Office Girl Itu Kekasihku

Office Girl Itu Kekasihku
27


__ADS_3

Bab 27


"Bapak ini apa-apaan si, kenapa masuk ke rumah orang sembarangan kayak gini, lebih baik sekarang Bapak keluar deh," usir Naira yang merasa sangat kesal saat itu.


"Aku akan tetap di sini sampai kau mau mendengarkan apa yang ingin aku katakan," ucap Geffen yang kekeh ingin tetap ada di kursi itu.


"Bapak ini kenapa si, kenapa sangat mengganggu sekali. Pak, anggap saja kalau semua kesepakatan kita itu sudah berakhir, aku tidak mau lagi berurusan dengan Bapak, dan Bapak lebih baik pergi dari sini, ayo cepat," paksa Naira yang tetap ingin Geffen pergi.


"Naira, tolong beritahu aku, kenapa kau semarah ini padaku, sekarang aku ingin kau duduk di samping ku, karena ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu. Ingat Naira, aku masih berstatus sebagai bos mu." pungkas Geffen yang saat itu harus berkata sedikit kasar pada Naira.


Naira benar-benar tidak bisa berkutik saat ini, karena melihat Geffen yang sepertinya sangat memaksakan kehendak, hingga membuat dirinya terpaksa harus mengikuti keinginan dari Geffen. Dan setelah Naira duduk di sampingnya Geffen pun menjelaskan semua yang ia alami dan ia menjelaskan semuanya apa yang telah ia katakan pada mama Lita.


Apapun penjelasan itu sama sekali tidak mengubah apapun, rasa kecewa Naira dan rasa malu karena semua telah terbongkar tidak bisa menutupi semua yang ada. Namun Geffen tidak berhenti sampai di situ saja, ia tetap memberikan penjelasan hingga akhirnya Naira memutuskan untuk diam. Geffen menggenggam tangan Naira, dan sentuhan itu membuat Naira terkejut karena Geffen berani melakukan itu.


"Pak, apa-apaan ini, lepaskan!" pinta Naira yang merasa kecewa saat itu.


"Tidak, saya tidak akan melepaskan nya. Naira, aku mohon tolong jangan bersikap seperti ini, aku datang ke kontrakan mu karena Anya bilang kau sedang sakit, dan aku tidak mau jika sampai sesuatu terjadi padamu, untuk itu tolong jangan usir aku," pinta Geffen yang terus menggenggam erat tangan Naira.


"Pak, semua sudah berakhir, berakhir sejak mama Bapak tahu akan kebohongan yang kita buat, jadi untuk apa Bapak masih ada di sini," seru Naira yang kala itu membalas tatapan Geffen.


"Tapi perasaan yang aku rasakan selama aku bertemu dan mengenal mu itu, tidak bisa berakhir begitu saja kan, Naira," Geffen menatap Naira yang saat itu terkejut ketika mendengar ucapannya.


"Apa maksud Bapak?" tanya Naira menatap tajam.

__ADS_1


"Naira, entah mengapa saat kamu tidak ada di kantor, aku merasa kehilangan sesuatu. Setiap hari aku mendapatkan pelayanan darimu dan biasa meminum kopi buatan mu, lalu semua itu tiba-tiba hilang, tentu saja aku merasa kehilangan. Dan... Perasaan yang aku miliki ini mungkin tidak bisa aku jelaskan, aku hanya ingin menggambarkan secara lengkapnya saja, kalau aku mencintaimu." jelas Geffen yang kala itu mengutarakan perasaannya.


Naira terdiam kala mendengar penjelasan dari bosnya itu. Benarkan Geffen mencintai nya? Atau ia hanya bergurau agar Naira merasa senang ketika bertemu dengannya, dan tidak lagi menunjukkan bahwa ia sedang marah.


"Pak, tolong jangan bercanda, ini tidak lucu," ucap Naira tidak percaya.


"Apa kau berpikir bahwa ini adalah sebuah candaan? Tidak Naira, apa yang ku katakan ini adalah sesuatu kejujuran, aku benar-benar sudah jatuh cinta padamu, dan aku terbiasa dengan hubungan kita, meskipun itu pura-pura, tapi aku mau, kalau semua orang tahu, bahwa hubungan kita saat ini adalah resmi saling mencintai." jelas Geffen dengan sangat yakin.


Naira tetap menggelengkan kepala, apa kata mama Lita kalau sampai ia tahu hal yang sebenarnya, sesuatu yang diinget oleh Geffen tidak akan terkabulkan begitu saja, karena Naira sama sekali tidak memberikan ruang. Meskipun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh Geffen, perasaan yang sama itu membuat Naira sadar, bahwa Geffen bukan lah pria yang pantas untuknya.


"Pak, dengar kan aku, kau adalah seorang bos besar di sebuah perusahaan, kau terkenal dan kau memiliki banyak sekali celah untuk mendapatkan seorang wanita yang berkelas dan juga cantik, tentu saja dia juga adalah seorang wanita yang berpendidikan, tapi kenapa kau justru mengutarakan perasaan mu padaku," ucap Naira yang mencoba untuk menyadarkan dirinya sendiri.


"Aku tidak peduli tentang status sosial Naira, berkali-kali saja aku menjelaskan, bahwa status sosial bagiku sama saja. Bahwa sejak aku menemukan kebohongan yang terlihat nyata dari seorang Nirma, sejak itulah aku tidak percaya lagi dengan wanita di kota ini," seru Geffen dengan yakin.


"Justru yang aku lihat, wanita yang benar-benar tulus itu adalah dirimu, Naira." lirih Geffen menjawab.


Jawaban itu tidak lagi bisa membuat Naira berkata-kata, ia tidak tahu lagi harus mengatakan apa pada Geffen yang kekeh dengan pendiriannya. Dan kala itu Geffen terus saja membujuk Naira dengan mengutarakan perasaannya yang sebenarnya.


Hingga akhirnya Naira luluh, ketika Geffen memohon agar diberikan kesempatan untuk bisa bersama dengan Naira dan membersihkan nama baiknya di kantor. Naira terdiam ketika Geffen mengucap janji padanya, ia takut jika sampai Geffen tidak menepatinya.


"Bagaimana aku bisa percaya padamu Pak, selama ini aku mengira kalau kau adalah pria yang baik, tapi ketika masalah ini datang, aku seolah sudah salah besar telah menganggap mu baik," ucap Naira yang masih ragu.


"Naira, ku mohon tolong berikan aku waktu dan kesempatan lagi, aku janji padamu, aku akan berusaha untuk memperbaiki semuanya, mau ya jadi pacarku?" Geffen terus membujuk Naira yang terlihat bingung kala itu.

__ADS_1


"Apa niat Bapak mendekatiku, Bapak tahu dengan nyata bahwa aku adalah gadis desa yang bernasib malang," ucap Naira ragu.


"Kenapa tidak, aku tidak peduli dengan masa lalu mu Naira, aku mengenal mu di sini, dan aku tidak mengenal kedua orang tuamu. Aku yang akan mengangkat derajat mu, percaya lah padaku." jelas Geffen yang kembali mengulang janji suci.


Naira membalas tatapan Geffen yang terlihat sangat bersungguh-sungguh, hatinya kecilnya berdebar kala menatap wajah Geffen yang kala itu terlihat sangat berharap.


"Udah Nai, terima aja."


Tiba-tiba suara Anya melengking dari depan pintu yang terbuka. Hal itu membuat Naira dan Geffen gugup dan Geffen melepaskan tangan Naira.


"Anya, kenapa kamu ada di sini?" tanya Naira yang menggeser jarak dari Geffen.


"Hehe, abisnya gue kesepian di kantor, mereka masih aja ngobrolin lo sama pak Bos, gue enek dengernya," ucap Anya langsung duduk di antara Geffen dan Naira.


"Tapi kalau gue tahu lo bakal di tembak beneran sama pak Bos, harusnya tadi gue nggak masuk ke rumah," sambung Anya berbisik pada Naira.


"Ish, apaan si!" omel Naira yang kala itu langsung berwajah merah.


"Anya, tolong beritahu pada sahabatmu itu, untuk segera menjawab ungkapan cintaku," lirih Geffen yang berbicara pada Anya sebagai jembatan dirinya berkomunikasi dengan Naira.


"Siap Pak Bos." singkat Anya menjawab dengan mengangkat jempol kanannya, lalu ia melempar senyum semanis mungkin.


Naira mendengar pembicaraan itu, dan saat itu wajah Naira semakin memerah ketika mendengar Geffen yang justru melibatkan Anya.

__ADS_1


__ADS_2