolaknya dengan keras, lantaran Geffen justru ingin calon mertua itu tinggal di rumah yang sama dengan dirinya, karena esok pagi mereka akan menikah. Dan Geffen ingin jika kedua calon mertuanya tinggal dan menetap di sana sampai acara pernikahan itu selesai. Karena keinginan Geffen cukup beralasan akhirnya Naira pun mengikuti permintaan Geffen.
Mereka semua tiba di rumah hampir jam dua belas malam, dan saat itu mama Lita bersama dengan papa Danu menyadari kedatangan dua mobil yang telah ia utus ke desa itu.
Kedatangan mereka pun disambut oleh mama Lita dan papa Danu dengan baik, Burhan dan Hanum saling menatap satu sama lain saat bertemu dengan sepasang suami istri yang begitu sangat cantik dan tampan itu, dan saat mama Lita bersama papa Danu memperkenalkan diri membuat Hanum dan Burhan semakin merasa sangat kecil di hadapan mereka.
Meraka pun dibawa ke kamar tamu dan istirahat di sana, sementara kamar Naira sudah dipersiapkan di tempat lain yang cukup nyaman untuk istirahat nya malam ini.
"Selamat istirahat calon istri," ucap Geffen melempar senyum ketika Naira berada di depan kamar barunya.
"Mas, kenapa aku harus tidur di sini malam ini? Aku kan belum sah jadi istri kamu, harusnya aku tidur di kontrakan saja bersama Ibu dan bapak," seru Naira yang merasa keberatan saat itu.
"Naira, kita akan menikah di gedung besok pagi, dan kita harus berangkat secara beriringan, kalau kau tidur di kontrakan, itu akan sangat menghambat waktu kita. Lagi pula ini adalah ide ku, aku ingin kedua orang tua tiri mu itu sadar, bahwa Naira yang dulu kini telah berubah jauh, dan aku ingin semua ini akan membuat mereka jauh lebih hati-hati dalam bertindak." jelas Geffen yang masih sedikit ragu dengan kedua orang tua calon istrinya itu.
"Pak, aku nggak nyangka kalau ternyata Naira akan sangat beruntung seperti ini, melarikan diri ke kota dan sekarang dia akan menikah dengan seorang pria kaya, benar-benar beruntung," ucap Hanum yang kala itu masih tidak percaya.
"Ya Bu, Bapak juga hampir pingsan melihat kenyataan ini, Naira benar-benar beruntung Bu. Dan kita tidak boleh melakukan sesuatu yang membuat Naira terluka, kita akan membahayakan diri kita sendiri jika kita melakukan itu, kita harus membiarkan Naira bahagia dengan kehidupannya yang sekarang." jawab Burhan yang kala itu tidak ingin macam-macam.
***
Malam berganti pagi, seorang WO datang untuk merias pengantin wanita dan pria, Naira sudah siap sejak pagi karena mama Lita yang mengatakan bahwa ia harus bangun pagi untuk di make up, dan saat itu Naira sudah terlihat sangat segar karena sebelumnya ia telan membersihkan dirinya terlebih dahulu.
__ADS_1
Sementara mama Lita juga mengatur make up Hanum yang juga sudah bangun sejak pagi, pagi ini sangat sibuk, banyak perias yang dikerahkan untuk merias semua anggota keluarga sebelum mereka datang ke gedung untuk melakukan pernikahan.
Setelah beberapa saat kemudian, semua telah selesai di make up, beruntung saja banyak baju yang muat untuk Hanum, baju yang ia pakai tentu saja yang masih berkualitas, mama Lita tidak membelikan baju untuk besannya karena suatu hal.
Setelah tiba di gedung yang sudah dirias sedemikian rupa, membuat hati Naira dan juga Geffen tidak karuan. Pagi ini mereka berdua benar-benar akan menikah, semua tamu undangan pun telah hadir, termasuk juga Anya, Anya melempar senyum ketika melihat Naira sedang duduk bersandingan dengan Geffen.
Geffen diarahkan untuk menjabat tangan pak penghulu yang sudah siap menikahkan meraka, lalu pak penghulu itu meminta Geffen untuk melanjutkan ijab qobul yang sah dan sakral itu.
"Semua, sah?"
Pak penghulu itu melempar pertanyaan pada semua hadirin yang mendengar ijab qobul Geffen beberapa detik yang lalu.
"Sah,"
"Sah,"
"Sah,"
Suara yang ditunggu telah menggema, seluruh tamu undangan mengatakan kalimat itu tanpa terkecuali. Dan hal itu membuat Naira begitu sangat senang, sama halnya Geffen yang terlihat begitu sangat bahagia
"Kini, kalian sudah sah menjadi suami istri, selamat ya, semoga pernikahan kalian langgeng sampai kakek nenek," ucap pak penghulu itu melempar senyum.
"Aamiin, terima kasih banyak, Pak." jawab Geffen mengulas senyum bahagia.
__ADS_1
Geffen dan Naira akhirnya hidup bahagia, sebuah perjalanan yang begitu sangat rumit akhirnya mengantarkan Naira pada kebahagiaan yang sesungguhnya, ia mendapatkan kembali kedua orang tua yang telah menyesali perbuatannya, ia juga memiliki kedua mertua yang begitu sangat perhatian padanya. Dan terakhir, ia mendapatkan seorang suami yang begitu sangat mencintai dirinya. Entah nikmat apa lagi yang ia dustakan kala itu, selain rasa syukur yang tidak terhenti ia ucapkan.
Tamat.