
Bab 26
"Maaf Ma, aku tetap menganggap bahwa Naira adalah gadis yang baik, yang tidak pernah aku temui di kota ini. Aku juga sama sekali bagaimana latar belakang Naira, karena untuk kedua orang tuanya itu adalah urusan mereka, yang sama sekali tidak mempengaruhi kebaikan Naira," Geffen pun ikut kekeh membela Naira di hadapan mama Lita.
"Geffen, kenapa kau sangat menyebalkan sekali!" marah mama Lita yang saat itu menjewer telinga Geffen.
"Auuw, Ma sakit Ma," keluh Geffen yang mendapatkan penyiksaan dari mama Lita.
"Mama akan terus melakukan hal yang sama seperti ini kalau kau tidak menarik kata-kata mu yang selalu memuji wanita itu, atau bila perlu Mama akan membuat telinga mu ini putus." jelas mama Lita bertambah marah.
Karena Geffen terus-terusan memuji Naira dan tidak berhenti untuk tetap menjadikan Naira sebagai karyawan di kantor, membuat mama Lita dan papa Danu terlihat kecewa. Karena sepertinya Geffen sudah mulai jatuh cinta sungguhan pada Naira. Ancaman mama Lita dan papa Danu pun sama sekali tidak diindahkan oleh Geffen, ia masuk ke kamar begitu saja tanpa menggubris bahwa saat itu mereka sedang kecewa.
***
Beberapa hari kemudian, Geffen masuk ke kantor dengan perasaan hampa, beberapa kali ini yang menyajikan kopi untuk nya setiap pagi adalah Anya, tidak ada lagi Naira dalam hidupnya. Hingga membuat Geffen terlihat kesal lantaran sejak kemarin Naira sama sekali tidak bisa dihubungi.
"Aarghh, sebenernya kau ke mana si Naira, kenapa kau sama sekali tidak memberikan kabar padaku, bahkan tidak mau mengangkat telpon dariku!" omel Geffen saat menatap ke arah layar ponselnya.
Tok! Tok! Tok! Sebuah ketukan pintu terdengar. Wajah kesal Geffen pun terlihat berbeda dari sebelumnya ketika melihat Anya yang membuka pintu. Saat itu Anya hanya bertugas mengantarkan secangkir kopi pesanan Geffen, karena telah mendengar semua cerita dari Naira, kini Naira terlihat berbeda.
__ADS_1
Setelah meletakkan kopi tersebut di meja, tanpa basa basi Anya langsung berbalik badan hendak meninggalkan tempat itu, melihat sikap Anya yang seperti ini tentu saja membuat Geffen merasa aneh. Hingga memutuskan untuk memanggil Anya, mendengar namanya dipanggil oleh pak Bos, dengan terpaksa Anya harus berhenti dan menoleh ke arah Geffen.
"Ada apa, Pak?" tanya Anya dengan nada sengit.
"Apa kau berpihak pada Naira? Sampai kau bersikap seperti itu pada saya!" marah Geffen yang kala itu terlihat memprotes sikap Anya.
"Tentu saja Pak, sebagai seorang wanita, saya sangat kesal melihat Bapak yang tidak tegas sama sekali, bahkan Bapak seolah membiarkan nyonya besar marah-marah dan menghina Naira, di depan banyak orang, padahal bukan Naira sendiri yang bersalah di sini," protes Anya yang dengan berani melotot di hadapan Geffen.
"Anya, kau tidak tahu bagaimana saya berusaha keras membela Naira di depan mama saya, saya tahu saya salah, saat di kantor saya tidak bisa berpikir apa-apa ketika semua terbongkar. Tapi percaya lah, aku berpihak pada Naira dan aku membela dia, selama ini dia telah membantuku, lepas dari jerat perjodohan yang tidak saya inginkan, mana mungkin saya lepas tangan begitu saja." jelas Geffen yang kala itu mencoba untuk mengatakan yang sebenarnya.
Ucapan Geffen sama sekali tidak di gubris oleh Naira, ia sama sekali tidak percaya kala itu karena yang ia tahu Geffen tidak melakukan hal yang ia katakan, namun Geffen tidak berhenti berusaha. Ia tetap menjelaskan semua yang ia bisa sampai mengajak Anya duduk di sofa, ia menceritakan semua isi hatinya sampai akhirnya Anya luluh dan percaya.
"Anya, kau tahu, selama ini orang tua saya tidak sabar menanti jodoh saya yang tidak kunjung tiba, sampai akhirnya saya terjebak dalam perjodohan yang ternyata calon istri saya itu selingkuh di belakang saya, sampai suatu ketika, saya bertemu dengan Naira yang saat itu saya pikir dia membutuhkan bantuan saya dan saya membutuhkan dia, dan kami sepakat," ucap Geffen yang mengira bahwa Anya tidak tahu masalah itu.
"Apa! Kenapa dia harus kembali ke desa? Apa dia akan memutuskan untuk menjadi seorang wanita panggilan?" tanya Geffen yang setengah terkejut ketika mendengar berita itu.
"Entah lah Pak, saya sudah mencoba untuk melarang, tapi bagaimana lagi, sepertinya Naira tidak akan punya keberanian lagi untuk masuk ke kantor ini, dan dia juga tidak tahu harus kuat atau tidak menerima gosip ini, sehingga dia memutuskan untuk kembali ke desa." jelas Anya dengan wajah sedihnya.
Geffen terdiam sejenak, ia tidak bisa diam saja seperti itu, ia harus melakukan sesuatu karena telah melakukan sebuah kesalahan besar. Dan saat mendengar kabar berita itu entah mengapa hati Geffen merasa akan kehilangan seseorang yang sangat dekat dengan dirinya.
__ADS_1
"Saya harus menemui Naira sekarang!" Geffen bergegas bangkit hendak pergi menemui Naira saat itu juga.
"Pak, tunggu!" Anya mencegah Geffen ketika ia hendak bangkit.
"Ada apa?" tanya Geffen menatap Anya.
"Pak, saya mohon tolong jangan membuat kesalahan yang sama, menyakiti hari Naira untuk yang ke dua kalinya, tolong ya Pak, saat ini hati Naira sangat rapuh," pinta Anya pada Geffen.
"Kau jangan khawatir, saya tidak akan menyakiti dia untuk yang ke dua kalinya, asal kau tahu, saya sudah menganggap hubungan pura-pura ini adalah sesuatu yang sangat serius. Karena Naira jauh berbeda dengan wanita lainnya." jelas Geffen dengan jujur.
Geffen berlalu pergi meninggalkan Anya di ruangannya, dan saat mendengar penjelasan dari Geffen, spontan membuat Anya merasa senang, ia tersenyum lega lantaran ia yakin bahwa saat itu Naira sebentar lagi akan bertemu dengan jodoh yang sesungguhnya.
Tibanya di kontrakan, Geffen membawakan seuntai bunga dan buah untuk ia berikan pada Naira sebagai permintaan maafnya, ia perlahan mengetuk pintu dan menunggu di sana. Sementara Naira yang mengira bahwa itu adalah Anya, sahabat yang beberapa hari terakhir ini selalu ada untuknya telah kembali dari kantor, dengan cepat ia membuka pintu dan ternyata?
Naira menatap wajah Geffen yang kala itu telah menyodorkan bunga untuknya, kala itu Naira tidak tahu arti dari bunga tersebut karena selama ini ia tidak pernah mendapatkan perlakuan semanis itu dari seseorang.
"Apa-apaan ini, Pak?" tanya Naira yang terlihat memasang wajah cetus.
"Ini untuk mu Naira, sebagai tanda permintaan maaf ku padamu, tolong terima ini," ucap Geffen dengan tulus.
__ADS_1
"Tidak perlu melakukan hal seperti ini Pak, aku sama sekali tidak masalah. Orang miskin seperti diriku sudah seharusnya berada di bawah, dan cukup bodoh sekali aku karena telah menerima kesepakatan kita," seru Naira memangku tangan, lalu ia memangku tangan menatap ke arah lain.
Geffen tidak tahu harus mengatakan apa untuk membuka hati Naira saat itu, hingga ia memutuskan untuk segera masuk ke rumah tersebut untuk lebih leluasa mengungkapkan perasaan nya. Melihat Geffen yang tiba-tiba masuk tanpa izin tentu saja membuat Naira melotot tajam dan menyusulnya masuk.