Office Girl Itu Kekasihku

Office Girl Itu Kekasihku
35


__ADS_3

Bab 35


Esok paginya, Geffen sudah ada di kontrakan Naira. Ia sangat siap kala itu untuk pergi ke kampung halaman tempat di mana Naira tinggal. Naira pun sudah sangat siap kala itu, ia melempar senyum ketik melihat Geffen yang duduk menunggu dirinya.


"Mas, ayo kita berangkat sekarang," ajak Naira yang sudah sangat siap.


"Ayo, aku juga sudah siap kok." jawab Geffen setuju.


Kepergian mereka dari kota menunju desa sudah diketahui oleh mama Lita dan papa Danu, dan mereka pun tidak pergi hanya berdua, melainkan ada beberapa pengawal yang akan menemani perjalanan Geffen dan Naira dengan menggunakan mobil lain. Di perjalanan Naira mulai merasakan bahwa ada sebuah mobil yang mengikuti perjalanannya dan mengira bahwa itu adalah mobilnya penjahat.


"Mas, kenapa mobil di belakang itu sejak tadi mengikuti kita ya, perasaan ku tidak enak Mas," ucap Naira ketakutan.


"Mobil itu memang akan selalu ada di belakang kita Naira, ikut bersama kita ke desa, karena mobil itu adalah mobil yang membawa pengawal untuk kita berdua," seru Geffen melempar senyum.


"Jadi kita pakai pengawal untuk pergi ke desa? Kenapa Mas, kenapa harus pakai pengawal?" tanya Naira heran.


"Untuk berjaga-jaga, siapa tahu kedua orang tua kamu itu melakukan sesuatu yang tidak baik, aku tidak mau kalau calon istriku ini sampai terluka kembali ke masa lalu, aku ingin aku selamat dan aman di samping ku. Dan perlu kau tahu, mereka itu bukan suruhan ku, tapi suruhan mama papa." jelas Geffen melempar senyuman tipis.


Naira benar-benar tidak menyangka kala itu, karena ia ternyata di ratu kan oleh Geffen, tidak ada kalimat yang ia ucapkan kala itu kecuali segelintir senyum bahagia yang ia tunjukan. Sementara Geffen sendiri membalasnya dengan senyuman pula.


"Kau jangan takutkan apapun, jangan cemas dan jangan berpikir yang tidak-tidak, karena aku ada untuk mu," ucap Geffen lirih.


"Terima kasih banyak Mas, aku sangat terharu melihat ketulusan mu dan juga mama papa mu," seru Naira tidak bisa berkata banyak hal.

__ADS_1


"Mama papa kita Naira, bukan hanya mama papa ku, aku yakin bahwa mereka akan sangat marah jika sampai ia tahu kau menyebutnya dengan sebutan seperti itu." jelas Geffen memasang wajah cemberut.


Naira melempar senyum, mau tidak mau ia harus menjadi seseorang yang diinginkan oleh Geffen, mengikuti apapun yang diucapkan oleh Geffen.


Sebelum mereka tiba di sebuah desa tempat di mana Naira di lahir kan, Geffen memutuskan untuk berhenti di sebuah pinggiran jalan yang menyajikan berbagai buah-buahan segar. Ia ingin membawakan buah tangan untuk kedua orang tua Naira, dan saat itu Naira sama sekali tidak menolak ketika Geffen melakukan hal tersebut, ia nampak senang karena melihat respon Geffen yang sangat baik pada keluarga yang akan ia temui, dan setelah membeli berbagai buah Geffen memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka.


***


Hampir setengah hari perjalanan, akhirnya mereka tiba di sebuah desa di mana Naira di lahir kan, Geffen merasa asing dengan tempat itu, namun tidak dengan Naira. Naira terlihat begitu menikmati suasana indah pemandangan yang tersaji di sana, lalu beberapa menit kemudian tiba lah mereka di kediaman kedua orang tua Naira.


Saat itu Hanum dan Burhan sedang duduk berdua di sebuah meja makan, mereka nampak terlihat sangat lusuh dan tak terurus, wajah mereka begitu keriput karena tidak ada perawatan, jangan kan untuk melakukan perawatan, untuk bisa makan sehari-hari saja mereka harus mengemis pada tetangga kanan dan kiri mereka.


"Naira, ini rumah mu?" tanya Geffen memperhatikan kediaman Naira.


"Jangan takut Naira, kita ke sini untuk menjenguk kedua orang tua tiri mu, sekaligus mengundang mereka untuk menjadi saksi di pernikahan kita, tidak lebih dari itu, jadi kau jangan khawatir. Apalagi kau tidak berdua, ada aku dan beberapa bodyguard ku di belakang mu, jadi kau jangan cemaskan semuanya." jelas Geffen melempar senyum, lalu menyentuh pundak Naira.


Naira menghembuskan nafas panjang, lalu setelah itu ia melangkahkan kedua kakinya masuk. Pintu tua itu tidak tertutup, sehingga membuat Naira dan Geffen bisa leluasa masuk tanpa perlu mengetuknya. Saat itu Naira dan Geffen berhenti melangkah ketika mendengar obrolan sepasang suami istri itu di meja makan.


"Pak, coba saja kalau kita dulu tidak menjual Naira, mungkin di masa tua kita dia lah yang akan merawat kita dan mencarikan kita makan, tidak seperti sekarang ini, kita tidak ada penopang di masa tua, kita hidup serba kekurangan seperti ini, sangat miris sekali," ucap Hanum yang saat itu menyesal karena telah membuat suatu kesalahan besar pada masa muda Naira.


"Kau benar Bu, mungkin kalau kita dulu tidak gila akan kemewahan yang dijanjikan oleh mommy Chan, mungkin hidup kita jauh lebih baik dari ini, mungkin sekarang Naira lah yang akan menjadi penolong kita. Tapi sekarang, kenyataannya hanya orang-orang yang kasihan pada kita yang akan menolong kita." jawab Burhan yang merasakan penyesalan yang sama.


Burhan dan Hanum menangis bersama kala itu, menyesal karena telah melakukan kejahatan sebagai orang tua, dan semua itu didengar oleh Geffen juga Naira yang masih berdiri di tempat yang sama, Naira menyapu air mata yang tumpah di pipi nya, dan berusaha untuk tegar ketika mendengar sebuah penyesalan yang terucap dari bibir kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Ibu, Ayah,"


Sebuah panggilan dari Naira terdengar, Hanum dan Burhan saat itu terkejut ketika mendengar ada seseorang yang memanggil nama mereka. Kala itu mereka bersama-sama menoleh ke belakang mereka lalu melihat seorang wanita dan seorang pria yang sedang berdiri tegap di hadapannya.


"Bapak siapa mereka?" tanya Hanum yang sudah tidak mengenali Naira lagi.


"Bapak juga tidak tahu Bu, sebaiknya sekarang kita ke sana saja." jawab Burhan yang juga tidak mengenali Naira.


Ketika langkah kaki Burhan dan Hanum semakin dekat, semakin deras juga tetes air mata Naira di hadapan meraka, ia tidak bisa berbohong bahwa saat ini ia sangat sedih melihat keadaan kedua orang tuanya.


"Nak, apakah kami mengenal kalian berdua sebelumnya?" tanya Burhan yang kala itu menatap Naira dan Geffen secara bergantian.


"Salam Pak, saya Geffen, dan ini...." Geffen terhenti ketika menoleh ke arah Naira.


"Naira, Pak," lirih Naira menyebutkan namanya.


Seketika itu juga Burhan dan Hanum kembali saling menatap, meraka seakan tidak percaya ketika mendengar nama gadis di hadapannya menyebut nama Naira.


"Naira, apa kau Naira putri kami?" tanya Hanum dengan bibir gemetar ketika menyebut seorang putri.


"Ya Bu, ini aku Naira putri kalian." jawab Naira lirih, ia tidak bisa berlama-lama untuk mengakui siapa dirinya.


Hanum dan Burhan tidak percaya jika putri mereka kini sangat berbeda dari sebelumnya, keadaan Naira saat ini begitu sangat sempurna. Cantik, putih, terawat, dan juga berkelas. Rasanya saat itu Hanum dan Burhan seperti sedang berada di dalam mimpi, namun kenyataanya meraka berada di dunia nyata.

__ADS_1


__ADS_2