
Bab 23
Geffen terdiam di ujung sana, ia tak bermaksud menyakiti hati Naira dengan cara memaksanya untuk bersedia ketika orang tuanya menginginkan pertemuan dengan kedua orang tuanya. Sementara Naira sendiri saat itu terlihat sangat bingung juga lelah dengan sandiwara yang ia mainkan bersama Geffen.
"Pak, sekarang lebih baik kau antar aku pulang, atau aku akan jalan kaki dari sini sampai kontrakan," ucap Naira yang meminta Geffen untuk segera membawanya pulang.
"Oke, aku akan membawamu pulang, tolong jangan bersikap seperti itu, aku akan mengantarkan kau pulang." jawab Geffen yang langsung menyalakan mesin kembali.
Naira menatap Geffen lalu setelah itu ia membuang mukanya. Sementara Geffen sendiri mulai fokus menyetir kembali dengan pelan dan hati-hati. Tibanya di depan kontrakan Naira turun dengan cepat lalu menutup kembali pintu mobil, Geffen merasa sedikit kesal lantaran sikap Naira, padahal saat itu ia ingin sekali Naira memintanya untuk singgah, namun keinginan Geffen tak terpenuhi lantaran Naira memutuskan untuk langsung masuk ke rumah yang tidak terlalu besar itu.
"Jahat sekali dia, kenapa dia begitu menyebalkan seperti itu si, bukannya aku kekasihnya, meskipun hanya pura-pura, tapi kenapa dia bersikap seperti itu!" marah Geffen yang saat itu masih duduk di bagian setirnya.
Karena tidak mendapatkan penawaran apapun, akhirnya Geffen memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu dan menunggu Naira di esok pagi di kantor.
Di pagi harinya, Geffen terlihat begitu berbeda dari biasanya, entah mengapa ia merasa sangat bahagia ketika melihat dirinya sendiri di dalam cermin, ia nampak memuji dirinya sendiri dan mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ia sangat tampan dan juga pintar.
Tok! Tok! Tok! Sebuah ketukan pintu menyadarkan Geffen yang saat itu tengah berpose di depan cermin kamarnya. Lalu setelah itu Geffen pun mendekati pintu dan membuka nya.
Mama Lita sudah ada di depan sana dengan tatapan penuh senyuman, dan saat itu Geffen melihat sesuatu yang berbeda dari mamanya, ia terlihat tapi sekali saat itu.
"Ma, Mama mau ke mana kok rapi banget?" tanya Geffen penasaran.
"Mama mau ikut kamu ke kantor Geffen, Mama ingin jalan-jalan ke sana karena Mama jenuh di rumah," ucap mama Lita melempar senyum.
__ADS_1
"A-apa, tapi kenapa jalan-jalannya di kantor Ma, kenapa nggak ke mall atau ke mana aja gitu?" usul Geffen yang saat itu merasa gelisah ketika mendengar ucapan mama Lita.
"Kenapa memang nya Geffen? Kenapa memangnya dengan keinginan Mama," seru mama Lita memprotes ide dari Geffen.
"B-bukan begitu, tapi aku ingin kau merasa senang dengan berjalan-jalan atau pergi ke mall, tapi kalau ke kantor, Mama akan lebih merasa jenuh di sana karena di sana tempatnya orang bekerja. Tapi kalau Mama memaksa, kita pergi sekarang, ayo." ajak Geffen yang langsung membawa mama Lita pergi keluar.
Mama Lita merasa sangat senang, melihat Geffen yang saat itu dengan semangat membawanya pergi ke mall, di sisi lain Geffen sendiri terlihat sangat bingung, ia bingung harus melakukan apa karena di kantor ada Naira, mama Lita pasti akan bertemu dengan Naira, dengan versi nya yang lain, versi yang sangat jauh berbeda. Naira yang dikenal oleh mama Lita adalah Naira yang memiliki karisma yang cantik dan mewah, namun Naira yang akan mama Lita temui nanti di kantor adalah seorang Naira yang memiliki gelar office girl di kantor tersebut.
"Geffen, terima kasih banyak ya, kamu sudah bersedia membawa mama ke sini, Mama seneng banget bisa melihat-lihat suasana di kantor ini," ucap mama Lita melempar senyum ketika sudah tiba di kantor.
"I-iya Ma, sama-sama." jawab Geffen singkat, dan saat itu Geffen terlihat berbeda dari sebelumnya.
Mama Lita sempat memperhatikan Geffen, Geffen saat itu terlihat tegang. Namun mama Lita tidak mempertanyakan hal itu, ia justru berpikir mungkin Geffen saat itu sedang memikirkan pekerjaan, dan saat itu mama Lita bersama Geffen masih berjalan menyusuri lantai dua untuk menuju ruangan Geffen.
'Astaga, bagaimana ini, aku harus melakukan apa agar perhatian mama tidak sampai mengarah pada Naira, bisa hancur semua reputasi ku kalau sampai mama tahu semaunya.' batin Geffen terlihat sangat gelisah.
Saat itu mama Lita dan Geffen masuk ke dalam lift, mereka akan pergi ke ruangan Geffen dan akan menghabiskan waktu di sana. Dan ketika pintu tertutup Geffen berusaha maju untuk menutupi pemandangan mama Lita yang menuju ke arah luar.
Saat tiba di ruangan Geffen, Geffen memesan dua gelas kopi pada Anya melalui ponsel, dan karena Anya sedang sangat sibuk akhirnya Anya menghampiri Naira yang sedang sibuk, lalu memintanya untuk membuatkan kopi yang dipesan oleh Geffen.
"Naira, lo aja ya yang buat kopinya, gue lagi sibuk nih, pak Bos minta dua gelas kopi," ucap Anya.
"Dua gelas kopi? Memangnya ada siapa saja di ruangan pak Geffen, kenapa minta dua gelas kopi?" tanya Naira penasaran.
__ADS_1
"Mungkin dia pengen ngopi bareng sama lo." jawab Anya melempar senyum.
Naira pun ikut tersenyum ketika membayangkan apa yang dikatakan oleh Anya, bagaimana jika itu benar, apa mungkin Geffen akan mengajaknya minum kopi bersama karena ingin meminta maaf dengan kesalahannya semalam?
Naira terus membayangkan sikap manis Geffen hingga ia akhirnya tidak sadar bahwa rasa semangat nya itu akan mengantarkan dirinya masuk ke ruangan Geffen, yang di dalamnya ada mama Lita yang sedang berbincang ringan di sana.
Ketukan pintu terdengar dan Geffen dengan tanpa ragu meminta pelayan itu masuk, Naira dengan cepat menunjukkan jati dirinya di hadapan Geffen dengan semangat. Dan betapa terkejut nya antara Geffen dan Naira ketika mereka saling menatap satu sama lain, Naira mengenali mama Lita meskipun mama Lita saat itu sedang membelakangi Naira. Dan beberapa saat kemudian mama Lita pun menyadari tatapan Geffen yang mengarah ke pintu, lalu kedua matanya pun ikut mengarah ke pintu dan betapa terkejutnya mama Lita ketika melihat ada seorang gadis yang tidak asing di mata mama Lita.
Mama Lita saat itu bangkit dari tempat duduknya, sementara Naira berdiam diri mematung di sana tanpa suara, langkah kaki mama Lita semakin dekat. Dan Geffen pun tidak bisa menolaknya bahkan menghentikannya.
Naira dengan cepat menundukkan kepalanya, berharap bahwa wajahnya itu akan tertutup dan tidak dikenali oleh mama Lita.
"Halo, apa ini kopi untukku dan putraku?" tanya mama Lita melempar senyum pada Naira kala itu, ia masih mengamati Naira yang tiba-tiba menundukkan pandangannya.
"I-iya Nyonya, ini dua gelas kopi yang dipesan oleh pak Geffen," ucap Naira kikuk.
"Baiklah, aku ambil ya." jawab mama Lita yang langsung meraih nampan yang ada di tangan Naira.
Saat itu Naira hendak buru-buru keluar dari ruangan itu, namun saat mama Lita menyadari dengan cepat mama Lita memanggil Naira.
"Tunggu!"
Suara itu tentu saja mengejutkan Naira, dan ia terhenti seketika saat mendengar suara tersebut. Mama Lita kembali mendekati Naira dan menyelidiki wajah gadis yang sengaja tertunduk itu.
__ADS_1