
Bab 9
'Tidak ada pilihan lain, Ya Tuhan, andai saja aku tidak bertemu dengan mommy Chan dan tidak bertemu dengan tuan Geffen ini, pasti hidupku akan sangat manis.' batin Naira merengut kesal.
Geffen menatap Naira yang tidak beranjak dari tempat duduknya, ia sedang memikirkan sesuatu yang tidak diketahui oleh Geffen saat itu.
"Apa kau sangat merasa nyaman duduk di sofa empuk itu? Sampai kau sama sekali tidak beranjak ketika aku memintamu untuk melakukan poin pertama?" tanya Geffen memecah lamunan Naira.
"A, E, A-aku siap." Naira dengan cepat beranjak dari tempatnya dan menatap wajah Geffen yang saat itu menatap dirinya.
Geffen tersenyum kecut lalu keluar dari ruangan itu terlebih dahulu. Lalu setelah tiba giliran Naira yang harus keluar dari ruangan tersebut, sengaja mereka tidak keluar bersama agar para karyawan di kantor tidak ada yang mencurigai bahwa mereka telah melakukan kesepakatan bersama.
Geffen terhenti di area luar kantor dan menunggu Naira yang tidak kunjung datang, saat Naira tiba Geffen meminta Naira untuk menunggu beberapa jarak dari tempat mobilnya di parkir kan, tidak ada pilihan untuk menolak saat itu, Naira mengikuti saja perintah Geffen yang tidak mau sampai ada yang mengetahui bahwa ia keluar bersama dengan Naira.
Saat itu Naira sedang melangkahkan kakinya di pinggiran jalan, mobil berwarna hitam itu berhenti dan membuka kan pintu, Geffen memerintahkan Naira masuk dan Naira pun menurutinya.
"Hei, aku sudah membukakan pintu di bagian depan, kenapa kau justru membuka pintu belakang?" tanya Geffen menatap nanar.
"Aku akan duduk di sini, kan!" seru Naira.
"Tidak, ingat ya! Aku bukan supir mu yang membawa majikannya pergi, kau harus duduk di samping ku karena aku adalah bos mu." jawab Geffen dengan tegas.
Naira akhirnya menutup kembali pintu mobil di bagian tengah, lalu duduk di samping Geffen yang memintanya untuk duduk di sana. Saat itu Naira merasa bahwa Geffen ini banyak sekali permintaan dan mudah sekali memerintah.
Di perjalanan telpon berdering, Geffen mengangkat telpon itu dengan tanpa mengurangi fokus nya menyetir, saat itu deru nafas Geffen terdengar tidak sedang baik-baik saja, dan Naira masih terdiam memperhatikan dalam diam.
"Geffen, pokoknya mama nggak mau tahu, kau harus membawa kekasih malam ini, kalau tidak, mama tidak akan membatalkan perjodohan kamu dengan Nirma," ucap seorang wanita yang terlihat begitu mendesak Geffen.
__ADS_1
"Ma, aku akan datang nanti malam bersama kekasih pilihanku, jadi aku mohon mama nggak usah khawatir kan tentang jodoh ku," seru Geffen di balik telpon nya.
"Ya sudah bawa ke rumah, mama ingin melihatnya." jawabnya dengan cepat mematikan ponsel itu.
Geffen menghela nafas panjang lalu menghembuskan nya kasar, saat itu ia terlihat stress, meksipun kenyataannya ia sudah menemukan Naira sebagai kekasih pura-pura nya, namun bagaimana jika sampai mereka melakukan kesalahan.
"Tuan, kenapa kau terlihat bingung sekali?" tanya Naira menegur Geffen.
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu, aku ingin kau memanggil ku dengan sebutan Pak saja, dan kalau bertemu dengan orang tuaku, aku ingin kau memanggil ku dengan panggilan yang romantis," ucap Geffen memprotes panggilan yang dari Naila.
"Ha, romantis?" Naira menatap tajam seraya memprotes permintaan Geffen.
"Kenapa, apa kau tidak bersedia? Kalau kau tidak bersedia maka aku akan memaksamu, karena sesuatu harus kau turuti saat bertemu dengan orang tuaku," jelas Geffen.
"Tapi itu tidak ada di dalam surat perjanjian kita, loh Pak." Naira nampak menatap Geffen dengan serius dan mengangkat salah satu alisnya.
"Naira, tidak tertulis di surat perjanjian bukan berarti tidak bisa dilaksanakan, bagaimana kalau orang tuaku meminta bukti bahwa kita ini adalah sepasang kekasih, dengan cara bertukar cincin, atau bahkan berciuman agar mereka percaya? Apa kau tidak akan bersedia melakukan itu untuk kesepakatan kita?" tanya Geffen dengan tatapan serius nya.
Naira menelan saliva nya dengan kasar, ciuman? tukar cincin? Apa-apaan ini!
Karena tidak mau berlama-lama berdebat dengan Naira dan takut jika sampai Naira berubah pikiran, akhirnya Geffen memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya hingga tiba di tempat yang mereka tuju. Geffen meminta Naira untuk memilih pakaian yang akan ia pakai nanti malam, Naira melihat dengan bingung karena semua pakaian yang terpajang di tempat itu seperti nya sangat mahal dan elit.
"Pak, apa tidak ada lagi tempat lain dari ini? Sepertinya baju yang dipajang di sini sangat mahal-mahal," ucap Naira yang tidak membawa uang sepeser pun.
"Kenapa kau memikirkan tentang mahal atau tidaknya pakaian yang ada di toko ini? Kau pergi bersamaku, jadi kau tidak perlu memikirkan tentang uang, jadi tidak perlu khawatir," ucap Geffen melanjutkan pencahariannya.
"Ya, aku tahu. Tapi..." Naira berhenti berkata, ketika ada sebuah dress berwarna merah hati yang di raih oleh Geffen dan di berikan pada Naira.
__ADS_1
"Coba ini saja, tidak usah banyak bicara." sambung Geffen yang enggan mendengar ucapan Naira.
Naira terdiam, kali ini ia tidak bisa menolak. Geffen meminta Naira untuk mencoba dress itu bersama karyawan yang menamainya sejak tadi. Tak lama kemudian Naira pun keluar dari ruang ganti, Naira merasa tidak nyaman ketika memakai dress itu, karena sangat seksi.
Naira terus menarik dress tersebut berharap akan menutupi lututnya, padahal usaha itu tidak akan membuat lututnya tertutup. Langkah kaki Naira tidak di hadapan Geffen, dan saat itu Geffen lah yang menjadi juri atas penampilan Naira hari ini.
"Bagus, tinggal hills nya," ucap Geffen melempar senyum.
"Tapi aku tidak suka dengan dress ini," protes Naira saat Geffen menyetujui penampilannya.
"Kenapa? Kenapa tidak suka?" tanya Geffen mengerutkan dahinya.
"Ini terlalu pendek Pak, kau mengingat aku ketika ibu dan ayah ku akan mengantarkan aku kepada mommy Chat," sahut Naira keberatan.
"Oh, jadi kau tidak suka pakaian yang terlihat seksi dan menarik? Kalau begitu aku akan memilihkan dress yang lain." jawab Geffen yang saat itu mengabulkan permintaan Naira.
Meskipun saat itu Geffen menyukai penampilan Naira, namun ia tidak mau memaksa Naira untuk mengikuti gaya hidupnya, Geffen harus tahu bahwa Naira bukan lah wanita yang ia kenal kebanyakan.
Tak lama kemudian Geffen membawakan dress berwarna putih yang menutupi lutut, Naira pun akhirnya setuju dengan penampilan itu, ia datang pada Geffen dengan penuh percaya diri. Lalu setelah itu, tanpa berkomentar apapun Geffen meminta karyawan yang sudah sangat mengenalnya untuk memilihkan hills yang cocok untuk Naira,
Tak lama kemudian Naira diminta untuk mencoba memakai hills yang cukup tinggi, yang dibawakan oleh karyawan tersebut.
"Ini, kau pakai ini," ucap Geffen meletakkan hills tersebut di bawah kaki Naira.
"Pak, kenapa aku harus memakai hills setinggi ini, aku tidak pernah memakai ini sebelumnya," protes Naira menatap bingung ketika melihat hills tersebut.
"Oh astaga, apa kau benar-benar tidak pernah memakai hills?" tanya Geffen menepuk jidat.
__ADS_1