Office Girl Itu Kekasihku

Office Girl Itu Kekasihku
32


__ADS_3

Bab 32


"Mas, kenapa dengan kedua orang tua kamu, apa mereka sudah tahu kalau aku ada di kantor ini dan bekerja sama kamu?" tanya Naira dengan tatapan yang serius.


"Ya, tentunya mereka sudah tahu, dan dia sudah pergi ke kantor untuk melabrak ku, tapi aku sama sekali tidak berubah pikiran Naira," lirih Geffen menatap serius.


"Mas, aku tahu kamu adalah pria yang paling nekat yang pernah kutemui, tapi tolong pikirkan soal kedua orang tuamu, aku tidak mau kau durhaka padanya." jawab Naira yang tidak ingin jika kekasihnya itu sampai melampaui batas.


Geffen terdiam, ia terharu mendengar ucapan Naira, ia tidak menyangka jika ternyata Naira memiliki sisi dewasa, karena yang ia lihat sebelumnya Naira adalah gadis yang mudah menyerah jika tidak di berikan semangat, dan ia juga adalah gadis yang mudah mengambil keputusan dalam keadaan marah.


Hal itu membuat Geffen yakin untuk tetap menggandengnya dan menunjukkan pada dunia bahwa Naira layak untuk dihormati. Saat Marvel fokus menatap Naira, membuat Naira merasa bingung dan risih, ia juga terlihat salah tingkah karena Marvel tidak berhenti menatap wajahnya.


"Mas, apa yang kau lihat dariku?" tanya Silla memprotes perlakuan dari Geffen.


"Aku hanya sedang berbicara pada diriku sendiri, bahwa aku tidak akan melepaskan mu Naira, aku akan tetap menggandeng mu dan menunjukkan pada dunia bahwa kau layak untuk berada di atas," ucap Geffen dengan bangga.


"Mas, apa kau sudah memikirkan semua ini dengan yakin?" Naira mencoba untuk tidak percaya diri dulu, karena ia sangat takut untuk memimpikan hal tersebut.


"Ya, tentu saja aku sangat yakin dengan keputusan ku Naira. Kau harus sama semangatnya seperti diriku, aku harus tunjukkan pada mereka kalau kau berbakat. Aku bisa saja menikahi mu sekarang juga, tapi aku ingin kau membuktikan dulu pada mereka bahwa kau bisa menghasilkan banyak uang dan kau bisa terpandang di kota ini." jelas Geffen memberikan semangat yang membara.


Mendengar itu tentu saja membuat Naira merasa sangat senang, apa yang dikatakan oleh Geffen ia anggap sebagai semangat yang akan ia wujudkan, Naira memberanikan diri untuk membayangkan semua mimpi itu bersama dengan Geffen.


"Mas, kau tahu? Aku selama ini tidak pernah berani untuk memimpikan sesuatu sebesar ini, tapi kau hadir untuk membuat mimpiku menjadi kenyataan, aku benar-benar tidak menyangka jika mimpi ku ternyata layak untuk aku wujud kan," ucap Naira dengan wajah yang sangat memerah.


"Naira, siapapun berhak bermimpi, dan kau juga termasuk di dalam nya, jadi jangan pernah takut untuk bermimpi karena semua orang berhak untuk memimpikan sesuatu," seru Geffen membalas tatapan Naira.


"Terima kasih banyak Mas, aku sangat bahagia sekali, kalau begitu akan akan memulai mimpiku hari ini, aku akan membuktikan kalau aku layak untuk mendapatkan tepuk tangan." jelas Naira dengan penuh semangat.


Geffen melempar senyum, ia terlihat begitu sangat mendukung mimpi yang saat ini sedang berusaha diwujudkan oleh Naira, dan tentu saja Geffen akan ada di belakang Naira untuk siap kapan pun Naira akan membutuhkannya.


***

__ADS_1


Hari demi dari di lewati oleh Naira tanpa sedikit pun merasa lelah, ia bekerja siang dan malam bahkan ia sering sekali melakukan lembur di kantor, hanya demi ingin mewujudkan semua mimpi yang pernah ditanamkan Geffen padanya. Kerja keras, dan tidak mudah menyerah adalah salah satu tekad yang membuat Naira kuat.


Karena membayangkan kerasnya hidup di kota jauh lebih menyediakan jika ia harus kembali ke desa, kembali pada kedua orang tua yang sama sekali tidak memikirkan dirinya. Naira menguji dirinya sendiri untuk bisa bertempur dengan dunia yang selama ini jauh dari bayangannya.


Tidak menyangka jika saat ini ia sudah menjadi wanita kantoran, menjadi kekasih Geffen, pemilik perusahaan besar tidak membuatnya terlena bahkan malas bekerja, ia menjadikan Geffen sebagai motivasi terbesar dalam hidupnya hingga ia menemukan jalan kehidupannya saat ini.


Pukul sebelas malam, Geffen membuka pintu ruangan Naira dan mendapati kekasihnya itu masih duduk di kursi goyangnya, dengan pandangan mata menuju ke arah laptop dan jari-jari lentiknya bermain di keyboard tersebut.


"Naira, sudah selesai belum pekerjaan mu?" tanya Geffen yang menemani lemburan Naira.


"Sebentar lagi Mas, aku harus menyelesaikan ini dulu," ucap Naira menunjuk salah satu berkas.


"Kalau ini sudah, lebih baik kita pulang. Kerja keras boleh Naira, tapi jangan terlalu di forsir, nanti malah kamu yang sakit," seru Geffen yang diam-diam memperhatikan Naira dan bangga padanya.


"Iya Mas, aku ngerti kok, aku kerja juga sesuai dengan apa yang aku dapatkan kan? Aku mau menunjukkan pada dunia kalau aku mendapatkan kamu bukan untuk bersandar di bahu kamu, tapi untuk maju bersama dengan kamu." jelas Naira melempar senyum.


Geffen membalas senyuman itu, gadis yang ada di hadapannya itu tidak pernah melakukan sedikit pun kesalahan dalam hidupnya selama ini, ia bahkan menganggap bahwa kepolosan Naira dulu adalah sesuatu yang sangat patut ia syukuri karena ia telah mengisinya dengan berbagai pengalaman dan motivasi.


"Iya Mas." jawab Naira melempar senyum.


Geffen pergi, lalu Naira kembali fokus dengan pekerjaannya. Menatap punggung Geffen yang saat ini sudah menghilang dari pintu ruangan nya. Naira menghembuskan nafas pelan lalu melempar senyum untuk melanjutkan semua tugasnya.


Beberapa saat kemudian rasa kantuk dan lelah rupanya melanda, Naira tidak bisa fokus dengan pekerjaannya ketika itu hingga ia memutuskan untuk tidak melanjutkan pekerjaannya lagi. Saat itu Naira memutuskan untuk menemui Geffen, yang menemani dirinya lembur semalaman. Pintu ruangan yang tidak terkunci dan di gedung itu hanya ada mereka berdua, membuat suasana menjadi sangat sunyi, beruntung saja ruangan Naira dan juga Geffen hanya berbatas tembok saja. Tidak begitu jauh, hingga membuat Naira tidak harus pergi jauh-jauh untuk mengajak Geffen pulang.


Saat Naira membuka pintu ruangan Geffen lalu menutup nya kembali dari dalam, Naira tersadar bahwa saat itu Geffen tengah tertidur di kursi goyangnya. Terlihat saat itu Geffen sangat lelah hingga ia tertidur di sana sambil bersandar, melihat Geffen seperti itu tentu saja membuat Naira kasihan.


Antara ragu dan bimbang, apakah ia harus membangunkan Geffen saat itu, atau justru membiarkan ia istirahat untuk sementara waktu. Dan saat hendak memutar tubuhnya, Geffen tiba-tiba terbangun dan menyentuh pergelangan tangan Naira, tubuh Naira berputar hingga hampir saja ia terjatuh, beruntung kedua tangan Geffen dengan cepat menengadah hingga mampu menangkap pinggang Naira yang ramping.


Naira terkejut bukan main, saat ia menyadari bahwa saat ini ia sudah berada di dekapan kekasihnya. Dan tatapan matanya yang sangat dekat dengan Geffen membuat jantung Naira menjadi tidak karuan. Geffen pun tak berkedip ketika menatap wajah Naira yang begitu sangat dekat dengan dirinya, dengan degupan jantung yang membara Geffen mencoba untuk menahan dirinya.


Namun kesunyian di ruangan itu membuat Geffen sebagai laki-laki normal ingin sekali melakukan sesuatu pad Naira, wanita yang begitu sangat ia cintai. Namun saat hendak mendekati bibir tipis Naira, dengan cepat Naira menghindar lalu bangkit dari tempat itu.

__ADS_1


"Mas, ini salah," ucap Naira dengan cepat merapikan pakaiannya.


Geffen mendehem 3 tahun menjalin hubungan dengan Naira, ia sama sekali belum pernah melakukan sesuatu layaknya sebuah pasangan kekasih yang sudah sering melakukan sesuatu karena merasa bahwa sudah menjadi milik satu sama lain.


Namun berbeda dengan Naira yang sama sekali tidak memberlakukan hal tersebut ketika ia menjalin hubungan dengan Geffen, sedikit pun Naira tidak memiliki pikiran ke arah sana, dan Geffen pun paham jika Naira adalah gadis yang sangat polos, hingga ia tidak berani menunjukkan bagaimana dirinya ketika tidak bisa menahan diri saat bersama dengan wanita.


Ketegangan di antara mereka masih berlanjut, Naira tidak berani menatap Geffen, hingga membuat Geffen bingung ketika ingin mengajak Naira berkomunikasi.


"Emmm, Nai... Apa kamu sudah selesai kerjanya?" tanya Geffen memulai dulu percakapan.


"Ya Mas, udah," singkat Naira menjawab tanpa mengangkat kepalanya.


"Ya udah kalau gitu ayo kita pulang, aku akan mengantar mu pulang." ajak Geffen yang saat itu memutuskan untuk berjalan lebih dulu.


Naira mengangguk kecil lalu melangkah bersama dengan Geffen di belakang nya. Di sepanjang perjalanan Naira pun tidak mengatakan apapun, dan Geffen merasa bertambah bingung karena Naira sama sekali tidak ada suaranya, hingga tiba di depan kontrakan Naira. Naira yang masih tegang hendak membuka pintu mobil tanpa berpamitan, namun ternyata pintu itu di kunci dengan Geffen.


"Mas, buka pintunya, aku mau masuk," ucap Naira gugup.


"Nai, tunggu sebentar," seri Geffen yang tak langsung mengabulkan permintaan Naira.


"Ada apa Mas?" tanya Naira gugup, pandangan mereka saat ini bertemu.


Geffen meraih pergelangan tangan Naira, dan menggenggam jemari Naira yang terasa sangat dingin. Saat itu Naira merasa sangat takut jika Geffen sampai melakukan hal yang sempat ia tolak.


"Naira, kenapa kamu terlihat sangat gugup dan takut, apa kamu mengira bahwa aku akan melakukan sesuatu padamu?" tanya Geffen menatap Naira.


"Mas, aku belum siap untuk melakukan sesuatu yang sudah biasa di lakukan oleh pasangan kekasih di kota ini, aku masih takut Mas," ucap Naira yang akhirnya mengungkapkan rasa takutnya.


"Siapa yang akan melakukan itu padamu Naira, kau akan mengira bahwa aku akan melakukan itu padamu? dengar Naira, di saat sudah waktunya nanti, aku akan langsung menikahi mu, dan tidak akan menjadikan mu sebagai pelampiasan saja, aku akan mengajarimu ketika waktunya tiba. Tidak akan aku merusak kesucian mu itu, aku yang telah menemukan mu, tidak mungkin aku merusaknya." jelas Geffen berusaha meyakinkan Naira.


Naira terdiam kala itu mendengar penjelasan dari Geffen, meskipun sempat ada keinginan untuk mencium Naira, namun keinginan itu ia urungkan ketika melihat kepolosan Naira yang tidak pantas di nodai.

__ADS_1


__ADS_2